Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Ras Manusia Murni Yang Hina
Ranah Kultivasi:
-Mortal Frame Realm
-Spirit Awakening Realm
-Qi Resonance Realm
-Essence Weaving Realm
-Core Crystallization Realm
-Soul Fragmentation Realm
-Celestial Synchronization Realm
-Void Anchoring Realm
-Temporal Resonance Realm -Dimensional Collapse Realm -Transcendent Ascension Realm
-Eternal Fusion Realm
-Cosmic Unification Realm
-Primordial Awakening Realm
-Immortal Transcendence Realm.
Setiap ranah memiliki enam lapisan, yakni Morning Star, Silver Star, Golden Star, Crimson Star, Violet Star, dan Celestial Star
****
Pos perbatasan Prefektur Ethereal berdiri di tepi kegelapan, di mana dunia manusia berakhir, dan wilayah roh dimulai.
Setiap malam, angin membawa bau yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu yang setengah hidup, dan setengah mati, berderit diantara dimensi.
Arjuna Sasrabahu telah berada di sini selama tiga tahun. Tiga tahun tanpa naik pangkat, tanpa pengakuan, tanpa harapan, dan tanpa naik ranah.
Tiga tahun menonton prajurit Etherion lain terbang dengan sayap bercahaya sementara dia berjalan kaki.
Tiga tahun menghitung waktu dengan detak jantung, dan menghitung peluang dengan perhitungan dingin.
Ia duduk di sudut barak dengan mangkuk nasi yang sudah dingin, tidak dimakan, dan hanya dipegang. Di meja seberang, Rendi, Bagas, Candra, dan tujuh prajurit lain tertawa dengan suara yang menusuk.
"Dengar, apa kabar dengan manusia itu?" tanya Rendi, prajurit dengan ujung sayap yang berkilau seperti kristal. Matanya melotot ke arah Arjuna dengan penghinaan yang transparan. "Masih berpikir dia bisa berkultivasi?"
Bagas, prajurit paling besar dengan tanduk pendek bersinar ungu, meletakkan mangkuknya dengan kencang. "Dia tidak punya urat nadi spiritual. Tidak bisa Kultivasi, dan tidak akan pernah."
"Sungguh disayangkan," timpal Candra dengan nada yang menyebalkan. "Manusia murni di tempat yang penuh dengan supernatural. Seperti mengundang serigala ke kandang domba."
Tawa meledak di meja itu. Arjuna tidak mengangkat kepala. Ia tahu mereka menunggu reaksi ketakutan, kemarahan, dan keputusasaan darinya. Sesuatu yang bisa mereka manfaatkan.
Dia tidak memberinya apa yang mereka mau.
Arjuna mengangkat sendoknya dengan pelan, lalu menyuap nasi yang tawar. Matanya tetap kosong, yakni mata seorang pria yang sudah meninggalkan emosi di suatu tempat yang jauh.
"Aku mengerti …," katanya datar, suara seperti angin yang melewati pohon mati, "Tapi aku tetap di sini."
Keheningan aneh menyusul. Bahkan Bagas berhenti mengunyah.
"Kenapa?" tanya Rendi, seolah pertanyaan itu adalah lelucon. "Kau tahu yang kami lihat? Kami melihat manusia yang sudah kalah sebelum pertarungan dimulai. Manusia yang menunggu untuk dihapuskan."
Arjuna meletakkan sendok. Ia menatap Rendi lurus di mata, dan ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat Rendi mundur sedikit di kursinya tanpa sadar.
"Kalian melihat apa yang ingin kalian lihat," ujar Arjuna, suaranya rendah tapi presisi, "Tapi kalian tidak melihatku."
---
Sore itu, Komandan Wiryo memanggil Arjuna ke ruang latihannya yang luas.
Ruangan itu dipenuhi cahaya biru yang memancar dari panel energi di dinding membuat segala sesuatu terlihat seperti berada di dasar lautan.
Komandan berdiri di tengah ruangan dengan tubuh yang memancarkan aura cahaya sedemikian kuatnya, sehingga membuat Arjuna merasa seperti semut di hadapan raksasa.
Komandan Wiryo adalah ras Etherion murni, dan usianya hanya tiga puluh tahun tapi matanya terlihat berusia ribuan tahun. Lima benang emas di lengan seragamnya menunjukkan bahwa kultivasi tubuhnya sudah jauh melampaui apa yang bisa dipikirkan manusia biasa.
"Arjuna," ucap Komandan, suaranya seperti gema di dalam gua raksasa. "Sudah tiga tahun kau di sini. Tidak ada yang berubah."
"Itu benar, Komandan," balas Arjuna, posisi berdiri tegak dengan tangan di samping.
"Lalu kenapa kau belum mengundurkan diri?" tanya Komandan, langkah kakinya mengelilingi Arjuna seperti predator yang mengevaluasi mangsa. "Tidak ada manusia yang masuk ke pos ini tanpa ambisi. Tidak ada. Mereka semua ingin naik ranah, ingin menjadi ksatria, dan ingin kekuatan."
Arjuna tetap diam.
"Tapi kau," lanjut Komandan, berhenti tepat di depan Arjuna, mata biru miliknya bersinar lebih terang, dan telunjuk menunjuk ke dada Arjuna. "Kau berbeda …. Atau kau hanya terlalu bodoh untuk menyadari kau sudah kalah."
Arjuna membuka mulut untuk menjawab, tapi Komandan mengangkat tangan.
Cahaya biru mengumpul di telapak tangan Komandan Wiryo. Cahaya yang terlihat hidup, bergerak seperti makhluk yang lapar. "Sudah saatnya aku mengakhiri ini. Mengakhiri aib penghinaan ini terhadap Prefektur Ethereal."
Arjuna bergerak untuk menghindari, tapi tubuhnya sudah terlambat. Cahaya itu menembus dadanya, lalu menembus jantung, setelah itu menembus kehidupannya. Rasa sakit yang melampaui segalanya. Rasa sakit yang merobek setiap serat eksistensinya.
Arjuna membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar, hanya darah.
Lalu pandangannya sangat gelap segelap lumpur hitam.
Tubuhnya diangkat oleh Sang Komandan, lalu dilemparkan sekuat-kuatnya, hingga menerobos atap ruang latihan.
Kemudian terjatuh cepat ke sebuah hutan dekat jurang terdalam yang sangat jauh dari barak militer perbatasan prefektur Ethereal yang dihuni oleh ras Etherion, yakni ras campuran antara manusia dan Spirit atau roh.
---
Panel hologram merah muncul di tengah kegelapan.
[Devil Dragon System teraktivasi]
[Memindai inang .... Tubuh mortal terdeteksi dengan kerusakan fatal]
[Menginisialisasi protokol kebangkitan ....]
Suara mekanis itu dingin, dan presisi, seperti mesin yang telah tidur selama ribuan tahun.
"Di mana aku?" bisik Arjuna, meskipun ia tahu dia sudah mati.
[Selamat datang di Devil Dragon System, host]
[Anda telah dipilih sebagai wadah terpilih warisan naga abyss yang terbunuh sebelum mencapai takdirnya]
Gambar panel hologram menampilkan naga raksasa dengan kepala mencakup setengah panel. Matanya merah membara seperti api yang mengkonsumsi waktu.
[Ranah Kultivasi saat ini: Mortal Frame Realm, Lapisan 1: Morning Star]
[Kemajuan Kultivasi: 0% menuju 1%]
Arjuna membuka mata di tepi hutan gelap. Api unggun mencubit tepi tubuhnya. Bintang-bintang pagi bersinar di atas.
Ia menggerakkan jari. Mereka merespons. Tangannya bergerak. Tubuhnya bangun dengan gerakan perlahan tapi pasti.
“Mereka tidak tahu bahwa dengan membunuhku. Mereka telah membangkitkan Sang Naga yang akan melahap mereka,” gumam Arjuna tersenyum menyeringai.
Panel hologram masih melayang di hadapannya.
[Kebangkitan selesai. Selamat datang kembali, host]
Arjuna menatap tangan miliknya. Sesuatu telah berubah di dalam. Sesuatu yang gelap, sesuatu yang lapar.
[Misi tersedia]
Arjuna menatap panel.
[{}]^^^^^^^^^^^^^^^[{}]
[Misi: Balasan]
[Deskripsi: Eliminasi seluruh regu prajurit yang menghinamu. Target harus setingkat Mortal Frame Realm. Kumpulkan sepuluh jantung ras Etherion dengan cara yang paling menyakitkan. Batas waktu: tujuh hari]
[Hadiah: Teknik Kultivasi Devil Dragon Destiny]
[{}]^^^^^^^^^^^^^^^[{}]
Arjuna membaca misi itu dua kali. Tidak ada emosi di wajahnya, hanya mata yang bersinar dengan cahaya merah yang mulai terlihat.
"Sepuluh jantung ya?" desah Arjuna, nama-nama prajurit muncul di ingatannya seperti target di peta. "Tiga tahun mereka menghinaku."
Panel hologram berkedip.
[Misi diterima]
[Kemajuan Kultivasi: 1% menuju 5%]
Arjuna bangkit dari tanah, tubuhnya masih berdarah, tapi sudah tidak terasa sakit lagi. Cahaya merah mulai mengumpul di tangan kirinya. Sesuatu yang tidak pernah ada di tubuh manusia sebelumnya.
Dia menatap kota di kejauhan, di mana Komandan Wiryo dan kesepuluh prajurit itu sedang tertawa, merayakan pembunuhan mereka.
"Mereka sudah membuat kesalahan," ucap Arjuna, suaranya berubah, lebih dalam, dan lebih berat, seperti dua nada suara berbicara bersamaan. "Mereka sudah membuat sesuatu yang akan melahap mereka lebih pedih daripada kematian.”
Cahaya merah meluas dari tangan ke seluruh tubuh Arjuna, dan membentuk pola yang terlihat seperti sisik naga.
Ia tidak lagi menjadi manusia biasa yang sudah Komandan Wiryo bunuh tiga jam yang lalu.
Arjuna yang sekarang adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Rasnya sendiri sudah tidak bisa dideskripsikan oleh campuran genome DNA ras apapun.
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]