Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAP 35
Rahang Raka mengeras. Otot di pelipisnya berdenyut pelan menahan emosi yang mulai mengaduk-aduk kepalanya. Namun Nanda adalah segalanya bagi dirinya. Dia tidak mau anak itu terluka.
“Baiklah... baiklah.”
Dadanya terasa sesak saat melihat sikap Ratna. Entah mengapa, tanpa sadar bayangan Nadia kembali melintas di kepalanya. Nadia yang selama bertahun-tahun tak pernah menuntut ini dan itu. Nadia yang selalu menerima apa adanya.
“Nah gitu dong.” Wajah Ratna langsung berbinar. “Sekarang jabatan kamu naik, kamu bisa mainkan uang perusahaan.”
Ratna kembali memprovokasi Raka untuk menilap uang perusahaan.
“Kamu jangan ajari aku jadi orang enggak benar, Ratna.”
Rahang Raka kembali mengeras. Selama ini dia selalu bekerja sesuai prosedur. Dia membangun kariernya perlahan dari bawah, bukan dengan cara-cara curang.
“Sudahlah, jangan munafik. Kamu kan butuh uang. Perusahaan itu sudah untung punya kita, dan mereka juga keterlaluan membayar kita rendah. Korupsi dikit-dikit enggak masalah, lah.”
Raka menutup mata sejenak lalu mengembuskan napas panjang. Rasanya kepalanya semakin berat.
“Mas, kamu gugat cerai saja Nadia,” usul Ratna tiba-tiba.
“Biar dia saja yang gugat. Aku malas ngurusnya. Nanti keluar uang ini dan itu, biar Nadia yang urus. Aku tinggal datang dan selesai.”
Menghadapi Ratna, Nanda, dan Yuni saja sudah membuat pikirannya sesak. Ditambah lagi mengurus perceraian, rasanya kepalanya ingin pecah.
“Mending kamu gugat saja dia. Dia bisa beli mobil mewah dan sepertinya dia punya kehidupan bagus setelah cerai sama kamu. Sepertinya dia punya harta yang enggak kamu ketahui. Kamu harus minta pembagian harta yang adil.”
Ratna menyipitkan matanya. Ada kilatan licik yang muncul di sana.
Kalau memang tidak ditemukan bukti warisan ayah Nadia, berarti selama ini Nadia memiliki usaha sendiri. Dan Ratna merasa dia harus merebutnya.
Raka berpikir sejenak.
“Mungkin itu harta warisan dia, Ratna.”
“Bukan. Itu bukan harta warisan dia. Aku dan Bapak yang mengurus harta warisan Nadia, dan Nadia enggak punya uang banyak. Paling sekitar puluhan juta. Sepertinya dia punya usaha lain yang enggak kamu ketahui, dan modalnya pakai uang yang kamu berikan. Karena dia membuat usaha memakai modal kamu, berarti kamu harus dapat bagian, Mas.”
Raka termenung.
“Baiklah, nanti aku bicarakan sama Mamah.”
Ratna mendengus pelan.
“Kenapa sih kamu harus konsultasi terus sama Mamah?”
“Kalau aku memutuskan apa pun tanpa sepengetahuan Mamah, dia akan marah, Ratna.”
“Kalau sudah rumah tangga itu harusnya cuma tinggal kita berdua, Mas. Kenapa juga harus melibatkan Mamah?”
“Sudahlah. Aku cuma punya ibuku. Ke mana lagi aku mengadu kalau bukan pada Mamah?”
Ratna memalingkan wajahnya kesal.
“Terserah, lah. Dan Ibu sudah setuju kamu membelikan mobil untuk aku, Mas. Kamu harus tepati.”
“Tapi Mamah juga bilang belinya jangan yang mahal-mahal.”
“HRV itu murah, Mas.”
“Murah gimana? Itu mobil mahal.”
Ratna mengangkat bahu santai.
“Murah kalau dibanding Lamborghini.”
Raka hanya menggelengkan kepala.
Pada akhirnya mereka membeli mobil HRV dengan kredit.
Saat Raka menunggu proses administrasi pembelian mobil, matanya menangkap sosok yang baru keluar dari showroom. Nadia berjalan tenang diantar pegawai.
Kemudian mata Raka membelalak.
Nadia masuk ke kursi pengemudi.
Mobil perlahan melaju meninggalkan halaman showroom.
“Sejak kapan Nadia bisa nyetir?” gumam Raka pelan.
“Sudah lama dia bisa nyetir,” ucap Ratna dari belakang.
…
…
.
Sementara itu, Andre sudah sampai di rumah mewahnya. Langkahnya terasa berat Baru saja memasuki ruang tamu, dahinya langsung berkerut. Di sofa ruang tamu, Lusi sudah duduk sambil menyilangkan kaki dengan pakaian yang terlalu terbuka.
Andre mengembuskan napas pelan. Rahangnya menegang.
“Lusi, sudah kubilang jangan ke sini. Kenapa kamu ngeyel?”
Lusi mengangkat bahu santai sambil memainkan rambutnya.
“Aku mau ketemu anakku. Apa salahnya?”
Andre menatap tajam ke arahnya. Dia sudah terlalu mengenal watak perempuan itu.
“Kamu butuh uang berapa?” tanya Andre datar.
Lusi tersenyum tipis.
“Dua ratus juta.”
Andre mengusap wajahnya kasar.
“Aku transfer, dan kamu jangan pernah kembali ke sini, apalagi ngaku sebagai ibunya Novi.”
“Novi anakku.”
“Diam!” bentak Andre.
Suara itu menggema memenuhi ruangan.
“Kamu meninggalkan Novi sebulan setelah melahirkannya, lalu kamu selingkuh dengan pacar kamu. Kamu enggak pantas jadi ibunya Novi.”
Lusi terdiam sesaat, tetapi kemudian tersenyum miring.
“Fakta kalau aku yang melahirkannya adalah hal yang enggak bisa kamu bantah.”
Andre mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Baiklah. Kalau begitu kamu boleh ketemu Novi asal kamu berhenti meminta uang padaku.”
Raut wajah Lusi langsung berubah.
“Enggak bisa. Begitu aku enggak usah ketemu Novi. Malas aku ngurus anak-anak.”
Wajahnya langsung terlihat panik.
Andre menatapnya dengan jijik.
“Ya sudah, sekarang pergilah. Aku enggak mau kamu merusak Novi.”
Lusi akhirnya pergi setelah melihat notifikasi dari ponselnya, uang Dua Ratus juta sudah masuk, dia alergi terhadap anak kecil, mengurus Novi selama sebulan membuat dia tersiksa akhirnya dia pergi dari rumah, dia merasa dirinya masih cantik merepotkan sekali harus mengurus anak-anak.
Andre mengembuskan napas panjang.
Beberapa saat kemudian, dia naik ke lantai atas. Saat membuka pintu kamar, senyum tipis muncul di bibirnya.
Putri kesayangannya sedang duduk di meja belajar.
“Sayang, apa kabar?” tanya Andre lembut.
Novi langsung menoleh. Wajah kecilnya berbinar, lalu berlari memeluk Andre erat.
“Papah kok sibuk terus sih? Kapan bisa antar Novi lagi ke sekolah?”
Andre tersenyum sambil mengusap rambut putrinya.
“Ya, nanti Papah usahakan ya, Sayang.”
Novi mengangkat wajahnya.
“Pah, jangan nikah sama perempuan yang tadi. Novi enggak mau punya bunda kayak wanita di bawah tadi.”
“Iya, Papah sudah usir dia.”
“Bagus, Pah. Papah harus cari bunda kayak Bunda Nanda. Dia cantik, baik, pakai kerudung.”
Andre terkekeh pelan.
“Tapi dia kan bundanya Nanda. Nanti Nandanya marah kalau bundanya Papah ambil.”
“Nanda enggak marah kok, Pah. Kata Nanda boleh.”
Andre terdiam sejenak.
Anak-anak memang lucu. Mereka mengira bunda seperti mainan yang bisa dipinjam atau ditukar.
“Ya sudah, jangan lupa makan ya.”
“Siap, Papah.”
Sementara itu, Nadia sudah sampai di rumahnya. Dia memarkirkan mobil di halaman lalu masuk ke dalam rumah.
Mbak Tiara langsung berbinar melihat mobil baru itu. Berkali-kali dia berswafoto di dekat mobil seolah kendaraan itu miliknya.
Namun Nadia hanya tersenyum tipis.
Setelah duduk di sofa, Nadia menelepon Sindi dan menceritakan semuanya.
“Sepertinya kamu harus menggugat Raka secepatnya, Nad.”
“Kenapa enggak dia saja yang urus?”
“Aku khawatir Raka mengincar harta kamu.”
Nadia termenung.
“Setahuku Raka enggak seperti itu.”
“Rakanya mungkin enggak, tapi pelakor itu? Kamu lebih paham wataknya, kan?”
Nadia menarik napas panjang.
“Merepotkan sekali,” gumamnya.
“pecayalah padaku hal yang merepotkan ini nanti akan berguna”
Nadia menaruh telpon menghembuskan nafas berat
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪