NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur
Popularitas:93.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Penjara Beratap Biru

Bab 1: Penjara Beratap Biru

Xiao An menggosok-gosok matanya yang masih berat. Saat kesadarannya perlahan pulih, hal pertama yang menyapanya bukanlah seprai kasar berbau karbol, melainkan belaian lembut rumput basah di bawah telapak tangannya. Ia menguap lebar, meregangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi gemeretak pelan dari punggungnya.

Musim semi kali ini tampaknya sangat tahu diri. Matahari sudah mengintip dari ufuk timur, namun sinarnya masih malu-malu, menyisakan kehangatan yang pas—seperti teh celup yang baru saja diseduh. Cahaya keemasan itu menembus sela-sela rimbun pepohonan, menari-nari riang di atas pucuk-pucuk daun muda yang hijau segar.

Udara pagi ini terasa seperti sebuah pelukan yang sudah lama dirindukan. Tidak ada lagi gigil dingin menusuk tulang ala musim dingin yang membuat setiap helaan napas menjelma menjadi asap naga. Angin semilir bertiup pelan, membawa serta aroma bunga-bunga liar yang bermekaran di kejauhan. Baunya manis, menyisakan sedikit jejak asam, berpadu sempurna dengan aroma tanah basah yang membuat hidung Xiao An kembang kempis menikmatinya.

Di dahan-dahan pohon, burung-burung seolah enggan mengalah pada hening. Mereka berlomba-lomba berkicau, terdengar seperti sedang mengikuti audisi penyanyi terbaik sejagat pegunungan. Kalau saja Xiao An bisa mengerti bahasa mereka, mungkin ia sudah tahu gosip terbaru tentang Pangeran Katak yang baru saja patah hati ditinggal Putri Kupu-kupu.

"Haahh..." Xiao An mendesah panjang. Ia bisa merasakan otot-ototnya yang selama ini kaku perlahan-lahan mengendur, luluh oleh kedamaian tempat ini.

Ia menengadah, menatap hamparan langit biru cerah yang bersih tanpa sepoles awan pun. Saking jernihnya, Xiao An merasa jika ia melempar batu ke atas sana, batunya akan memantul balik karena permukaannya yang kelewat mulus. Ini adalah hari yang teramat sempurna untuk bermalas-malasan. Atau setidaknya, hari yang tepat untuk mencari sarapan layak tanpa harus bertarung hidup dan mati melawan babi hutan yang diam-diam punya sabuk hitam kungfu. Sayangnya, ketebalan dompetnya sering kali menolak diajak kompromi dengan hasrat perutnya.

Membayangkan semangkuk bubur hangat dengan taburan irisan babi krispi dan lelehan telur asin, atau sepiring pangsit goreng yang renyah di luar namun lumer di dalam, membuat perutnya bergejolak tipis. Ah, sungguh lamunan pagi yang menyiksa.

Kenyataannya, yang terhidang di depan matanya hanyalah hamparan rumput berembun dan beberapa butir biji-bijian tak bertuan yang entah siapa yang menjatuhkannya. Mungkin sisa sarapan burung pemalas kemarin sore.

Meski begitu, Xiao An tersenyum. Ia tidak lagi berada di dalam kamar rumah sakit yang menyesakkan. Tempat ini adalah antitesis sempurna dari segala hal yang berbau sterilisasi. Di sini, yang tertangkap indra penciumannya hanyalah napas bumi yang baru terjaga, wangi nektar dari celah bebatuan, dan jejak samar getah pinus dari hutan di bawah sana. Tidak ada lagi dinding putih kusam. Tidak ada lagi dengung monoton mesin pendingin ruangan. Yang tersisa hanyalah kanvas raksasa berwarna biru, simfoni gemericik air sungai yang mengalir tenang, dan desiran dedaunan yang menari mengikuti irama angin.

Mata Xiao An kini terbuka sepenuhnya. Ia mengedarkan pandangan, menyadari bahwa ia tengah berada di sebuah padang rumput landai. Bukit-bukit hijau dengan mahkota kabut tipis mengepungnya dari kejauhan. Beberapa pohon tua dengan dahan menjuntai berdiri kokoh di sekitarnya, tampak seperti barisan penjaga purba yang bisu. Kupu-kupu bersayap warna-warni beterbangan melintas di hadapannya, seolah menyuguhkan tarian selamat datang.

"Ah, ini baru namanya mimpi yang indah," gumamnya, menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung maksimal. "Bukan seperti kemarin, mimpi kedinginan di dalam tenda saat badai turun." Ia terkekeh pelan. Setidaknya, bawah sadarnya kali ini memberinya lokasi liburan yang jauh lebih bermartabat.

Ia mulai melangkah. Embun pagi yang dingin langsung menyapa ujung-ujung jari kakinya. Setiap pijakan terasa begitu ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini meremukkan pundaknya ikut menguap bersama kabut pagi. Mungkin, pikirnya, inilah definisi "hidup" bagi seorang pengembara sejati. Bebas, tanpa ikatan selang, tanpa jadwal obat, dikelilingi oleh keajaiban alam yang tak terbatas.

Bagi orang lain, embun dan rumput mungkin hal biasa. Namun bagi Xiao An, kondisi ini adalah mukjizat. Jauh sebelum kaki kurusnya bisa menjejak tanah gembur atau paru-parunya bebas menenggak udara segar, ia adalah wujud nyata dari kehidupan di dalam bilik kematian.

Sejak usianya baru menginjak lima tahun, garis cakrawalanya hanyalah empat sisi dinding putih kusam. Aroma alkohol dan desinfektan adalah udara yang ia hirup setiap detik, sementara bunyi bip ritmis dari monitor jantung adalah satu-satunya lagu pengantar tidur yang ia kenal. Tubuh mungilnya, yang diam-diam digerogoti oleh penyakit autoimun ganas dan kegagalan fungsi organ, tak ubahnya medan perang hancur lebur yang tak kunjung menemukan gencatan senjata.

Dulu, setiap hari adalah pertempuran untuk sekadar membuka mata. Tubuhnya menjadi inang bagi jalinan selang dan kabel yang menusuk kulitnya; infus yang meneteskan cairan dingin ke pembuluh darah, kanul oksigen yang memaksa udara masuk ke paru-parunya, dan deretan elektroda di dada yang memantau detak jantungnya yang selalu berada di ujung tanduk. Alat-alat medis itu berkedip terang dalam kegelapan malam, menjadi teman-teman bisu yang menahannya agar tidak jatuh ke jurang kematian.

Ia ingat betul bagaimana rasa sakit sering kali membuat pandangannya kabur. Dunia luar hanya eksis dari bisik-bisik perawat di lorong, atau dari jendela kaca kecil yang pelit, yang hanya sudi memamerkan potongan langit kelabu dan punggung gedung-gedung jangkung. Mimpi tentang berlari di bawah terik matahari, memanjat dahan pohon, atau merasakan hembusan angin yang bukan berasal dari kipas angin rumah sakit, adalah kemewahan fiktif yang hanya bisa ia kunjungi saat matanya terpejam.

Maka, ketika kini ia bisa berdiri tegak menantang langit, merasakan gigitan hangat matahari di pipinya, momen ini lebih dari sekadar pagi yang cerah. Ini adalah kebebasan absolut yang merobek batas mimpinya yang paling liar.

Tiba-tiba, Xiao An mengusap wajahnya kasar, lalu mencubit pipinya sendiri dengan cukup keras. Aduh. Sensasinya nyata. Rasa dingin rumput di telapak kaki, belaian udara di rambutnya, kicau burung yang mengalun jernih—semuanya terlalu nyata. Ia menunduk, memungut sebuah kerikil kecil, lalu menggenggamnya erat-erat hingga permukaannya yang kasar membekas di telapak tangannya.

"Jangan-jangan..." gumamnya parau, menyipitkan mata menantang cahaya ufuk timur. "Ini cuma ilusi tingkat tinggi? Sebentar lagi aku bakal bangun, disapa bau obat, dan melihat kantong infus lagi?"

Keraguan mulai merayap naik, mencemari kebahagiaannya yang baru seumur jagung. Mustahil ia bisa berada di tempat ini. Pindah dari ranjang pesakitan ke surga dunia tanpa proses apa pun?

Didorong oleh rasa penasaran yang menggebu, Xiao An memaksakan kakinya untuk terus melangkah, mengeksplorasi tempat misterius ini. Ia menyadari bahwa ia tidak berada di sembarang padang rumput, melainkan di atas sebuah puncak bukit datar yang sangat luas. Kira-kira sehektar, pikirnya. Cukup luas untuk menggelar festival lentera desa atau arena adu jotos perguruan bela diri. Permukaan tanahnya terasa gembur dan sedikit memantul di bawah pijakannya, seolah bumi ini memiliki detak jantungnya sendiri.

Langkahnya akhirnya membawa Xiao An ke tepian puncak bukit. Ia mengira akan menemukan jurang terjal atau lembah yang menganga. Namun, yang menghadangnya justru sebuah pagar batu setinggi dada.

Pagar itu terbentuk dari tumpukan batu-batu alam berukuran besar yang tersusun rapat. Sebagian permukaannya sudah ditelan oleh lumut hijau yang lebat, memberikannya aura kuno dan tertinggal oleh waktu. Xiao An mengulurkan tangannya, meraba permukaan batu yang dingin dan bergelombang. Ia mulai berjalan menyusuri tepian itu, mengikuti alur bebatuan.

Dan benar saja. Pagar batu itu terus memanjang, melingkar dengan sempurna, memeluk dan mengurung seluruh luasan puncak bukit datar ini tanpa terputus. Tempat ini seketika terasa seperti sebuah mangkuk raksasa alami. Atau lebih tepatnya... sebuah sangkar.

"Hmm, sepertinya ini memang bukan mimpi, tapi jelas bukan sekadar tempat antah berantah biasa," bisik Xiao An pada dirinya sendiri.

Angin berhembus sedikit lebih kencang, menampar wajahnya. Perasaan ganjil perlahan mencekik hatinya. Pagar batu yang melingkar itu mendadak menjelma menjadi hantu masa lalu yang menakutkan. Mengingatkannya pada dinding-dinding putih. Pada selang-selang yang membelenggu.

Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir bayangan kelam itu. Tidak, ini berbeda, batinnya menenangkan diri. Di sini ada langit. Ada angin. Ada kehidupan. Namun, saat matanya kembali menatap susunan batu kuno yang tak berujung itu, ia tak bisa menepis satu kenyataan pahit: di dunia mana pun ia berada, kebebasan tampaknya selalu memiliki batasnya sendiri.

1
strivee
smphnjs
Galih Agung
up lagi thor
Sembilαn βenuα
🤣🤣🤣
Galih Agung
thorr🥲🥲
Galih Agung
lanjutin dong thor..penasaran ini
boby astaman
seruuu thorr, lanjutkan/Angry//Angry/
Galih Agung
up lagi dong thor
Galih Agung
keren banget ceritanya🤭🤭
Galih Agung
up in lagi dong
Galih Agung
ah thor makin penasaran ini🥲🥲
abyman😊😊😊
💪💪💪🤭
Galih Agung
ah makasih thor.. lanjut lagi dong
Galih Agung
thor lama gak up lagi 🥲
Galih Agung
nggak yp juga🥲🥲
Galih Agung
lanjutkan
Galih Agung
ini nggak lanjutkah
Galih Agung
nggak up up thor
Galih Agung
lanjutin dong thor🙏🙏
Galih Agung
lanjutkan lagi thor
Galih Agung
joss banget thor.. lanjut terus upnya😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!