NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:573
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Langkah kaki Yukari berhenti tepat di depan gerbang kayu yang warnanya sudah pudar. Ia melihat rumah tempat ia tumbuh, sekarang dikepung rimbunnya pohon cedar Desa Oku-Niko.

Angin siang berembus sejuk, mempermainkan ujung rambutnya. "Akhirnya Aku pulang..," gumam gadis pustakawan itu pelan.

Baru saja ia membuka gerbang, suara Klakson dan deru mesin yang terbatuk-batuk dari kejauhan membuat gadis itu menoleh, sudut bibirnya terangkat

Creeek!

Sebuah pikap tua berhenti tepat di depan pekarangan, Keranjang-keranjang kosong di bak belakangnya saling berbenturan.

"Oi, Nona stempel,,long time no see !"

Daiki melompat turun dari kursi kemudi. Tubuh tegapnya berbalut kaus lusuh dan handuk kecil yang melingkar di leher. Senyum lebarnya langsung merekah begitu melihat Yukari. Pria yang empat tahun lebih tua darinya itu berjalan cepat, lalu berhenti tepat di hadapan Yukari.

"Wah, gayamu makin mirip kutu buku sejati," goda Daiki jail

Matanya menyipit, menilai penampilan sahabat lamanya itu dari atas sampai bawah

Yukari belum sempat membalas ketika tangan Daiki mendarat di kepalanya, mengacak poni rambutnya hingga berantakan sebelum akhirnya menariknya ke dalam dekapan erat yang hangat. Aroma tanah dan sisa pupuk langsung menguar, membuat Yukari terkekeh. Daiki dan keluarganya adalah satu-satunya orang terdekat yang ia miliki di desa ini sejak orang tuanya berpulang tiga tahun lalu.

"Aku langsung memacu mobil seperti orang gila begitu tahu kamu sudah sampai," kata Daiki sambil melangkah mundur, melepaskan pelukannya.

Yukari melirik bak pikap yang kosong. "Sepertinya daganganmu habis bersih hari ini?"

Daiki berkacak pinggang, wajahnya tampak jemawa. "Tentu saja. Lobak Oku-Niko sedang jadi primadona di pasar bawah. Keuntungan bulan ini tembus target!"

Pria itu kemudian merebut koper dari tangan Yukari dengan enteng. "Sudah, jangan melamun di halaman penuh rumput ini. Ayo masuk, di dalam pasti pengap sekali."

Di dalam rumah, Daiki melangkah masuk untuk meletakkan tas Yukari di kamar, sementara Yukari sibuk membuka jendela-jendela kayu yang berat.

"Kamu sudah dua tahun tidak pulang. Ini cuma liburan biasa... atau kamu berencana menetap di sini lagi?" tanya Daiki dari arah dapur sambil menyalakan saklar listrik.

Yukari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang terasa sunyi. Kondisi bangunan ini untungnya tidak banyak kerusakan. Matanya menyapu setiap sudut langit-langit, memeriksa apakah ada noda bekas kebocoran air hujan atau kayu yang lapuk karena lembap.

Aku tidak mungkin bilang alasan asliku datang ke sini setelah sekian lama, lirih Yukari dalam hati.

"Emm... bagaimana kalau aku pulang karena merindukan suara bising dari sahabatku ini, hm?" kilah Yukari, mencoba mencairkan suasana.

Daiki menyipitkan mata, lalu sebuah senyum jahil terukir sesaat di wajahnya. "Well... nggak heran sih. Akhir-akhir ini pesonaku memang sering bikin banyak wanita agak agresif."

Yukari langsung terkekeh geli mendengarnya. "Yee... itu kan ibu-ibu pedagang pasar yang berebut lobakmu! Jangan kegeeran, Daiki."

Sambil masih tertawa kecil, Yukari merangkul lengan Daiki dan menariknya paksa untuk keluar dari dapur. "Ayo, temani aku melihat sekeliling rumah dulu."

Mereka melangkah ke halaman samping yang dipenuhi rumput liar setinggi lutut. Udara Desa Oku-Niko terasa agak lembap di kulit, membawa bau khas tanah dan pepohonan yang menenangkan.

Yukari berjalan pelan sambil memegang ponselnya. Ia sesekali berhenti, lalu mengambil foto dinding kayu rumah dari berbagai sudut.

Daiki yang berjalan di sebelahnya memperhatikan gerak-gerik ganjil itu sejak tadi. Pria itu melipat tangan di dada dengan dahi berkerut. "Kamu ini beneran nggak kelihatan kayak orang yang lagi pulang buat liburan biasa, Yukari."

Yukari menurunkan ponselnya. Ia menatap permukaan dinding rumahnya yang mulai kusam sebelum akhirnya menoleh ke arah Daiki. "Memang bukan buat liburan."

"Terus?" tanya Daiki heran.

"Aku mau menjual rumah ini."

Mendengar itu, Daiki langsung terbelalak. Langkahnya mendadak berhenti di tengah halaman. "Hei... kamu serius, Yukari?! Ini kan rumah peninggalan orang tuamu!"

"Aku serius, Daiki," jawab Yukari dengan nada sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan rasa berat di hatinya. "Kondisi bangunan di dalam masih bagus. Rumah ini juga punya halaman luas, pemandangan desanya indah, dan aliran sungai di belakang masih sangat jernih. Semua itu pasti punya nilai jual yang tinggi di internet."

Yukari buru-buru mengangkat ponselnya lagi sebelum Daiki sempat memprotes lebih jauh. "Ah, aku belum sempat memotret area sungai di belakang."

Tanpa menunggu tanggapan dari sahabatnya, Yukari berbalik dan segera berjalan cepat menuruni jalan setapak yang agak licin menuju ke arah gemercik air sungai.

"Heh! Tunggu dulu! Jangan jalan cepat-cepat, jalannya licin!" seru Daiki dari belakang, terpaksa berlari kecil untuk menyusul.

Begitu sampai di tepi sungai, udara dingin langsung terasa menusuk kulit. Aliran air sungai Oku-Niko siang itu tampak sangat deras, menghantam bebatuan kali yang hitam dan licin hingga menimbulkan riak putih.

Yukari mulai mengarahkan kamera ponselnya, membingkai pemandangan alam yang masih alami itu.

Cetek. Cetek.

Ia mengusap layar ponsel untuk memeriksa hasil tangkapan kameranya. Namun, sedetik kemudian, jemarinya membeku. Senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya lenyap seketika, berganti dengan rasa syok yang membuat seluruh wajahnya pucat pasi.

Di salah satu sudut foto yang baru saja diambil, tepat di atas sebuah batu besar yang membelah arus deras di tengah sungai... tampak sesosok pria tergeletak kaku. Pakaiannya yang basah kuyup membuat tubuhnya nyaris menyatu dengan warna batu.

"DAIKI!" Yukari berteriak panik, jarinya yang gemetar menunjuk-nunjuk ke arah tengah sungai. "Ada orang! Itu... di atas batu besar itu! Ada orang hanyut!"

Daiki tidak membuang waktu untuk bertanya lagi. Pria desa itu langsung berlari kencang menerobos semak-semak rimbun di pinggir sungai, disusul Yukari yang mencengkeram ponselnya erat-erat.

Semakin dekat, sosok pria itu terlihat makin jelas. Tubuhnya terbaring pasrah di atas batu, sementara arus air yang kuat terus menghantam bagian bawah badannya. Sedikit saja tubuhnya bergeser karena hantaman air, dia pasti akan langsung hanyut terseret arus jeram yang tajam di bawah sana.

"Kamu pegang tepian dari sebelah sana! Jangan sampai ikut terpeleset ke dalam!" seru Daiki memberi aba-aba dengan suara lantang mengalahkan deru air.

Yukari mengangguk cepat dengan wajah tegang luar biasa.

Daiki melompat lebih dulu ke dalam air. Arus sungai yang dingin dan deras sempat membuat langkah sepatu botnya goyah di atas kerikil kali, tetapi ia tetap memaksa maju mendekati batu. Daiki sekuat tenaga meraih bahu pria asing itu yang terasa sangat berat karena pakaiannya yang basah kuyup, sementara Yukari membungkuk dari atas tepian, membantu menarik lengan kemejanya.

Dengan susah payah dan napas yang hampir habis, mereka berdua akhirnya berhasil menyeret tubuh pria itu ke atas tanah rerumputan yang kering.

"Apa... apa dia sudah mati?" tanya Yukari dengan suara bergetar parah. Dada gadis itu naik-turun karena napasnya yang memburu.

Rambut hitam yang basah menutupi sebagian wajah pria asing yang berantakan itu. Ada brewok tipis di rahangnya yang tegas, sementara kulitnya terasa sedingin es dan berwarna pucat kebiruan.

Yukari segera berlutut di samping tubuh yang telungkup itu. "Biar kuperiksa."

Ia menempelkan jari-jarinya yang gemetar di pergelangan tangan pria itu, mencoba mencari denyut nadi yang tersisa. Yukari menggeleng pelan menatap Daiki, matanya mulai berkaca-kaca karena panik. "Nadinya... nggak terasa."

Wajah Daiki berubah tegang dan mengeras. "Ya tuhan!"

Yukari menarik napas panjang, "Aku akan melakukan CPR,"

Ia segera berlutut di sampingnya meletakkan kedua telapak tangann di tengah dada, lalu mulai melakukan kompresi. Setelah itu, ia membuka jalan napas korban dan memberikan napas buatan dari mulut ke mulut.

"Satu... dua... tiga..."

Tetap tidak ada reaksi. Dada pria itu masih rata dan diam.

Yukari kembali menekan dada pria itu dengan sisa tenaganya. "Bangunlah, kumohon..." suaranya nyaris habis karena putus asa.

Tetap tidak ada respons dari tubuh kaku di depannya. Yukari mengulanginya lagi untuk ketiga kali, kini dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. "Hei! Jangan mati di sini! Jangan mati di rumahku!" serunya frustrasi.

Daiki hanya bisa duduk lemas di sampingnya dengan kepalan tangan yang memutih, bingung dan cemas menatap pria di depan mereka.

Tepat saat Yukari kembali memberikan napas buatan yang terakhir, tubuh pria itu tiba-tiba tersentak hebat.

“Uhuk! Uhukkk!”

Air sungai yang kotor menyembur keluar dari mulutnya. Pria itu terbatuk-batuk hebat secara beruntun, tubuhnya meringkuk ke samping seraya paru-parunya berjuang keras meraup oksigen kembali.

"Syukurlah..." Yukari terduduk lemas di atas rumput, mengembuskan napas lega yang luar biasa. Ia mundur selangkah, memberi ruang seluas mungkin agar pria itu bisa bernapas bebas.

Napas pria itu masih tersengal-sengal parah. Dadanya naik-turun tidak beraturan sebelum akhirnya kelopak matanya yang berat terbuka perlahan.

"Hei," panggil Yukari dengan nada selembut mungkin, takut mengejutkannya. "Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"

Daiki ikut mendekat, berlutut di sisi lain. "Pelan-pelan saja. Sini, kami bantu duduk."

Yukari mengulurkan tangan ke punggung pria tersebut, bermaksud menyangga badannya agar nyaman. Namun...

Plak!

Tangan Yukari ditepis dengan sangat kasar. Yukari terlonjak kaget dan langsung menarik tangannya kembali dengan tatapan tidak percaya.

Pria itu memaksakan diri untuk bangun dan duduk sendiri meski seluruh tubuhnya masih gemetar hebat seperti dahan ditiup angin. Pandangannya jatuh pada Yukari—bukan dengan rasa terima kasih, melainkan dengan tatapan kelam yang dingin dan penuh penolakan.

"Lancang..." gumamnya dengan suara yang sangat serak, berat, dan menyakitkan.

Yukari spontan menoleh pada Daiki yang sekarang matanya sudah menyipit, amarahnya jelas tersulut.

"Kenapa..." Pria itu mencengkeram dadanya yang kesakitan, napasnya terputus-putus. "...kalian... menyelamatkanku?"

Daiki langsung habis kesabaran. Pria desa itu maju dan menyambar kasar kerah kemeja sang pria asing yang basah kuyup. "Hei!" bentaknya berang. "Harusnya kamu itu tahu diri dan bersyukur, keparat! Kami sampai nekat bertaruh nyawa turun ke sungai deras buat narik kamu. Kamu nyaris hanyut jadi mayat, tahu!"

"Daiki, sudah! Jangan!" Yukari buru-buru memegang lengan kekar sahabatnya sambil menggeleng pelan, memohon agar Daiki tidak memukul orang yang baru saja lolos dari maut.

Daiki mendecak kesal, lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga pria itu terhuyung kembali ke tanah.

Sementara itu, wajah pria tersebut semakin pucat sewarna kapur. Bibirnya yang membiru bergetar dan napasnya kembali berat, seolah setiap tarikan udara menguras habis sisa tenaganya yang kritis. Perlahan, kepalanya mulai terkulai lemah ke samping.

"Biarkan..." bisiknya lirih dengan pandangan yang mulai kosong. "...aku... mati."

Bruk!

Tubuhnya kembali ambruk begitu saja di atas tanah rerumputan yang basah.

"Oh Tuhan!" Yukari kembali mendekat panik, memeriksa napas di depan hidung pria itu berulang kali. " masih bernapas. Sepertinya dia hanya syok dan kelelahan."

Daiki mengusap wajahnya yang basah oleh cipratan air dengan kasar, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat frustrasi. "Sialan..." gerutunya pada langit sore yang mulai gelap.

Yukari terdiam, memandangi wajah pucat pria tak dikenal yang kini terbaring pasrah di hadapannya.

Niat awalnya datang kembali ke Oku-Niko adalah untuk menjual rumah peninggalan orang tuanya. Namun, belum genap beberapa jam ia menginjakkan kaki di sini, takdir justru melempar seorang pria misterius yang sekarat tepat di sungai belakang rumahnya.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!