Timin dan Satina berhasil menemukan alat berupa gerbang masuk ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Menjelajah ke tempat yang belum mereka temui sebelumnya.
Pertemuan Satina dan Marion membuat mereka saling jatuh cinta. Hati Satina menjadi terbagi dua ketika Timin mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya pada Satina.
Pertarungan seru, cinta dan pengorbanan akan menjadi satu dalam kisah ini.
selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary dice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1. Pelarian
Satina berlari secepat mungkin. Mengalahkan kecepatan hiena sedang mengejar mangsa.
Sebuah jebakkan menghentikan langkahnya hingga terjatuh ke dasar yang cukup dalam. Ia merapat ke dinding untuk bersembunyi.
"Salah satu dari kita harus turun. Wanita ja*lang itu pasti berada di bawah sana."Sammy mengumpat. Sejak pagi hingga petang,belum berhasil menangkap gadis incaran pangeran Marion.
"Disana sangat gelap. Kita mebutuhkan api."Ramon membuat obor kemudian dilemparkan ke dalam lubang jebakan.
"Aku tak melihat siapun di sana,"lapor Ramon dengan lantang. Dia yakin dengan penglihatannya.
Sreet...sreett..srettt
Seekor ular sanca mencul dari dalam lubang.Ular itu berukuran 3 meter.
Barisan kuda paling depan meringkik dan mundur.
Sammy menyiapkan samurai miliknya. Melayangkan senjata tajam tersebut ke arah sanca. Darah mengucur dari kepala sanca yang terbelah.
"Kita harus pergi dari sini. Wanita itu tak mungkin di bawah sana. Dia akan mati perlahan jika di sana"
Dengan perasaan kecewa Sammy sebagai pimpinan pasukan memutuskan melanjutkan perjalanan. Sammy khawatir bila malam, hutan rimba ini sangat gelap dan angker.
Di bawah sana, Satina merasa beruntung mendapat penerangan. Ia akan mencari jalan untuk naik ke atas.Tak ada satu pun yang tersisa di sini. Satin menggerutu.Menggaruk kepalanya berulangkali."Aku harus keluar dari tempat ini. Aku tak mau mati sia-sia"
Satin mengambil sebuah belati terselip dalam sarung yang melekat di pinggang.
Belati tersebut membantunya untuk memanjat dinding berbatu.
Sepertinya mereka membuat jebakan ini dengan rapi. Satina merayap dengan sangat hati-hati. Menancapkan belati pada sisi yang lebih halus lalu tangannya yang lain menggapai bagian keras agar Ia bisa mengangkat tubuhnya ke atas.
"Arrrghh..."Satina merintih kesakitan saat terjatuh dan kembali ke tanah.
Lima menit berlalu, Satina tak putus asa.
Ia menancapkan belati dan memanjat bebatuan terjal itu dengan gigih."Kali ini Aku tidak boleh gagal".
Pada pertengahan pendakian, pijakan Satina terhenti. Ia tak menemukan celah untuk menancapkan belatinya. Tubuh tergantung dengan keringat jatuh bercucuran. Ia tak mau kalau terjatuh lagi sampai ke dasar.
Satu lompatan besar dengan menggunakan cengkraman tangannya. Satina berhasil meraih satu batu cadas cukup besar tempat bertumpu.
"Satu lompatan lagi,aku pasti akan sampai ke atas dengan selamat"
Sebuah akar menjulur. Satina meraihnya dan berayun. Akar itu cukup kuat menahan tubuhnya. Perlahan merambati akar sehingga Ia berhasil berada di permukaan.
Berulang kali Satina menarik nafas lega. Ia membiarkan tubuhnya tergeletak. Rasa penat mulai terasa. Sejenak terlelap beralaskan tanah dan beratapkan langit.
"Akhirnya aku menemukan kamu," Timin melihat gadis yang tertidur tak jauh dari tempatnya berada.
"Satina,bangun. Kita harus kembali sebelum pintunya tertutup,"Timin memanggil Satina dengan berbisik.
"Timin! Kamu kemana saja. Aku mencarimu setengah mati. Aku sampai dikejar raja lak*nat"
"Sssttt. Jangan sampai mereka tahu keberadaan kita." Timin menutup mulut Satina dengan tangannya. Satina tak menyangka akan bertemu Timin. Ingin sekali Satina menampar pipi Timin. Meninggalkannya di daerah asing hanya untuk menggoda seorang wanita.
"Tenang. Kita akan segera pergi dari sini,"kata Timin sambil memutar sebuah alat berbentuk jam tangan. Timin bingung memilih dan waktu tempat untuk dituju berikutnya.
Sebuah jangkar besar berhasil menyergap Satin dan Timin. Mereka gelagapan ingin keluar tapi jangkar itu semakin rapat meringkus tubuh mereka.
"Hahahaha..akhirnya kalian tertangkap. Jangan coba-coba melepaskan diri karena percuma saja. Tali itu terlalu kuat bagi tubuh kalian yang lemah," ucap pangeran Marion. Ia tertawa puas. Sejak semalam Ia menunggu saat-saat seperti ini. Pada waktu yang tepat Ia berhasil menangkap bukan hanya satu orang, namun dua orang sekaligus.
Seorang pangeran tak harus mundur atau menyerah sebelum keinginannya terpenuhi. Jika anak buah tak menjalankan tugas dengan baik maka seorang pangeran harus turun sendiri menjalankan misi. Marion menyusuri hutan dengan mengendap diantara pohon saat malam sampai Ia menemukan Satina didekat perangkap yang dibuat oleh pemburu rusa.
"Kenapa kalian menangkap kami. Apa kesalahan yang telah kami perbuat?"
"Jangan banyak bacot. Kalian harus ikut kembali keistanaku. Hahahaha"
Pangeran itu terlihat sangat sadis. Matanya memerah dengan kumis tebal diatas bibir. Sebenarnya pangeran tersebut cukup tampan,tapi tampilan mengubahnya menjadi sangat menakutkan.
Dua tubuh diikat menjadi satu kemudian di taruh pada punggung kuda. Pangeran menunggangi kuda dengan kecepatan tinggi. Kuda pangeran tentu saja istimewa. memiliki kekuatan yang luar biasa. Mungkin sudah biasa terlatih.
Dalam keadaan terjepit, Satina tidak lupa kalau Ia memiliki sebuah belati. Ia merogoh sarung kecil dipinggang. Belati berhasil dikeluarkan dengan mudah.
Berada diatas kuda yang sedang melaju kencang,sungguh tidak mudah memotong jerat tali jangkar yang tebal.
Tiba-tiba kuda meringkik dan berhenti. Berhenti untuk minum di sebuah sungai dangkal.Sepertinya mereka akan menyeberangi sungai tersebut.
Sreeett...
Satina dan Timin berhasil lepas dari jangkar. Membuat Marion terkejut dan turun menghadapi korbannya yang berusaha melarikan diri.
"Berhenti!! Atau kuledakkan kepala kalian satu persatu." Marion gelap mata menodongkan senjata api laras panjang.
Tak mau ambil resiko. Satina dan Timin berhenti dari pelarian.mereka mengangkat kedua belah tangan lalu membalikkan badan, langsung bertatap muka dengan Marion yang siap menarik pelatuk.
Dengan sigap Marion kembali berhasil meringkus kedua bocah itu. Dia memeriksa pakaian Satina dan Timin dengan teliti. Tidak menemukan benda berbahaya lainnya setelah belati di buang ke dalam air.
Mereka melanjutkan perjalanan kembali ke istana. Mengikat Satina dan Timin diatas kuda. Kali ini Marion memutuskan untuk berjalan disamping kudanya yang berjalan perlahan.
Semua orang yang berada di istana bersorak melihat pencapaian sang pangeran. Hanya Sammy dan Ramon yang tertunduk dengan perasaan bersalah.
"Kurung mereka ke penjara bawah tanah. Ingat! Mereka sangat berbahaya. Jangan biarkan mereka lolos lagi! "
Di dalam penjara, Satina dan Timin menangis menyesali nasib mereka. Padahal dari awal mereka hanya menguji alat hasil eksperimen yang telah dibuat semenjak mereka masih sekolah.
Alat untuk memasuki dimensi ruang yang sama sekali belum pernah mereka temui. Tapi alat itu telah disita oleh pangeran Marion.
"Aku harap pangeran Marion tidak mengetahui kegunaan benda yang berbentuk seperti perpaduan antara jam dan kompas tersebut. Kalau sampai Ia tahu dan menyalahgunakan alat itu. Maka kita akan terkurung selamanya di sini dan tak bisa kembali," kata Timin dengan muka kalut.
"Kita harus melarikan diri dan merebut alat itu dari pangeran Marion,"kata Satina menepuk pundak Timin. Memberi semangat untuk bangkit. Satina tidak ingin menghabiskan usianya di negeri aneh ini. Walau di tempat asal tidak ada lagi saudara atau keluarga tapi mereka tetap rindu dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan.
~Bersambung
Ini cerita tentang dimensi waktu ya...
bagus kak👍