Skywa Caeloryn Isyra
Seorang gadis hidup tanpa ibu. Di besarkan oleh orang tua tunggal membuatnya menjadi kepribadian yang mandiri. Dari kalimat yang asal di ucap namun bermakna serius. Mengantarkan Cael—begitu orang memanggilnya ke pernikahan yang dingin. Cael bak kasat mata dalam istana megah. Cinta sepihak menghancurkan seluruh mimpi dan harapannya setelah suaminya—Kavi Danendra Bimantara. Membawa wanita lain sebagai adik madu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keanggunan bersahaja
Cahaya keemasan tumpah dari langit, membasuh wajah bumi dengan kehangatan yang tak lagi membakar. Di ufuk barat, matahari yang mulai lelah perlahan melarutkan diri, mengubah cakrawala menjadi lautan jingga dan ungu yang magis. Ini adalah waktu di mana bayang-bayang memanjang, seolah ingin meraih sisa hari sebelum malam benar-benar menjemput.
Di pelataran rumah tidak terlalu mewah tapi tidak juga terlalu sederhana. Rumah ini berdiri dengan keanggunan yang bersahaja, sebuah titik temu antara fungsionalitas dan kenyamanan. Tidak ada pilar-pilar raksasa atau sepuhan emas yang mencolok, namun ia juga jauh dari kesan apa adanya.
Skywa Caelory Isyra.
Dengan penyiram tanaman di tangan, ia bergerak dengan ritme yang tenang, membiarkan butiran air jatuh serupa gerimis kecil di atas helai daun hijau yang mulai haus. Baginya, momen ini bukan sekadar rutinitas, melainkan waktu untuk berdialog dengan alam. Aroma tanah basah yang menyeruak menjadi parfum alami paling mewah yang mengisi udara di sekitar terasnya. Sambil sesekali merapikan daun yang layu, ia tampak tenggelam dalam kedamaian, seolah setiap tetes air yang Cael berikan turut melarutkan lelahnya sepanjang hari.
Selang beberapa waktu. Suara deru mesin halus memecah keheningan sore, diikuti bunyi kerikil yang berderak pelan saat sebuah mobil meluncur masuk ke pekarangan. Kendaraan itu berhenti dengan anggun, tepat di samping jalan setapak menuju teras.
Gadis itu sedikit mendongak, membiarkan penyiram tanamannya tetap menggantung di udara, sementara butiran air terakhir masih menetes dari ujungnya. Melalui pantulan cahaya jingga di kaca depan mobil, Cael mengenali sosok di balik kemudi.
"Ayah sudah pulang?" tanya nya sambil menyimpan penyiram ke tempatnya. Lalu melangkah kecil menyambut tas dan jas yang di kenakan sang ayah.
"Iya, besok ayah ada perjalanan bisnis sama Pak Dipta." sahut pria paruh baya yang bernama—Prayoga Lazuardi itu. Kursi meja makan berderit pelan saat di tarik keluar. Prayoga mendaratkan tubuhnya di sana sambil menerima segelas air putih dari Cael. "Kamu tidak apa-apa, 'kan? Kalau di rumah. Nanti Bi Jul suruh menginap saja menemani kamu."
Cael tersenyum. "Aku baik-baik aja kok, Yah... Biasanya aku juga sering tinggal. Berapa hari ayah pergi?"
"Dua hari." Prayoga menatap lamat manik mata anak gadis nya. "Bagaimana kuliah kamu?"
"Aman." gadis itu menjawab tanpa ragu. "Kalau sudah tidak lelah, ayah mandi ya biar istirahat. Aku siapkan buat makan malam dulu."
Prayoga mengangguk lalu meraih gelas yang masih tersisa air nya. Ia meminum sampai habis dan menyambar jas serta tas kerjanya. Meninggalkan Cael yang mulai berkutat di dapur. Untuk memasak ia melakukannya sendiri dan beberes rumah Cael meminta bantuan Bi Jul. Asisten rumah tangga tanpa menginap.
Semburat jingga di cakrawala perlahan tenggelam, digantikan oleh selimut biru gelap yang membawa hawa sejuk ke dalam rumah. Di dapur, Cael mulai sibuk; bunyi denting pisau yang beradu dengan papan pemotong menjadi musik pengiring transisi menuju malam.
Cahaya lampu gantung yang kuning hangat berpendar di atas meja makan, menciptakan suasana yang intim dan tenang. Aroma tumisan bumbu segar mulai memenuhi ruangan, merayap hingga ke sudut-sudut rumah yang bersahaja. Tidak ada jamuan megah dengan belasan pelayan, hanya ada kesungguhan dalam menata piring dan gelas di atas taplak kain yang bersih.
Saat Cael meletakkan mangkuk terakhir yang masih mengepulkan uap panas, rumah itu terasa benar-benar hidup. Kegelapan di luar jendela seolah tak berdaya menembus kehangatan yang telah ia siapkan di dalam ruang makan tersebut.
"Ayah ayo makan." Cael meraih piring mengisi nasi yang masih hangat membiarkan nya dingin sendiri.
Prayoga duduk dengan gurat lelah yang perlahan luntur saat melihat kepulan uap dari masakan putrinya. Tidak ada percakapan berat; hanya denting sendok yang beradu dengan piring porselen, diselingi tanya singkat tentang bagaimana hari masing-masing berlalu.
Cahaya lampu ruang makan yang temaram membungkus keduanya dalam momen kebersamaan yang tulus. Sang ayah sesekali mengangguk mantap, mengapresiasi rasa masakan yang akrab di lidah, sementara sang gadis bercerita tentang tanamannya yang mulai bersemi. Di rumah yang tidak terlalu mewah namun penuh jiwa ini, makan malam bukan sekadar urusan perut, melainkan ritual untuk merekatkan kembali ikatan yang sempat renggang oleh kesibukan dunia luar.
Malam semakin larut, namun kehangatan di meja itu seolah menahan waktu untuk berhenti sejenak.
Setelah piring-piring mulai kosong, Prayoga meletakkan sendoknya dan menatap putrinya dengan tatapan yang teduh namun penuh selidik. "Rumah ini selalu terasa sama, ya?" bisiknya pelan, seolah takut merusak ketenangan malam. "Tidak peduli seberapa bising dunia di luar sana, begitu masuk ke sini, Ayah merasa semuanya kembali sederhana."
Cael tersenyum, jemarinya memainkan pinggiran cangkir teh yang masih hangat. "Mungkin karena kita tidak butuh banyak hal untuk merasa cukup, Yah. Hanya perlu tempat untuk pulang dan seseorang yang menunggu di meja makan."
Prayoga mengangguk, garis-garis di wajahnya melunak oleh rasa syukur. "Dulu Ayah pikir kesuksesan adalah membangun benteng yang megah. Tapi melihatmu tumbuh dan merawat rumah ini dengan kasih sayang, Ayah sadar bahwa kemewahan sejati adalah kedamaian yang kita rasakan sekarang. Jangan pernah kehilangan jati dirimu di tengah ambisi, Nak."
Percakapan itu menggantung di udara, menjadi pengingat yang kuat bahwa di balik dinding-dinding rumah yang bersahaja ini, tersimpan fondasi nilai yang jauh lebih kokoh dari beton mana pun.
...----------------...
Berjarak beberapa kilometer dari ketenangan rumah bersahaja itu, sebuah ruang makan megah bermandikan cahaya lampu kristal yang menyilaukan. Di sana, sebuah meja panjang dari kayu jati berlapis marmer memisahkan anggota keluarga pengusaha kaya dalam jarak yang terasa begitu jauh, meski mereka duduk di satu ruangan yang sama.
Suasananya kaku dan formal. Tidak ada aroma tumisan rumahan yang akrab; yang ada hanyalah hidangan mewah yang ditata estetis oleh pelayan berseragam yang bergerak tanpa suara. Denting perak pada piring kristal terdengar tajam di tengah kesunyian yang mencekam. Gadget berada di samping piring masing-masing, lebih sering disentuh daripada kata-kata yang diucapkan.
"Besok papa pergi perjalanan bisnis." Sadipta Bimantara. Seorang pengusaha kaya raya. Yang mana pemilik hotel mewah yang menjamur di beberapa wilayah.
"Berapa hari?" Shania Trayyara— istri Dipta. Meletak sendoknya menyudahi makan malam. Ia meraih gelas air putih meminum setengahnya. Sambil menatap sang suami. "Apa saja yang harus aku persiapkan."
"Beberapa pakaian formal saja dan obat-obatku. Cuma dua hari jalan darat." Arah pandang Dipta tertuju pada seorang pemuda yang masih menikmati makanannya. "Handle kantor selagi papa tidak ada."
Kavi Danendra Bimantara.
Putra semata wayang—Sadipta dan Shania. Sosok laki-laki bertubuh tegap di anugerahi ketampanan yang mewarisi dari sang ayah.
"Iya Pa..."
"Sesekali, jenguk Cael di rumah selagi ayahnya pergi sama papa."
Pemuda itu hanya mengangguk. Cael— gadis yang kerap kali berkeliaran di rumahnya saat ikut Prayoga menemui papanya. Tidak terlalu akrab tapi Cael yang berusaha mendekatkan diri masih dalam batasan. Bahkan beberapa bunga yang tumbuh di dalam pot di teras rumah. Di tanam langsung oleh Cael.
Semoga kelak, Kavi akan dihinggapi rasa sesal yang mendalam karena telah memilih Sheza