Levia menggenggam ponsel sedikit lebih erat. "Bu..."
"Ibu cuma mau minta maaf." Suara Ratih terdengar semakin lirih. "Ibu gagal menjaga rumah tangga kalian. Sebagai ibu Vandra... Ibu juga merasa ikut bersalah."
Levia menggeleng pelan, meski Ratih tidak bisa melihatnya. "Jangan bilang begitu, Bu."
Ratih tersenyum tipis. "Kamu istirahat yang banyak, ya, Via."
"Iya, Bu."
"Kalau begitu Ibu tutup dulu teleponnya."
"Baik. Semoga Ibu cepat sembuh."
"Terima kasih, Nak."
Sambungan telepon pun terputus.
Setelah percakapan melalui telepon berakhir, Levia masih menatap layar ponselnya beberapa saat.
Vivian mengingat kembali nada bicara Ratih yang beberapa kali terputus karena menahan batuk. Napasnya juga terdengar lebih berat dari biasanya. Semakin dipikirkan, perasaannya justru semakin tidak tenang.
"Apa benar cuma kecapekan?" batinnya. Jangan-jangan Ibu nyembunyiin sesuatu."
Perasaan tidak tenang akhirnya membuatnya turun ke ruang keluarga.
Bram yang sedang membaca koran langsung mengangkat kepala. "Via?"
Levia menghampirinya. "Yah... boleh aku ke rumah Ibu Ratih?"
Bram menutup korannya perlahan. "Ratih?"
Levia mengangguk. "Tadi beliau telepon. Suaranya kedengaran sakit. Aku jadi kepikiran."
Bram memerhatikan putrinya beberapa saat. Ia tahu benar bagaimana hubungan Ratih dan Levia.
Di tengah rumah tangga yang berantakan, Ratih tetap memperlakukan Levia seperti anak kandungnya sendiri.
"Kalau kamu memang khawatir, pergilah."
"Terima kasih, Yah."
"Biar Ayah antar."
Levia tersenyum lalu menggeleng pelan. "Gak usah. Rumahnya juga gak jauh. Aku masih ingat jalannya."
Bram masih tampak ragu. "Yakin?"
"Iya."
"Kalau begitu hati-hati."
"Iya, Yah."
Bram mengangguk pelan. "Kalau ada apa-apa, langsung telepon Ayah."
Levia tersenyum hangat. "Pasti."
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Levia berhenti di depan rumah keluarga Jayasena.
Rumah itu tidak semegah kediaman keluarga Gultom. Namun tetap terasa hangat dan terawat.
Untuk sesaat Levia hanya duduk di balik kemudi.…
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten
16. Yang Datang Karena Khawatir
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 123 Episodes
Comments
anonim
Levia jadi kepikiran dengan kondisi kesehatan Ratih. Levia minta izin Ayahnya untuk ke rumah Ibu Ratih.
Levia sudah sampai di rumah Ratih. Pelayan yang membukakan pintu.
Levia yang datang, Ratih mengira Vandra yang sudah pulang.
Ratih tidak menyangka kalau Levia datang.
Bukan karena Vandra, Levia datang. Tapi karena mengkhawatirkan Ratih.
2026-09-11
1
LibraGirls
Apa aku juga haris kayak levia ya berenti mengejar sessorang yang tidak pernah menoleh???? jujur cape hati cape perasan cape pikiran 🙈 ngerasa waktu jomblo hidup ku tenang banget gk ada drama gk ada konflik 😔 aku juga salah menujar stts ku selama ini yang udah tenang dgn sebuah hunungan akhir nya main perasaan jd begini 🤦♀️ mau si akhiri masih sayang dia nya juga nggak mau di akhirin jalanin baru 5 bulan tapi berasa 5 thn 🙊
2026-08-08
2
isnaini naini
thor mellow nih..aq jd tringat almrhm ibu ku...🥹
2026-08-07
2