NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1| Mendadak Transmigrasi

"Owh, sialan!" makinya keras, kedua pipinya tampak memerah samar.

Kedua sisi pipi wanita berkulit sawo matang itu terlihat mengembung kesal, kedua matanya memerah. Ia mengutuk kembali meracau, kedua high heels di tangannya bergoyang-goyang. Empunya tubuh kembali memaki, ia berdiri di pinggir kali buatan. Meskipun pemandangan malam di pinggir kali tampak begitu memanjakan mata dengan lampu sorot berwarna-warni, pepohonan yang ikut dipasang bohlam lampu cantik menarik banyak pejalan kaki untuk menikmati malam. Sekadar bersantai di kursi panjang yang disediakan, hanya untuk melepas penat dari hiruk-pikuk dunia.

"Dunia ini sungguh nggak adil! Gue yang berjuang kok dia yang dapetin posisi itu, Bos botak sialan itu juga nggak ngotak. Mentang-mentang dia cantik, dan putri orang kaya. Kerja keras gue selama enam bulan ini jadi sampah di mata mereka. Apa itu keadilan, gue sumpahin kalian semua mati disambar petir," racau Aluna kembali mengalun, ia marah besar saat ini.

Beberapa pengunjung yang datang menikmati pemandangan kali di pinggir kota melirik Aluna dengan tatapan aneh dan menggeleng tak berdaya, gadis dengan lesung pipi itu mabuk seperti orang yang kehilangan kewarasannya. Rambut hitam legam yang tadi pagi ditata rapi malah acak-acakan, Aluna merogoh tas sandangnya. Mengeluarkan smartphone dari dalam tas, satu notifikasi update dari web novel yang ia ikuti dan dibaca tertera di layar ponsel.

"Apalagi sih ini?" Aluna mengetuk layar ponselnya acuh tak acuh.

Tawa kesetanan melambung membuat orang yang tadinya sempat melirik ke arah Aluna sesaat kembali membawa atensi mereka ke arah wanita yang tertawa aneh itu kembali, Aluna menggeleng dengan air mata berlinang. Cerita yang ia baca memperbarui babnya, ia membaca cerita novel online tersebut karena salah satu tokoh figuran memiliki nama yang sama dengan namanya. Bibirnya kembali memaki, saat melihat pembaruan cerita yang tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Aluna mendesah kasar, ia duduk di pinggir besi pembatas.

"Bahkan ada author yang kasih nama tokoh figurannya dengan nama gue. Nasibnya ah...." Aluna menggeleng kembali memasukan ponsel ke dalam tas. "Ya! Apa gunanya jadi gue? Apa, huh? Mending jadi si Aluna di novel gaje itu. Setidaknya dia lahir cantik, wajar dia sombong. Dia kaya, nggak perlu kerja keras kayak gue. Jadi budak orang, eh kalah sama yang cantik dan beruang. Nggak apa-apa kalo dia akhirnya mati, toh selama hidupnya ia punya segalanya. Semua orang pasti bakalan mati juga pada akhirnya, seenggaknya dia dikasih apa yang nggak dikasih Tuhan sama gue."

Aluna kembali meracau, kelopak mata Aluna terkulai. Matanya basah, telapak tangan Aluna mengusap air mata yang jatuh berderai tanpa ia sadari hatinya terasa berdenyut nyeri entah karena kegagalan dirinya dalam pekerjaan. Mungkin juga bab terbaru yang baru saja ia lihat menyebutkan jika tokoh dengan nama yang sama dengan namanya itu mati mengenaskan, rasanya Aluna benar-benar kehilangan harapan. Kepalanya menengadah, hidup dalam kemiskinan itu buruk. Ia bekerja keras hanya untuk bisa berkuliah, selepas wisuda ia terjun ke dunia kerja. Nyatanya dewasa itu lebih melelahkan, dan dunia kerja jauh menakutkan dari yang ia bayangkan.

Siapa yang tak ingin lahir dengan wajah cantik, siapa yang tak ingin lahir dari keluarga kaya. Aluna juga ingin hidup seperti orang lain, katanya hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Lantas kenapa kerja keras Aluna dikhianati oleh hasil, Aluna menangis tergugu-gugu. Sebelah telapak tangannya menutupi wajahnya. Beberapa menit ia habiskan menangisi nasib malangnya, Aluna mengusap air mata. Melempar high heels ke bawah kakinya, ia memasang sebelah high heelsnya. Saat ia akan memasang sebelahnya lagi Aluna tergelincir.

"Eh, eh!"

BYUR!

Aluna kehilangan keseimbangan, ia terjengkang jatuh ke air. Beberapa orang yang menikmati pemandangan malam di kali berteriak saat Aluna terjatuh di air. Tubuh Aluna semakin tenggelam, kelelahan dan mabuk memperparah keadaan stamina Aluna. Gelembung udara terlihat keluar dari mulut Aluna, saat air mulai memasuki mulut serta hidungnya. Pangkal hidung dan tenggorokan terasa perih sekali, oksigen semakin menipis.

'Hah! Bukankah ini jauh lebih baik. Kematian lebih menyenangkan daripada harus hidup dalam ketidakadilan dunia ini.'

Aluna mencemooh, kesadaran perlahan menipis. Kelopak mata Aluna perlahan terpejam, hanya gelap dan sesak yang Aluna rasakan. Layar ponselnya berkedip-kedip terlihat cover novel yang ia baca, lalu mati sepenuhnya bersamaan dengan tenggelam tubuh Aluna yang menyentuh dasar kali.

...***...

BYUR!

Air keluar dari mulutnya, ia terbatuk-batuk hebat dengan mata tertutup suara orang-orang terdengar begitu bising di telinga Aluna. Tubuhnya basah kuyup, kedua kelopak matanya terbuka lalu kembali tertutup. Napas Aluna terdengar berat, ia merasa pangkal hidung, kerongkongan, dan kepalanya sakit. Sementara suara panik memanggil namanya serta bisik-bisik lirih orang-orang di sekelilingnya terdengar samar-samar. Sebelum benar-benar terdengar jelas oleh indera pendengaran Aluna, ia mengatur pernapasan yang terasa sesak.

"Aluna! Hei, Aluna!"

"Dia nggak mati 'kan?"

"Ya, nggak mungkinlah. Orang jahat dan pongah kek dia nggak bakalan mati cepat."

"Ck, salah sendiri. Mau jahatin orang malah kena karma."

"Kalo gue yang jadi si Zea mah, ogah kali nolongin si Aluna."

"Zea terlalu baik jadi orang."

Aluna kembali membuka matanya, penglihatannya kabur untuk sesaat. Beberapa kali ia mengedipkan kelopak matanya, pencahayaan matahari yang memasuki retina matanya membuat dahi Aluna berlipat. Silau, sentuhan hangat di telapak tangannya terasa. Aluna kembali mendapatkan penglihatannya dengan jelas.

'Kenapa ada banyak sekali anak SMA di sini?' Aluna mengedarkan pandangan matanya, ia terlihat masih bingung dan lemah.

"Lun! Lo nggak apa-apa 'kan? Lo baik-baik aja 'kan Lun?" tanya gadis berambut coklat terang, ia menggenggam tangan Aluna panik.

Ia membatu Aluna untuk duduk perlahan, Aluna masih tampak linglung. Ia menoleh ke arah samping, alis matanya berkerut.

"Adik ini siapa ya? Dan ini di mana?" tanya Aluna sengau.

"Hah, adik? Lo kok aneh gini sih Lun. Aluna, ini gue sahabat lo sendiri. Gue Karina kok lo lupa gini sama gue," sahutnya melotot, dan menatap khawatir ke arah Aluna.

"Karina," ulang Aluna nyaris berbisik.

Nama itu familiar diingatkan Aluna tapi di mana Aluna pernah mendengar ataupun mendengar nama Karina. Tangan Aluna menyentuh kepalanya saat ingatannya menghantam otaknya. Kedua pupil mata Aluna melebar, saat ia mulai mengingat sebuah novel dengan nama tokoh Aluna. Ada beberapa adegan kejahatan yang dilakukan oleh tokoh Aluna, dari awal sampai ia terjatuh ke kolam renang. Aluna menahan napas saat otaknya mulai memproses ingatan tokoh Aluna, dan mengembuskan napas kasar. Aluna mengedarkan atensinya ke kolam outdoor sekolah swasta elit yang ia tempati saat ini, lalu beralih pada wajah para remaja yang mengenakan seragam SMA tengah mengelilinginya. Atensi Aluna menoleh ke arah Karina—antagonis dari web novel yang ia baca, detak jantung Aluna berdebar keras.

"Gu—gue..., siapa tadi nama gue?" tanya Aluna tergagap, ia benar-benar berusaha memastikan untuk kedua kalinya jika dirinya tak salah dengar.

"Aluna, itu nama lo. Oh my God! Kepala lo pasti kebentur dinding kolam. Aduh, gimana ini? Besti gue jadi amnesia!" seru Karina panik, lalu ia membawa atensi tajamnya ke arah gadis yang tampak menyedihkan basah kuyup masih berada di kerumunan menatap Aluna dan Karina. "Ini semua gara-gara lo! Tanggungjawab lo! Besti gue jadi kayak gini karena lo, dasar lo cewek pembawa sial."

Telunjuk Karina diarahkan ke Zea, gadis berwajah polos itu melotot. Ia menggeleng panik, suara di sekeliling langsung riuh, menyalahkan Karina dan Aluna. Membela Zea mati-matian, Aluna membeku darahnya berdesir. Ia benar-benar berada di cerita fiksi, jiwanya berada di dalam tubuh tokoh Aluna si figuran yang akan mati karena kejahatannya sendiri.

'Gue bertransmigrasi jadi pemeran figuran? Di novel seram ini. Tuhan! Ini nggak adil. Benar-benar nggak adil banget.' Aluna menunduk, ingin menangis keras karena kemalangan yang ia hadapi.

Beberapa bab yang tersisa sampai kematiannya, Aluna frustrasi bukan main. Bagaimana caranya agar ia kembali ke tubuhnya, kembali ke dunia nyata.

...***...

Aluna Mondar-mandir di ruangan UKS, pakaian basahnya telah berganti dengan baju olahraga. Sementara Karina telah masuk kelas, Aluna meminta izin untuk tidak masuk kelas di pelajaran terakhir. Karina sempat heboh meminta dirinya agar dibawa ke rumah sakit, Aluna menolak keras permintaan Karina. Ia lebih memilih untuk berada di UKS setelah ganti baju dan diperiksa oleh dokter bertugas di UKS sekolah, sebelum ditinggal sendirian di dalam UKS. Dokter yang berjaga sudah mengusulkan agar Aluna mendapatkan pemeriksaan di kepalanya, takutnya ada masalah dengan otaknya sayangnya Aluna kembali menolak. Pada akhir dokter yang jam kerjanya telah habis, meninggalkan Aluna seorang diri di UKS.

Saat terjatuh ke kolam kepala Aluna terhantam dinding kolam, saat itulah jiwa Aluna di dunia nyata memasuki raga tokoh Aluna di novel. Aluna mencoba menyusun ulang apa yang terjadi, kedua kakinya masih mondar-mandir. Tampaknya gadis itu benar-benar telah mati digantikan oleh Aluna dari dunia nyata, langkah kaki jenjang Aluna berhenti mendadak.

"Wait!" seru Aluna tiba-tiba, "apa gue lagi bermimpi? Bisa jadi 'kan ini cuma mimpi gue. Nggak mungkin gue benar-benar bertransmigrasi ke novel, kayak cerita author gaje yang imajinasinya kelewatan di luar akal sehat itu."

Kepala Aluna mengangguk, ia mengedarkan pandangan matanya menatap sekitar.

"Kalo gue hantam kepala gue ke dinding, apakah gue bakalan balik ke dunia nyata?" tanya Aluna saat matanya melirik dinding, ia memiliki asumsi baru tentang bagaimana caranya jiwanya kembali ke tubuhnya yang asli.

Meskipun dunia nyata menyeramkan untuk Aluna, setidaknya tidak semenakutkan berada di dunia fiksi yang jelas tak nyata. Senyum di bibir terlihat, ia langsung bersiap-siap mengambil ancang-ancang dan merunduk perlahan.

"Hyaat!" Aluna berseru lantang berlari menuju dinding dengan tekad siap mati, dengan kepala ke depan.

BRUK!

"Akh," gumam Aluna keras.

Tubuh Aluna terjengkang ke belakang saat kepalanya menyundul daging lunak tak bertulang, sementara pria jangkung yang baru saja masuk tak tahu apa-apa disundul hingga menabrak dinding belakang. Erangan kesakitan terdengar keras, tubuh atletisnya merosot dengan telapak tangan melindungi pusaka yang kemungkinan besar pecah dan tak akan berfungsi lagi dengan baik.

"Alamak, mampus gue!" seru Aluna saat atensinya mendapati sosok pria yang terduduk di lantai lalu tergolek sebelum remaja lelaki itu berguling-guling kesakitan di lantai UKS.

Urat lehernya mencuat jelas di kulit putihnya, wajahnya merah padam, dengan kedua mata berair. Aluna mengulurkan tangannya lalu diturunkan kembali, ingin membantu tapi yang tersundul kepalanya adalah masa depan pria remaja yang kini masih berguling-guling dan kejang-kejang menahan rasa sakit yang tidak mampu ia lukiskan dengan kata-kata.

Bersambung....

🙋🏻‍♀️ : Hai Kakak-kakak terimakasih sebelumnya udah mampir di cerita Aluna. Cerita ini berbahasa non baku, cerita ini ada "Harem" jadi jangan syok kalo tokoh Aluna didekatin sama 4 cowok terus. Cerita ini banyak plot twist-nya, jangan syok kalo ternyata begini dan begitu.🤭 kalau ada typo serta kesalahan dalam penulisan nama mungkin bisa di-tag di bagian yang salah biar author perbaiki. Karena yang namanya manusia nggak luput dari kesalahan🙏🏻😅 sekian terimakasih ^^

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!