Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Langit Gaza pagi itu berwarna kelabu, seperti menangisi luka yang baru saja ditorehkan malam sebelumnya. Bau mesiu masih pekat di udara, bercampur dengan debu bangunan yang hancur dan tangisan orang-orang yang kehilangan. Di antara reruntuhan beton dan puing-puing besi, suara sirene ambulan meraung tanpa henti.
Dokter Yasmin Ameena, seorang relawan medis asal Indonesia, berlari menembus kepulan asap bersama timnya. Tangannya gemetar menahan sedih setiap kali menemukan tubuh tak bernyawa di balik tumpukan puing. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara lirih dari balik reruntuhan dinding yang hangus.
“ Ummi, 'abi, min fadlika....(Ummi… abi… tolong…)”
Yasmin segera berlutut. Di sana, seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun terbaring dengan luka di kakinya, tubuhnya berdebu, wajahnya pucat. Yasmin menyingkirkan batu-batu runtuhan dengan hati-hati, lalu mengangkat gadis itu dalam pelukannya.
“ Anti bi'aman ya buniya (Kau selamat, nak…). La taqliq, sa'aakhudhuk 'iilaa makan amina.( Tenanglah, aku akan membawamu ke tempat aman,) " bisiknya lembut, meski matanya mulai berkaca.
Di belakang gadis itu, Yasmin menemukan dua jasad orang dewasa dan seorang bayi kecil yang tertindih puing. Nafasnya tercekat. Ia menunduk sejenak, menutup mata ketiganya dengan kain putih seadanya, dan menyuruh tim nya untuk segera membawa jenazah itu. Yasmin lalu berlari membawa sang gadis menuju tenda darurat.
Dua hari berlalu. Di rumah sakit darurat yang dikelola para relawan internasional, gadis kecil itu belum juga sadar. Yasmin hampir setiap malam duduk di sampingnya, membersihkan luka-lukanya, menunggu dalam diam.
Hingga pada pagi ketiga, gadis itu membuka mata. Pandangannya kabur, menatap langit-langit putih yang asing. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya lemah.
“ Hal 'anti mustayqiz ya abni? (Kau sudah sadar, nak?)” suara lembut menyapanya.
“ 'Ayna... 'ana? (Di mana… aku?)” suaranya serak.
“ Anti fi mustashfaa altawarii. 'Ana aldukturat Yasmin. (Kau di rumah sakit darurat. Aku dokter Yasmin,)” jawab sang dokter sambil tersenyum hangat. “ Hal taerif ma hu ismuka? (Apa kau tahu siapa namamu?)”
“Medina… Medina Khaled,” jawab gadis itu lirih. “ Ummi wa'abi wa'akhi alsaghira. 'ayna hum? (Ummi… Abi… dan adik bayiku… di mana mereka?)”
Hening sesaat. Yasmin menggenggam tangan kecil itu erat, menatapnya dengan mata basah.
“ iinahum fi salam fi aljanati. Lasta wahdaka. 'Ana huna. ( Mereka sudah tenang di surga. Kau tidak sendiri. Ada aku disini. )”
Tangis Medina pecah. Tubuh kecilnya bergetar, menumpahkan semua kehilangan yang tak sempat diucapkan. Yasmin memeluknya erat—seerat seorang ibu yang baru menemukan anaknya kembali dari reruntuhan dunia.
Beberapa minggu kemudian, setelah luka Medina sembuh dan perang kembali menggila di kota itu, Yasmin membuat keputusan besar. Ia tak sanggup meninggalkan anak itu di tanah yang terus berdarah. Dengan bantuan pemerintah Gaza dan dukungan dari duta besar Indonesia, Yasmin mengajukan permohonan adopsi.
Melalui serangkaian izin dan pengawasan ketat, akhirnya Medina Khaled resmi menjadi anak angkat Dokter Yasmin Ameena dan Ardan Mahesa, suaminya.
Hari ketika pesawat yang membawa mereka lepas landas, Medina menatap jendela, melihat Gaza mengecil di bawah awan. Ia menggenggam tangan Yasmin, berjanji dalam hati, bahwa ia akan hidup baik—untuk keluarganya yang telah pergi.
*****
Di Indonesia, Yasmin memperkenalkan Medina pada keluarga barunya.
"Ayah, Rendra. Ini Medina Khaled yang bunda ceritakan. Dia akan tinggal disini. Jadi keluarga kita. "
Ardan dan Rendra hanya diam mengangguk dengan senyum simpul.
Yasmin menggandeng lagi lengan Medina.
"Hu zawji. 'Ardan mahesa. yumkinuk munadati bi Ayah. (Dia adalah suamiku, kau boleh panggil Ayah)."
Medina mengangguk, dan bersuara lirih. "Ayah...."
Yasmin mengusap kepala Medina lembut. "Na'am. (Iya)."
"Wa hu abni, Rendra mahesa. yumkinuk munadati bi Kakak. (Dan dia adalah putraku, Rendra Mahesa. Kau boleh panggil Kakak)."
"Kakak?" lirih Medina lagi. Yasmin mengangguk.
"Wa 'anti 'aydan tunadini Bunda. (Dan kau juga panggil aku, Bunda)." Medina mengangguk, lalu Yasmin mengantarkan Medina ke dalam kamarnya.
Ardan Mahesa, pria tenang yang bekerja sebagai pengusaha, dan Rendra Mahesa, putra tunggal mereka, seorang remaja cerdas berusia tujuh belas tahun yang sedang menempuh kelas akhir SMA.
Selama tinggal disana, Medina mendapat les privat bahasa Indonesia. Hingga waktu berjalan, Medina semakin lancar berbicara dengan bahasa Indonesia, dan mulai mengenal budaya Indonesia.
Rendra awalnya kaku, tapi seiring waktu, ia memperlakukan Medina seperti adik kecilnya sendiri. Mereka sering belajar bersama, bermain piano, dan terkadang, Rendra membawakan Medina makanan ringan setiap pulang sekolah.
" Medina, kakak pulang bawa apa coba tebak?" seru Rendra saat pulang sekolah, dengan membawa tentengan.
Medina dengan wajah ceria, menghampiri Rendra yang masih memakai seragam sekolah.
"Wah.. pasti sesuatu yang enak. Apa itu asinan buah?" dengan mata berbinar, Rendra mengangguk semangat.
Medina sangat suka asinan buah. Ia baru merasakan makanan itu, saat Yasmin membelinya karena cuaca panas hujan. Yasmin ingin makan sesuatu yang segar namun pedas. Jadilah ia membeli asinan buah. Dan itu pertama kalinya Medina memakannya.
Rendra juga sering mengajak Medina jalan-jalan dengan motor gedenya.
"Medina, mau ikut kakak?"
Dengan wajah cerianya, ia pun mengangguk. "Kita akan kemana kak?"
"Membeli martabak, kamu mau?"
"Aku mau, aku suka martabak keju."
"Oke, ayooo berangkat...!" mereka pergi dengan hati senang. Medina bahagia, karena ia merasa di sayangi dan di perhatikan oleh keluarga Yasmin, oleh Ardan dan juga Rendra yang selalu menghiburnya.
Namun kebersamaan itu tak berlangsung lama. Setelah lulus SMA, Rendra melanjutkan kuliah di Harvard University Amerika Serikat. Empat tahun ia belajar dan bekerja paruh waktu di sana, Rendra bahkan mengelola cabang perusahaan ayahnya setelah lulus. Sesekali ia pulang untuk melepas rindu dengan keluarga di rumah, tapi sebagian besar waktunya dihabiskan di luar negeri.
...----------------...