NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 14

Aroma bubur ayam hangat dan kaldu buatan Zoya baru saja memenuhi ruang tengah ketika bel penthouse berbunyi dengan nada yang tidak sabar.

Zoya, yang baru saja hendak mengantarkan obat untuk Arvin, mengurungkan niatnya dan berjalan menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, sosok wanita dengan gaun merah ketat dan sepatu hak tinggi yang berisik langsung menerobos masuk tanpa permisi.

"Di mana Arvin?!" suara melengking itu milik Valerie. Ia membawa tas bermerek di lengannya dan aroma parfum yang menyengat, sangat kontras dengan ketenangan yang baru saja Zoya bangun di dalam rumah.

Zoya berdiri tegak, menghalangi langkah Valerie menuju koridor kamar utama. "Tuan Arvin sedang beristirahat, Nona Valerie. Dokter menyarankan agar dia tidak diganggu."

Valerie tertawa sinis, matanya memindai penampilan Zoya dari atas ke bawah, dari mukena katun yang sederhana hingga cadar pink yang menutupi wajahnya.

"Diganggu? Aku ini kekasihnya, bukan orang asing sepertimu. Minggir, wanita udik. Aku dengar dia sakit parah karena terlalu stres, dan aku yakin itu semua karena ulahmu yang tidak becus mengurus rumah."

Valerie mendorong bahu Zoya dengan kasar, namun Zoya tetap bergeming di tempatnya.

"Nona, ini bukan soal siapa Anda, tapi soal kondisi medis Tuan Arvin. Dia menderita tifus akut. Paparan polusi dari luar, termasuk parfum yang terlalu menyengat bisa membuatnya mual dan pusing," ucap Zoya dengan nada suara yang tenang namun sangat tajam.

"Apa kau bilang?!" Wajah Valerie memerah. "Kau berani mengataiku polusi? Hebat sekali ya, mentang-mentang sudah diperbolehkan tidur di sini, kau merasa punya kuasa? Ingat, kau itu cuma perawat rendahan yang dibeli untuk menuruti kemauan orang tua Arvin. Jangan bermimpi terlalu tinggi."

Valerie merampas nampan berisi bubur dari tangan Zoya hingga airnya sedikit tumpah. "Sekarang minggir. Aku yang akan merawatnya. Arvin butuh wanita yang selevel dengannya untuk menghibur, bukan wanita yang tampilannya mirip hantu sepertimu."

Di dalam kamar, Arvin sebenarnya sudah terbangun. Ia mendengar keributan di luar, namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk bangkit dari ranjang.

Ia bersandar pada bantal, menatap pintu dengan kening berkerut. Saat pintu terbuka dengan kasar, ia melihat Valerie masuk dengan wajah yang dipaksakan cemas, diikuti Zoya yang berjalan tenang di belakangnya.

"Arvin, sayang! Ya ampun, kenapa bisa sampai seperti ini?" Valerie meletakkan nampan secara sembarangan di atas nakas, hingga menimbulkan suara denting yang keras. Ia segera duduk di tepi ranjang, mencoba menyentuh kening Arvin.

Arvin secara refleks sedikit memiringkan kepalanya, menghindari tangan Valerie. "Valerie? Kenapa kau di sini?"

"Aku khawatir, Sayang. Aku dengar dari asistenmu kalau kau pingsan. Lihatlah, kau jadi kurus begini karena dirawat oleh orang yang salah," Valerie melirik tajam ke arah Zoya yang berdiri di ambang pintu. "Zoya ini memang tidak tahu diri. Dia membiarkanmu makan bubur hambar seperti ini? Aku sudah pesankan sup dari restoran bintang lima, sebentar lagi sampai."

Arvin melirik Zoya. Ia teringat bagaimana Zoya terjaga semalaman, memegang tangannya, dan menahan kantuk demi mengompresnya. Ia juga ingat rasa bubur itu, tidak hambar, melainkan penuh dengan rasa rempah yang menenangkan perutnya yang perih.

"Zoya sudah merawatku dengan baik," ucap Arvin singkat, suaranya masih parau.

Valerie mendengus, ia mengambil sendok dan menyendok bubur buatan Zoya dengan jijik. "Ini? Ini cuma nasi lembek. Arvin, kamu butuh nutrisi, bukan makanan orang miskin. Zoya, ambilkan air minum yang mahal, bukan air keran yang dimasak!"

Zoya melangkah maju. Kali ini, ia tidak lagi menunjukkan kepatuhan yang biasanya. Ia menatap Valerie tepat di matanya, tatapan yang begitu kuat hingga membuat Valerie terdiam sejenak.

"Nona Valerie," suara Zoya terdengar sangat tegas. "Pertama, air yang saya berikan adalah air mineral berkualitas yang sudah melalui proses sterilisasi. Kedua, bubur ini adalah resep khusus dari Dokter Hendra untuk penderita tifus agar tidak melukai dinding usus yang sedang meradang. Dan ketiga..."

Zoya mengambil kembali nampan itu dari depan Valerie dengan gerakan yang sangat elegan namun tak terbantahkan.

"Tuan Arvin adalah suami saya secara sah, baik di mata agama maupun hukum. Di rumah ini, kewajiban merawat beliau berada di tangan saya. Anda tamu di sini, dan sebagai tamu, Anda sudah melanggar waktu istirahat suamiku."

Valerie berdiri, suaranya meninggi. "Kau mengusirku?! Arvin, kau dengar itu? Wanita ini berani mengusirku dari rumahmu!"

Arvin terdiam. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Selama ini, ia menganggap Zoya adalah wanita yang lemah dan hanya bisa tunduk.

Namun melihat Zoya berdiri tegak, menggunakan haknya sebagai istri sah untuk melindunginya dari kebisingan Valerie, membuat Arvin merasakan sesuatu yang asing. Ada rasa bangga yang menyelinap secara diam-diam. Ia menyukai ketegasan Zoya yang tetap beradab.

"Zoya benar, Valerie," ucap Arvin tiba-tiba.

Valerie terbelalak. "Apa?"

"Aku sedang pusing, dan suaramu membuat kepalaku semakin berdenyut. Dan parfummu... itu terlalu tajam untuk orang yang sedang mual," lanjut Arvin, mengulang kata-kata Zoya sebelumnya. "Pulanglah. Biarkan Zoya yang mengurusku."

"Tapi Arvin! Aku sudah membatalkan jadwal pemotretanku hanya untukmu!"

"Nona Valerie, mari saya antar ke depan," potong Zoya cepat. Ia memberikan gestur tangan menuju pintu dengan sikap yang sangat sopan namun mengintimidasi. "Kesembuhan Tuan Arvin adalah prioritas utama saat ini. Jika Anda benar-benar peduli, Anda pasti mengerti bahwa beliau butuh ketenangan, bukan perdebatan."

Valerie menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram. Ia menyambar tasnya, menatap Zoya dengan dendam yang membara. "Kau akan menyesal karena sudah mempermalukanku, Zoya! Lihat saja nanti!"

Valerie keluar dari kamar dengan langkah yang dihentak-hentakkan. Zoya mengikutinya sampai ke pintu depan, memastikan wanita itu benar-benar pergi dan mengunci pintu dengan rapat.

Setelah suasana kembali hening, Zoya kembali ke kamar Arvin. Ia membawa segelas air putih dan obat yang tadi sempat tertunda. Ia mengira Arvin akan marah karena ia telah mengusir kekasihnya.

Zoya meletakkan gelas itu di atas nakas. "Maaf jika aku terlalu lancang, Tuan. Tapi kondisimu memang tidak memungkinkan untuk menerima tamu yang... terlalu ekspresif."

Arvin menatap Zoya yang sedang merapikan selimutnya. "Kau tadi bilang apa? Istri sah?"

Gerakan tangan Zoya terhenti. Ia merasa wajahnya memanas di balik cadar. "Itu... aku hanya menggunakan alasan itu agar Nona Valerie mau pergi, Tuan. Aku tahu kau tidak menyukai status itu, tapi dalam keadaan darurat, aku harus menggunakan posisiku untuk melindungi kenyamananmu."

Arvin mendengus, namun kali ini bukan dengusan benci. Ia memalingkan wajah ke arah lain, mencoba menyembunyikan senyum tipis yang hampir terbentuk. "Kau cukup berani juga. Aku tidak tahu kau punya taring untuk menghadapi wanita seperti Valerie."

"Aku hanya membela apa yang benar, Tuan," jawab Zoya rendah hati. "Sekarang, minumlah obatnya. Setelah itu kau harus kembali tidur lagi."

Arvin menerima obat itu tanpa bantahan. Ia meminumnya, lalu kembali berbaring. Namun sebelum Zoya keluar, Arvin berkata pelan, "Lain kali... jangan pakai alasan istri sah itu kalau kau sendiri tidak yakin dengan ucapanmu."

Zoya tertegun. "Maksudmu?"

"Lupakan," sahut Arvin cepat, kembali bersikap sinis untuk menutupi rasa canggungnya. "Cepat keluar. Aku mau tidur. Dan jangan biarkan siapa pun masuk lagi, termasuk pria dari kampusmu itu. Mengerti?"

Zoya tersenyum kecil di balik cadarnya. "Mengerti, Tuan."

Saat Zoya menutup pintu, Arvin menarik selimutnya hingga menutupi separuh wajahnya. Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat. Ia membenci kenyataan bahwa ia merasa terlindungi oleh Zoya. Ia membenci rasa bangga yang muncul saat Zoya mengakuinya sebagai suami di depan orang lain.

"Hanya karena dia merawatku, bukan berarti semuanya berubah," batin Arvin menyangkal.

Namun di sudut hatinya yang paling dalam, dinding es itu baru saja mengalami keretakan yang sangat besar. Arvin menyadari bahwa di balik kelembutan Zoya, ada kekuatan yang sanggup berdiri tegar melawan badai. Dan untuk pertama kalinya, Arvin merasa bersyukur memiliki hantu cantik bercadar itu di dalam rumahnya.

...----------------...

To Be Continue .....

1
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
sabar Zoya.... karna lama" es itu akan mencair dengan sendiri'y🤭
ρυтяσ kang'typo✨
apah masih sangat kokoh benteng di hati mu tuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!