NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi / Naik ranjang/turun ranjang
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Lantai marmer koridor fakultas ekonomi itu terasa dingin, sedingin udara AC yang berembus di atas kepala Arunika. Gadis itu berdiri mematung, meremas ujung kemeja flanelnya yang terasa lembap oleh keringat dingin. Di ujung koridor yang agak sepi, pemandangan itu tersaji dengan begitu nyata—seperti sebuah adegan film romantis yang sayangnya, Arunika bukanlah pemeran utamanya.

Marsellino, cowok yang selama tiga tahun ini ia kejar dengan segala bentuk perhatian, kini tengah menggenggam erat tangan Aletta. Aletta sang primadona kampus, dengan rambut wavy yang jatuh sempurna dan senyum yang bisa meluluhkan hati siapa saja.

"Mulai hari ini, kamu milikku, Al," suara Marsel terdengar rendah namun penuh keyakinan.

Aletta tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti denting lonceng di telinga Arunika. "Janji ya, Sel? Jangan lirik-lirik cewek lain lagi."

"Mana mungkin aku lirik yang lain kalau di depanku sudah ada yang paling sempurna?"

Arunika merasakan dadanya sesak. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya kuat-kuat. Ia ingin lari, tapi kakinya seolah tertanam di lantai. Ia ingin berteriak bahwa dialah yang selalu ada saat Marsel butuh bantuan tugas, dialah yang selalu mengirimkan vitamin saat Marsel sakit, tapi semua itu terasa basi sekarang.

"Ngapain masih berdiri di situ?"

Sebuah suara berat, bariton, dan penuh penekanan menginterupsi lamunan Arunika. Gadis itu tersentak, hampir melompat saking kagetnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati sosok tinggi menjulang sedang bersedekap dada.

Thomas Adiputra.

Kakak kandung Marsel itu berdiri dengan setelan jas hitam yang sangat rapi tanpa cela. Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, memancarkan aura otoritas seorang CEO muda. Namun, mata tajam di balik kacamata itu menatap Arunika dengan tatapan merendahkan yang sangat familiar.

"Mas... Mas Thomas?" gumam Arunika gagap.

Thomas tidak menjawab sapaan itu. Ia justru melirik ke arah Marsel dan Aletta di ujung koridor, lalu kembali menatap Arunika dengan datar. "Berhenti bertingkah seperti penguntit malang, Arunika. Itu menjijikkan."

Arunika menggigit bibir bawahnya, matanya mulai memanas. "Aku nggak menguntit, aku cuma..."

"Cuma apa? Menunggu keajaiban supaya Marsel mendadak amnesia dan memilihmu?" Thomas memutus kalimatnya dengan tajam. "Lihat dirimu. Kamu sibuk mengejar orang yang bahkan tidak sudi melihat bayanganmu. Semester akhir, kan? Seharusnya fokusmu itu skripsi, bukan menjadi penonton drama percintaan adikku."

"Mas Thomas nggak tahu apa-apa soal perasaanku!" seru Arunika pelan namun penuh penekanan, mencoba menahan tangis.

Thomas melangkah satu tindak lebih dekat. Wangi parfum kayu cendana yang mahal menyergap indra penciuman Arunika. Pria itu sedikit membungkuk agar sejajar dengan telinga Arunika.

"Perasaanmu itu tidak ada harganya di dunia nyata, Nirmala. Di dunia bisnis, kita menyebutnya kerugian total. Kamu sudah investasi waktu dan tenaga untuk aset yang tidak akan pernah menghasilkan. Berhentilah jadi bodoh."

Setelah mengucapkan kalimat pedas itu, Thomas kembali tegak. Ia melirik sekilas ke arah Marsel. "Marsel!" panggilnya keras.

Marsel dan Aletta tersentak. Mereka menoleh dan baru menyadari kehadiran Thomas dan Arunika. Marsel tampak sedikit salah tingkah, ia melepaskan genggaman tangannya dari Aletta meski hanya sesaat.

"Loh, Mas Tom? Kok di sini?" tanya Marsel sambil menghampiri kakaknya. Ia melirik Arunika sekilas, tatapannya dingin dan tidak nyaman. "Nika? Kamu ngapain di sini?"

Arunika membeku. "Aku... aku tadi mau kasih ini," ia mengangkat sebuah pouch kecil berisi rangkuman mata kuliah manajemen yang ia buatkan semalaman untuk Marsel.

Marsel menghela napas panjang, tampak jengah. "Nika, aku udah bilang berkali-kali, nggak usah repot. Aku bisa urus sendiri. Lagian, mulai sekarang Aletta yang bakal bantu aku belajar."

Aletta yang ikut menghampiri tersenyum manis, namun matanya memancarkan kemenangan yang mutlak. "Iya, Arunika. Makasih ya atas perhatiannya selama ini ke Marsel. Tapi sekarang Marsel udah ada aku."

Arunika menunduk dalam. Tangannya yang memegang pouch itu gemetar. Di sampingnya, Thomas hanya memperhatikan dengan tatapan dingin, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang tidak lucu.

"Sudah selesai dramanya?" tanya Thomas dingin. "Marsel, Papa tunggu di kantor. Jangan telat hanya karena urusan remaja begini. Dan kau," Thomas beralih pada Arunika, "Pulanglah. Cuci mukamu. Kamu terlihat berantakan."

Thomas berbalik pergi tanpa menunggu jawaban. Langkah kakinya yang tegas bergema di koridor. Marsel dan Aletta pun segera berlalu setelah memberikan anggukan singkat yang terasa seperti formalitas belaka.

Arunika berdiri sendirian di koridor yang kini benar-benar sepi. Ia meremas pouch itu, lalu perlahan menjatuhkannya ke tempat sampah di pojok ruangan.

"Nirmala... kamu memang bodoh," bisiknya pada diri sendiri.

Sore harinya, hujan turun deras membasahi komplek perumahan elit tempat keluarga Arunika dan Thomas tinggal. Rumah mereka yang berdampingan hanya dibatasi oleh pagar tanaman rendah.

Arunika sedang duduk di teras samping, menatap rintik hujan dengan mata sembab. Ia masih mengenakan baju yang sama dengan tadi pagi. Pikirannya melayang pada kata-kata Thomas. Kerugian total. Pria itu selalu benar, dan itulah yang paling menyakitkan.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di garasi sebelah. Thomas turun dengan payung hitam besar. Ia tidak langsung masuk ke dalam rumah. Langkahnya justru terhenti saat melihat Arunika yang duduk melamun di tengah terpaan angin hujan.

Thomas berjalan mendekati pagar pembatas. "Masih menangis?"

Arunika tersentak, ia segera menghapus sudut matanya dengan kasar. "Enggak. Cuma kelilipan."

Thomas mendengus pelan, suara yang menyerupai tawa namun tanpa nada ceria. "Bohongmu payah. Sama payahnya dengan caramu mengejar laki-laki."

"Kenapa sih Mas Thomas hobi banget menghina aku?" Arunika berdiri, menantang tatapan pria itu. "Aku tahu aku nggak sepintar Mas Thomas, nggak sekeren Aletta, tapi bukan berarti Mas bisa injak-injak harga diriku terus!"

Thomas menutup payungnya setelah ia sampai di bawah atap teras Arunika, mengabaikan fakta bahwa ini bukan wilayah rumahnya. Ia berdiri di depan Arunika, memancarkan aura dominan yang membuat gadis itu menciut kembali.

"Aku tidak menghinamu, aku sedang memberimu fakta," ujar Thomas datar. "Dunia ini keras, Arunika. Jika kamu membiarkan dirimu terlihat lemah dan menyedihkan karena seorang pria yang bahkan tidak peduli apakah kamu sudah makan atau belum, maka kamu sendiri yang sedang menginjak harga dirimu."

"Tapi aku tulus sayang sama Marsel!"

"Tulus tidak bisa membayar tagihan listrik. Tulus tidak akan membuatmu lulus kuliah dengan nilai bagus," balas Thomas cepat. "Lihat ke depan. Semester depan kamu lulus. Mau jadi apa kamu nanti? Staf administrasi yang kerjanya hanya melamunkan adikku?"

Arunika terdiam. Kata-kata Thomas seperti tamparan keras yang membangunkannya dari mimpi buruk.

"Besok," Thomas merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna perak yang elegan. "Datang ke kantorku jam sepuluh pagi."

Arunika menerima kartu itu dengan bingung. "Ngapain?"

"Perusahaan saya butuh anak magang untuk posisi asisten riset. Daripada kamu membuang waktu mengejar Marsel di kampus, lebih baik kamu bekerja dan melihat bagaimana dunia yang sebenarnya berputar. Itu kalau kamu punya nyali untuk berubah."

Thomas menatap Arunika untuk terakhir kalinya malam itu. Matanya yang tajam seolah menembus langsung ke dalam ketakutan Arunika.

"Jangan telat satu menit pun. Saya benci orang yang tidak menghargai waktu seperti mereka tidak menghargai diri mereka sendiri."

Tanpa menunggu persetujuan, Thomas kembali membuka payungnya dan berjalan menembus hujan menuju rumahnya sendiri, meninggalkan Arunika yang berdiri mematung memegang kartu nama bertuliskan: Thomas Adiputra - CEO, Adiputra Group.

Arunika melihat ke arah jendela kamar Marsel di lantai dua yang lampunya menyala terang. Mungkin di sana Marsel sedang menelepon Aletta. Lalu ia melihat kartu nama di tangannya.

Mungkin, ini saatnya Arunika Nirmala berhenti menjadi bayangan dan mulai mencari cahayanya sendiri, meskipun ia harus berurusan dengan pria dingin bermulut pedas seperti Thomas Adiputra.

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!