Cerita ini mengisahkan tentang gadis desa yang bernama Sulastri. Ia selalu dihina, dan dibuli karena miskin. Ia gadis pekerja keras, bersusah payah untuk melanjutkan pendidikan hanya ini yang mungkin mampu merubah tarap hidupnya.
Termasuk calon mertua yang meremehkan dan menentang pernikahannya dengan putranya. Arman Jaya Putra seorang guru yang sudah saling mencintai sejak SMP. Bibit, bobot, bebet lah yang masih beliau pegang teguh.
Sulastri kemudian membatalkan pernikahanya, menjauh dari Arman Jaya Putra memilih menerima panggilan beasiswa untuk melanjutkan kuliah.
Ternyata di kampus pun Lastri menerima perlakuan yang sama selalu ditindas dan dihina. Sulastri bertekat akan melawan siapapun yang akan menggangu rencananya. Tidak dinyana oleh Sulastri bahwa pemilik kampus tersebut Adnan kakak kelas ketika SMK dulu.
Dan yang lebih mengejutkan, Sulastri justeru bertemu dengan Arman Jaya Putra, beliau salah satu dosen yang mengajar di kampus tersebut.
Lalu sanggupkah Lastri melawan orang-orang yang selalu menindasnya, dan bagaimana pertemuanya dengan Arman Jaya Putra akan kah mereka bersatu?
Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog 1. Selamat membaca kisah nyata ini.
Gadis cantik berkulit putih masuk kedalam gedung berlantai tiga. Inilah tempat ia akan menuntut ilmu disalah satu kampus swasta ternama. Dia adalah Sulastri bukan orang kaya atau orang ternama seperti para mahasiswa yang lain. Dia gadis desa yang berasal dari keluarga miskin yang masuk melalui jalur prestasi yakni mendapat beasiswa.
Baju coklat pasta, rok hitam, kerudung warna senada yang ia kenakan bukan pakaian mahal seperti mahasiswa yang lain. Namun baju yang ia pakai pun ia jahit sendiri. Walaupun berpenampilan selayaknya orang kampung namun ia tidak kampungan.
Gagal menikah dengan pria yang ia cintai, hanya karena kemiskinan yang membelit. Cibiran, hinaan, dari orang-orang termasuk calon mertuanya karena memandang bibit, bebet, bobot, yang masih beliau pegang teguh. Cacian nya bukan lantas membuat Sulastri membenci maupun dendam.
Namun ia lebih memilih menjauh dari calon suaminya yakni Arman Jaya Putra seorang guru yang ia cintai sejak SMP hingga SMK. Ia bertekat ingin terus belajar hanya hal ini yang akan mampu memperbaiki tarap hidupnya bangkit dari kemiskinan.
Sejak SMP dulu hingga SMK Sulastri pekerja keras mencari biaya sekolah sendiri, bahkan membantu bapak dan ibu untuk membiayai sekolah ketiga adiknya.
Kampus elite yang isinya orang-orang berkantong tebal dan berpakaian mewah tidak lantas menyurutkan niatnya. Kaki jenjangnya masuk kedalam kampus dengan langkah semangat.
"Ahahaha..." tawa ketiga gadis meledek Lastri mungkin karena penampilannya yang terkesan udik. Namun Lastri tak menghiraukan tetap melangkah hal semacam ini ia rasakan sejak SMP dulu.
"Heh! gadis kampung! percaya diri sekali kamu?!" ketiga gadis itu mendekat ketika Lastri sudah masuk. Mereka menghadang langkahnya.
"Maaf, saya tidak pernah menggangu kalian, jadi sebaiknya kalian bisa bersikap sopan," kata Lastri enteng.
"Jaga sikapmu!" salah satu ketiga geng itu meremas dagu Lastri.
Lastri tidak melawan, hanya menatap gadis itu dengan tatapan prihatin. Gadis yang berpenampilan mewah. Namun ternyata minim akhlak.
"Jika loe! ingin tetap belajar di kampus ini, loe! harus menjadi babu gue!" ucapnya lalu mendorong tubuh Lastri hingga terhuyung kebelakang.
Lastri menarik napas panjang, menatap ketiga geng jutek yang berjalan kedepan meninggalkan dirinya lalu duduk di kursi paling depan. Mungkin tujuannya agar bisa cepat menyerap ilmu yang dijelasan dosen, atau ada hal lain hanya mereka yang tahu.
Baru pertama masuk kampus Lastri harus mendapatkan perlakuan yang tidak baik, tidak ada bedanya ketika dibuli teman sekolahnya dulu karena terlambat membayar SPP. Namun, demi misinya untuk memberantas kemiskinan tidak menyurutkan semangatnya.
"Puk"
Wanita gendut menepuk pundak Lastri tersenyum ramah. "Hai.." ucapanya.
"Haii..." Lastri membalas senyuman itu.
"Ayo kamu duduk bersamaku" ucap gadis gendut lalu menarik tangan Lastri. Mereka pun duduk bersama.
"Kenalkan, namaku Nindy" gadis gendut memperkenalkan diri.
"Sulastri" mereka berjabat tangan.
"Jika ketiga wanita itu, berbuat macam-macam... sebaiknya, kamu jangan menyahut, dan lakukan saja apa perintahnya" kata Nindy memperingatkan.
"Kenapa begitu?" Lastri mengerutkan dahi, dijaman yang seharusnya menjunjung demokrasi yang sering kita dengar. Namun, mengapa masih juga ada penindasan ketika kita mengutarakan pendapat yang benar.
"Nanti kamu akan tahu sendiri, tapi perlu kamu tahu, menurut para senior mereka nggak lulus-lulus, seharusnya sudah kena DO, tetapi uang yang berbicara" tutur Nindy panjang lebar, kemudian mereka ngobrol seputar pribadi mereka.
"Kamu berasal dari jawa ya?" tanya Nindy kemudian menatap lekat wajah Lastri.
"Benar, pasti kamu tahu dari logat aku ya?" keduanya terkikik. Hingga terdengar ketiga gadis didepan.
"Heh! gendut! loe meledek gue ya?!" ketiga gadis itu mendekat kearah Nindy lalu mengangkat kerah bajunya.
Nindy bergetar ketakutan keringat sebesar-besar biji jagung pun menetes. Lastri kemudian memeluk pundak Nindy agar tenang.
"Apa loe berani sama gw?!" tantang geng itu. Namun Lastri tidak gentar.
"Sabar Mbak, kami tidak sedang membicarakan Anda kok" Lastri menatap wajah wanita yang menatap sinis kearahnya itu.
Geng wanita semakin geram, selama ini tidak pernah ada yang berani menyahut ketika mereka sedang bicara, apa lagi menentang ucapanya, namun mengapa wanita udik yang baru masuk kampus ini berani sekali. Geng jutek itu kembali ke depan.
Suasana kelas tampak riuh saat seorang dosen tampan dengan gayanya yang cool, masuk kedalam menghipnotis para mahasiswi.
"Waah... tampan sekali..." geng jutek ternganga menatap sang dosen.
"Selamat Pagi" ucapnya, suara berat yang mengenakan pakaian kemeja biru, dan celana bahan hitam tampak berwibawa kemudian meletakan buku yang beliau pegang diatas meja.
"Selamat pagi Pak..."
Sulastri yang awalnya menunduk saat sedang membaca tata tertib kampus yang harus di patuhi, mendongak mendengar suara familiar. Mas Arman? Lastri menutup mulutnya dia pun turut menganga agar jangan terlihat oleh para mahasiswa yang lain.
Pria tampan yang gagal menjadi suaminya lantaran sang bunda menentang itu tidak Lastri sangka, ternyata hadir dihadapanya. Ternyata dunia begitu sempit, Lastri pergi dari kampung halaman lantaran menjauh dari calon suaminya yang kaya raya itu. Namun justeru kini malah bertemu satu kampus disini.
Entah bagaimana Lastri saat ini harus bersikap?
.
antara bodoh dan baik beda ya Lastri,harus bisa menempatkan diri.
AKU MALAH KASIHAN SAMA PAK BURHAN 🙏🙏
BODOH MAU SAMA ARMAN.
DIKIT2 CEMBURU JD SEBEL KAMPUNGAN BANGET APLG NNT KETEMU IBU NTA DUH GREGETAN PINGIN NABOK MULUTNYA BU SULIS
SMG MRK PUTUS. TUNANGAN NYA PUTUS.