Vandra terdiam. Wajahnya terasa panas meskipun tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihatnya. "Aku cuma..."
Ratih terkekeh. "Kenapa? Rindu?"
"Bu."
"Atau jangan-jangan..." Ratih sengaja berhenti sejenak. "...kamu mulai menyesal sudah mengajaknya bercerai?"
Vandra langsung membantah. "Enggak."
Ratih tertawa karena mendengar jawaban yang terlalu cepat itu. "Baiklah."
Vandra mengusap tengkuknya. "Ibu jangan macam-macam."
"Ibu gak macam-macam." Ratih tersenyum sambil memandang keluar jendela. "Yang jelas, Via sekarang baik-baik saja."
Vandra diam.
"Dia juga sibuk."
"Sibuk apa?"
Ratih sengaja menjawab singkat. "Macam-macam."
Vandra mengernyit. "Macam-macam?"
"Iya." Ratih tidak menjelaskan lebih jauh.
Ia tidak mengatakan tentang usaha fashion yang sedang dibangun Levia. Tidak mengatakan bahwa menantunya semakin dekat dengannya. Tidak mengatakan bahwa Levia sekarang aktif mengikuti kegiatan Persit. Biarlah Vandra menemukan semuanya sendiri ketika pulang nanti.
"Sudah, Van. Kamu istirahat. Di sana pasti sudah malam."
"Iya, Bu."
Vandra hendak mengakhiri panggilan.
Namun sebelum itu, Ratih berkata, "Van."
"Hm?"
"Kadang-kadang seseorang baru terasa penting setelah kita terbiasa hidup tanpa kehadirannya."
Vandra terdiam.
Ratih tersenyum tipis. "Sudah. Ibu gak mau ceramah."
Panggilan berakhir.
Vandra masih menatap layar ponselnya. Kata-kata ibunya terus terngiang. Via sekarang baik-baik saja. Dia juga sibuk. Entah kenapa, dua kalimat sederhana itu justru membuat pikirannya semakin penuh.
Ia kembali berbaring. Namun kali ini, yang membuatnya sulit tidur bukan lagi tugas di Lebanon. Melainkan satu wanita di Indonesia yang ternyata sudah mulai menjalani hidup tanpa dirinya.
***
Rumah Bram Gultom, sore menjelang petang. Ruangan kosong di belakang rumah yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan kini sudah berubah menjadi ruang latihan sederhana.
Samsak tergantung di salah satu sudut. Beberapa dumbbell dan peralatan olahraga Levia tersusun rapi di sisi ruangan.
G…
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 133 Episodes
Comments
anonim
Vendra yang gengsinya selangit tidak mau mengakui kalau pikirannya terpaku pada Levia. Rindu tak mau mengakui.
Levia masih aktif mengikuti kegiatan persit. Berarti dia tidak menandatangani surat cerai yang diberikan Vandra.
Baguslah Ratih tidak mengatakan tentang kegiatan-kegiatannya Levia.
Ratih semakin bikin Vandra galau memikirkan Levia.
2026-09-18
1
anonim
Gultom mengajari Levia olah raga bela diri, silat dari dasar.
Levia mengikuti gerakan Gultom, gerakan sederhana. Gerakannya begitu cepat dan seimbang.
Gultom dengan sabar membimbing Levia yang cepat paham mengikuti arahannya.
Gultom merasa heran ketika memperagakan gerakan lebih rumit, Levia dengan mudah mengikutinya.
2026-09-18
1
sasa adzka
ada apa seh dengan ART nya tuh.. pengen kali lah aku remet tu muka.. gak tau posisi aja..
apa jangan jangan mau menggantikan levis di hati ayah Bram sebagai anak ya.. ohhh tdk bisa nyet😂😂😂
2026-10-18
1