NovelToon NovelToon
Berondongku Suamiku

Berondongku Suamiku

Status: tamat
Genre:Berondong / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kirana harus menerima kenyataan bahwa calon suaminya meninggalkannya dua minggu sebelum pernikahan dan memilih menikah dengan adik tirinya.

Kalut dengan semua rencana pernikahan yang telah rampung, Kirana nekat menjadikan, Samudera, pembalap jalanan yang ternyata mahasiswanya sebagai suami pengganti.

Pernikahan dilakukan dengan syarat tak ada kontak fisik dan berpisah setelah enam bulan pernikahan. Bagaimana jadinya jika pada akhirnya mereka memiliki perasaan, apakah akan tetap berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Delapan belas

Perjalanan menuju butik paling ternama di kota itu terasa agak canggung. Irfan menyetir sambil sesekali melirik kaca spion, melihat ekspresi Tissa yang berubah-ubah, kadang kesal, kadang menahan diri, kadang seperti berpikir keras. Tissa sendiri sibuk dengan ponselnya, pura-pura sibuk membuka contoh kebaya di Instagram padahal dari tadi hanya membuka-buka ulang foto yang sama.

Ketika mobil berhenti di depan butik yang besar dan elegan, wajah Tissa langsung cerah. Bahkan sebelum Irfan mematikan mesin, Tissa sudah melepas seatbelt dan mendorong pintu mobil. “Fan! Cepat, iniii … ini butik paling bagus di kota!” serunya tak sabar.

Irfan hanya menarik napas panjang, mencoba menyiapkan diri menghadapi apa pun yang bakal terjadi. Dia turun, lalu mengikuti Tissa yang berjalan dengan langkah ringan seolah seluruh beban hidupnya hilang begitu melihat gedung ber-AC dingin itu.

Ruangan butik itu luas, bersih, wangi, dan diterangi lampu-lampu hangat yang membuat semua kebaya tampak seperti karya seni. Tissa hampir meloncat karena kegirangan.

“Fan! Lihat itu!” serunya sambil mendekati sebuah manekin di tengah ruangan. Kebaya bernuansa salmon-rose yang dipenuhi bordir rumit dan payet berkilau terpajang di sana. Roknya jatuh anggun dengan lapisan tulle yang lembut, dan selendangnya dijahit dengan detail yang terlihat halus bahkan dari jauh.

“Astaga cantiknya ….” Tissa menutup mulut dengan tangan, seperti melihat sesuatu yang sakral.

Irfan mengangguk kecil. “Iya, bagus.”

“Bagus? Cuma bagus? Irfan, ini … ini masterpiece,” ujar Tissa penuh takjub.

Seorang karyawan butik yang mengenakan seragam rapi mendekat dengan senyum profesional. “Selamat siang, Kak. Ada yang bisa saya bantu?”

Tissa menunjuk manekin tadi dengan mata berbinar. “Kak, kebaya ini … yang ini paling baru ya? Untuk siapa sih?”

Karyawan itu tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, “Oh, itu pesanan khusus. Dari anak pemilik butik ini. Calon pengantinnya bernama Kirana.”

Suasana langsung beku. Tissa dan Irfan secara bersamaan menatap karyawan itu. Kemudian mereka saling menatap satu sama lain.

“Maaf … siapa tadi?” tanya Tissa memastikan.

“Kirana, Kak.”

Tissa mengerjap beberapa kali. “Kirana …? Kak Kirana? Yang rambutnya lurus, tinggi sekitar segini, orangnya lembut banget?”

Karyawan itu tersenyum sopan. “Saya kurang tahu detail orangnya, Kak. Karena kemarin saya tak masuk, saya dapat info dari teman.”

Tissa menggeleng cepat. “Enggak mungkin. Kak Kirana mau nikah sama siapa? Dia aja … dia aja … ya gitu.” Ia langsung menutup mulutnya, takut keceplosan meremehkan.

Irfan juga tampak bingung. “Iya … sepertinya bukan Kirana yang kami kenal. Soalnya dia ... batal nikah."

Karyawan itu hanya tersenyum, tidak ikut campur. “Iya, Kak. Tapi kebaya itu sudah pasti pesanan calon pengantin. Namanya Kirana. Kalau Kakak mau yang model mirip, kami punya katalog lain.”

Tissa menelan ludah. Ia mendekati kebaya itu lagi, hampir menempelkannya ke hidung saking ingin melihat detailnya lebih dekat. “Cantik banget … astaga ini sumpah cantik banget.”

Irfan menatap angka kecil di plakat akrilik di samping manekin. Ia mengernyit. “Tis … ini harganya beneran segini?”

“Harganya berapa?” tanya Tissa antusias.

Karyawan menjawab dengan nada biasa, seolah angka itu hanyalah angka kecil. “Untuk satu set kebaya lengkap atasan, bawahan, veil, dan aksesorisnya, total lima puluh juta, Kak.”

Tissa sontak melemas. Bahunya turun begitu saja. Nafasnya seperti tersangkut di tenggorokan.

“Li … lima puluh juta?”

Irfan bahkan mematung. “Lima puluh? Ini kebaya atau DP rumah?” Karyawan hanya tersenyum ramah.

Tissa memegang dada. Dalam hatinya ada pikiran yang langsung muncul, penuh ketus namun terdengar jujur.

"Jelas ini bukan Kak Kirana. Mana mungkin ada pria tajir mau nikahi dia. Enggak mungkin."

Di sisi lain, Irfan juga berpikir hal serupa, meski tidak mengucapkannya. Bahkan ia sedikit tersinggung.

"Kirana pesan kebaya lima puluh juta? Dengan siapa? Nanti jadinya malah gosip aneh. Enggak mungkin. Pasti Kirana lain."

Tissa mencoba mengalihkan kegugupannya. “Kak … selain yang ini, kebaya terbaru yang lain ada? Mungkin yang warnanya peach atau maroon gitu?”

Karyawan mengangguk. “Ada, Kak. Untuk model terbaru, harga mulai dari dua puluh lima juta.”

Tissa langsung menahan napas. Dua puluh lima juta itu harga termurah.

Ia menatap Irfan. “Fan … dua puluh lima juta. Bisa …?”

Irfan menatap mata Tissa. Tegas. Tidak ragu sedikit pun. “Tissa. Enggak bisa.”

“Tapi ini paling murah …,” suara Tissa mengecil.

“Tetap enggak bisa,” ulang Irfan. “Aku bilang dari awal, aku punya budget. Uangku bukan cuma buat pesta. Aku banyak tanggungan keluarga. Aku enggak bisa buang uang segitu cuma untuk baju.”

Tissa menunduk. Wajahnya memerah bukan marah kali ini, melainkan malu. Karyawan butik tidak berkomentar apa pun. Ia sudah terlalu sering menghadapi pasangan dengan perbedaan ekspektasi seperti ini.

Setelah mereka pamit keluar, rasa dingin dari AC butik berganti dengan hawa panas kota. Rasanya hampir seperti tamparan. Tissa tidak mengatakan apa-apa. Irfan juga tidak.

Dalam perjalanan menuju butik lain, yang jauh lebih sederhana dan “masuk akal”, suasana di mobil hening total. Bahkan suara klakson motor pun rasanya tidak mampu menembus kesunyian itu.

Tissa menatap ke luar jendela. Rambutnya jatuh menutupi sebagian pipinya, menutupi ekspresi kecewanya.

Irfan hanya fokus ke jalan. Sesekali ia mengetuk-ngetuk kemudi dengan jari-jari tegang. Ia bukan marah, tapi jelas sedang berpikir keras.

Butik kedua yang mereka kunjungi tidak semewah sebelumnya, tapi tetap rapi dan cukup nyaman. Di tempat itu akhirnya Tissa memilih kebaya yang warnanya mendekati keinginannya, peach gelap dengan sedikit aksen emas. Tidak luar biasa, tapi cukup cantik. Harganya tiga setengah juta.

Masih di atas budget tiga juta yang Irfan sebutkan, tapi Irfan menutupinya dengan berkata, “Tidak apa. Yang penting kamu suka.”

Tissa hanya mengangguk kecil. Ia tidak seceria tadi. Tidak mengomel. Tidak juga memuji. Ia lebih seperti seseorang yang sedang menerima kenyataan yang pahit tapi tidak mau memperpanjang masalah.

Begitu kebaya sudah dibayar dan mereka kembali ke mobil, suasana hening lagi. Dua menit pertama hanya ada suara mesin mobil. Sepuluh menit berlalu tanpa satu kata pun.

Irfan akhirnya melirik. “Tissa … kamu kenapa diam?”

Tissa menghela napas, pelan. “Enggak apa-apa.”

“Jangan bilang enggak apa-apa kalau wajahmu jelas ada apa-apa.”

Tissa memaksakan senyum lemah. “Aku cuma kaget aja. Kebaya di butik pertama itu cantik banget. Dan aku kira kita bisa beli.”

Irfan menggeleng. Suaranya rendah, tapi tidak marah. “Tissa. Kita hidup nanti bukan di pesta. Bukan di foto. Kita hidup di hari-hari yang panjang. Aku harus bayar sekolah adikku. Uang makan orang rumah. Banyak yang lain.”

Tissa menggigit bibir. “Jadi … aku terlalu banyak minta?”

Irfan menatapnya lama sebelum menjawab, “Bukan gitu. Kamu boleh minta ini itu. Tapi kamu harus tahu batas. Kamu harus tahu realita aku tuh gimana.”

Tissa menelan ludah. “Aku cuma … ingin pernikahan yang indah, Fan.”

“Iya. Dan aku ingin rumah tangga yang sehat setelahnya. Kita harus ketemu di tengah.” Irfan menyetir sambil meliriknya sebentar. “Aku enggak mau memulai pernikahan dengan utang. Enggak mau hidup susah cuma karena kita beli kebaya mahal.”

Tissa terdiam. Dalam hatinya ia masih iri pada kebaya lima puluh juta itu. Masih penasaran siapa Kirana yang memesan kebaya itu. Masih tidak percaya kalau seseorang bernama sama dengan Kirana, kakak tirinya.

“Fan…,” panggil Tissa pelan, hampir berbisik. “Maaf ya.”

Irfan menoleh sedikit. “Maaf buat apa?”

“Karena aku tadi maksa ke butik mahal. Aku udah marah-marah."

Irfan tersenyum tipis kali ini senyum tulus yang jarang ia keluarkan. “Ya sudah. Enggak apa. Yang penting kamu ngerti sekarang.”

Tissa kembali diam. Dia masih memikirkan kebaya tadi. Memikirkan pemiliknya yang bernama Kirana. "Apakah mungkin itu Kirana, kakak tiriku?" tanyanya dalam hati.

1
Rossi Valentina
Ngakak 🤣🤣🤣
Anonim
Manis banget
Ranny
Semoga kau Irfan di pecat saja sm bos mu biar tahu rasa gak ada duit lagi buat kasih ke ortu mu biar adil kan
Ranny
Hahahaha lelaki mokondo besar omong tapi tak bertanggungjawab, rasakan itu Tissa lelaki yg kau rebut dr kakak tiri mu emang enak di nomor duakan ya 🤣🤣🤣
Gintania nia
bagus bingit
Mama Reni: 😘😘😘😘😘
total 1 replies
Bunda
aku mampir kak🙏
Ranny
Jangan cuma mengira nama yg sama saja tapi yg asli orang yg pesan gaun pengantin itu ya emang si Kirana kakak tiri yg selalu kau dan ortu mu tindas kasihan deh loe yg hanya dapat sampah tak berguna nangis darah tuh/Silent/
Ranny
Baru mau beli baju pengantin saja so berdebat tentang butik bagaimana kalau so nikah apalagi ya di perdebatkan untung nya pria pelit dan kere gitu ga jadi suaminya Kirana 😄😄😄
Diah indirasari
bagus banget
Selamet Turipno
APAKAH MIKA TINGGAL DI RUMAH MAMINYA VANIA KATANYA CUMA ANAK SAHABAT VANIA KPK CERITANYA ADA TERUS DI RUMAH VANIA
Zainab Ddi
author ditunggu updatenya selalu untuk kelanjutannya 💪🏻😍😍
Zainab Ddi
selamat samudera dan keluarga kecil yg bagagia😍😍😍
Marina Tarigan
happy ending Kirana. Samudra mama vania papi Dikta Dewa. Dewi generasi penerus kedepannya
Marina Tarigan
syam masih muda tapi sanggup jadi suami luar biasa penuh kasih sayang dan segalanya
Marina Tarigan
tata hidupmu Tissa ke lwbih baik sifat aroganmu. egoismu kekasaranmu hilangkan pelan2 supaya hidupmu kembali berguna utkmu sendiri dan orang lain
Marina Tarigan
lanjut soal kematian soal biasa zemoga satu keluarga menyadari semua tindakan kalian terhadap yg txk dianggap dan dibenci selama ini sadar agar sifat kalian berubah ke lebih baik terutama Tissa yg kasar dan selalu menghina Dan selalu suka2nya sm Kirana berubah kelebih baik terima saja upahmu Tissa
moral hazard
seru
Nani Rodiah
senang sekali bacaannya ga bertele2❤️❤️❤️
Marina Tarigan
hamil kali semoga supaya Mika sadar tdk mengharapkan lagi Kirana
Marina Tarigan
awal baik yg akhirnya samudra akan berhenti balapan deh nbisa beralih fungsi meminpin perusahaan sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!