NovelToon NovelToon
Demi Sumpah Dan Cinta Matiku

Demi Sumpah Dan Cinta Matiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Cintapertama
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Shelly Husein

Laki-laki hanya mencintai satu kali, sisanya hanya menjalani hidup. Ada yang mengatakan seperti itu. Damien tidak tau apakah itu benar, namun perjalanan hidupnya kali ini benar-benar diluar prediksi dan rencana.
Dia kehilangan istri dan keluarga kecilnya juga terancam pecah, namun di saat yang hampir bersamaan, ternyata semua bencana yang dia alami mengantarkan dia bertemu kembali ke sosok wanita yang dulu sangat dia idam-idamkan sepenuh jiwanya untuk menjadi pasangan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shelly Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Demi Sumpah dan Cinta Matiku.

BAB 1

Selasa , 3 januari 2023. Di ruangan P.T BOUSCH n GENÈVE, sudah terasa kesibukan para karyawan nya yang mulai bekerja kembali setelah selesai libur tahun baru.

Beberapa karyawan baik dari divisi akunting maupun divisi lainnya tampak mulai menyiapkan berkas dan sudah menyalakan komputer ataupun laptop di masing-masing meja dibilik kerja nya. Beberapa dari mereka tampak dengan muka sedikit muram dan malas mulai membuka akses internet dan mulai mengerjakan pekerjaan yg sempat tertahan karena liburan kemarin.

“Bon, Lidya belum masuk ya ?..” tanya Maya kepada salah satu karyawan akunting di bilik kerja sebelahnya. Bondan, yang dipanggil Maya ikut menoleh kearah bilik kerja yg tepat berada di depannya, searah dengan tatapan Maya.

“Gak tau, mungkin... belum selesai liburan nya ke Singapura, kali. Eh bener ya dia liburan nya ke Singapura pas tahun baru ini ? “ Bondan balik bertanya ke Maya.

“iya sih, harusnya...kemarin ngasih tau ke kita kan seperti itu ya ?” jawab Maya.

“sekeluarga sama suaminya juga kan ?” Bondan bertanya kembali.

“Iyalaahh... kan yg tinggal di Singapura itu teman suaminya. “ jawab Maya lagi.

Bondan mengangguk. Lalu kembali mengalihkan pandangan ke layar laptop nya.

Tepat pada saat itu, ada telpon internal menyala di depan meja yg berhadapan dengan Maya, meja ibu Lastri. Kepala akunting di ruangan itu. “Halo, ya mbak Clara... ?? Oh, sebentar.  “ .Ibu Lastri menoleh kepada Maya, “laporan keuangan Priestkùnch untuk hasil pemasaran obat mereka, sudah selesai ga?” Maya berpikir sejenak. “Harusnya sudah, itu dikerjakan bulan kemarin sama Lidya, tapi dia belum masuk, bu “.

 “Duh, dia ga masuk atau terlambat lagi nih ? Saya harus kirimkan laporan nya hari ini, mbak Clara bilang pak Bos nanyain “. Ujar Bu Lastri dengan nada sedikit kesal.”Coba kamu telpon dia deh.” Lanjut bu Lastri lagi.

“baik bu” jawab Maya.

“ Eh ini ada email dari Lidya, mungkin mengenai lapkeu itu” tiba-tiba Bondan memberitahu bu Lastri. 

“coba cek langsung,” perintah bu Lastri. Ternyata betul, email yg dikirim lewat Bondan adalah laporan keuangan pemasaran produk obat buatan Priestkùnch.  Hanya itu saja, tidak ada keterangan tambahan apapun.  “yasudah, langsung kirim ke saya ya , Ndan “ , “oke bu” jawab Bondan.

Lalu bu Lastri kembali menjawab telpon yg di hold sementara. “ Sedang di cek ya mbak Clara, kami siapkan hari ini ke mbak”. Suara bu Lastri menjawab Clara di telpon.

 

Setelahnya bu Lastri bertanya kepada Bondan dan Maya. “Lidya telat atau tidak masuk kerja hari ini ?” , “ Saya telpon tadi hanya memanggil bu, bukan  berdering. Saya WA juga hanya contreng 1” jawab Maya. “Haduh gmana sih dia. Lapkeu yg dia pegang selain perusahaan tadi, ada yg lain juga ga ?”

“ Priestkùnch aja kayaknya deh bu.. kan penyakit dia makin kambuh kemarin-kemarin, jadi sering terlambat masuk dan ga masuk juga beberapa kali. Rata-rata kami yang mengatur. “ jawab Maya.

Bu Lastri mengerutkan kening nya. “Autoimun nya makin parah ya ??”,

“mungkin bu. Kecapean karena mengatur semuanya juga kayaknya “ jawab Maya lagi. Bu Lastri tidak bertanya kembali, Cuma menggelengkan kepala.. Punya suami seperti tidak punya suami, diatur semua oleh dia. Bu Lastri berkata dalam hati, mulai merasa simpati kepada Lidya.

“Nanti kalau sudah di cek lapkeunya sama saya, tolong Nanti di print setelah saya kirim ulang ke kamu ya, Ndan. Kamu aja yg kasih ke mbak Clara. “ . “ Siap Bu..” jawab Bondan.

 Bu Lastri lalu mulai mengecek email nya lalu mulai membuka file dokumen yg disimpan lewat USB pribadi dia.

 

Jam 16.00, kantor masih sibuk dan hiruk pikuk oleh para karyawan yg masih bekerja. Maya mengecek ulang hapenya. Kening nya berkerut. Kok masih contreng 1 ya ? Pikir Maya, ketika melihat chatingan WA nya ke hape Lidya.

“Tumben masih contreng 1 ya, WA nya Lidya,” Maya berbicara kepada bu Lastri dan Bondan dengan pelan. “lagi mode plane kali ya ?, masih rempong liburan, hehee “ canda si Bondan . “iya mungkin ya ? “ jawab Maya sedikit Ragu.

Tiba-tiba ada telpon masuk ke ruangan mereka. Kali ini Bondan yg mengangkat. “Halo, iya... ? Oh, dia ga masuk hari ini. Oh ya ? ... oh begitu.. ?? “ Bondan tampak sedikit kaget. Bu Lastri dan Maya memandang Bondan dengan raut muka bertanya. “sebentar ya , Ka” sambung Bondan kembali.

Bondan menekan tombol hold lalu membalikkan badan ke arah Bu Lastri dan Maya.

 “ Resepsionis di depan tanya, Lidya masuk ga hari ini. Ada telepon dari Mama nya menanyakan dia”. Bisik Bondan

“Loh, mamanya tidak tau juga ?” Maya bertanya balik, sedikit kaget. Bondan menggelengkan kepala.

 “kan mereka tinggal nya  berbeda tempat. Cuma kata Mamanya, dia telpon Lidya kok ga aktif sejak siang. Paginya Cuma memanggil. “ masih dengan berbisik Bondan menjawab Maya. Maya dan bu Lastri semakin bingung.

“bilang aja kalau hari ini mbak Lidya tidak masuk kerja ya, Ka. Coba hubungi terus dari sana “ jawab Bondan kepada Ika, si Resepsionis lewat telpon kantor yg masih dia pegang.

Setelah meletakkan gagang telpon, Bondan berbicara kepada Maya di depan bu Lastri. “ beneran Cuma contreng 1 ya May... ?? Coba telpon deh pakai telpon pulsa aja, jangan telpon Internet “.  Kata Bondan.  “oke..sebentar “. Jawab Maya sambil langsung mengetuk2 layar hapenya untuk mengalihkan kolom chatingan ke kolom keypad.  Saat di telpon ternyata benar, nomor telpon Lidya tidak aktif. Hanya operator booth yg menginfokan.

Baik Maya dan bu Lastri juga Bondan saling  bertatap tatapan.

Lidya kemana ya ??

 

BAB 2

Damien menguap. Lalu sambil menggerakkan badannya di bangku pesawat terbang, dia kembali mengecek sabuk bangku yg dipakai anak anaknya yg berada disamping  bangku pesawat nya.

 “Morin sama Bayu nanti kalau pas turun, jangan sampai berpisah yaa. Kamu jagain adik kamu Bayu, papa harus ambil koper di ruangan baggage handling. “ kata Damien.  Morin, anak pertama Damien mengangguk.

 “Mama sudah sampai di rumah ya pah? “ Tanya Morin pelan. Damien hanya mengangguk pendek.

Bayu yang  sedang memandang luar jendela pesawat pun tidak berkata apa-apa. Sepanjang perjalanan menuju jakarta, baik Morin dan Bayu tidak banyak berbicara.

 Damien pun tidak mengajak anaknya untuk berbicara. Dia hanya memejamkan matanya,seolah olah tertidur. Padahal di otaknya berkecamuk banyak hal yg saling berkejaran di dalam pikiran nya.

” Aku mo pipis” tiba-tiba Bayu berkata. Damien membuka matanya.  “ mbak Nunuk, antara Bayu ke  toilet ya” Damien balas berkata kepada seseorang yg duduk di bangku belakang mereka. 

Seorang perempuan muda, usia sekitar 22 tahun langsung bergerak bangun dengan patuh lalu menghampiri deretan bangku yg diduduki oleh Damien beserta anak- anaknya.”ayo,  Bayu.. mbak temenin” kata sang perempuan itu dengan nada pelan dan ramah namun sedikit manja.

Bayu berdiri lalu berjalan melewati Morin dan Damien, untuk kemudian menyambut tangan mbak Nunuk, babysitter penjaga mereka yang terulur sedikit tepat di samping Damian yg duduk di bangku bagian lorong jalan penumpang.

 Damien sedikit memalingkan mukanya, ke arah Morin yg duduk di tengah-tengah deretan bangku pesawat mereka. Dia bisa mencium aroma parfum yg dipakai oleh mbak Nunuk saat dia berdiri menunggu Bayu untuk bangun dan mengantarkannya ke toilet.

Nunuk, perempuan muda dengan postur tubuh mungil dan berkulit terang terlihat disudut mata Damian memakai atasan lengan panjang dari bahan sweater katun  halus berwarna hitam membentuk badannya yang penuh , dengan celana jeans semi cutbray warna dark blue, tampak berjalan di belakang Bayu, sedikit berlenggak menggoyangkan pinggulnya saat berjalan.

Sebentar lagi kamu saya berhenti kan ya, pikir Damian dengan Dingin. Lalu Damien kembali memejamkan matanya.

Tidak sampai 10 menit, mbak Nunuk dan Bayu kembali dari toilet pesawat dan berjalan ke arah tempat duduk Bayu, dan saat Bayu jalan bergeser kearah tempat duduk nya, Damien yg menggerakkan badannya agar kakinya tidak menghalangi jalan Bayu, sempat merasakan bagian tubuh atas mbak Nunuk tiba-tiba tergesek oleh lengan atas nya Damien.

“mbak Nunuk langsung ke tempat duduk saja “ kata Damian langsung tanpa ber basa basi.

 “oh..iya pak “ jawab Nunuk patuh sambil tersenyum malu.

Damien menghela nafas panjang. Harusnya hari ini dia pulang bersamaan dengan istrinya juga. Tapi istrinya harus pulang terlebih dahulu  karena pekerjaan kantornya belum selesai.

Dan lagi, momen liburan tahun baru di Singapura bersama yg seharusnya jadi hal yg menyenangkan  berubah jadi kenangan yang buruk.

Semua itu gara-gara komentar istrinya setelah pulang dari acara perayaan tahun baru di Hotel tempat mereka menginap , Suntec city, bersama anak-anak sebelumnya.

Saat pulang dan kemudian memberikan anak-anak mereka kepada mbak Nunuk sebagai baby sitter mereka untuk bersiap-siap tidur, Lidya mengajak Damien untuk berbicara di lobby luar kamar mereka, Bugis park hotel.

“Mas...kamu selingkuh ya ?”, tanya Lidya.

Damian menatap Lidya, wanita mungil bermata sipit, beralis halus dan berkulit bersih yang menjadi ibu dari anak-anak nya sejak anak pertama mereka lahir 8 tahun yang lalu.

“maksud kamu apa ?” tanya Damian. “kamu selingkuh kan ?” tanya lidya lagi. 

Damien  duduk di bangku balkon luar kamar. Lalu bertanya balik “ dengan siapa ?”.

Lidya mendengus kesal. “Ada yang WA kamu kemarin, minta VC. Jam 11 malam ??”  Damien hanya menatap dingin. “aku ga ngerti maksud kamu, aku sudah tidur di jam segitu, kamu tau sendiri kan ?”.

 “ justru itu yg mau ku tanyakan!!, sudah beberapa kali ada nomor hape tanpa nomor missed call ke aku, pas aku jawab ga ada suara apa-apa, hanya suara tertawa wanita lalu mengataiku kalau aku bodoh , lalu dimatikan.  Kenapa kamu begitu sama aku mas ?? Aku kurang apa sama kamu ?? “ Lidya mulai berbicara lebih keras , menahan emosi dan tangisan.

 Damian belum menjawab.

Dia hanya diam lalu berkata pelan namun penuh penekanan. “aku sudah bilang tidak punya hubungan apa-apa. Kamu ga usah terpancing dengan mereka. Aku bahkan tidak tau siapa wanita yg kamu maksud “.

“ ya memang Cuma kamu yang tau siapa saja wanita-wanita itu.. !! Sebegitu tampan nya kah kamu sampai sudah menikah dengan aku selama hampir 18 tahun ini, tapi tetap saja ada yg mengejar ngejar kamu. Kenapa kamu ga bisa bersikap tegas kepada semua penggemar wanita kamu, mas ??” Lidya membalas perkataan Damian dengan penuh Intonasi sindiran.

Damien tidak terpancing, dia hanya memandang Lidya yang hanya setinggi bahunya jika dia berdiri  dengan tenang.

Damien mendekati Lidya dengan perlahan. Rambut Damien  yg hitam lebat dengan potongan pendek rapih, dengan alisnya yg tebal terbentuk  juga hidunganya yg mancung lurus dan kulit mukanya yang halus nyaris tanpa noda dan kerutan sedikit pun membuat siluet bagaikan wajah patung rennaissance gaya romawi, sangat tegas namun lembut bagaikan raut muka patung seukuran dada para dewa .

Tampan , ya .Dikombinasikan dengan Tatapan dingin dan jarang tersenyum.  Saat dinikahi oleh Damien, Lidya merasa diri paling beruntung di dunia. Dan dia sudah bertekuk lutut dan bertekad  tak mau melepaskan Damien dengan alasan apapun juga.

Namun kini lelaki yg dia cintai sepenuh jiwa dan raganya hanya berjalan mendekati dan setelah itu bahkan tidak terlihat ingin menyentuh Lidya, dengan maksud menenangkan dirinya yang sedang dikuasai kemarahan dan ketidakpuasan oleh sikap suaminya sendiri.

Damien hanya berdiri berhadapan dengan istrinya lalu kemudian berbalik badan sambil berkata “tidak usah dibalas atau dijawab semua itu. Biarkan saja. Aku tetap pulang kerumah dan tidak akan meninggalkan mu. “.

Lalu sambil berjalan semakin jauh, Damien melanjutkan dengan datar “ demi anak-anak”.

Lidya merasakan dadanya sesak saat mendengarkan kalimat terakhir Damian kepadanya.

Setengah bergegas mengejar, ia lalu memegang lengan kanan  Damian dengan erat.  “Mas.. !! Apa kesalahan ku kali ini ??, aku selalu menuruti kemauan kamu, mas !!, aku mengurus anak-anak , pendapatan ku juga kuatur agar bisa memenuhi semua kebutuhan kita, aku ga pernah pergi kemana pun sebelum kamu izinkan, aku ga pernah aktif di medsos agar tidak ada yg mencoba menarik perhatian ku.. kamu tau semua yg kukerjakan. Tapi kamu sendiri tak pernah bisa ku ketahui apa yg sedang kamu kerjakan, apa saja kegiatan mu... hingga ada wanita- wanita lain yg selalu kamu katakan hanya teman biasa menghampiri mu. Kamu mau aku melakukan apalagi, mas ??!??”.. semua kata-kata itu meluncur cepat disela isak tangis tertahan Lidya.

Damian yg berhenti karena lengan yg di tarik oleh istrinya,Lalu sambil menoleh ke arah istrinya yg hanya setinggi bahu nya, dia mulai berbicara tajam. “kan sudah kukatakan kalau semua wanita tidak jelas itu hanya ingin mencoba mengacau kan hubungan kita. Kamu pikir aku juga tidak bekerja menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan kalian dan juga masa depan kita nanti ? Sudah kukatakan sejak awal, suami istri itu adalah partner, semua harus sama-sama dibagi dan diatur, itu juga untuk masa depan kita dan anak-anak kita nanti !.

Jangan ladeni semua telpon iseng dan komentar itu. Nanti kamu yg sakit jiwa !!. Aku ga ada hubungan apapun dengan mereka. Mengerti ??!??”. Jawab Damien semakin datar dan dingin.

 Lidya menahan isak tangis nya. “Lalu siapa wanita itu, yg menelepon ku dan menghina ku ?”

“Aku tak tahu !, dan aku bahkan tidak memperdulikannya !.Aku tak perlu punya hubungan diluar selain dengan istriku sendiri.. ! Biarkan mereka yg kacau oleh perasaan mereka. Aku tak merasakan harus bertanggung jawab dengan perasaan mereka. Aku tak pernah berjanji apapun ke mereka. Bahkan tidak pernah merayu dan menyukai mereka. Mereka hanya klien, kamu juga tau itu kan ??, “ jawab Damien kembali. Lalu dia menarik lengan kanan nya yg sempat tertahan dipegang oleh istrinya sendiri.

 “Tidurlah, temani anak-anak  sekalian. Aku mau mandi.” Kata damian sambil terus berjalan masuk ke ruang tamu lalu menuju kamar mandi, meninggalkan Lidya yang masih berdiri ditengah ruangan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!