Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Cenayang Palsu
Damon hampir tak bisa memejamkan kelopak mata nya sebab ia harus bergadang menyelesaikan skripsi nya yang tidak kelar-kelar selama setahun.
Untuk menutupi biaya pengeluaran, Damon terpaksa kerja di satu Cafe dekat kampusnya.
Namanya Cafe Night Site, view-nya pinggir Sungai Qinghe. Menu kopi, teh, roti lengkap. Buka 07.30-21.00 hari kerja.
"Hoam... !" Damon menguap lebar sembari mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Kau tidak tidur, apa tugas skripsi mu belum selesai juga ?" tanya Hao Yu, teman kerjanya.
"Dosen sedang sibuk mengurus desertasi mahasiswa S3. Dan Aku terpaksa menunda konsultasi ku setelah revisi berulang-ulang." sahut Damon.
"Saranku lebih baik kau beristirahat cukup. Tidak baik juga memaksakan diri, kau bisa sakit." saran Hao Yu memberi perhatian.
"Yah, akan Aku pertimbangkan saranmu." sahut Damon.
Damon mengangguk pelan, tersenyum simpul.
"Minumlah kopi ini, agar kelopak mata mu terbuka lebar, tidak mengantuk lagi. Aku takut kau kenapa-kenapa jika seperti itu." kata Hao Yu.
Hao Yu letakkan segelas kopi tanpa suara ke depan Damon duduk menelungkup di meja Cafe.
"Cepatlah minum! Dan segeralah pulang lalu istirahat lah dengan benar!" kata Hao Yu.
"Terimakasih..." sahut Damon sembari mengangkat gelas kopi tanpa meminumnya.
"Biar malam ini, Aku yang giliran bekerja di Cafe. Besok gantian kamu yang bertugas di sini." kata Hao Yu.
"Tapi Aku tidak enak dengan Bos Yuna, ia pasti tidak suka jika Aku libur di waktu Cafe ramai-ramainya." sahut Damon.
Damon menggaruk kepala, menunduk sembari meringis.
"Serahkan saja padaku. Aku akan beritahu dia bahwa kau lelah, dia pasti mengerti hal itu." ucap Hao Yu.
"Rupanya kau ingin dekat "berduaan" dengan Bos Yuna, ya!" kata Damon sambil mendekatkan dua jarinya seperti berpasang-pasangan.
Wajah Hao Yu berubah merah padam, ia terlihat malu, seakan-akan sikapnya itu mengakui perasaan nya terhadap Yuna.
"Ah, sudahlah. Aku mau balik ke kontrakan. Sekalian mampir ke area Sungai Qinghe buat refreshing." kata Damon.
"Ide yang bagus. Aku sangat setuju, kupikir kau juga perlu rekreasi pikiran. Dan suasana Sungai Qinghe menunjang aktivitas refreshing mu, Damon." sahut Hao Yu.
"Yah, baiklah. Aku pergi dulu. Titip Cafe!" kata Damon sembari mengurut tangannya.
Damon segera berlari keluar Cafe Night Site, ia tergesa-gesa pergi tanpa berpamitan lagi.
"Eh, Damon. Tunggu! Tapi ini sudah malam, jangan kesana!"
Belum sempat Hao Yu menyelesaikan kalimat ucapannya, Damon telah pergi jauh dari Cafe, meninggalkan Hao Yu sendirian terbengong-bengong di depan pintu.
Malam ini, Cafe telah tutup. Tepat jam 21.00, waktu Cafe Night Site berakhir buka.
Hao Yu juga harus bersiap-siap pulang ke tempat tinggalnya.
Udara dingin malam menusuk tulang punggung Damon saat ia menelusuri jalanan sepanjang Sungai Qinghe.
Damon merapatkan syal di lehernya, kedua tangannya masuk ke mantel tebalnya, sedangkan hembusan nafasnya menguap putih mengepul dari hidungnya, naik pelan sebelum ditelan dingin malam Beijing.
"Ruah...!" gumamnya. "Dingin sekali malam ini. Tumben, udara sedingin ini, tidak sama seperti biasanya."
Damon mengedarkan pandangan matanya, suasana Sungai Qinghe benar-benar sunyi bahkan tak satupun orang berlalu lalang malam ini.
"Kok, sepi???" ucapnya.
Tiba-tiba bulu kuduk Damon bergidik kuat, merinding mengetahui ia sendirian di sini.
"Mungkin hanya dugaanku saja, tapi tempat ini sangat sepi, biasanya ramai pejalan kaki."
Damon mengusap pangkal lehernya yang terbungkus syal tebal, sesuatu seperti menggerayangi tengkuknya yang merinding.
"Ah, mungkin perasaanku saja. Aku pasti terlalu lelah. Lebih baik, Aku cepat-cepat pulang dan beristirahat sesegera mungkin." ucapnya.
Damon memasukkan kembali dua tangannya yang mengenakan sarung tangan tebal. Lalu melanjutkan perjalanannya pulang.
Kontrakan dimana Damon tinggal, berjarak tak jauh dari Sungai Qinghe, area Qinghe.
Harga kamar di kawasan Qinghe masuk akal sekitar 1,500-2, 200 Yuan per bulan. Terjangkau buat kantong mahasiswa seukuran Damon.
Damon mempercepat langkah kakinya, dan keinginannya untuk tiba lebih cepat ke kontrakannya semakin kuat daripada sebelum nya.
Bukan lantaran Damon pengecut atau takut pada hantu namun lebih tepatnya, Ia merasa tubuhnya mulai letih sekarang ini.
"Tap... Tap... Tap..."
Langkah kakinya menggema di udara malam Beijing.
Tiba-tiba datang kabut tebal di depan Damon saat ia berjalan cepat-cepat. Entah dari mana datangnya kabut itu namun kehadirannya mengganggu pandangan mata Damon.
"Ya, Ampun!" pekiknya terkejut.
Arah langkah kaki Damon semakin tersesat, karena kabut yang bertambah tebal menutupi area jalan Damon.
"Aku kesulitan melihat jalan di depan. Kenapa kabut ini tiba-tiba muncul tak terduga?" keluhnya. "Bulan ini bukan musim dingin tapi kabut begitu tebalnya di sekitar sini."
Damon terus berupaya melihat ke depan namun pandangan matanya tetap terhalang oleh kabut tebal.
"Aku benar-benar tidak bisa melihat!" Lagi-lagi Demon mengeluhkan kabut tebal itu.
Lamat-lamat pemandangan di depan Damon semakin gelap, sepertinya ia masuk lebih dalam tanpa tahu kemana langkah kakinya melangkah maju.
Tak terduga, kakinya tersangkut sesuatu, membuat Damon terjungkal jatuh.
"DUAK...!"
Pertama kali, wajahnya yang jatuh, menyentuh tanah.
Dan...
Damon jatuh bukan di tempat biasa.
Namun Ia terjungkal di area pemakaman Kuno yang ada tak jauh dari area Sungai Qinghe.
Nisan granit miring, ditumbuhi semak, tanpa pagar, cuma ada gundukan tanah dan batu nisan berlumut.
Telapak tangan Damon meraba nisan itu, sedangkan badannya menelungkup. Dan wajahnya menghadap langsung ke arah nisan kuno.
Basah, berlendir sebab nisan itu berlumut, Damon mengalihkan pandangan matanya.
Alangkah terkejutnya dia saat melihat nisan kuno itu.
"Ini makam?!" gumamnya linglung.
Sedetik kemudian...
Suara teriakan Damon menggema mirip ringikan keledai terjepit batu.
"Aaaaaargh!!!!"
Damon beringsut cepat, duduk tegak lalu bergerak mundur.
Sorot matanya menyipit tajam, wajahnya kaku serta tubuhnya membeku seperti bongkahan es batu.
"I-itu Makam kuno???" pekiknya.
Kedua mata Damon melotot, hampir-hampir bola matanya keluar akibat terkejut kaget.
Ia memastikan sekali lagi, nisan granit yang ada tak jauh darinya duduk, Ia mengucek kedua matanya berkali-kali, dengan posisi badan condong ke depan.
Samar-samar, Ia melihat ke arah nisan granit itu.
"Benar!" ucapnya. "Itu nisan kuno."
Damon mengedarkan pandangan matanya sekali lagi ke sekitar Ia tersesat.
"Dimana Aku?" tanyanya bingung. "Aku tersesat masuk ke area makam. Tapi jalan menuju area ini sangat terjal dan sepi."
Damon memastikan sekelilingnya, suasana di sini sangat sunyi, bahkan gelap gulita.
"Bagaimana Aku bisa sampai di tempat ini?" ucapnya bertanya-tanya. "Bukannya Aku tadi di sekitaran Sungai Qinghe? Bagaimana mungkin aku bisa jauh sampai ke sini?"
Damon terus meracau, tentu saja Ia sangat kebingungan bahkan keheranan karena tak menyangka kalau dia bisa sampai di tempat kramat ini.
"Ini tidak mungkin. Dan tidak benar-benar nyata... mungkin aku terlalu kelelahan sehingga aku berhalusinasi..." gumamnya sambil celingukan panik di area sepi taman.
Damon tergesa-gesa berdiri, Ia beranjak bangun untuk pergi dari tempat kramat ini. Namun ia terlupakan sesuatu bahwa ia tidak tahu jalan pulang.
Sejam berlalu begitu cepatnya...
Namun ia hanya berputar-putar di area tersebut bahkan ia tak tahu arah untuk keluar dari area kramat itu.
"Astaga, ini keterlaluan, tak seharusnya aku tersesat seperti ini. Begitu bodohnya aku tadi." keluhnya mulai letih.