Selamat Membaca ...
**************************
“London... Mereka sudah pindah ke London“
Fania menjawab pertanyaan Reno dengan hati yang terasa sedikit ngilu.
“Eh iya duduk yah, cape berdiri nih“ Ucap Fania sambil nyengir mencoba mengalihkan, karena sepertinya air matanya mau jatoh.
“Oh iya ya, kita lupa duduk“ Sahut Ara. Kemudian Ara dan Reno duduk di kursi depan Fania yang masih tertunduk, namun Reno sedang intens memandanginya.
Seorang pelayan wanita kembali datang menghampiri mereka. “Maaf Tuan, Nyonya apakah ada yang anda butuhkan?“ Ucap si Pelayan wanita.
“Bawakan saya Espresso. What about You, Babe?. ( Bagaimana dengan kamu, Sayang? )“. Ucap Reno.
'Mesra banget' Batin Fania. 'Jones mah ngiri aja dah!'
“Air Putih saja. Cappucino aku masih ada“ Sahut Ara
“Kamu gimana Fania, apa ada yang mau dipesan?“ Kali ini Reno menatap Fania, tatapan ramah yang menyejukkan hati. Eyyyaa ...
“Oh , engga. Udah, ini juga sama Cappucino nya masih banyak juga“ Ucap Fania sambil menunjuk cangkir berisi Cappucino panas yang sebelumnya dipesan, sebelum Reno gabung dengan Fania dan Ara.
“Ya sudah itu saja, terima kasih“ Ucap Reno pada si Pelayan, kemudian pelayan tersebut memberi hormat sebelum meninggalkan tiga orang itu dan segera bergegas untuk menyiapkan minuman yang Reno pesan.
“Baik mohon tunggu sebentar Tuan, saya permisi dulu“
Pelayan itu pun berjalan dengan cepat meninggalkan balkon untuk menyiapkan pesanan dari tamu yang disegani itu. Namun hanya pihak Hotel yang tahu kenapa mereka begitu menghormati Reno, dan harus memberikan kesan yang amat sangat baik saat berhadapan dengannya. Karena Fania dan rombongan hanya sekedar mengetahui acara tempat mereka manggung malam ini adalah acara spesial yang dihadiri para horang - horang kayah.
“Kamu bilang tadi mereka ... itu siapa Fan? “
Ara melanjutkan obrolan sambil mengambil cangkir miliknya dari meja tempat dia tadi duduk dan meletakkan ke atas meja di samping kursi yang ia duduki sekarang.
“Hah? apa? .. “ Fania tertegun “ Ohh, temen temen aku maksud kak Ara?“
Namun dengan cepat Fania paham maksud pertanyaan Ara.
“Iya tadi kamu bilang nama temen kamu itu....... Reno?“
Ara bertanya, sambil melihat kearah suaminya, bersamaan dengan sang suami yang juga melihat ke arahnya.
Tapi hal tersebut tidak disadari oleh Fania.
Karena saat suami istri itu bertatapan, Fania sedang mengambil cangkir berisi Cappucino miliknya untuk kemudian meminumnya.
“Teman kamu banyak ya di sana Fan, selain yang namanya Reno?" Tanya Ara lagi. "Coba sebutkan deh nama lainnya. Siapa tahu ada yang aku kenal “. Sambung Ara lagi yang kemudian meminum Cappucino nya.
“Engga Kak, ga banyak Kok . Cuma dua ... Aku Cuma kenal dua orang itu aja . Itu juga ga sengaja. Long story kak, ntar kak Ara sama suaminya ngantuk denger cerita aku. Hehehe..“
Kemudian Fania mengarahkan cangkir yang dia pegang ke bibirnya.
'Eh iya, tadi suaminya Kak Ara nyebutin nama ga sih?' Batin Fania.
“Ahahaha, jadi bed time story dong nanti“ Ara tertawa kecil, sementara Reno memandang Fania dengan mimik muka yang sulit dijelaskan.
Fania sendiri tidak menyadari kalau saat ini Reno sedang memandanginya seperti sedang menahan sesuatu yang ingin dia katakan .
Fania juga ga berani memandang Reno, karena dia merasa ga enak sama Ara kalau seandainya dia memandang wajah laki laki yang sedep banget dipandang itu.
Meski Fania sebenernya mau bilang, gue kayak familiar sama muka lo. Begitu kira kira.
Tapi Fania urung karna takut dibilang sok akrab atau ganjen malahan.
Fania pengen buru buru beranjak dari situ sebenarnya, karena hati Fania tiba-tiba merasa galau gegara ngebahas ‘teman-teman’ yang dia punya dulu di daerah tempat yang Ara dan suaminya bilang.
Tapi berhubung Fania itu orangnya ga enak – kan, jadi dia hanya berharap kak Rita atau Vivi memanggil buat ngajak pulang.
Harapan Fania untuk diajak pulang oleh kak Rita atau Vivi sih tipis sebenarnya. Karena mereka pun memang
masih asik bercengkrama dengan teman teman Reno dan Ara di dalam. Toh kedengeran suara yang sepertinya mereka malah asik karoke an sambil tertawa lepas.
“So, jadi kamu punya dua orang temen yang tinggal disana. Teman akrab? “ Ara sangat aktif bertanya.
“Iya, pernah. Sekarang udah engga. Mereka juga Udah lupa kali sama aku. Dah lama kak, mereka kayak apa sekarang juga ga tau. Udah Lose contact ( Hilang kontak )“. Fania berbicara dengan nada yang datar tapi menyelipkan kesedihan karna rasa yang campur aduk. Sedih, Kesel , Kangen ...
“Lalu yang satu lagi, siapa namanya ? mungkin saja aku beneran kenal“ Ucap Ara, sementara Reno masih tetap diam.
Fania sejenak terdiam.
Satu nama yang memiliki kesan tersendiri dihatinya. Terlepas dari Reno yang dulu sudah seperti abang yang tidak hanya memperlakukan dia seperti adik perempuan kecil, melindungi bak guardian angel dan kadang ngomelin Fania karna selebor.
Nama yang walau hanya sekedar diingat bisa bikin Fania gegana ( gelisah galau merana ). Sah elaahhh ..
“Dia .. namanya ...“ Fania kembali menggantung kata-katanya.
“Donald!“
**
To be Continue..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 347 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hahh..
2025-02-06
0
Bzaa
senengnya.... jdi dwg2 plas
2024-04-01
0
Karmila Sari
makin penasaran ajah
2021-03-10
3