Mendaki adalah napas bagi Evan, pria berjiwa bebas yang tak pernah gentar menantang puncak tertinggi. Bersama teman-temannya, ia nekat menjelajah hutan perawan yang dikelilingi sungai berarus deras tempat yang bahkan penjaga hutan pun melarang untuk dimasuki. Satu per satu temannya menyerah pada ganasnya medan, hingga Evan harus melanjutkan perjalanan sendirian, tersesat di tengah belantara yang belum pernah dijamah manusia.
Di dunia yang berbeda, ada Sierra, gadis manja pewaris konglomerat, yang lebih sering membakar uang di pusat perbelanjaan. Liburannya ke pulau eksotis berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawatnya dihantam badai. Dengan parasut gagal terbuka, Sierra terhempas ke rimba misterius dan hanya pohon yang menyelamatkannya dari maut.
Dua jiwa yang bertolak belakang kini terperangkap di dunia liar tanpa jalan pulang. Saat mereka bertahan hidup bersama, hutan mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini terkubur..., mampukah mereka menemukan jalan keluar?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HHM 1
Langit baru saja mulai berganti warna. Embun masih menempel di dedaunan ketika Evan yang mengencangkan tali sepatunya. Dihadapannya, jalur tanah sempit seolah membelah hutan lebat yang menjulang di kaki gunung. Tidak ada papan penunjuk arah, tidak ada jejak kaki, hanya desir angin dan suara burung-burung liar yang sesekali terdengar di kejauhan.
"Sepertinya ini bukan jalur resmi," gumam Genta, yang berdiri disampingnya. Napasnya sedikit tercekat, matanya menatap lurus ke depan. "Van. kita bisa kena sangsi kalau ketahuan masuk sini.
"Justru karena itu kita harus masuk," jawab Evan ringan. "Kalau jalurnya resmi artinya udah banyak orang yang lewat. Gua nggak cari jalur yang aman, Gua cari jalur yang belum dijamah."
Genta menghela napas panjang. Di Belakang mereka, tiga orang anggota tim pendakian lain masih sibuk memeriksa carrier masing-masing. Ada Ayik yang pendiam, Thayer si tukang protes dan Laziel yang selalu percaya Evan, seakan dia nabi pendakian. Tapi pagi itu, bahkan Laziel pun ragu.
"Apa kita beneran siap?" tanya Ayik lirih.
Evan tak menjawab. Dia hanya berjalan mendahului teman-temannya, menyibak semak, masuk ke dalam jalur yang bahkan binatang pun seperti yang enggan melewatinya. Tapi Evan terlihat kakinya mantap, langkahnya ringan. Baginya hutan adalah rumah dan ia memperlakukannya seperti kawan lama.
Dia sebenarnya tahu risiko pendakian kali ini. Hutan ini dikenal dengan nama Wilayah Mati" oleh warga lokal. Tempat itu juga tidak pernah muncul di peta resmi. Tak satu pun pemandu lokal bersedia mengantar ke sini. Bahkan penjaga hutan melarang keras siapa pun melintas. Tapi bagi Evan, larangan hanya membuat tempat itu semakin menggoda.
Di punggungnya, ransel berat berisi logistik yang telah ia siapkan selama berminggu-minggu. Kompas, peta kasar dari catatan tua, survival kit, dan kepercayaan diri penuh pada kemampuannya sendiri. Itu saja cukup.
Karena bagi Evan, pendakian bukan soal puncak. Ini soal pembuktian. Bahwa dirinya bisa mengatasi segala medan, menantang batas yang tak berani disentuh orang lain. Baginya hidup lebih berarti ketika berdiri di tempat di mana tak seorang pun pernah berdiri sebelumnya.
___
Ribuan kilometer dari hutan lebat itu, Sierra melempar bantal ke cermin kamar hotelnya yang megah. Marmer putih, langit-langit tinggi, dan lampu gantung kristal yang mahalnya bisa membiayai hidup satu desa selama setahun semua itu terasa hambar di matanya.
“Ini tuh udah basi banget,” katanya sambil manyun. “Gue bener-bener enek.”
Di belakangnya, dua sahabatnya, Anne dan Lilo, duduk di tepi ranjang sambil memainkan iPon mereka masing-masing. Mereka terbiasa dengan amukan Sierra, pewaris tunggal imperium bisnis yang bergerak di bidang properti dan perhotelan mewah.
Sierra, dengan rambut panjang berwarna coklat madu dan wajah cantik hasil genetik serta sedikit polesan klinik kecantikan, tidak pernah benar-benar puas. Bukan karena hidupnya kurang, tapi karena semuanya terlalu mudah dan membosankan.
"Gue udah gak mau ke Swiss lagi. Jepang? No, thanks. Shopping trip? Males banget,"
keluhnya sambil berdiri dan menatap keluar jendela yang menyajikan pemandangan laut biru yang tak berujung.
"Gue cuma pengen ke tempat yang gak ada sinyal, gak ada mall, gak ada manusia fake yang sibuk update story demi likes. Capek banget sumpah."
“Kamu gila ya,” komentar Anne tanpa mengangkat kepala dari ponselnya.
“Eh, Gue serius,” sahut Sierra sambil memutar badannya. “Pengen liburan ke tempat random. Hutan kek, pulau terpencil kek, gunung liar kek. Yang penting bukan resort fancy bintang lima.”
Lilo ketawa sambil nyender. “Sierra..., lo jalan lima menit aja udah ngeluh kalau heels lo lecet.”
“Gue bisa berubah, kok” ujarnya yakin, meski dalam hati pun dia belum sepenuhnya percaya.
Tak butuh waktu lama sampai keinginan itu berubah jadi keputusan. Dengan memanfaatkan fasilitas jet pribadi milik keluarganya, Sierra memaksa orang tuanya untuk mengizinkan dia dan kedua sahabatnya terbang ke sebuah pulau eksotis di Asia Tenggara tempat yang katanya masih liar dan belum banyak dikembangkan.
Ayahnya sempat melarang. Ibunya menangis, menyebutnya impulsif dan tidak tahu bersyukur. Tapi Sierra tidak peduli. Hidupnya sudah terlalu dikurung oleh segala kemudahan. Ia ingin tahu rasanya kesulitan. Ironis memang, karena dia ingin merasa hidup dengan menjauh dari kenyamanan yang membuatnya mati rasa.
___
Kembali ke sisi lain dunia, langkah Evan semakin dalam menembus hutan yang mulai menelan cahaya matahari. Tanah menjadi lebih lembek, suara serangga terdengar semakin intens. Satu per satu temannya mulai tertinggal.
“Van, gua balik,” kata Thayer akhirnya. “Ini gila. Kita udah gak di peta mana pun. Lo mau mati?”
Evan menatapnya lama. Tapi tidak membujuk, tidak memaksa. “Baliklah kalau memang itu yang lo mau.”
Thayer mundur, wajahnya penuh ketakutan. Tak lama, Ayik dan Laziel pun menyerah. Genta menunggu paling akhir, menatap Evan seolah berharap sahabatnya berubah pikiran.
“Kalau lo mati, gak akan ada yang nemu jasad lo,” ucap Genta dengan suara parau.
Evan hanya tersenyum kecil. “Kalau gua mati di sini, berarti gua mati di tempat yang gua pilih sendiri.”
Dan setelah itu... dia benar-benar sendirian.
___
Sementara itu, pesawat jet kecil yang membawa Sierra dan kedua temannya melaju di atas awan. Pramugari menawari wine yang mahal, snack berlapis emas, dan kenyamanan maksimal. Tapi Sierra justru menatap jendela, gelisah.
“Awannya mulai tebal,” komentar Lilo sambil melirik layar monitor cuaca.
Tak lama kemudian, getaran halus mengguncang badan pesawat.
“Ada turbulensi,” suara pilot terdengar dari speaker. “Mohon kenakan sabuk pengaman.”
Getaran itu berubah jadi guncangan. Lampu kabin berkedip. Suara mesin mulai berubah tak stabil. Sierra mencengkeram sandaran kursi.
“Ini masih normal, kan?” tanyanya panik.
Namun wajah pramugari tak mampu menyembunyikan ketakutan. Masker oksigen turun. Alarm berbunyi.
“Evakuasi!” teriak salah satu kru. “Kenakan parasut masing-masing, bersiap keluar!”
Kacau. Panik. Asap. Jeritan.
Sierra didorong ke pintu pesawat, parasut menempel di punggungnya. Tapi saat ia terjun, takdir memutus tali harapan.
Parasutnya gagal terbuka. Angin menampar wajahnya. Dunia berputar. Tubuhnya meluncur bebas menembus awan menuju kehancuran.
___
Evan duduk di bawah pohon, membuka bekal makan siangnya. Tangannya gemetar sedikit karena udara yang lembap dan dingin. Tapi di wajahnya ada ketenangan. Keheningan hutan adalah musik paling indah baginya.
Evan menarik napas panjang, menahan rasa kecewa yang mulai memenuhi dadanya. Mengingat teman-temannya yang satu per satu mengeluh dan menyatakan ingin menyerah.
"Hah... lemah banget, sih."
Dalam hati, ia menggerutu kesal. "Lo semua nyerah segampang ini? Gimana mau dapet pengalaman seru kalau baru nanjak dikit aja udah kendor?"
Bibirnya menyunggingkan senyum miring. Antara kesal dan malas berdebat. Tapi satu hal yang jelas dia tidak datang sejauh ini hanya untuk berhenti di tengah jalan.
Lalu, terdengar suara.
Jauh di atas.
Suara seperti raungan mesin.
Lalu ledakan samar.
Dia mendongak. Tak ada yang terlihat. Tapi terlihat burung-burung beterbangan liar, menciptakan riak dalam langit yang muram. Ia memicingkan mata.
“Apa itu?”
Ia berdiri perlahan. Dan pada saat yang sama, jauh di hutan sisi lain, tubuh Sierra menghantam dahan, meluncur turun, sebelum akhirnya tersangkut di antara dua cabang pohon raksasa. Tubuhnya tergantung, ia pingsan, terayun pelan, di tengah hutan yang asing dan mematikan.
Kini dua dunia yang berbeda, satu langkah lebih dekat untuk saling bertemu.
ayoo kita sama² ke rumah sierra van..bikin sierra sadar akan kehadiran dirimu setelahnya langsung akad nikah ..than kita bawa sierra tinggal di hutan konservasi cinta..peduli setan dengan bisnis pak konglo..😛🤣🤣
semangat💪