NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Lapisan Kebohongan yang Sempurna

Visual Han Ji an

[inspiration from actress Im Yoona]

Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen berdesain mewah itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Han Ji-an. Di ruang makan kediaman keluarga Kang yang terletak di kawasan elit Seongbuk-dong, atmosfer selalu terasa mencekam, seolah oksigen di sana sengaja dikurangi untuk membuatnya sesak napas.

​"Sampai kapan kau mau membuat keluarga kami menjadi bahan tertawaan, Han Ji-an?"

​Suara dingin dan tajam itu berasal dari Nyonya Oh, ibu mertua Ji-an.

Wanita paruh baya dengan sanggul rapi tanpa cela itu meletakkan sendoknya dengan ketukan keras yang sengaja dibuat-buat.

​Ji-an menghentikan gerakannya. Ia menunduk, menatap nasi putih di mangkuknya yang hampir tidak tersentuh.

"Ibu, maafkan aku..."

"Maaf? Hanya itu yang bisa keluar dari mulutmu selama tiga tahun ini!" Nyonya Oh mendengus seolah kata maaf dari Ji-an adalah polusi bagi pendengarannya.

"Tiga tahun! Tiga tahun kau menikah dengan Min-woo, tapi rahimmu itu masih sekering gurun pasir. Kau tahu apa yang dikatakan teman-teman arisanku? Mereka bilang Chaebol generasi ketiga keluarga Kang akan terputus karena aku salah memilih menantu!"

​Ji-an meremas lututnya di bawah meja hingga jemarinya memutih. Rasa sakit menjalar di dadanya, bukan hanya karena hinaan itu, tetapi karena rahasia besar yang ia kunci rapat-rapat di dalam lubuk hatinya.

​Bukan aku yang mandul, Ibu. Tapi putramu. Kang Min-woo, putra kebanggaanmu yang tidak subur.

​Satu tahun yang lalu, hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Min-woo menderita azoospermia ekstrem—peluangnya untuk memiliki keturunan hampir nol.

Ji-an masih ingat bagaimana suaminya menangis histeris malam itu, bersujud di kakinya, memohon agar rahasia itu tidak dibongkar.

Sebagai penerus utama Ilsung Group, jika publik tahu Min-woo mandul, posisinya di dewan direksi akan langsung digeser oleh sepupu-sepupunya yang licik. Harga diri Min-woo sebagai pria Korea yang angkuh akan hancur lebur.

​Karena cinta, karena rasa iba yang bodoh, Ji-an setuju untuk menukar hasil laboratorium mereka. Ia menyuruh dokter swasta memalsukan dokumen, menyatakan bahwa Han Ji-an lah yang memiliki kelainan pada sistem reproduksinya sehingga mustahil untuk hamil.

​Sejak hari itu, Ji-an berjalan di atas paku payung. Ia menelan semua pil pahit, ramuan herbal menjijikkan, dan cacian mertua demi melindungi pria yang dicintainya.

​"Ibu, sudahlah. Jangan menekan Ji-an terus. Ini juga membuatku stres."

​Pintu ruang makan terbuka, dan Kang Min-woo melangkah masuk. Jas mahalnya tersampir di lengan, dasinya sudah agak longgar. Wajahnya yang tampan tampak kelelahan, namun ada kilatan aneh di matanya yang gagal ditangkap oleh Ji-an yang terlanjur lega melihat suaminya pulang.

Visual Kang Min Woo [Inspiration from actor Park Sunghoon]

​Ji-an segera berdiri, menyambut suaminya dengan senyuman lembut yang selalu ia paksakan.

"Kau sudah pulang, sayang? Mau kuambilkan makan malam?"

​"Tidak usah. Aku sudah makan di luar dengan klien," jawab Min-woo dingin, nyaris tanpa emosi.

Ia bahkan tidak menatap mata Ji-an saat melewati istrinya untuk duduk di samping ibunya.

​Nyonya Oh langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi penuh kasih sayang.

"Min-woo ya, kau bekerja terlalu keras. Bagaimana kau bisa mendapatkan energi jika istrimu bahkan tidak bisa memberikanmu seorang anak untuk menyambutmu di rumah?"

​Min-woo menghela napas panjang. Ia menatap Ji-an dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa bersalah yang sekilas lewat, namun dengan cepat digantikan oleh kedengkian yang dingin.

"Ibu, sebenarnya ada hal penting yang ingin kubicarakan malam ini. Ini menyangkut masa depan keluarga kita. Dan... pernikahan kami."

​Jantung Ji-an berdegup kencang. Firasat buruk tiba-tiba mencengkeram lehernya.

"Min-woo ya? Apa maksudmu?"

​Min-woo tidak menjawab istrinya. Ia justru merobek tas kerja kulitnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu meletakkannya di atas meja makan yang dilapisi marmer mahal.

​"Ini adalah hasil pemeriksaan terbaru dari Rumah Sakit Pusat Seoul. Aku sengaja meminta bantuan Se-hee untuk memeriksa ulang rekam medis Ji-an, dan... membandingkannya dengan tes kesuburanku yang terbaru," ujar Min-woo datar.

​Nama 'Se-hee' membuat Ji-an tersentak. Jung Se-hee adalah sahabatnya sejak masa kuliah di Universitas Yonsei, dan sekarang bekerja sebagai kepala dokter spesialis kesuburan di rumah sakit bergengsi tersebut. Ji-an sendiri yang merekomendasikan Min-woo untuk berkonsultasi secara rahasia dengan Se-hee agar rahasia kemandulan Min-woo tetap aman di tangan orang terpercaya.

​"Apa ini, Min-woo?" Nyonya Oh dengan cepat menyambar amplop itu dan membuka isinya. Lembar demi lembar kertas medis dibacanya dengan mata membelalak.

​"Hasil tesku menunjukkan bahwa aku sepenuhnya sehat dan subur, Ibu," kata Min-woo, suaranya naik satu oktav, terdengar penuh percaya diri yang belum pernah Ji-an dengar dalam setahun terakhir.

"Dan lembar di bawahnya... adalah hasil diagnosis absolut Han Ji-an. Rahimnya mengalami kerusakan permanen akibat sindrom yang tidak bisa disembuhkan. Dia... mandul total."

​Ji-an membeku. Kepalanya terasa seperti dihantam oleh gada besi. Apa? Apa yang dia katakan?

​"Min-woo! Apa yang kau bicarakan?!"

Ji-an berteriak, melupakan tata krama di depan ibu mertuanya. Ia merebut kertas-kertas itu dari tangan Nyonya Oh. Mata Ji-an menyisir angka-angka dan istilah medis di sana. Di sana tertulis jelas: Pasien Han Ji-an – Infertilitas Primer Mutlak. Sementara di lembar milik Kang Min-woo, jumlah dan motilitas spermanya tertulis berada di angka normal yang sangat sehat.

​"Ini palsu..." Bisik Ji-an, tangannya gemetar hebat hingga kertas itu berkeresek keras.

"Min-woo, kau tahu ini palsu! Kau sendiri yang tahu bagaimana hasil yang sebenarnya setahun lalu! Kenapa kau... kenapa kau melakukan ini?!"

​"Cukup, Han Ji-an!" Nyonya Oh berdiri dari kursinya, memukul meja dengan keras hingga cangkir teh terguling. "Kau wanita tidak tahu malu! Sudah mandul, sekarang kau menuduh putraku memalsukan dokumen? Kau mau mengatakan putraku yang tidak berguna, begitu?!"

​"Ibu, bukan begitu! Min-woo, katakan sesuatu! Katakan pada Ibu yang sebenarnya!" Ji-an menatap suaminya dengan mata yang mulai digenangi air mata panas.

Setitik harapan tersisa di hatinya bahwa Min-woo hanya sedang bercanda, atau ini adalah bagian dari taktik bisnis yang tidak ia pahami.

​Namun, Min-woo hanya menatapnya dengan tatapan jijik. Pria yang dulu memeluknya dan berjanji akan mencintainya seumur hidup meskipun tanpa anak, kini menatapnya seolah Ji-an adalah seonggok sampah yang mengotori rumahnya.

​"Ji-an ah, berhentilah histeris," kata Min-woo, suaranya begitu tenang hingga terasa kejam.

"Aku sudah cukup bersabar selama tiga tahun ini. Aku menutup mata dari kekuranganmu karena aku mencapaimu sebagai istriku. Tapi mengadopsi anak atau hidup tanpa keturunan darah murni bukanlah pilihan bagi penerus Ilsung Group. Kita... selesai di sini."

​Min-woo mengeluarkan dokumen lain dari tasnya. Kali ini, sebuah kertas dengan judul yang membuat seluruh dunia Ji-an runtuh: Surat Perjanjian Perceraian.

​"Aku sudah menandatanganinya. Karena alasan perceraian ini murni karena kesalahan biologismu dan ketidakmampuanmu memberikan keturunan, sesuai perjanjian pranikah kita, kau tidak berhak atas aset keluarga Kang atau gono-gini." Min-woo meletakkan pena di atas kertas itu.

"Tanda tanganilah dengan damai, demi sisa harga diri yang kau miliki."

​"Kau... kau menceraikanku?" Suara Ji-an tercekat di tenggorokan. Air matanya luruh, membasahi pipinya yang pucat.

"Setelah semua yang kulakukan untukmu? Setelah aku menanggung semua makian ibumu? Setelah aku berpura-pura menjadi wanita cacat di depan dunia demi menjaga nama baikmu?!"

​"Berpura-pura?" Nyonya Oh menyela dengan tawa sinis. "Kau dengar itu, Min-woo? Wanita gila ini masih berhalusinasi. Pengawal! Masuk!"

​Dua pria berjas hitam segera masuk ke ruang makan.

​"Kemas barang-barang wanita ini. Hanya pakaian yang dia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Semua perhiasan, tas, dan mantel yang dibeli dengan uang keluarga Kang, tinggalkan!" Perintah Nyonya Oh kejam.

​"Ibu! Min-woo!" Ji-an mencoba meraih lengan Min-woo, namun suaminya itu dengan kasar menepis tangannya hingga Ji-an tersungkur ke lantai marmer yang dingin. Rasa sakit di lututnya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya yang hancur berkeping-keping.

​"Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor," desis Min-woo. "Besok pagi, pengacaraku akan mengurus ini ke pengadilan. Kuharap kau tidak membuat keributan, Ji-an. Atau aku akan memastikan keluargamu yang miskin itu tidak akan bisa hidup tenang di negara ini.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!