SMA Aexdream adalah sekolah elit yang hanya diisi oleh murid-murid dari kalangan keluarga terpandang, jenius, dan berbakat di berbagai bidang. Di sini, aturan dan gengsi adalah segalanya, apalagi bagi para pengurus OSIS yang dianggap sebagai “raja dan ratu” di lingkungan sekolah. Di antara mereka, ada satu pasangan yang selalu jadi sorotan: Mark, Ketua OSIS yang dingin, perfeksionis, dan sering dibilang kayak “robot nggak punya hati”, serta Gisel, Wakil Ketua OSIS yang cerdas, tegas, tapi punya mulut tajam dan gampang kesal kalau lihat kelakuan Mark yang sok sempurna.
Sejak awal menjabat, Mark dan Gisel selalu bertentangan. Mulai dari rapat yang berakhir debat panas, proker yang nggak pernah satu pendapat, sampai hal sepele kayak pemilihan tema acara sekolah—semua jadi ajang adu argumen. Bagi Gisel, Mark itu cuma cowok sombong yang ngira dia paling benar, sedangkan bagi Mark, Gisel cewek yang terlalu keras kepala dan susah diatur. “Dasar bossy cat! Paling seneng deh bikin aku pusing!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Hari-hari berlalu dengan penuh ketegangan dan kepahitan. Kabar tuduhan yang disebarkan Yeri tidak hanya sampai ke telinga orang tua Mark, tapi juga disampaikan Yeri kepada orang tuanya sendiri dengan versi cerita yang jauh lebih dramatis dan menyakitkan. Dengan air mata dan pura-pura menjadi korban yang paling menderita, Yeri meyakinkan ayah dan ibunya bahwa Mark telah berbuat kejahatan kepadanya, bahwa dia terancam masa depannya, kehormatannya, dan bahkan masa depan seluruh hidupnya.
Dan pukulan paling berat dan mematikan yang dilontarkan Yeri saat itu juga adalah pengakuan palsu yang mengubah segalanya: "Bu... Pa... saya hamil. Ini anak Kak Mark. Saya nggak tau harus ngomong sama siapa lagi... hidup saya hancur, masa depan saya hilang, semuanya gara-gara dia."
Berita itu meledak bagai petir di siang bolong. Keluarga Yeri yang merasa sangat dipermalukan dan marah besar, langsung bergerak tegas. Mereka datang berkunjung secara resmi ke rumah keluarga Mark, membawa surat pernyataan, tuntutan, dan wajah penuh kemarahan serta kekecewaan. Pertemuan dua keluarga itu berlangsung sangat dingin, penuh ketegangan, dan menyakitkan bagi Mark yang hanya bisa diam mendengar semua fitnah itu.
"Kami datang ke sini bukan buat berantem, tapi buat minta keadilan dan tanggung jawab!" ucap Ayah Yeri dengan nada tinggi dan tegas. "Anak kami sudah rusak masa depannya, kehormatannya hilang, dan sekarang dia mengandung anak anak Bapak. Kami minta satu hal saja: Bapak ajarkan anak Bapak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Kami minta mereka segera dijodohkan dan dipertunangkan, dan nanti saat mereka cukup umur, mereka akan menikah. Itu satu-satunya cara menutup aib ini dan menyelamatkan nama baik kedua keluarga."
Orang tua Mark terdiam terpukul. Tuduhan pelecehan saja sudah cukup membuat mereka hancur, ditambah berita kehamilan ini, dunia mereka serasa runtuh total. Di mata mereka, bukti sudah lengkap, cerita sudah masuk akal, dan kewajiban seorang laki-laki adalah bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya, sebesar apa pun kesalahannya. Meskipun hati mereka sakit, meskipun mereka kecewa berat, sebagai orang tua mereka merasa wajib memperbaiki kesalahan anak mereka demi nama baik keluarga dan masa depan anak perempuan orang lain.
Bapak Mark menghela napas panjang, suaranya berat dan penuh kepedihan. Dia menatap Mark yang duduk kaku di pojok ruangan, wajahnya pucat pasi, matanya merah menahan tangis dan amarah yang tak habis-habisnya.
"Kami terima tuntutan Bapak dan Ibu," jawab Bapak Mark pelan tapi tegas. "Anak kami yang berbuat salah, dia yang harus menanggung akibatnya. Kami setuju. Pertunangan akan kami adakan seminggu lagi. Itu adalah kewajiban dia sebagai laki-laki. Biar ini jadi pelajaran seumur hidup buat dia, supaya dia nggak pernah lagi berbuat hal sehina ini."
"TIADA! ITU TIDAK BENAR!"
Suara Mark meledak memecah keheningan, suaranya parau tapi bergema keras penuh perlawanan. Dia berdiri tegak, napasnya memburu, air mata jatuh deras membasahi pipinya yang pucat. Dia menatap kedua orang tuanya, lalu menatap keluarga Yeri, dan terakhir menatap Yeri yang duduk di sana dengan wajah pura-pura sedih tapi matanya bersinar penuh kemenangan jahat.
"GUE NGGAK AKAN NERIMA INI! GUE NGGAK AKAN NANGGUNG JAWAB ATAS SESUATU YANG NGGAK PERNAH GUE LAKUIN! GUE BERSIH! GUE NGGAK NGUMPETIN APA-APA! GUE NGGAK PERNAH SENTUH DIA! GUE NGGAK PERNAH BERBUAT KOTOR! DAN ANAK ITU... ANAK YANG DIA KATAKAN DALAM PERUTNYA ITU... ITU BUKAN ANAK GUE! NGGAK MUNGKIN ANAK GUE!"
Ruangan itu hening seketika. Ibu Mark menangis tertahan, sedih melihat anaknya masih berani membohongi mereka meski bukti sudah bertumpuk. Bapak Mark memukul meja keras karena marah.
"DIAM KAMU! MASIH BERANI BERBOHONG?! MASIH BERANI MENOLAK TANGGUNG JAWAB?! KAMU MAU BIKIN KELUARGA KAMI LEBIH DIPERMALUKAN LAGI HA?! SUDAH CUKUP, MARK! KEPUTUSAN SUDAH DIBUAT! KAMU HARUS NIKAHI DIA, DAN ITU SAJA!"
"PA! DENGERIN GUE SEKALI AJA DEMI TUHAN!" Mark berlutut di lantai di depan kakinya ayahnya, tangannya gemetar memegang ujung celana ayahnya. "Gue anak Bapak! Gue tau Bapak kenal gue dari kecil! Apa gue pernah jadi anak yang nakal? Apa gue pernah curang? Apa gue pernah jahat sama perempuan? Yeri ini gila Pa! Dia obsesi sama gue! Dia yang jebak gue, dia yang kasih obat ke minuman gue, dia yang rekayasa foto dan rekaman! Dan soal hamil itu... itu semua bohong besar! Gue nggak pernah sama dia, Pa! Nggak pernah sekalipun! Jadi mana mungkin itu anak gue?!"
Yeri langsung menangis keras, bersandar pada bahu ibunya seolah sangat menderita. "Lihat Bu... lihat dia! Dia jahat banget! Dia mau buang saya, dia mau nyalahin saya! Dia tega banget nolak anak kandungnya sendiri... saya hancur Bu... saya nggak kuat lagi..."
Ayah Yeri menatap Mark dengan pandangan jijik dan marah. "Anak muda yang tidak tahu diri. Sudah berbuat salah, masih berani membela diri, masih berani menuduh orang lain. Jangan harap kami akan melepaskan kamu begitu saja. Seminggu lagi pertunangan dilaksanakan, dan kamu wajib datang, atau kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum dan membuat nama kamu serta keluarga kamu hancur seumur hidup!"
Pertemuan itu berakhir dengan keputusan yang mutlak dan menyakitkan. Mark dikurung di dalam kamarnya, tidak boleh keluar, tidak boleh bertemu siapa pun, terutama Gisel. Semua komunikasi diputus. Keluarga Mark percaya bahwa ini adalah jalan penebusan dosa, cara menyelamatkan kehormatan, meskipun hati mereka hancur lebur. Di sisi lain, Yeri tersenyum puas di balik tembok rumahnya. Rencananya berjalan sempurna. Dia berhasil membalas dendam, berhasil menghancurkan nama baik Mark, berhasil memisahkan dia dari Gisel, dan sebentar lagi Mark akan menjadi miliknya secara sah, dipaksa oleh keadaan dan aturan. Soal kehamilan? Itu semua bohong belaka, rekayasa terakhir yang paling ekstrem dan berbahaya, yang dia buat hanya untuk memaksa keputusan itu keluar. Dia pikir dia sudah menang telak, dan tidak ada yang bisa menghentikannya lagi.
Namun, dia lupa satu hal: dia tidak hanya melawan Mark. Dia tidak hanya melawan orang tua Mark. Dia melawan Gisel. Dan Gisel tidak pernah diam saja.
Sejak hari itu, Gisel bekerja diam-diam bersama teman-teman dekat mereka: Jeno, Karina, Haechan, Ningning, Jaemin, Winter, Chenle, Miyeon, dan Doyoung. Mereka semua percaya penuh pada Mark. Mereka tau sifat Mark, mereka tau kejadian aslinya, dan mereka tau betapa jahat dan liciknya Yeri. Gisel tidak pernah berhenti mencari bukti, tidak pernah berhenti menyusun potongan kebenaran yang tersisa.
Dia ingat betul saat kejadian di ruang OSIS, saat Yeri panik dan terkejut karena kedatangan mereka. Dia ingat betul botol minuman yang diminum Mark. Dia ingat betul reaksi Yeri saat ketahuan. Dan di saat-saat terakhir, keberuntungan berpihak pada kebenaran. Doyoung yang memiliki akses ke ruang OSIS dan rekaman keamanan sekolah, menemukan satu hal yang tidak diketahui Yeri: rekaman CCTV tersembunyi di sudut ruangan yang sempat rusak dan dikira mati, ternyata merekam semuanya dengan jelas.
Rekaman itu merekam setiap detik kejadian: bagaimana Yeri masuk membawa minuman, bagaimana dia diam-diam menuangkan serbuk obat ke dalam botol saat Mark memunggunginya, bagaimana Mark minum tanpa curiga, bagaimana efek obat mulai bekerja, bagaimana Yeri tersenyum menang, bagaimana dia memeluk Mark yang lemas, dan bagaimana dia berusaha mencium serta menjebak Mark. Semuanya terekam jelas, nyata, dan tak terbantahkan.
Dan bukan hanya itu, Gisel juga berhasil menemukan fakta dari salah satu teman dekat Yeri yang merasa bersalah dan tidak tega lagi menyimpan rahasia: Yeri tidak hamil. Itu semua adalah kebohongan besar. Dia memalsukan hasil tes kehamilan, memalsukan gejala, semua demi memaksa keluarga Mark menyetujui pertunangan itu.
Malam sebelum hari pertunangan yang ditetapkan, Gisel dan seluruh rombongan datang ke rumah Mark dengan membawa bukti lengkap: rekaman CCTV asli, keterangan saksi, dan bukti medis yang membuktikan bahwa Yeri tidak mengandung siapa pun.
Suasana di rumah Mark kembali penuh ketegangan, tapi kali ini berbeda. Saat rekaman itu diputar di depan orang tua Mark, saat mereka melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi, saat mereka melihat kelicikan dan kejahatan Yeri secara langsung... hati mereka hancur kembali, kali ini karena rasa bersalah yang luar biasa.
Mereka melihat sendiri anak mereka yang baik, sopan, dan jujur, menjadi korban kejahatan, menjadi korban rekayasa, menjadi korban fitnah yang kejam. Mereka sadar, mereka telah salah besar. Mereka telah menuduh anak mereka sendiri, mereka telah menghukum anak mereka sendiri, mereka hampir saja menghancurkan seluruh hidup anak mereka sendiri karena percaya pada kebohongan perempuan jahat itu.
Mark yang dibawa keluar dari kamarnya dengan wajah lesu dan mata bengkak, hanya bisa diam menatap orang tuanya yang kini menangis tersedu-sedu penuh penyesalan. Ibu Mark langsung memeluk anaknya erat sekali, menangis histeris.
"Maafin Ibu, Nak... maafin Ibu banget... Ibu bodoh... Ibu percaya sama orang jahat, Ibu nggak percaya sama anak sendiri... Maafin Ibu ya, Nak... Maafin Bapak juga... kami salah besar..."
Bapak Mark berdiri diam, air mata jatuh membasahi wajah tuanya. Dia merasa sangat malu, sangat bersalah, dan sangat marah pada dirinya sendiri. Dia mendekati Mark, menepuk bahu anaknya dengan penuh rasa hormat dan penyesalan.
"Maafin Bapak, Nak. Bapak salah menilai, Bapak salah mengambil keputusan. Kamu benar. Kamu bersih. Kamu anak yang hebat, yang jujur, dan yang kuat. Maafin Bapak yang hampir saja menghancurkan kebahagiaan kamu."
Keesokan harinya, hari yang seharusnya menjadi hari pertunangan Mark dan Yeri, berubah menjadi hari pembalasan kebenaran. Keluarga Mark datang ke kediaman keluarga Yeri, kali ini dengan wajah tegas, berani, dan membawa seluruh bukti yang lengkap.
Di depan semua kerabat yang sudah diundang, di depan orang tua Yeri, dan di depan Yeri sendiri, Bapak Mark meletakkan semua bukti di atas meja: rekaman CCTV, keterangan saksi, dan bukti medis.
"Kami datang ke sini bukan untuk meresmikan pertunangan, tapi untuk menuntut keadilan!" suara Bapak Mark bergema tegas. "Anak kami tidak bersalah. Semua tuduhan, semua cerita, semuanya adalah rekayasa jahat anak Bapak/Ibu sendiri. Dia menjebak anak kami dengan obat, dia merekayasa bukti, dia menuduh anak kami berbuat pelecehan, dan dia berbohong soal kehamilan demi memaksa kami menyerah. Dia adalah penjahat yang sebenarnya, bukan anak kami!"
Yeri berdiri kaku, wajahnya pucat pasi, kakinya gemetar hebat. Dunianya runtuh seketika. Semua kebohongannya terbongkar satu per satu. Semua rencana jahatnya hancur lebur. Dia tidak punya alasan lagi, dia tidak punya cara lagi untuk membela diri. Di depan mata semua orang, dia terlihat begitu hina, begitu kejam, dan begitu menyedihkan.
Orang tua Yeri menatap anak perempuan mereka dengan rasa kaget, malu, dan kecewa yang tak terlukiskan. Mereka tidak percaya anak yang mereka besarkan ternyata memiliki hati sejahat itu, rela menghancurkan hidup orang lain, rela memfitnah, rela berbohong sebesar itu demi keinginan sendiri.
Yeri jatuh berlutut di lantai, menangis keras, kali ini benar-benar menangis karena keputusasaan dan rasa bersalah yang luar biasa. Semua kekuatan, semua kebanggaan, semua obsesinya lenyap seketika.
"Maafkan saya... Maafkan saya semuanya... Saya salah... Saya gila... Saya terlalu mencintai Kak Mark sampai saya rela ngelakuin apa aja... Saya nggak mau dia sama Gisel... Saya cuma mau dia jadi milik saya... Maafkan saya... Maafkan saya..." isak tangisnya memecah suasana, tapi sudah terlambat. Kerusakan sudah terjadi, luka sudah tergores, dan kejahatannya sudah terbukti nyata.
Keluarga Yeri meminta maaf sebesar-besarnya, memohon ampun agar masalah ini tidak dibawa ke jalur hukum demi masa depan anak perempuan mereka. Keluarga Mark yang berhati mulia, akhirnya memaafkan dengan satu syarat mutlak: Yeri harus pergi dari sekolah, tidak akan pernah lagi mendekati atau mengganggu hidup Mark, Gisel, maupun teman-teman mereka selamanya. Dan Yeri menerimanya dengan kepala tertunduk dalam, sadar sepenuhnya bahwa dia sudah kehilangan segalanya: kehormatan, masa depan, dan kesempatan apa pun untuk bahagia dengan cara yang benar.
Setelah semua keributan itu selesai, setelah semua fitnah hilang, dan kebenaran bersinar terang, Mark dan Gisel akhirnya bisa kembali bersatu. Di taman belakang sekolah, tempat biasa mereka duduk berdua, Mark memeluk Gisel sangat erat, seolah takut ceweknya itu akan hilang lagi.
"Terima kasih... terima kasih banget, Sayang. Kalau bukan karena lo, kalau bukan karena kepercayaan lo, kalau bukan karena perjuangan lo... gue pasti udah hancur sekarang. Lo nggak cuma nyelamatin nama baik gue... lo nyelamatin seluruh hidup gue. Lo buktiin kalau cinta lo itu jauh lebih kuat dari apa pun, bahkan lebih kuat dari kebohongan dan kejahatan sekelas Yeri."
Gisel tersenyum bahagia, mengusap wajah Mark dengan lembut. "Gue janji kan? Gue bakal berjuang buat kita. Dan kita menang, Mark. Kita menang karena cinta kita nyata, karena cinta kita jujur. Semua rasa sakit, semua air mata, semuanya terbayar lunas sekarang."
Mark menatap mata Gisel dalam-dalam, matanya penuh janji suci. "Gue janji sama lo, Gisel. Seumur hidup gue, gue bakal jaga kepercayaan ini. Gue bakal jaga hati lo. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi jarak, nggak ada lagi orang yang bisa masuk di antara kita. Kita bakal jalan bareng sampai kapan pun, sampai tua, sampai akhir hayat."