Ganti judul: Bunda Rein-Menikah dengan Ayah sahabat ku
"Rein, pliss jadi bunda gue ya!!" Rengek Ami pada Rein sang sahabat.
"Gue nggak mau!" jawab Rein.
"Ayolah Rein, lo tega banget sama gue!"
"Bodo amat. Pokok nya, gue nggak mau!!" tukas Rein, lalu pergi meninggalkan Ami yang mencebik kesal.
"Pokoknya Lo harus jadi bunda gue, dan jadi istri daddy gue. Titik nggak pake koma!" ujarnya lalu menyusul Rein.
Ayo bacaa dan dukung karya iniii....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mey(◕દ◕), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Aku sadar cerita ini masih jauh dari kata sempurna, penulisan yang masih amburadul, alur cerita yang kurang jelas dan sebagainya. Aku mau ucapkan terimakasih buat kalian semua yang sudah mau mampir dan baca, terimakasih juga yang sudah memberikan kritikan. Masukan kalian sangat berarti untuk aku, agar cerita ini bisa lebih baik lagi. Terimakasih guys.
Bab 1 sudah aku Revisi. Thank u sudah mampir!
Happy Reading…
“Yuhu…Selamat pagi Rein Sayang!” pekikan ceria nan keras terdengar dari pintu. Rein yang sedang memegang sepotong roti menatap Ami dengan heran. Bahkan Roti itu pun belum terjamah mulutnya. Kenapa sahabat-nya ini pagi-pagi sekali sudah berada dirumah nya.
Sedangkan Ami dengan senyum lebar, berjalan menuju Rein yang menatapnya sembari menikmati roti yang akhirnya bisa ia nikmati. “Pagi. Ngapain kamu jam segini sudah ada di kontrakan ku?” Tanya Rein sembari mengunyah roti yang berada dalam mulutnya. Rein heran, baru jam 6 pagi tapi sahabat baik nya ini sudah berada disini.
“Aku mau ngajak barengan ke kampus. Kamu udah siap, kan! Ayo langsung berangkat aja, papa udah nunggu di depan.” Ucap Ami dengan antusias. Gadis itu langsung menarik tangan Rein yang baru saja selesai meneguk susu hangat. Bahkan susu dalam gelas itu pun belum habis, untung saja tidak tumpah karena tarikan itu.
“Uhuk...Uhuk…” Rein mengelus tenggorokan nya yang terasa panas. Bahkan rambut yang terlihat belum disisir itu pun terjuntai melewati bahu begitu saja, menambah Kesan cantik dimata Ami. Gadis itu menatap Rein dengan rasa bersalah, karena kelakuan nya, kini wajah sang sahabat terlihat memerah.
“Kamu narik nya pelan-pelan bisa kan!” gerutu Rein saat Ami melepaskan nya. Kini kedua gadis itu berdiri di halaman rumah. Netra nya menatap sebuah mobil mewah terparkir indah dihadapan-nya.
“Hehe maaf ya. Aku nggak sengaja, ayo langsung masuk aja! Nanti papa marah lagi.” Belum sempat menjawab, Rein langsung didorong masuk oleh Ami kedalam mobil.
Tenang saja, kali ini Ami pelan kok dorong-nya hehe.
“Aku belum sisiran, yaampun!” untung saja dia sudah mandi pagi-pagi sekali, tapi tetap saja dia bahkan belum menyisir rambutnya.
Huh! Btw kenapa orang Indonesia ini selalu berucap untung! Misalnya Ketika seseorang lolos dari maut, pasti akan berucap ‘untung’?
Rein menggerutu sembari menatap Ami dari kaca mobil tanpa menyadari bahwa ada yang menatapnya sedari tadi. Hingga deheman yang terdengar di sengaja itu mengalihkan fokusnya. “Ehem!”
Rein langsung menoleh pada kursi sebelahnya, terlihat seorang pria dewasa menatap nya dengan heran. “Eh…M-maaf om.” Ucapnya kikuk.
“Kamu kenapa?” tanya papa Ami, yang sering disapa Davin, sembari menjalankan mobil nya keluar dari pekarangan rumah kontrakan Rein.
“Nggak kenapa-kenapa kok om.” Rein menggeleng sembari tersenyum kecil, merasa tidak enak hati karena sudah membuat keributan kecil pagi-pagi begini. Dia melirik ke belakang dimana Ami sedang duduk manis sembari menahan tawa.
“Sahabat kampret!” gerutu Rein dalam hati, wajahnya terlihat badmood sedangkan pelaku tampak bahagia dibelakang, sembari menutup mulutnya.
***
“Rein…Kamu cocok banget tau, sama papa tadi!” Rein memutar mata malas sembari berjalan menuju kantin kampus. Dia sudah muak mendengar kalimat itu hampir setiap hari diucapkan oleh sahabatnya. Dan juga, apa yang ia lakukan tadi, perasaan dia hanya duduk di dalam mobil, dan tidak melakukan sesuatu yang terlihat berlebihan dengan papa nya itu.
“Ngawur aja. Lagian ya, umur aku sama papa kamu itu beda 15 tahun. Terus kalau misalnya aku suka sama papa kamu, emang papa kamu suka sama aku?” tanya Rein yang baru saja mendudukan bokong nya dikursi.
Kedua gadis itu memilih duduk di meja paling ujung, selain makanan nya memang enak dibagian pojok juga tidak terlalu berisik.
Ucapan nya terdengar masuk akal memang, namun Ami yang keras kepala, menggeleng tanda tidak setuju. “Menurut ku ya, umur kamu sama papa itu nggak terlalu jauh, dan masalah suka! Tentu saja papa pasti suka sama kamu.” Gadis itu berucap dengan menggebu-gebu, seolah sangat yakin bahwa apa yang dikatakannya itu sangat benar dan akan terjadi.
“Papa ganteng kok, kaya juga, tua! Nggak ah, papa masih kelihatan muda, masa kamu nggak suka sih. Padahal menurut ku, papa itu suami idaman banget!” dengan menggebu-gebu, gadis itu mempromosikan Davin. Seolah sedang berjualan di pasar.
“Silahkan dinikmati kak.” seorang gadis meletakan dua mangkuk bubur ayam dan dua botol air mineral di atas meja. Kemudian berlalu dengan senyum manisnya, setelah meletakan pesanan Rein dan Ami.
“Kamu belum makan kan! Nih makan dulu, awas maag kamu kambuh lagi!” Inilah yang Ami sukai dari Rein, alasan kenapa dia sangat berharap agar Rein mau menjadi ibu nya. Gadis itu selalu memberikan perhatian-perhatian kecil kepadanya. Didalam hatinya, dia bertekad untuk menjadikan Rein sebagai ibu dan istri untuk papa nya.
“Rein, jadi bunda aku yok!” ucapnya sambil terseyum lebar. Sembari mengaduk bubur ayam yang ada dimangkuk nya. Rein yang mendengar itu langsung memutar mata malas.
Oke, kalian tim bubur di aduk atau nggak. Kalau aku sih, harus di aduk wkwk.
“Bakso kayanya enak deh!” Rein yang sedang menikmati bubur nya langsung berdecak.
“Bakso terus!” sindirnya.
Ami terkekeh pelan sembari menunjuk seorang mahasiswi yang duduk tidak jauh dari mereka, sedang menikmati semangkok bakso panas. “Kamu liat deh, tu bakso kek nya enak banget. Ayolah Rein, sekali ini aja, yaa!” ucapnya memelas, berharap Rein mengiyakan.
Namun tentu saja, Rein sudah sangat hafal dengan perangai sahabatnya ini, dia tidak akan semudah itu terpengaruh. “Kemarin kamu baru makan bakso! Cepat habisin bubur mu, nggak usah berkhayal.” Dengan wajah badmood, Ami segera menghabiskan buburnya, sedangkan Rein mengulum bibir, menahan tawa melihat wajah Ami.
Gadis ini sangat keras kepala, jika tidak tegas, maka bisa-bisa maag nya itu akan kambuh lagi. Rein sudah mewanti-wanti sahabatnya ini agar menjaga pola makan. Sebisa mungkin ia akan mengingatkan agar mengonsumsi makanan yang sehat.
Pernah sekali, Ami pingsan karena maag nya kambuh, hingga dilarikan ke rumah sakit, dan berakhir gadis itu di rawat satu minggu. Rein membayangkan saja sudah ngeri, dia hanya bisa berharap agar penyakit gadis itu tidak kambuh, karena kelakuan nya.
***
Saat ini Rein dan Ami sedang berada di kelas, kedua nya menatap dosen yang sedang mengajar di depan. “Rein…” Ami berbisik pelan pada Rein yang tampak serius sembari mencatat poin-poin penting terkait materi yang diajarkan.
“Rein, gue ngantuk.” Ami Kembali berbisik seraya mencolek lengan Rein, membuat gadis itu melirik nya kesal.
“Sstt…tahan dulu rasa ngantuk kamu, kalau nggak mau dikeluarkan dari kelas!” gumam Rein pelan namun tegas. Ami yang mendengar itu, hanya memutar mata malas. Akhirnya gadis itu menelungkupkan kedua tangan nya di atas kursi, kemudian merebahkan kepalanya.
Sedangkan Rein yang melihat kelakukan sahabatnya itu, hanya menggeleng kemudian kembali menatap ke depan, sembari berdoa semoga saja dosen yang sedang mengajar itu tidak menyadari ada yang tidur di kelas nya.
Bisa gawat kalau ketahuan, mungkin bukan hanya Ami saja yang akan disuruh keluar, dirinya juga akan kena.
I hope kalian suka ya. Mohon koreksi kalau masih ada kesalahan lagi...
Terimakasih semuanya
'mas kenapa?
"pengenpeluk!