NovelToon NovelToon
Cahaya Di Jalan Terjauh

Cahaya Di Jalan Terjauh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyelamat
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Dika terbiasa berjalan kaki berjam-jam setiap hari, melewati gang sempit dan debu jalanan Jakarta Utara. Hidupnya sederhana—hanya berbekal buku catatan tua peninggalan ibunya dan tekad yang tak mudah goyah. Semua berubah ketika ibunya jatuh sakit, dan satu-satunya jalan adalah menerima tawaran dari keluarga Wijaya, salah satu keluarga terkaya di kota itu.

Di balik pagar tinggi rumah megah itu, hidupnya berubah total. Ia harus beradaptasi dengan aturan yang rumit, tatapan yang meremehkan, dan dunia yang sama sekali asing baginya. Di sana ia bertemu Kirana, gadis cantik pewaris keluarga yang ternyata hidup kesepian di tengah kemewahan. Perlahan, di antara percakapan dan waktu yang dihabiskan bersama, tumbuh perasaan yang tak terduga.

Tapi kedekatan itu tak disukai semua orang. Ada yang diam-diam mengincar kekayaan keluarga dan melihat Dika sebagai ancaman. Tuduhan demi tuduhan mulai dilontarkan, berusaha menjatuhkannya dan memisahkannya dari Kirana. Di tengah badai fitnah dan tekanan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Gang Sempit dan Mobil Hitam

Sore itu langit Jakarta Utara berwarna kelabu, persis seperti hari-hari biasanya di ujung gang tempat Dika tinggal. Jalanan berdebu, bau sampah dan asap kendaraan bercampur jadi satu, tapi baginya ini rumah. Tempat di mana ia tumbuh besar bersama ibunya, meski tak punya banyak apa-apa selain ketenangan dan rasa syukur.

Dika baru saja pulang dari perpustakaan umum. Di tangannya ada dua buku tebal yang dipinjamnya—buku pelajaran dan satu buku cerita tua yang jarang orang baca lagi. Jari-jarinya sedikit kotor terkena debu jalanan, bajunya juga sudah ada beberapa tambalan di sana-sini, tapi matanya tetap bersinar. Ia berjalan pelan, memikirkan ujian sekolah minggu depan, juga obat yang makin mahal dan sulit dicari untuk ibunya yang sudah dua minggu ini terbaring lemah di atas tikar bambu.

Belum sampai di depan rumahnya yang berdinding papan dan beratapkan seng itu, ia melihat sesuatu yang aneh. Di ujung gang yang sempit dan hanya cukup dilalui satu kendaraan itu, berhenti sebuah mobil hitam mengkilap—sesuatu yang jarang sekali lewat, apalagi berhenti lama di sini. Warga sekitar mulai melongok dari balik pintu dan jendela rumah, penasaran siapa yang datang dan mencari siapa.

Seorang pria berpakaian kemeja putih rapi dan celana panjang hitam turun dari dalam. Rambutnya disisir rapi, sepatunya mengkilap tak ada setitik debu menempel. Ia melirik sekeliling dengan pandangan yang agak asing, lalu matanya tertuju tepat pada Dika yang berhenti melangkah di tempat.

“Kamu Dika, bukan?” tanyanya. Suaranya datar, tak ramah tapi juga tidak kasar.

Dika mengangguk pelan, tangannya makin erat memegang pinggiran buku. “Benar, Pak. Ada apa ya? Mencari saya?”

“Saya disuruh Nyonya Wijaya menjemputmu. Dia mau bicara langsung sama kamu. Sekarang juga.”

Jantung Dika berdebar kencang. Nama itu tentu saja ia kenal—keluarga Wijaya adalah salah satu keluarga terkaya dan paling dihormati di kota ini, pemilik banyak pabrik tekstil, gedung perkantoran, dan perkebunan di luar kota. Ibunya dulu memang pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah mereka, tapi sudah berhenti lebih dari lima tahun yang lalu karena usia dan kesehatan. Apa yang mungkin diinginkan orang sebesar itu padanya, anak muda yang hidup pas-pasan seperti dirinya?

Ia menoleh sebentar ke arah rumahnya, lalu memandangi pria itu lagi dengan hati-hati. “Boleh saya tahu urusannya apa, Pak? Saya harus pamit dulu sama ibu saya di dalam.”

“Lebih baik tanya langsung sama Nyonya. Waktunya terbatas. Kalau mau pamit, cepatlah.”

Tanpa banyak pilihan—apalagi di benaknya terus terlintas pikiran, bisa jadi ini ada hubungannya dengan keadaan ibunya yang sakit—Dika akhirnya mengangguk. Ia masuk sebentar ke rumah, mencium tangan ibunya yang lemah, berbisik kalau ia diajak bicara dan akan segera kembali. Setelah meletakkan barang-barangnya, ia mengambil buku catatan kecil peninggalan ibunya yang selalu ada di saku baju, lalu melangkah keluar dan masuk ke dalam mobil itu.

Pintu tertutup rapat, dan suasana di dalamnya terasa sunyi sekaligus dingin. Dika tidak berani banyak bergerak, hanya menatap keluar jendela. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan gang kumuh, melewati pasar yang ramai, lalu masuk ke jalan raya yang makin lebar, bersih, dan tertata rapi. Bangunan di kiri kanan pun berubah—dari rumah sederhana menjadi ruko, lalu perumahan dengan pagar tinggi dan halaman luas. Rasanya seperti berpindah dunia dalam waktu singkat.

Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi berukir indah yang dijaga dua orang berseragam. Gerbang terbuka lebar, dan mobil masuk perlahan melewati jalan setapak yang diapit pohon-pohon rindang dan bunga-bunga warna-warni. Di ujungnya berdiri sebuah rumah besar berarsitektur tua yang megah, berpendar cahaya lampu kuning hangat di setiap jendelanya.

Begitu turun, Dika merasa dirinya sangat kecil. Ia melangkah hati-hati mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah. Udara di dalamnya terasa sejuk dan wangi, berbeda dengan udara panas dan agak pengap di tempat tinggalnya. Lantai marmernya mengkilap sampai bisa memantulkan bayangan tubuhnya sendiri. Suasana hening, hanya terdengar suara langkah kaki mereka bergema.

Mereka sampai di ruang tamu yang luas sekali. Di sana, seorang wanita paruh baya duduk tegak di atas sofa besar berwarna krem. Wajahnya tegas, tatapannya tajam, dan pakaiannya terlihat mahal—itulah Nyonya Wijaya. Di sampingnya duduk seorang gadis muda, mungkin seumuran dengan Dika, mengenakan gaun berwarna gading yang rapi, rambutnya disisir rapi tergerai di bahu. Gadis itu menatap Dika dari atas sampai bawah dengan pandangan yang sulit ditebak—campuran antara rasa ingin tahu dan sedikit curiga.

“Dika,” suara Nyonya Wijaya memecah keheningan ruangan itu. “Duduklah di sana.” Ia menunjuk kursi di seberangnya.

Dika mendekat perlahan, lalu duduk di tepi kursi dengan sikap sopan. Ia meletakkan tangannya di atas paha, menunduk sebentar sebelum berani menatap wajah wanita di depannya. “Selamat sore, Nyonya. Saya Dika. Ibu Siti adalah ibu saya. Apa yang bisa saya bantu?”

Nyonya Wijaya menarik napas panjang, lalu menatap lekat-lekat wajah pemuda di hadapannya. “Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku memanggilmu ke sini. Lima tahun lalu, ibumu bekerja untukku. Dia orang yang jujur, rajin, dan bisa dipercaya. Hari ini aku mendengar kabar kalau dia jatuh sakit keras dan tidak punya biaya berobat. Apakah itu benar?”

Dika tertegun sesaat, lalu mengangguk pelan sambil matanya terasa panas. “Benar, Nyonya. Sudah dua minggu ini beliau terbaring. Kami sudah kehabisan uang untuk membeli obat dan membawa ke dokter.”

“Baiklah,” Nyonya Wijaya meluruskan posisi duduknya. “Aku bisa menanggung semua biaya pengobatan ibumu, sampai dia sembuh total. Aku juga akan menyiapkan tempat perawatan terbaik untuknya. Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi.”

Jantung Dika berdegup kencang. “Syarat apa, Nyonya? Apa saja yang bisa saya lakukan, akan saya usahakan.”

“Kau akan tinggal di rumah ini, membantu pekerjaan ringan di dalam dan luar rumah, dan menjadi teman bicara untuk Kirana—putriku ini.” Nyonya Wijaya melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. “Kirana jarang punya teman seumuran. Dia tumbuh terlalu terlindung. Aku ingin ada orang jujur di sampingnya, orang yang tidak melihat kekayaan keluarga ini sebagai tujuan utama. Aku percaya, didikan ibumu yang baik membuatmu bisa menjadi orang seperti itu. Bagaimana? Apakah kau bersedia?”

Dika terdiam. Ia melirik sekilas ke arah Kirana yang masih diam saja, lalu menatap Nyonya Wijaya lagi. Di benaknya bergemuruh: ini satu-satunya jalan agar ibunya sembuh, tapi di sisi lain ia sadar betapa besar perbedaan antara dirinya dan dunia ini. Namun, melihat kesempatan ini, ia tidak bisa menolak.

Dika menegakkan badannya sedikit, lalu menjawab dengan suara mantap namun sopan: “Saya bersedia, Nyonya. Terima kasih banyak atas kebaikan Ibu. Saya janji akan bekerja dengan rajin, bersikap sopan, dan tidak akan menyusahkan.”

“Bagus,” Nyonya Wijaya mengangguk puas. “Mulai besok kau sudah bisa tinggal di kamar tamu sebelah sayap timur. Besok sore, dokter akan diantar ke rumahmu untuk memeriksa ibumu. Nanti akan diatur juga perawatannya. Sekarang kau boleh pulang, bereskan barang-barangmu, dan pamit pada tetangga. Besok pagi sopir akan menjemputmu kembali.”

Dika berdiri dan menunduk hormat. “Baik, Nyonya. Terima kasih banyak.” Sebelum melangkah pergi, matanya sempat bertemu dengan tatapan Kirana. Gadis itu membuang muka dengan cepat, seolah tidak tertarik, tapi Dika bisa melihat ada rasa penasaran yang tersembunyi di balik matanya.

Dalam perjalanan pulang, pikiran Dika berkecamuk. Hidupnya yang sederhana dan tenang seolah akan berubah total. Ia akan masuk ke dunia yang asing, penuh kemewahan, dan aturan yang mungkin belum ia pahami. Namun satu hal yang ia yakini: selama ia tetap jujur dan tidak melupakan asal-usulnya, ia pasti bisa bertahan—dan menyelamatkan nyawa orang yang paling dicintainya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!