Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - Di Samping Tempat Tidurku
Cahaya lampu tidur memantul samar di dinding abu gelap, sementara hujan malam masih terdengar lirih di balik jendela besar. Tangan besar Arkana tetap menggenggam jemari Kemuning erat setelah pria itu berkata rendah, “Jangan lepas tanganku malam ini.”
Kehangatan sentuhan itu langsung membuat jantung Kemuning berdetak kacau. Napasnya terasa pendek setiap kali mata mereka bertemu dalam jarak sedekat itu. Arkana terlalu dekat. Terlalu hangat. Dan yang paling berbahaya, Kemuning mulai merasa aman hanya karena pria itu ada di sampingnya.
Kemuning menunduk gugup. Dirinya sadar hubungan mereka sudah terlalu jauh untuk disebut biasa. Semakin Arkana melindunginya, semakin sulit dirinya menjaga jarak emosional. Ia takut rasa nyaman itu berubah menjadi sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lepaskan lagi.
Arkana tidak langsung melepaskan tangan Kemuning. Tatapan pria itu tertahan terlalu lama di wajah gadis tersebut. Suasana kamar terasa terlalu tenang untuk dua orang yang sama-sama menahan sesuatu di dada mereka.
“Aku tidak mau merepotkan Tuan terus.” Suara Kemuning lirih hampir seperti bisikan.
Arkana langsung menatapnya lebih dalam. Rahangnya menegang pelan sebelum akhirnya pria itu berkata rendah, “Kalau kamu benar-benar merepotkan, aku sudah menyuruhmu pergi sejak awal.”
Kalimat itu membuat Kemuning langsung membeku. Dadanya terasa hangat sekaligus sakit dalam waktu bersamaan. Belum pernah ada seseorang yang memilih mempertahankannya seperti ini.
Di sisi lain, Arkana mulai sadar dirinya semakin tidak tahan mendengar Kemuning terus merendahkan dirinya sendiri. Lebih buruk lagi, pria itu mulai terlalu terbiasa memiliki Kemuning di dekatnya. Kamar yang dulu selalu terasa dingin dan kosong sekarang terasa hidup karena suara gadis itu dan Agam.
Arkana perlahan menarik Kemuning duduk kembali di sisi ranjang. Posisi mereka terlalu dekat. Lutut mereka nyaris bersentuhan. Suara napas satu sama lain terdengar jelas di tengah kamar yang sunyi. Tatapan Arkana bahkan terasa terlalu dekat untuk dihindari.
Kemuning langsung menahan napas ketika pria itu tidak juga menjauh. Ada sesuatu di mata Arkana yang membuat tubuhnya lemas. Sesuatu yang terasa seperti keinginan untuk menariknya lebih dekat lagi.
Namun tidak ada pengakuan cinta malam itu. Hanya chemistry menggantung yang membuat jantung Kemuning terus berdetak tidak karuan.
Di tengah suasana tegang tersebut, Agam yang tertidur di tengah ranjang tiba-tiba bergerak gelisah karena mimpi buruk. Kemuning langsung panik dan buru-buru mendekat menenangkan adiknya.
Namun dalam keadaan setengah sadar, Agam justru meraih tangan Arkana juga. Tangan kecil anak itu menggenggam Kemuning dan Arkana bersamaan. Suasana kamar mendadak berubah hangat. Dalam cahaya remang, mereka bertiga terlihat seperti keluarga kecil tanpa sadar.
Karena Agam terus memegang mereka berdua, Kemuning dan Arkana akhirnya terjebak duduk sangat dekat di sisi ranjang cukup lama. Bahu mereka beberapa kali bersentuhan pelan.
Kemuning terlalu sadar aroma parfum Arkana yang bercampur wangi hujan malam. Sedangkan Arkana diam-diam terus memperhatikan wajah lelah gadis itu yang terlihat pucat karena banyak menangis beberapa hari terakhir.
Saat Kemuning menguap kecil karena kelelahan, Arkana refleks menyentuh ujung rambut gadis itu lalu berkata rendah, “Tidur.”
Satu kata sederhana. Namun terlalu lembut untuk seseorang seperti Arkana Mahendra.
Kemuning langsung salah tingkah. Wajahnya memanas tanpa alasan jelas. Tapi anehnya, dirinya mulai terlalu nyaman menuruti pria itu.
Dini hari datang perlahan. Kemuning tertidur di sisi ranjang sambil masih menggenggam tangan Agam, sedangkan Arkana duduk tidak jauh dari mereka sambil membaca dokumen kerja di sofa dekat jendela.
Namun beberapa kali pria itu berhenti membaca hanya untuk memperhatikan wajah tidur Kemuning. Rambut panjang gadis itu sedikit berantakan di bantal. Wajahnya terlihat damai untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dan suasana kamar Arkana mendadak terasa hidup dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Arkana mulai sadar satu hal berbahaya. Ia tidak ingin kamar itu kembali kosong lagi.
Beberapa saat kemudian, Reno datang membawa laporan keamanan tambahan. Namun ketika membuka pintu sedikit, pria itu justru terdiam sesaat melihat pemandangan di dalam kamar. Arkana duduk diam menjaga Kemuning dan Agam. Lampu kamar remang hangat dan suasananya terasa seperti rumah sungguhan.
Reno belum pernah melihat tuannya setenang itu sebelumnya dan sadar bahwa Kemuning telah mengubah Arkana Mahendra.
Pagi hari di area private Arkana dipenuhi kekacauan kecil yang lucu. Kemuning yang belum terbiasa dengan teknologi modern kembali panik menghadapi benda otomatis di kamar mandi mewah Arkana. Ia salah menyalakan smart shower hingga air menyembur terlalu kuat ke wajahnya. Agam tertawa sampai hampir jatuh duduk di lantai.
Belum selesai di situ, Kemuning juga salah membuka tirai otomatis hingga seluruh kamar mendadak terang benderang. Bahkan toilet otomatis yang berbunyi sendiri sukses membuat gadis desa itu menjerit kecil panik.
Arkana yang baru keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambut justru hampir tersenyum melihat Kemuning malu sendiri. “Kamu sedang berperang dengan rumahku?” tanya pria itu rendah.
Kemuning langsung menunduk malu setengah mati. Namun suasana mendadak berubah lebih panas ketika Arkana berjalan mendekat untuk membantu mengatur shower dari belakang tubuh Kemuning.
Ruang kamar mandi terasa sempit dan hangat. Tubuh tinggi Arkana berdiri terlalu dekat di belakangnya. Tetesan air masih terlihat di leher pria itu. Napas Kemuning langsung kacau saat aroma sabun maskulin memenuhi inderanya.
Arkana mengulurkan tangan melewati bahu Kemuning untuk mematikan panel shower. Gerakan sederhana itu membuat wajah mereka nyaris terlalu dekat saat pantulan cermin memperlihatkan posisi mereka.
Tatapan Arkana tertahan beberapa detik terlalu lama di wajah Kemuning dan jantung gadis itu langsung kehilangan ritme. Namun tidak ada ciuman, hanya ketegangan yang menggantung di udara dan membuat napas keduanya sama-sama tidak stabil.
Menjelang siang, Mahardika mulai meningkatkan keamanan mansion secara ekstrem. Pengawal baru berdatangan. Akses sidik jari diperbarui dan Arkana diminta membawa pengawal ke mana pun pergi. Kemuning mulai merasa dirinya benar-benar membawa bahaya besar ke keluarga Mahendra.
Di sisi lain mansion, Ratih memperhatikan semuanya dalam diam. Arkana kini hampir selalu bersama Kemuning. Agam bahkan sudah seperti anak kecil keluarga Mahendra sendiri dan rumah besar itu perlahan berubah hangat karena kehadiran mereka.
Ratih mulai takut karena jika terus seperti ini, Arkana mungkin tidak akan bisa kembali lagi. Sebagai ibu, Ratih merasa harus menghentikannya sebelum semuanya terlambat.
Malam kembali turun.
Karena ancaman masih belum jelas, Arkana meminta Kemuning dan Agam tetap tidur di kamarnya lagi. Kemuning langsung gugup mendengarnya. Namun Agam justru terlihat senang dan langsung tidur lebih dulu di tengah ranjang besar sambil memeluk boneka kecilnya.
Kemuning duduk di sofa sambil memikirkan semuanya. Tak lama kemudian, Arkana keluar dari ruang kerja kecil di dalam kamar sambil melepas dasinya perlahan. Kemeja hitam pria itu sedikit terbuka di bagian leher. Aura lelah dan maskulin Arkana langsung membuat Kemuning salah tingkah tanpa alasan jelas.
Arkana berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan Kemuning. Gadis itu langsung menahan napas karena pria tersebut terlalu dekat. Tatapan Arkana terasa gelap dan intens saat pria itu berkata rendah, “Kalau terus menatapku seperti itu, jangan salahkan kalau aku mulai sulit menjaga jarak.”
Kalimat itu membuat jantung Kemuning langsung kacau luar biasa dan tepat saat dirinya masih membeku, lampu kamar tiba-tiba mati. Ruangan langsung gelap total.