NovelToon NovelToon
Sebelum Kita Mengaku

Sebelum Kita Mengaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:890
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan

Malam telah jatuh sepenuhnya.

Mansion Valehart kini diselimuti oleh kesunyian yang mencekam.

Di bawah cahaya lampu dinding yang temaram, ia kembali luruh di lantai studionya.

Gaun sutra gadingnya kini benar-benar hancur. Kelimannya ternoda warna kobalt, dan ujung jemarinya menghitam karena debu arsip tua yang ia bongkar paksa.

Ia merasa kotor. Bukan karena cat atau debu, tapi karena kenyataan pahit bahwa ada ular yang ia pelihara di bawah atap museumnya sendiri.

Moltemer tidak mungkin bisa menembus sistem kunci fisik dan penjagaan ketat tanpa bantuan orang dalam.

Tok. Tok.

Tiba-tiba,sebuah ketukan tajam dan berirama bergema. Suara itu membelah kesunyian yang menyesakkan di dalam ruangan.

"Pergilah," serak Aurora. Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

Pintu tetap terbuka.

Aroma familiar yang berat—campuran kayu cendana dan arang mahal—memenuhi udara.

Lucien tidak datang dengan rasa terkejut. Informannya di kantor pengadilan dan agennya di museum telah melaporkan segalanya sebelum matahari terbenam.

Ia sudah tahu tentang surat gugatan itu. Ia sudah tahu nama Moltemer tertulis di sana sebagai pemohon. Dan ia tahu, saat ini, istrinya sedang berdiri di tepi jurang kehancuran.

Lucien berdiri di ambang pintu. Siluetnya tampak kokoh dan tajam di bawah cahaya lampu koridor.

Mata kelabunya menyapu lautan kertas yang berserakan di lantai, lalu mendarat pada sosok Aurora yang luruh di atas marmer.

"Berhenti mencari jejak di ruangan yang sudah mereka bersihkan," ucap Lucien.

Suaranya rendah, bergetar dengan otoritas dingin yang seketika membungkam keheningan.

Aurora mendongak. Tatapannya hampa, kehilangan binar api yang biasanya selalu ia tunjukkan pada suaminya.

"Moltemer mengirimkan panggilan pengadilan... dia menuduhku melanggar kewajiban. Dan sekarang, semua bukti yang bisa membersihkan namaku telah hilang. Semuanya lenyap."

Lucien melangkah masuk ke dalam studio.

Sepatu kulitnya yang mengkilap menginjak lembaran-lembaran dokumen dengan bunyi klik yang angkuh dan tak peduli.

Ia berhenti tepat di depan Aurora, lalu mengulurkan tangannya yang besar dan kokoh. Wajahnya tetap menjadi topeng yang tak terbaca, namun ada kilatan predator di matanya.

"Kau pikir hukum adalah tentang kebenaran?" gumam Lucien, suaranya kini terdengar berbahaya.

"Hukum adalah tentang siapa yang bisa membangun cerita paling meyakinkan di depan hakim."

Ia merunduk sedikit. Bayangannya menyelimuti tubuh Aurora yang gemetar.

"Moltemer memang sudah mencuri buktimu, tapi dia lupa satu hal," lanjut Lucien dengan nada tajam.

"Dia sedang berurusan dengan seorang Valehart sekarang."

Lucien menatap lekat mata istrinya.

"Bangunlah. Berhenti berlutut di atas puing-puing ini dan biarkan aku menunjukkan padamu bagaimana cara membakar balik orang yang mencoba menyulut api di rumahmu."

Aurora menatap tangan Lucien yang terulur di depannya. Tangan itu lebar, urat-urat halusnya terlihat di bawah kulit, tampak begitu kokoh di tengah dunianya yang sedang pecah berkeping-keping.

Ada keraguan yang mencekik tenggorokannya.

Menerima tangan itu berarti dia menyerah. Itu adalah pengakuan telak bahwa dia tidak cukup kuat untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Namun, ketika matanya kembali menyapu laci-laci kayu yang menganga kosong dan tumpukan kertas yang kini tak lebih dari sampah, Aurora tersadar.

Keadilan yang dia puja tidak akan datang menyelamatkannya. Kebenaran tidak akan mengembalikan museumnya.

Dengan jemari yang gemetar, Aurora akhirnya meletakkan tangannya di atas telapak tangan Lucien.

Kulit pria itu panas, berbanding terbalik dengan tangan Aurora yang sedingin mayat. Tanpa ragu, Lucien menariknya dalam satu sentakan mantap, memaksa Aurora berdiri tegak meski lututnya terasa goyah.

Aurora terhuyung, tubuh lemasnya menabrak dada bidang Lucien.

Aroma cendana yang tajam dari tubuh pria itu mengepung indranya—memberikan rasa aman yang janggal, sekaligus sebuah ancaman yang nyata.

Lucien tidak melepaskannya. Dia justru mencengkeram jemari Aurora lebih erat, memaksa wanita itu mendongak untuk menatap sepasang mata kelabu yang sedang menguliti jiwanya.

"Buang wajah pecundang itu, Aurora," bisik Lucien. Suaranya rendah, nyaris seperti desisan di dekat keningnya.

"Kau menyandang nama Valehart sekarang. Jika kau terlihat hancur, kau hanya sedang memberikan mereka panggung untuk tertawa."

"Lalu aku harus bagaimana?" suara Aurora serak, ada sisa-sisa kemarahan yang mulai memercik di matanya yang hampa. "Mereka punya segalanya. Dokumen, saksi, hukum... mereka punya semua itu."

Wajah Lucien tetap sedatar batu nisan. Tidak ada senyum. Hanya ada sorot mata yang semakin menggelap, penuh dengan kalkulasi yang mematikan.

"Jika mereka bermain dengan hukum, maka kita akan bermain dengan kekuasaan."

Dia melepaskan tangan Aurora, berbalik menuju pintu namun langkahnya tertahan. Lucien menoleh sedikit, memperlihatkan profil wajahnya yang tajam ditelan bayang-bayang malam.

"Bersihkan dirimu. Pakai gaun terbaikmu besok pagi. Kita akan menemui pengacara keluarga saat matahari terbit."

Lucien terdiam sejenak, nada suaranya merosot menjadi lebih rendah, lebih dingin.

"Dan jangan pikirkan Moltemer. Dia mungkin pandai mencuri kertas, tapi dia tidak akan pernah siap menghadapi cara seorang Valehart menyelesaikan masalah."

Pria itu melangkah pergi, meninggalkan Aurora berdiri terpaku di tengah studionya yang berantakan.

Kesunyian kembali datang. Namun kali ini, rasanya berbeda.

Aurora menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara yang terasa lebih tajam. Rasa kosong itu masih di sana, tapi kini mulai tertutup oleh benih baru yang baru saja Lucien tanamkan.

Pembalasan.

1
Viaalatte
keren narasinya kaya novel cetak
Manusia Ikan 🫪
kamu mahasiswa arsitektur?
Manusia Ikan 🫪
Aurelia, namanya mirip nama Kekaisaran di novel ku/Smile/
Manusia Ikan 🫪
aku tinggal kan jejak bentar, nanti siang aku mampir lagi, sudah subuh soalnya😹
hrarou: terima kasih sudah mampir 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!