NovelToon NovelToon
Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Di Dua Dimensi Cinta Dan Kehidupan Realita

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Dunia Masa Depan
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sapu lidi

Cakka berbaring, menatap langit kamar yang begitu bersih tak ada kotoran apapun. Ia sedikit mengingat, hidupnya dimasa lalu perih. Namun, ia masih bisa berdiam tenang, meratapi sakit hati sembari menatap langit kamar yang lapuk, dan lusuh.

Bibir menyeringai, pikirannya membandingkan dua keadaan yang sama-sama tak memiliki kebahagiaan. Lagi, ia menitikkan air mata. Tangannya mengusap pelan dan hatinya menguatkan untuk tetap bertahan.

Aulia, ia berbaring dipelukan Cakka. Tak bisa berkata hanya bisa menemani kesedihan lelaki yang sekarang tengah bimbang dengan masa depannya.

"Maafkan aku, aku janji akan selalu memberikan informasi pada mu! Selain kamu mengandalkan insting soal perasaan buruk yang akan terjadi, kamu juga bisa mengandalkan aku untuk bisa melihat apa yang akan Kleo lakukan"

"Tidak usah, kalau saatnya tiba aku harus membayar operasi wajah ini. Sepertinya aku akan mengiyakan pada saat itu juga"

Aulia tersentak, kepala yang tadinya bersandar pasrah didada Cakka kini mendongak untuk menatap matanya.

"Kenapa tidak usah?! Kamu jangan menyerah! Aku janji aku bakalan cari tahu apa yang akan Kleo lakukan kepadamu"

"Memangnya itu bisa? Kalau kamu terlalu sering mencari informasi tentang Kleo soal aku, nanti umur kamu berkurang. Aku tidak mau kehilangan kamu!"

"Tapi kan itu memang tugasku untuk mengamankanmu dari pengalaman-pengalaman pahit, yang akan terjadi di beberapa detik kedepan"

"Tidak, adakalanya aku harus menghadapi semua sendirian. Percayakan itu padaku, aku janji, akan tepat seperti dugaanku pada tawaran Kleo sore itu"

Aulia menghela nafas, ia hanya bisa tertidur kembali didada Cakka. Tangan Aulia mengelus kening Cakka, agar matanya cepat tertidur. Perlahan kelopak matanya akan menutup. Namun, dari luar kamar, seseorang mengetuk pintunya.

Tok! Tok! Tok!

Mereka berdua terperenjat.

"Cak! Ini aku Ozy! Buka pintunya dong!"

Cakka dan Aulia saling tatap.

"Ozy? Mau ngapain dia?" Tanya Cakka pada Aulia.

"Sebentar... " Aulia memejamkan matanya, hanya dalam waktu sebentar bayangan yang ada di otaknya membias.

"Ozy disuruh Obit untuk menginap, disini. Nanti setelah kamu tertidur pulas mereka akan menjahili mu, dengan mengguyurmu menggunakan air comberan tepat di atas kasur. Jadi selain kamu membersihkan badan, kamu juga harus membersihkan kasur. Dan itu akan membuatmu terlambat bangun pagi."

"Terus aku harus gimana dong?"

"Biarkan saja, kalau seandainya besok mereka marah-marah. Kamu tinggal bilang, aku sudah tidur!"

Cakka menganggukan kepalanya berkali-kali, ia menahan diri untuk tidak membukakan pintu. Kembali berbaring dengan sempurna di atas kasur yang empuk dan tertidur pulas bersama sang kekasih, Aulia.

(***)

Srak!!!

Srak!!!

Srak!!!

Ini hari Minggu, waktu latihan menyanyi dan menari libur. Cakka menggunakan waktunya untuk membersihkan halaman rumah. Menyapu, mengepel lantai teras, agar terlihat bersih dan rapi juga nyaman untuk diduduki.

Sedangkan anggota yang lain masih terbaring dikamarnya masing-masing. Mereka memanfaatkan waktu berlibur dengan tidur. Aulia, membawakan teh manis hangat dan juga biskuit untuk Cakka.

"Istirahat dulu! Jangan nyapu terus!"

Cakka tersenyum, ia menyimpan sapu lidinya disamping tempat sampah kosong. Mencuci tangan di air kran yang berdiri tepat didepan halaman. Langkahnya kini menuju Aulia, ia duduk. Mengambil biskuit, dicelupkan ke teh hangat lalu dimakan.

"Gimana?"

"Apanya?"

"Biskuitnya, itu buatan aku loh! Bukan hasil ngambil dari stok makanan kalian!"

Mata Cakka membulat, mulutnya masih sibuk mengunyah. Namun batinya senang, ada yang rela repot demi dirinya. Ditelannya biskuit itu, lalu Cakka sedikit membungkukkan tubuhnya pada perempuan yang kini ditatap penuh cinta.

"Benarkah?"

Aulia mengangguk, tersipu malu.

"Enak sekali! Pantas saja rasanya beda dari yang lain, jadi kamu yang buat sendiri?"

Lagi, Aulia mengangguk. Menahan rasa yang hampir melayang ke udara. Cakka mengecup kening Aulia.

"Terimakasih ya" ucapnya lembut seraya mengelus tangan wanitanya.

"Sama-sama, ini bukan apa-apa. Buat biskuit mudah bagiku"

"Kamu pintar masak?"

"Enggak juga, aku cuma belajar terus membuatnya dengan sepenuh hati. Gak nyangka rasanya enak, ya?"

Cakka mengangguk, senyumnya semakin lebar. Ia mengelus tangan Aulia dan bibirnya siap kembali mengecup sang kekasih. Mengkerucut, diudara. Tiba-tiba Debo datang.

"Cak! Ngapain?"

Cakka terdiam seketika Aulia menghilang dari pandangannya, masih dengan mulut yang mengerucut perlahan kepala Cakka menengok ke arah Debo. Malu, bibir itu kini tersenyum.

"Eh Deb! Sudah bangun?" Tanya Cakka sembari menggaruk punggung lehernya yang tak gatal.

Debo menyunggingkan bibirnya, ia menghampiri Cakka lalu duduk disampingnya. Pun Cakka berubah posisi, kini sepenuhnya ia menghadap ke taman rumah.

"Cak..." Debo, memulai obrolan mereka.

"Mau kabur gak?" Tanya Debo, tatapan matanya fokus ke depan.

Tak terkejut ketika Debo mengajaknya untuk lari dari rumah itu, malah justru Cakka diam. Tak memperlihatkan ekspresi heran atau bingung, kenapa Debo bisa berkata begitu.

"Gue ngerasa rumah ini neraka Cak, semewah, selengkap apapun fasilitas disini. Gue lebih milih jadi jambret lagi di pasar"

Cakka tersenyum sinis, ia mengambil topik paling akhir.

"Kan, akhirnya kamu ngaku juga"

"Iya, gue jambret."

"Kenapa bisa ada di sini? Hidup kamu juga menyedihkan, ya?"

"Begitulah Cak, dari bayi gue gak punya keluarga. Hidup dipanti hanya dijadikan babu saja. Gak pernah dapat kasih sayang, gak pernah dipeluk orang, akhirnya jadi jambret dipasar. Eh! Pejambretan gue yang kedua malah lu gagalin, makanya gue nelangsa dan menerima tawaran Kleo untuk jadi artis."

Cakka tersenyum tipis, ia menoleh sekilas.

"Jadi semua salah aku?"

"Gak juga sih, salah gue. Gue gak nurut sama lu!"

"Soal??"

Detak jantung Cakka mulai tak beraturan, ia memejamkan matanya seraya siap mendengar seluruh cerita yang terjadi di malam itu.

Debo tersenyum selengeh, ia menunduk melihat kedua pahanya sembari menahan air mata yang hampir jatuh.

"Gue... Udah... Gak bujang lagi, Cak"

Deg!!!

Mata Cakka melotot kini ia berani menatap wajah Debo meski dari samping. Tangan Cakka perlahan menggenggam tangan Debo. Sekedar menguatkan dengan apa yang sudah ia alami. Namun, belum Debo mengatakan semuanya. Tiba-tiba dari atas kepala Cakka seseorang mengguyurnya menggunakan air comberan.

Byur!!!!!

Basah, bau, hitam airnya, dan lengket!.

Cakka terperangah, mulutnya menganga, pun matanya terpejam karena takut air itu masuk kedalam matanya.

Tak!!!!!!

Ember yang sudah menuangkan air comberan itu dibantingnya ke taman oleh Obit. Nafas Obit terengah-engah, ia menanam tangan dipinggang. Puas dengan apa yang dimau nya.

Tak terima, Cakka bangkit dari duduknya. Ia mengelap air yang masih membaluri wajah.

"Kenapa kamu lakukan ini kepadaku? Apa salahku?!" Tanya Cakka, marah.

"Menurut lu, kenapa?" Obit tak merasa bersalah.

"Kalau ada masalah sama aku, ngomong! Punya bibirkan kamu?!"

"Malas! Untuk apa? Setiap huruf abjad yang keluar dari mulut gue, mahal! Ngapain banyak ngomong sama orang yang gak bisa menghargai gue"

Cakka mengernyitkan keningnya, ini diluar batas bagi dia. Dengan kesadaran penuh dan sudah muak dengan tingkah Obit yang selalu memulai lebih dulu, Cakka meraih sapu lidi, dipukulkannya ke tubuh Obit bekali-kali.

Cetas!

Cetas!

Cetas!

Hingga sapu lidi itu rontok dan Obit, berusaha menghindar namun tak bisa. Kadung marah dan kesal, Cakka memberinya pelajaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!