Begitu mobil itu dijalankan, abidzar sesekali melirik Jihan melalui kaca spion
Jihan
Jihan menahan lapar sedari tadi, mau bilang berhenti sebentar untuk membeli makanan, tapi malu
Dosen Galak
"Kenapa Jihan, apa kamu sedang sakit?" Abidzar melihat Jihan yang mengelus perutnya sesekali
Jihan
"Eh nggak kok pak, Sebenarnya saya itu lapar pak sedari tadi. Cuman malu aja mau bilangnya."
Dosen Galak
"Kenapa nggak bilang Jihan, kamu kan bisa bilang sama saya. Nanti kalau kamu sakit, saya lagi yang kena marah sama keluarga kamu."
Jihan
"Hehehe sorry pak."
Tak ambil pusing, abidzar menghentikan mobilnya di salah satu kafe langganan Nya.
Dosen Galak
"Yok turun, katanya lapar."
Jihan
Jihan mengangguk kemudian turun mengikuti langkah dosennya yang memasuki kafe.
Sesampainya di dalam kedua nya Duduk didekat meja paling pinggir. Jihan memesan makanan yang sama dengan dosennya
Jihan
"Kok perut aku sakit banget ya, Ssst...aduh." Jihan menggigit bibir bawahnya menahan sakit
Jihan
"Sakit banget ya Allah." Jihan bergumam sembari menggigit bibir bawahnya
Rupanya pergerakan nya dipantau oleh abidzar
Dosen Galak
"Kenapa Ji, kamu sakit?" Reflek abidzar menempelkan punggung tangannya di kening jihan
Dosen Galak
"Loh nggak panas kok Ji."
Jihan
"Kayaknya maag saya kambuh deh pak, Sakit banget lagi."
Dosen Galak
"Kok bisa, Kamu nggak sarapan ya, dari pagi?"
Jihan
Jihan tak menjawab dia diam saja sembari Menahan sakit
Beginilah Jihan, jika sudah sakit sisi manjanya bakalan keluar
Jihan
"Pak minta tolong, hubungi Abang saya, biar saya dijemput."
Dosen Galak
"Tapi Ji, kamu lagi sakit! Harus segera diobati sekarang."
Jihan
"Tapi pak, saya
Dosen Galak
"Sudah, kita kerumah sakit sekarang." Abidzar dengan cepat menggendong Jihan masuk kemobil lalu menjalankan Nya kerumah sakit terdekat
Jihan
Jihan sempat terpesona, bagaimana mungkin abidzar dosen killer itu. Dengan gentlenya menggendong Jihan, mahasiswa Nya
Sesampainya dirumah sakit. Jihan diperiksa dokter lalu meresepkan obat yang rutin untuk diminum
Dosen Galak
Abidzar sendiri yang menebus obatnya, dia dengan telaten menyuapi bubur pada Jihan lalu membantu nya minum obat. Nanti setelah cairan infus nya habis, pasien baru diperbolehkan pulang
Drettt
Jihan
Bunyi ponsel Jihan dari tasnya, membuatnya menoleh pada abidzar
Dosen Galak
"Nih...," abidzar membantu mengambil ponsel dari tas Jihan lalu memberinya kepada sang empu.
Jihan
"Makasih pak."
Dosen Galak
Menggangguk
Jihan
"Bang Vier!" Segera Jihan menekan tombol warna hijau begitu melihat nama si penelpon
Javier
"Halo Ji, Assalamualaikum."
Jihan
"Waalaikumsalam, iya bang."
Javier
"Kamu dimana sekarang Ji, katanya kampus kebakaran tadi ya. Abang udah nyariin kamu daritadi disini, tapi Nggak ada." Javier bertanya dengan cemas, Takut adiknya kenapa-napa
Jihan
"Hhehee sorry bang, Nggak ngabarin Abang tadinya. Soalnya tadi lagi buru-buru banget, karena gedung sebelah kampus kebakaran!"
Javier
"Dimana sekarang Ji, Biar Abang jemput."
Jihan
Jihan menatap abidzar dengan ragu, dia takut abangnya akan marah. apalagi kalau tahu Jihan jalan berdua dengan pria lain
Dosen Galak
"Bilang saja, nggak apa-apa! Biar saya yang tanggung jawab."
Jihan
"Emm, Jihan lagi dirumah sakit sekarang."
Javier
"Kenapa, kok bisa?"
Jihan
"Maag Jihan kambuh bang, tadi pagi kebanyakan makan cabe." Jihan menyengir begitu abidzar menatap nya dengan tajam
Javier
"Astaghfirullah Jihan, kamu itu ya. udah dibilangin Jangan banyak-banyak makan cabe! Kirim alamatnya sekarang, Abang jemput. Assalamualaikum."
Jihan
"Hehehe iya bang, Waalaikumsalam."
Jihan
"Aduh pak, bukannya ngusir ya! Tapi keluarga Jihan itu nggak suka kalau Jihan berdua doang sama laki-laki yang bukan mahramnya. Jadi
Dosen Galak
"Kamu ngusir saya?" abidzar menatap Jihan dengan tajam
Jihan
"Eh bukannya gitu pak, Saya takut aja. kalau nanti dimarahin sama Abang! Itu saja."
Dosen Galak
"Oke deh, saya balik duluan! Kamu hati-hati disini."
Jihan
"Iya pak, sama-sama! Terimakasih juga sudah menolong saya."
Dosen Galak
"Iya, Assalamualaikum." Abidzar melangkahkan kakinya menuju pintu
Jihan
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Selang 10 menit Javier datang dengan wajah datarnya
Javier
"Assalamualaikum."
Jihan
"Waalaikumsalam bang." Jihan menyalami abangnya dengan takzim
Javier
"Masih sakit perutnya Ji?" tanya Javier dengan lembut, bukannya marah atau mengomel dia bertanya Dulu pada adiknya. Gimana nggak makin Sayang coba?
Jihan
"Abang nggak marah?" Jihan menatap wajah datar Javier
Sudah biasa Emang, Javier itu kalau sedang kesal atau marah. Dia memilih untuk diam atau mendatarkan ekspresi wajahnya
Javier
"Nggak tu, kamu berharap Abang marah ya?"
Jihan
"Iya lah, kan biasanya bang gala gitu. Pasti dia ngomel-ngomel panjang, sampe kuping Jihan sakit tau bang." Adu Jihan dengan manja
Javier
"Ngomel-ngomel itu tandanya sayang Ji."
Jihan
"Tapi Abang nggak ngomel tu, Berarti Abang nggak sayang ya, sama Jihan?"
Astaga makhluk paling meresahkan dibumi! Ditanya 1 malah nanya yang satunya. Gitupun sebaliknya
Javier
"Jihan dengar Abang, sebenarnya Abang itu mau marah. Tapi Abang menahannya, karena ada yang lebih penting dari itu." Javier menangkup kedua pipi adiknya yang lucu itu
Javier
"Kamu tau apa yang lebih penting?" Tanya Javier lagi dengan lembut tanpa mengurangi ketegasan Nya
Jihan
Menggeleng cepat
Javier
"Tanya dia apa yang dirasakannya saat ini, Dan bantu dia untuk mengurangi rasa sakitnya."
Javier
"Setelah itu baru deh, kamu nasehatin dia, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan."
Jihan
"Maas Syaa Allah. Abang aku, pintar banget sih! Jadi makin sayang deh." Jihan langsung memeluk Javier dengan erat, merasa beruntung memiliki saudara seperti Javier
Javier
Mengusap punggung adiknya dengan lembut
Javier
"Abang nya siapa dulu dong."
Jihan
"Abang Nya Jihan dong."
Jihan
"Makasih ya bang, sudah mau bersabar menghadapi kenakalan Jihan! Dan Jihan berterima kasih banyak-banyak sama Abang, karena selalu jadi garda terdepan dalam membela Jihan."
Javier
Javier mengangguk sembari tersenyum manis pada adiknya
Comments