“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 Kehidupan
“ Nduk ” Suara serak seorang wanita tua di penuhi garis masa di setiap inci wajahnya, terdengar ia menghentikan langkahnya saat berada di depan dapur yang beralas semen.
“ Ya ada apa Nek? ” Tanya seorang gadis bersurai panjang melewati punggung nya, Gadis itu mendekati sang nenek salah satu keluarga nya yang selalu ada untuknya.
“ Sedang apa kamu Nduk? ” Nek Yana meletakkan tubuh renta nya di kursi plastik, yang biasa di duduki nya kalau di dapur matanya menatap lekat.
Gadis berparas jelita, sangat mirip dengan almarhum sang anak yang meninggal selepas Arumi lahir di kehidupan ini. Meninggal nya ibunda Arumi membuat Nek Yana menderita di tambah perginya sang ayah Arumi yang entah kemana,
Wajah wanita yang di penuhi garis masa itu terlihat sangatlah sedih, Arumi mengusap pelan tangan ringkih itu
“ Nek jangan memikirkan, ibu ia sudah tenang dialam sana kita hanya perlu berbahagia ” kata Arumi sembari tersenyum membuat nek Yana berkaca-kaca matanya.
“ Kamu sangat mirip dengan ibu mu, Nduk nenek sayang merindukan nya ” Ungkap Nek Yana air mata mengalir di pipi wanita berumur tersebut
Arumi menyeka nya dengan tangan ringkihnya, ia kemudian membawa sang nenek ke dalam pelukannya “ nek!, nenek sangat tidak cantik kalau nenek menangis!. ” Arumi berusaha menyenangkan sang nenek namun Nek Yana kembali bersedih
" Nenek hanya teringat ibu mu " Sahut Nek Yana sembari mengusap surai legam sang cucu, gadis itu tersenyum terlihat jelas lesung pipi sang cucu
" Nek, aku mau ke kantor pos untuk mengirim surat untuk paman Hardi. Selepas itu aku ingin mengantar beberapa pesanan rengginang ke rumah-rumah " Kata Arumi saat mengingat bahwa hari ini adalah hari rutin nya ia mengirim surat kabar untuk pamannya yang di Jakarta
" Hati-hati lah Nduk!, Kantor Pos berada di kabupaten sangatlah jauh dari desa kita. Pergi dengan siapa kamu? " Sahut Nenek Dengan suara cemas
" Pergi dengan Arini, sama paman Kosim sekalian mengantar labu di kabupaten " Arumi mengurai pelukan mereka gadis itu kembali menyusun rengginang yang sudah siap tinggal di goreng.
" Hati-hati ya Nduk! " Kata Nek Yana
" Ya nek cuman sebentar saja, nenek tunggu di rumah ya. InsyaAllah Rumi nanti pulang bawakan nenek obat yang sudah habis " Sahut Arumi dengan suara serak menahan tangis
Nek Yana menatap sang cucu dengan mata berkaca-kaca. Semenjak dirinya sakit cucunya banting tulang untuk mereka makan dan sehari-hari apalagi di tambah obat-obatan yang begitu mahal sekali harganya bila di desa.
" Maafkan nenek ya nduk, karena nenek kamu harus putus sekolah " Kata Nek Yana penuh penyesalan di kedua matanya
Arumi menghentikan aktivitas nya, ada rasa nyeri yang menusuk di dadanya hidupnya benar-benar begitu berat untuk di jalani. Namun apapun yang ia lalui ia memiliki tuhan dan juga nenek yang sentiasa bersamanya,
" Nek!, Bukan salah nenek Rumi sendirikan yang meminta untuk tidak lanjut sekolah dasar waktu itu " Sahut Arumi matanya memerah menahan buliran air mata.
" Maafkan nenek, harusnya nenek bisa lebih keras lagi berkerja kamu tidak akan terlambat sekolah. Harusnya kamu sudah duduk di sekolah menengah atas tap" Air mata nek Yana mengalir deras bagaikan hujan
Menjadi orang yang kekurangan begitulah menyakitkan, banyak beberapa pilihan yang harus kita pilih antara kebutuhan dan keinginan. Di lubuk hati Arumi ia ingin sekali lanjut namun apalah daya nya ia hanyalah gadis desa yang keterbatasan harta
Sulit baginya untuk memikirkan dirinya sendiri, sedangkan yang harus ia pikirkan juga ada neneknya. Arumi berusaha menutupi keinginan nya untuk bersekolah seperti anak pada umumnya walaupun begitu sakit melihat anak-anak di desa sebayanya
Yang memakai seragam berwarna abu-abu, tertawa riang senyuman terlukis di bibir mereka seolah kehidupan itu begitu manis
****
Kaki kecil itu berpijak di sebuah rumah berwarna putih yang di keliling pagar kecil terbuat dari bambu. Ia tersenyum melihat seorang yang keluar dari rumah bercat putih yang sudah agak pudar seperti sudah tidak ada yang bernaung di bawah atap rumah itu.
" Arini! " Panggil Arumi
" Arumi! " Gadis di kepang dua tersebut bergegas membuka pintu pagar terbuat dari bambu yang sudah agak pudar warna nya, ia tersenyum melihat Arumi
" Jadi kan kita ke Kabupaten katanya, kamu mau ke kantor pos juga? " Tanya Arumi kepada sang sahabat yang berdiri di depannya
" Pastinya dong, kan aku mau kirim surat cinta untuk Abang Reno tersayang! " Seru nya sembari mengangkat sebuah surat berwarna pink ke udara. Arumi tergelak dengan kehebohan sang sahabat baiknya
" Pasti kamu merindukan abang mu tersayang bukan? " Tebak Arumi sedikit menggoda
" Jelas abang Reno adalah suratan takdir ku, Arumi harus kamu tahu itu! " Sahut Arini gadis berusia dua puluh dua tahun
" Ya, aku harap kalian segera melaksanakan pernikahan ya " Doa Arumi tulus
" Amin!, doa yang sama untuk kamu sama Bang Ardian " Sahut Arini membuat senyuman Arumi memudar. Entah kenapa nama tersebut membuatnya takut nama tunangannya yang berada di Jakarta
Lelaki muda yang berhutang budi kepada sang nenek dan berjanji akan meminang dirinya, nanti saat akhir tahun. Entah kenapa ia merasa tidak enak dan nyaman kala mengingat nama tunagannya itu
" Kamu ngga buat surat untuk Bang Adrian? " Tanya Arini di sela langkah mereka
" Buat apa?, kamu tahukan dia orang sibuk tidak ada waktu membaca surat dariku! " Sahut Arumi bibirnya agak bergetar
" Ck!, kamu itu berpikiran negatif terus! " Arini menyenggol tubuh sang sahabat yang langsing itu membuat Arumi berdecak sebal.