NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Detak yang Hilang dan Suara Mesin

Waktu di dalam ruang isolasi ICCU ( Intensive Cardiovascular Care Unit ) memiliki dimensi yang berbeda. Di tempat ini, pergantian siang dan malam tidak ditandai oleh terbit atau tenggelamnya matahari, melainkan oleh pergantian sif perawat dan jadwal injeksi obat melalui selang infus.

Empat puluh delapan jam telah berlalu sejak operasi pemasangan LVAD ( Left Ventricular Assist Device ) selesai dilakukan.

Gani Raditya belum memejamkan mata lebih dari sepuluh menit dalam satu siklus. Pria itu duduk mematung di atas kursi besinya, terbalut pakaian hazmat biru yang kini terasa seperti kulit keduanya. Kantung matanya menghitam pekat, rahangnya ditumbuhi bayangan rambut halus yang kasar, dan tubuhnya menguarkan aroma antiseptik rumah sakit yang tajam. Ia terlihat seperti seorang prajurit yang menolak meninggalkan pos jaganya meski perang telah usai.

Fokus Gani tidak pernah beranjak dari layar monitor controller berukuran sebesar kotak bekal yang digantung di tiang infus Kirana. Ia telah menghafal semua angka di sana. Kecepatan pompa: 2.800 RPM. Aliran darah: 4.2 liter per menit. Indikator baterai: 85%.

Mesin berbalut titanium yang tertanam di dalam dada gadis itu bekerja dengan sempurna, mengambil alih tugas bilik kiri jantung Kirana yang telah hancur.

Namun, kesempurnaan mesin itu tidak berarti apa-apa bagi Gani sampai pemilik tubuhnya membuka mata.

Kirana masih terlelap dalam koma yang diinduksi secara medis. Selang endotrakeal yang tebal masih menembus pita suaranya, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya. Wajah gadis itu masih membengkak, efek samping retensi cairan pasca-operasi besar, membuatnya nyaris tidak bisa dikenali sebagai gadis ceria yang biasa berlarian di kebun bunga Karangbanyu.

Gani mencondongkan tubuhnya ke depan, menyandarkan siku di atas lutut, lalu menyatukan kedua tangannya yang terbalut perban di depan wajah.

"Kau sudah tidur terlalu lama, Tiran Kecil," bisik Gani, suaranya parau dan kering, teredam oleh masker N95. "Kau melewatkan pagi. Kau melewatkan senja. Bangunlah. Dunia di luar sana terlalu sepi tanpamu."

Seolah alam semesta akhirnya memutuskan bahwa pria ini telah cukup menderita, sebuah pergerakan kecil terjadi.

Bukan alarm mesin yang berbunyi, melainkan kedutan halus pada jari telunjuk Kirana yang berada di dalam genggaman Gani.

Gani tersentak. Kepalanya tegak seketika. Matanya membelalak, mengunci pandangannya pada wajah gadis itu.

Kelopak mata Kirana bergetar pelan, seakan berusaha melawan lem tak kasat mata yang merekatkannya. Alisnya berkerut, membentuk garis kesakitan yang sangat tipis. Tubuh mungil itu mulai bereaksi terhadap kesadaran yang perlahan merayap kembali ke otaknya.

Tiba-tiba, Kirana tersedak.

Selang tebal di tenggorokannya memicu refleks muntah yang brutal. Gadis itu membuka matanya dengan paksa. Kepanikan yang luar biasa pekat langsung menguasai iris matanya yang bening. Ia tidak bisa bernapas. Sesuatu menyumbat jalan udaranya. Mesin ventilator berdesis keras, merespons perlawanan dari paru-paru Kirana yang mulai mencoba mengambil alih fungsinya sendiri.

Kirana mencoba mengangkat tangannya untuk mencabut selang itu, namun tubuhnya terasa seberat timah. Tulang dadanya yang dibelah dengan gergaji medis beberapa hari lalu mengirimkan gelombang rasa sakit yang begitu dahsyat, hingga air mata langsung menggenang di sudut matanya. Ia meronta lemah layaknya burung yang sayapnya patah.

"Kirana! Hei, hei, aku di sini! Jangan bergerak!"

Gani langsung melesat menahan kedua pergelangan tangan Kirana dengan sangat lembut namun tegas, mencegah gadis itu melukai dirinya sendiri. Wajah Gani berada tepat di atas wajah Kirana, matanya memancarkan ketenangan absolut untuk menetralisir kepanikan gadis itu.

"Jangan lawan mesinnya, Kirana. Ikuti napasnya," instruksi Gani, suaranya berat dan menenangkan. Ia menekan tombol bel darurat di sisi ranjang dengan sikunya. "Kau ada di rumah sakit. Operasinya sudah selesai. Kau aman. Aku ada di sini. Terus tatap mataku."

Mendengar suara bariton yang sangat ia kenali itu, pergerakan panik Kirana perlahan mereda. Mata sabitnya yang dipenuhi ketakutan dan rasa sakit, terkunci pada sepasang mata obsidian Gani. Di tengah rasa sakit yang meremukkan dadanya dan kebingungan yang menyesatkan otaknya, wajah Gani adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut kembali ke dalam kegelapan.

Pintu ruang isolasi terbuka dengan cepat. Dr. Aryo Wibowo dan dua orang perawat berlari masuk.

"Pasien sudah sadar? Refleks batuknya ada?" tanya dr. Aryo, langsung memeriksa monitor dan pupil mata Kirana menggunakan senter kecil.

"Dia mencoba menarik selangnya, Dok. Dia melawan ventilator," lapor Gani, tidak melepaskan tatapannya dari Kirana, terus mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya untuk memberikan kenyamanan.

Dr. Aryo mengangguk puas. "Itu pertanda bagus. Otaknya berfungsi normal dan paru-parunya sudah siap bekerja mandiri. Kita lakukan ekstubasi (pencabutan selang) sekarang."

Dokter itu menatap Kirana. "Kirana, saya dr. Aryo. Anda ada di ruang ICCU. Saya akan mencabut selang di tenggorokan Anda. Ini akan terasa sangat tidak nyaman dan membuat Anda ingin batuk. Saat saya menghitung sampai tiga, embuskan napas kuat-kuat, mengerti?"

Kirana hanya bisa mengangguk lemah, mencengkeram tangan Gani semakin erat.

"Satu. Dua. Tiga. Embuskan!"

Perawat melepas plester fiksasi, dan dr. Aryo menarik selang plastik tebal itu keluar dari tenggorokan Kirana dalam satu gerakan halus nan cepat.

"Uhuk! Uhuk! Khaakk!"

Kirana terbatuk hebat, memalingkan wajahnya ke samping. Udara rumah sakit yang steril akhirnya masuk ke paru-parunya secara alami untuk pertama kalinya dalam dua hari. Tenggorokannya terasa seperti disayat oleh silet, kering dan sangat perih. Perawat dengan sigap membersihkan sisa lendir dari mulutnya dan langsung memasangkan selang oksigen nasal kanul (selang hidung) ringan untuk membantunya bernapas.

"Bagus sekali, Kirana. Napasmu sangat bagus," puji dr. Aryo, memeriksa saturasi oksigen di layar monitor. "Kita akan menurunkan dosis obat penenangmu secara bertahap. Jika ada rasa sakit yang tidak tertahankan di bagian dada, tekan tombol di tangan kirimu. Itu akan mengalirkan morfin secara otomatis."

Kirana masih terengah-engah. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha membasahi kerongkongannya yang terluka. Matanya kembali mencari Gani.

Gani tidak pernah beranjak dari sisinya. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengambil segelas air putih dan cotton bud besar, lalu dengan sangat telaten mengusapkan air itu ke bibir Kirana yang kering dan pecah-pecah.

"G-Gani..."

Itu adalah suara pertama yang keluar dari bibir Kirana. Lirih, serak, dan nyaris tak terdengar, bagaikan suara daun kering yang bergesekan. Namun bagi Gani, itu adalah suara paling merdu yang bisa mengalahkan simfoni mana pun di dunia ini.

"Ya, Tiran Kecil. Aku di sini," Gani tersenyum di balik maskernya, matanya menyipit karena lega.

Kirana memejamkan mata sejenak, mengumpulkan kepingan-kepingan kesadarannya. Ingatan terakhirnya adalah halaman rumahnya di Karangbanyu, tawa warga desa, berita di televisi... lalu kegelapan yang mencekik.

Ia membuka matanya lagi. Ia menyadari bahwa ia tidak berada di puskesmas atau RSUD kabupaten. Ruangan ini terlalu canggih. Langit-langitnya terlalu putih.

Dan kemudian... Kirana menyadari ada sesuatu yang sangat, sangat salah dengan tubuhnya.

Ia tidak merasakan detak jantungnya.

Sebagai penderita gagal jantung kronis sejak remaja, Kirana selalu sangat peka terhadap detak jantungnya sendiri. Ia terbiasa dengan ritme yang melompat, berdebar tidak karuan, atau melambat hingga menyakitkan dada. Ritme itu adalah musuhnya, tapi itu juga penanda bahwa ia masih hidup.

Tapi sekarang? Ruang di dalam dada kirinya terasa kosong. Tidak ada denyut. Tidak ada ritme.

Sebagai gantinya, Kirana bisa merasakan sebuah dengungan statis. Sebuah getaran mekanis yang halus, berputar konstan tanpa jeda di balik tulang rusuknya. Nnggghhh. Suaranya nyaris tak terdengar oleh telinga, tapi getarannya menjalar ke seluruh saraf di tubuhnya.

Kepanikan kembali menyergap Kirana, kali ini jauh lebih dalam dan bersifat psikologis.

Gadis itu mencoba mengangkat tangan kanannya, mengabaikan rasa sakit luar biasa di tulang dadanya, dan meraba perut bagian kanannya. Jarinya menyentuh permukaan perban, dan kemudian... ia merasakan sesuatu yang keras dan tebal keluar dari balik kulitnya. Sebuah kabel.

Kirana menundukkan pandangannya. Ia melihat sebuah kabel hitam (driveline) tebal yang menyembul menembus perutnya, menjulur ke luar ranjang, dan terhubung ke mesin berlampu kedap-kedip di tiang infus.

"Apa... apa ini?" bisik Kirana horor, suaranya pecah dan bergetar hebat. Matanya membelalak menatap kabel itu, lalu menatap Gani dengan tatapan memohon penjelasan. "Gani... jantungku... mana detak jantungku?"

Melihat ketakutan yang begitu telanjang di mata Kirana, dr. Aryo maju selangkah untuk memberikan penjelasan medis. Namun Gani mengangkat tangannya, memberikan isyarat agar dokter itu mundur. Ini bukan ranah medis lagi. Ini adalah ranah jiwa, dan Gani tahu hanya dia yang bisa menenangkan gadis ini.

Gani menggeser kursinya lebih dekat, hingga lututnya menyentuh pinggiran ranjang. Ia meraih kedua tangan Kirana, mencegah gadis itu menarik kabel yang menjadi nyawanya tersebut.

"Dengarkan aku, Kirana," Gani menatap lurus ke dalam mata gadis itu. Nadanya sangat tenang, stabil, dan dipenuhi oleh otoritas yang melindungi. "Jantung aslimu sudah terlalu lelah. Ia tidak sanggup lagi berdetak sendirian. Jadi, para dokter memasangkan sebuah alat di dalam sana. Sebuah pompa kecil dari titanium. Alat itu yang memutar darahmu sekarang. Alat itu yang membuatmu hidup."

"Mesin...?" Air mata Kirana runtuh. Ia menggeleng lemah, mencoba menarik tangannya dari genggaman Gani. Perasaan menjadi tidak manusiawi—menjadi sebuah cyborg yang hidup karena dicolokkan ke baterai—menghantam mentalnya tanpa ampun.

"Gani... aku... aku monster," isak Kirana, tangisannya tertahan oleh rasa sakit di sternumnya. "Tubuhku bolong... ada kabelnya. Kalau mesin ini mati, aku mati. Aku bergantung pada listrik... aku merepotkanmu... bawa aku pulang, Gani. Bawa aku pulang ke Karangbanyu..."

Kirana terus menangis, keputusasaan yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng gadis ceria, akhirnya meledak. Ia merasa tubuhnya telah dirampas, digantikan oleh teknologi dingin yang menakutkan.

Mendengar racauan putus asa itu, dada Gani terasa seperti diiris sembilu.

Pria itu berdiri. Ia melepaskan genggamannya dari tangan Kirana. Dengan gerakan perlahan, ia membungkuk, mencondongkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia mengabaikan semua aturan sterilisasi rumah sakit.

Gani menundukkan wajahnya, hingga bibirnya menyentuh pangkal kabel hitam yang menyembul dari perut Kirana, tepat di atas perban bedahnya. Ia mengecup kabel itu—bukan dengan rasa jijik, melainkan dengan pemujaan yang sakral.

Kirana tersentak, tangisannya terhenti seketika. Ia menatap Gani dengan mata terbelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan pria elit ibu kota itu.

Gani mengangkat wajahnya. Ia menatap mata Kirana dengan intensitas yang bisa melelehkan baja.

"Dulu," Gani memulai, suaranya mengalun rendah, membelah suara bising mesin di ruangan itu. "Saat aku kehilangan perusahaanku, aku merasa aku adalah sampah. Aku merasa eksistensiku cacat. Tapi kau bilang, nilai diriku tidak ditentukan oleh angka di rekening bank. Kau bilang aku pantas dicintai karena jiwaku."

Gani mengulurkan tangannya, mengusap air mata di pipi Kirana dengan ibu jarinya yang terbalut sarung tangan lateks.

"Sekarang, biarkan aku mengembalikan kata-katamu, Tiran Kecil," lanjut Gani, tatapannya menyala oleh keyakinan absolut. "Kau bukan monster. Nilai kemanusiaanmu tidak berkurang satu persen pun hanya karena jantungmu sekarang dibantu oleh mesin."

Gani menunjuk ke arah kabel hitam itu.

"Bagiku, kabel ini bukanlah tanda kelemahan. Ini adalah medali kehormatanmu," ucap Gani, mengubah mindset gadis itu menggunakan bahasa arsitektur yang sangat ia pahami. "Dalam sebuah bangunan, jika pilar utamanya retak, kita tidak merobohkannya. Kita memasang scaffolding, kita menyuntikkan resin epoksi, kita menopangnya dengan baja silang. Mesin di dalam dadamu itu adalah bajamu, Kirana. Ia menopangmu agar kau tidak runtuh."

Kirana mendengarkan dengan napas tertahan. Kata-kata Gani meresap masuk, menembus lapisan ketakutan dan rasa jijiknya terhadap tubuhnya sendiri.

"Kau tidak merepotkanku," Gani melanjutkan, menautkan jemarinya kembali ke jemari Kirana. "Mesin ini butuh baterai untuk hidup, kan? Kalau begitu, aku yang akan menjadi gardu listrikmu. Aku yang akan mengganti baterainya setiap malam. Aku yang akan menjaga mesin ini tetap menyala."

"Tapi... detaknya hilang, Gani," bisik Kirana, air mata haru kembali menetes. "Kau tidak akan bisa mendengar detak jantungku lagi kalau kau memelukku."

Gani tersenyum, sebuah senyum yang luar biasa tampan, memancarkan kedamaian yang mendalam. Ia membawa tangan Kirana, meletakkannya tepat di atas dada kirinya, membiarkan gadis itu merasakan ritme detak jantungnya yang berdentum kuat dan teratur.

"Mulai hari ini, kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan detak jantungmu sendiri," bisik Gani, menempelkan keningnya pada kening Kirana. "Gunakan detak jantungku. Jantungku berdetak cukup kuat untuk kita berdua, Kirana. Jantungku adalah milikmu."

Pecah sudah segala ketakutan Kirana. Validasi absolut dan cinta tanpa syarat yang ditawarkan oleh Gani meruntuhkan dinding traumanya. Gadis itu menangis lagi, namun kali ini bukan tangis keputusasaan, melainkan tangisan pelepasan (catharsis). Ia tidak peduli lagi jika ia kini sebagian adalah mesin. Selama Gani Raditya ada di sisinya, menjaga kabel kehidupannya, Kirana merasa ia bisa menghadapi dunia.

Ia tidak sendirian.

Dr. Aryo dan perawat yang menyaksikan momen intim itu dari ambang pintu saling berpandangan. Mereka perlahan mundur dan keluar dari ruang isolasi, memberikan privasi bagi dua jiwa yang sedang menata ulang fondasi kehidupan mereka.

Kirana mencoba tersenyum di sela isakannya. Rasa sakit di tulang dadanya masih ada, tapi hatinya terasa sangat ringan.

"Aku... aku menagih janjimu, Komandan," bisik Kirana lemah, matanya mulai sayu karena efek obat penghilang rasa sakit yang mulai mengalir melalui infusnya. "Rumahnya... jangan lupa desain rumah kita."

Gani mengangguk pelan, mengusap puncak kepala gadis itu untuk menidurkannya. "Sudah selesai kudesain, Tiran Kecil. Saat kau sudah cukup kuat untuk duduk, aku akan menunjukkannya padamu. Sekarang, tidurlah. Biarkan mesin titaniummu bekerja."

Kirana memejamkan mata. Ia membiarkan kegelapan kembali menjemputnya. Namun kali ini, ia tidak lagi ketakutan. Ia tahu bahwa saat ia membuka matanya nanti, pria ini akan tetap berada di sana, duduk di atas kursi besi yang sama, menjaga rotasi rotor di dalam dadanya agar tidak pernah berhenti.

1
Quinza Azalea
lanjut thor😍
Quinza Azalea
luarbiasa
Quinza Azalea
lanjut thor
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!