NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: KENCAN ALA BAR-BAR

Setelah insiden siram berkas kemarin, suasana kantor Winchester jadi agak horor. Kabarnya, para staf perempuan sekarang kalau mau masuk ke ruangan Keano harus pakai baju yang kancingnya tertutup sampai leher dan jarak berdirinya minimal dua meter. Gue cuma bisa ketawa denger gosip itu dari Evan.

Pagi ini, "Beruang" gue itu sudah rapi sejak jam tujuh. Tapi anehnya, dia nggak pakai jas. Dia pakai jaket kulit hitam, celana jins gelap, dan sepatu *boots*. Persis kayak gaya gue biasanya.

"Lia, hari ini lo nggak boleh sentuh laptop," katanya sambil menutup paksa layar laptop gue yang baru aja mau gue nyalain.

Gue mengernyit. "Terus gue disuruh ngapain? Ngitungin semut di dinding?"

Keano menyeringai, tipe senyum yang biasanya berarti ada rencana besar. "Kita kencan. Tapi bukan kencan yang bikin lo bosen. Gue tau lo benci makan malam romantis yang harus pake gaun sesak dan sepatu hak tinggi."

Gue langsung semangat. "Oke, gue tertarik. Kemana kita?"

"Ikut aja."

Keano membawa gue ke sebuah gudang tua di pinggiran New Ardent yang sudah dia beli secara pribadi. Di dalamnya bukan tumpukan barang bekas, melainkan sebuah arena balap motor *indoor* pribadi dan tempat latihan menembak yang sangat canggih.

"Gue tau cara terbaik buat lo ngilangin sisa-sisa emosi kemarin adalah dengan nembakin sesuatu," kata Keano sambil memberikan sebuah pistol *Glock* kustom berwarna hitam doff ke tangan gue.

Gue menimbang senjata itu di tangan. "Lo emang paling tau cara nyenengin hati gue, Ké."

Kami menghabiskan dua jam pertama dengan kompetisi menembak. Gue nggak mau kalah, dan Keano juga nggak mau ngalah. Hasilnya? Gue menang tipis karena gue berhasil nembak tepat di tengah sasaran yang lagi bergerak, sementara Keano meleset satu senti karena dia sibuk ngeliatin gue yang lagi fokus.

"Lo sengaja ya biar gue menang?" tanya gue curiga sambil ngisi ulang peluru.

"Nggak, Lia. Gue cuma baru sadar kalau lo pas lagi megang senjata itu berkali-kali lipat lebih seksi daripada biasanya. Gue jadi nggak fokus," bisiknya tepat di kuping gue, bikin muka gue mendadak panas.

"Gombal terus! Ayo, katanya mau balapan!"

Kami pindah ke area motor. Dua motor *sport* 1000cc sudah terparkir rapi. Gue naik ke atas motor hitam, memakai helm, dan menatap Keano dari balik kaca helm.

"Siapa yang sampai di garis finis duluan, boleh minta satu permintaan yang nggak boleh ditolak," tantang gue.

Keano menaikkan alisnya. "Apapun?"

"Apapun."

*VROOOOM!*

Suara mesin menderu memenuhi gudang. Kami melesat seperti peluru. Gue memacu motor gue sampai batas maksimal, menikung dengan tajam sampai lutut gue nyaris nyentuh aspal. Keano ada tepat di samping gue, dia bener-bener nggak kasih gue celah.

Tapi di tikungan terakhir, gue pake trik licin. Gue pura-pura kehilangan keseimbangan sedikit, bikin Keano refleks ngerem karena khawatir. Begitu dia melambat, gue langsung tancap gas dan melewati garis finis.

"CURANG!" teriak Keano sambil ngelepas helm setelah motornya berhenti. Dia ketawa, tapi mukanya kelihatan gemes banget.

Gue ngelepas helm, mengibaskan rambut gue yang lepek karena keringat. Gue jalan ke arah dia dengan gaya kemenangan yang paling bar-bar. "Di kamus Arcelia, nggak ada istilah curang. Yang ada cuma strategi."

Keano turun dari motornya, mendekat ke arah gue, terus narik pinggang gue sampai badan kita nempel. "Oke, pemenang. Apa permintaan lo?"

Gue pura-pura mikir. "Gue mau... besok lo libur seharian. Kita di rumah aja, pesen junk food, nonton film aksi yang banyak ledakannya, dan lo dilarang terima telepon dari kantor. Termasuk dari Evan."

Keano tertegun sejenak. Dia mungkin mikir gue bakal minta berlian atau mobil baru. Dia malah ketawa rendah, terus nyium kening gue lama banget. "Permintaan diterima, Lia. Itu permintaan paling gampang yang pernah gue denger."

Malamnya, kami nggak pulang ke mansion. Keano bawa gue ke sebuah *rooftop* gedung yang paling tinggi di New Ardent. Bukan restoran, cuma ada tenda kecil, lampu-lampu gantung, dan banyak bantal besar. Dia sudah nyiapin martabak manis dan ayam goreng tepung—makanan kesukaan gue kalau lagi mau nyantai.

Kami duduk lesehan sambil liatin pemandangan kota dari atas. New Ardent kelihatan cantik banget kalau diliat dari sini, lampu-lampunya kayak bintang yang jatuh ke bumi.

"Ké..."

"Ya?" Keano lagi sibuk ngebukain kotak martabak buat gue.

"Makasih ya buat hari ini. Gue ngerasa... gue bener-bener jadi diri gue sendiri bareng lo. Nggak perlu pura-pura jadi Alzena yang anggun atau istri Winchester yang sempurna."

Keano naruh martabak cokelat kacang ke piring gue. "Gue nggak butuh Alzena yang anggun, Lia. Gue butuh Arcelia yang bisa nendang pintu kantor gue kalau gue lagi digodain cewek lain. Gue butuh lo yang apa adanya."

Gue senyum, nyenderin kepala di bahunya. "Tapi lo jangan kebiasaan manja gitu dong. Malu kalau ketauan karyawan lo."

"Biarin aja. Mereka harus tau kalau bosnya ini cuma tunduk sama satu orang," katanya sambil nyuapin gue martabak.

Pas lagi asik makan, tiba-tiba hp gue getar. Ada notifikasi masuk. Mata gue langsung berubah jadi serius.

"Kenapa?" tanya Keano.

"Sistem keamanan yang gue pasang di rekening rahasia Shania... ada yang coba nembus. Bukan dari luar negeri, tapi dari dalem penjara tempat Aldric ditahan," kata gue, jemari gue langsung gatal mau buka laptop.

Keano nahan tangan gue. "Besok aja, Lia. Inget permintaan lo tadi? Libur seharian. Biarin aja mereka nyoba. Mereka nggak akan bisa tembus benteng yang lo bikin dalam semalam."

Gue narik napas panjang, mencoba rileks. "Lo bener. Biarin aja mereka usaha sampai botak."

Keano meluk gue dari samping, nyelimutin kita berdua pake selimut tebal karena angin makin kencang. "Kita nikmatin malem ini dulu. Cuma ada Beruang sama Lia. Nggak ada Winchester, nggak ada hacker."

Gue nutup mata, ngerasain detak jantung Keano yang tenang di telinga gue. Hidup emang penuh kejutan. Dari panti asuhan yang kebakar sampai jadi ratu di puncak New Ardent. Gue nggak tau apa yang bakal terjadi di bab-bab depan, tapi selama ada Beruang ini di samping gue, gue rasa gue bakal baik-baik aja.

"Lia..."

"Apa lagi?"

"Martabaknya jangan dihabisin sendiri dong, bagi satu."

"Nggak boleh! Ini hadiah buat pemenang!"

Dan malem itu berakhir dengan aksi rebutan martabak yang berakhir dengan tawa kami yang pecah di bawah langit malam.

...****************...

TBC

1
Iryani levana khrisna Khrisna
terimakasih Thor tetap semangat dalam berkarya
Iryani levana khrisna Khrisna
semoga tidak menggantung ya thor pernyataan cinta aja butuh jawaban apa lagi aku yang membaca cerita mu 😄
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!