NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama / Tamat
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepucuk Surat Janji

Di sebuah sudut desa di mana waktu seakan berjalan lebih lambat, semilir angin siang menjelang sore menyapa dengan bisikan lembut yang rahasia. Pepohonan hijau yang memagari desa itu bergoyang perlahan, menciptakan simfoni alam yang menenangkan jiwa, membawa aroma tanah basah dan wangi kamboja yang terbawa dari halaman masjid tua.

Di teras kayu sebuah rumah yang bersahaja namun hangat, tampak seorang gadis duduk diam dalam ketenangannya yang abadi.

Dia Aiza ___ Aiza Adiva Humaira. Gadis dengan pakaian tertutup ___yang hanya menampakkan mata indah dibalik kain tipis itu tampak memegang sebuah tasbih kayu yang terlihat sudah tua di tangannya.

Matanya terpejam lembut, dan tenang. Namun sebuah melodi syahdu seperti berbisik lagi, lagi dan lagi. Mengingatkannya pada sosok lembut penuh wibawa yang pernah menjanjikannya sebuah kalimat indah yang sampai saat ini ia nantikan.

"Aiza, saya tidak ingin hanya singgah dalam doamu, tapi saya ingin menjadi pengamin di setiap sujudmu. Bersabarlah sebentar lagi. Jika matahari besok masih terbit atas izin-Nya, maka atas izin-Nya pula, saya akan datang membawa restu orang tua saya untuk memintamu pada keluargamu. Jaga hatimu, karena namamu sudah saya kunci dalam istikharah saya.”

Senyum tipisnya mengembang, jantungnya berdetak syahdu setiap kali ia mengingat kalimat itu. Sungguh, kalimat itu seperti sebuah alarm yang setia mengisi pikirannya.

"Aiza, kamu sudah shalat Dzuhur, Nduk?”

Aiza sedikit terkesiap. Kepalanya yang bersandar pada dinding rotan itu tegak dengan teratur, menatap wanita renta yang selalu membersamainya setiap hari.

Dia Warih, Aiza biasa memanggilnya “Mbah Warih." Dia sosok wanita lemah lembut dan sangat menyayangi Aiza sebagai cucu satu-satunya.

Dia hanya punya satu anak, yaitu ibu dari Aiza. Wiranti yang sudah meninggal semenjak Aiza bayi. Sementara ayahnya merantau ke luar negeri semenjak Aiza kelas dua SD, hingga sampai sekarang belum pernah sekalipun ia pulang menjenguk anaknya.

"Empun, Mbah. Tadi setelah shalat Aiza langsung duduk di sini sambil liatin anak-anak main.”

Warih menatap dan tersenyum lembut. Dia mendekat pada kursi kayu itu, menempatkan bo*ongnya perlahan pada kursi kayu panjang itu. Aiza yang melihat kesulitan neneknya lantas dengan sigap membantu.

“Hati-hati nggeh, Mbah."

“Nggeh. Matur nuwun nggeh, Nduk.”

Aiza mengangguk dan tersenyum lembut.

Namun, seketika fokus mereka teralihkan oleh dua sosok anak perempuan yang berlari menghampiri sambil meneriakkan namanya.

“Mbak Aiza!..... Mbak Aiza!!"

“Astaghfirullah. Pelan-pelan to, Dek! Kenapa pada lari-larian sih?" tanya Aiza begitu dua anak-anak tersebut tiba di depannya.

Dua anak tetangga tampak mengatur nafas mereka yang tersengal.

"Itu…..itu….. di pesantren…..”

“Di pesantren kenapa, Nduk? Atur nafas dulu coba, pelan-pelan ya."

Setelah diarahkan oleh Aiza, salah satu anak itu pun kembali berkata sedikit lebih lancar.

“Itu di pesantren ada gus Qais. Dia baru pulang semalam.”

Aiza terpaku. Hatinya mendadak berbunga.

"Maksudnya gus Qais Arkan Al-farizi?" tanyanya memastikan. Kedua anak itu kompak mengangguk.

“Tadi dia juga titip ini buat Mbak Aiza."

Salah satu anak memberikan kertas yang dilipat seperti sebuah surat. Aiza pun segera menerimanya. Hatinya turut bergetar ketika tangannya mulai membuka lipatan demi lipatan dari kertas itu. Pikirannya ikut berisik, antara gugup karena grogi, atau takut tak sesuai harapan.

"Bismillahirrahmanirrahim.” Aiza pun mulai membaca bait demi bait coretan tangan yang tersusun dengan indah dan rapi itu. Tulisan itu seolah menggambarkan kepribadian orang yang menulisnya, lembut, tapi tegas.

"Assalamu’alaikum, Aiza.

Mungkin surat ini datang terlalu tiba-tiba, mendahului suara langkah kaki yang sebentar lagi akan sampai di depan pintu rumahmu.

Aiza, selama ini aku hanya berani menyebut namamu dalam sunyinya sepertiga malam, menitipkannya pada langit agar sampai ke haribaan Tuhan tanpa perlu riuh didengar bumi. Namun hari ini, aku rasa doaku sudah cukup panjang untuk mulai mencari jawabannya.

Sore ini, saat matahari mulai condong ke ufuk barat, aku tidak lagi datang sendiri. Aku datang bersama Ayah dan Ibu, membawa serta seluruh ketulusan yang kupunya. Aku ingin meminta izin pada walimu, untuk menjadikanmu teman perjalananku menuju rida-Nya. Menjadikanmu makmum yang akan mengaminkan setiap doaku, dan menjadi ibu dari madrasah kecil yang ingin kita bangun bersama.

Tidak perlu cemas. Cukup siapkan hatimu, karena aku datang bukan untuk memaksamu, melainkan untuk menawarkan sebuah janji di hadapan Tuhan.

Sampai bertemu di waktu Ashar nanti, Aiza.

Wassalamu’alaikum,

*Qais*”

Aiza tertegun, menatap surat di tangannya itu tanpa berkedip. Tangannya sampai gemetar karena masih merasa mimpi. Perlahan matanya ikut berkaca-kaca karena haru yang tak tertahankan.

“Kamu datang, gus. Kamu menepati janji itu," gumamnya lirih.

1
Trisna Suryani
kenapa harus berakhir seperti ini g tega sama zafran
Dartik Sriyanti
aku suka cerita nya
Erda Erda
gk sanggup baca ya kasihan snak ya ..
BundaNazwa: Iya sih, Kak 🥺
total 1 replies
jingga 007
gak Ada season 2 nya thor
BundaNazwa: Belum tau, Kak 🙏
total 1 replies
Mila Mulitasari
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
BundaNazwa: 🥺🥺🥺🥺😭😭
total 1 replies
Badau Badau
baru kali ini baca novel sampai air mata keluar thorr
BundaNazwa: Maafkan aku, kak. Ini udah jadi jalan cerita 🙏🥺
total 1 replies
Trisna Suryani
berharap kematian aiza mimpi buruk Qais ternyata beneran ko jdi gini ceritanya thor
BundaNazwa: Maaf, Kak. Ini sudah alurnya begini 🥺🤧
total 1 replies
Mila Mulitasari
aiza jangan meninggal dong thor moga aja ada keajaiban gitu thor kasian baby khai 😭
BundaNazwa: Udah dikubur, kak. nggak bisa balik lagi 😭🙏
total 1 replies
Erda Erda
sedih .semoga gus gk nikah lagi lah..perjuwangan isteri ya berat kali 😍
BundaNazwa: Banget, kak 🤧
total 1 replies
Trisna Suryani
di mana otak c Arjuna coba aduuuh dulu kau yg g peduli sekarang
Yulia Anugrahwati
alhamdulillah
BundaNazwa: Alhamdulillah 😁
total 1 replies
Yulia Anugrahwati
semoga ini tanda" Aiza hamil y
Siti Java
lanjut dong kk
BundaNazwa: Oke Kak ☺️
total 1 replies
Siti Java
kk lanjutan y mna😍
BundaNazwa: Siap, Kak. OTW 😁
total 1 replies
Yulia Anugrahwati
cerita seru
BundaNazwa: Terima kasih ☺️🙏
total 1 replies
Pipit Sopiah
masih maraton bacanya
Pipit Sopiah
si Arjuna itu udah nikah ya, tapi kaya engga di restui sama orang tua si Arjuna
Pipit Sopiah
udah lama engga buka aplikasi noveltoon
sekarang buka lagi langsung meluncur ke ceritamu thor
BundaNazwa: Masya Allah. Terima kasih, Kak ☺️
total 1 replies
Umy Fauzan
ceritanya bagus,enggak banyak iklan juga
BundaNazwa: Terima kasih ☺️
total 1 replies
Trisna Suryani
Arjuna licik kamu dulu di dia siakan sekarang menghalalkan segala cara
BundaNazwa: Hooh 🤧 Sekarang malah obses
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!