Calon istri?
Keesokan harinya Jihan kembali kakampus dengan diantar oleh Javier, kebetulan hari ini yang punya jabwal kelas pagi hanya Jihan, sementara kedua Abangnya mendapat kelas sore
Begitu sampai diparkiran Jihan menyalami abangnya Lalu turun dari mobil mewah itu
Javier melambaikan tangannya begitu sang adik berjalan memasuki kampus, Dan dibalas lambaian serta senyuman oleh Jihan
Karena masih ada setengah jam lagi sebelum masuk kelas. Jihan memilih sarapan dikantin, beruntung kursinya belum penuh.
Jihan
Jihan Memainkan ponselnya sembari menunggu pesanan datang, Dia tak sadar jika dirinya sedang diawasi oleh seseorang
Misterius
"Gadis itu semakin manis saja, nggak tau aja sih dia. kalau aku nih pengagum beratnya." Pria itu berbicara sembari menyeruput minumannya
Sedangkan temannya yang lain hanya menanggapi dengan decakan
Jihan
Kembali lagi pada Jihan. Saat ini dia sedang makan sambil mengamati sekitarnya. Dia jadi sedikit takut, ketika mengingat berandalan yang kemarin mencegatnya.
Jihan
Setelah menghabiskan makanannya, Jihan membayar bill Nya lalu pergi menuju kelas yang sebentar lagi akan dimulai.
Lagi-lagi Jihan tak sadar jika dirinya diikuti dari belakang
Hingga 3 jam berlalu begitu cepat, Akhirnya kelas paginya selesai. Jihan ingin segera pulang dan tidur didalam kamarnya.
Jihan
Beranjak dari duduknya sembari memasang tas ranselnya
Rania
"Ji mau kemana Lo, pulang? Bukannya hukuman dari pak Abi belum selesai ya." Rania mencoba menghentikan pergerakan Jihan yang tak ingin pulang
Jihan
"Oh iya, astaga. Lupa gue ran! Untung Lo ngingetin ran, Aduh malas banget lagi gue." Jihan jadi kesal sendiri jika bertemu dosen galaknya
Rania
"Udahlah, daripada Lo kebanyakan Mikir! Mending siap-siap deh Ji. Nanti keburu telat."
Jihan
"Iya deh, iya." Jihan memakai sweater Nya lalu memasang tas ranselnya
Jihan
"Udah ran, yuk anterin gue. Gue malu Kalau sendiri soalnya." Jihan memegang lengan Rania
Rania
"Oke, tapi sampe depan ruangan Nya aja ya. Soalnya pacar gue juga udah nyariin tuh, didepan." Jelas Rania sembari menyenggol lengan Jihan
Jihan
"Pacaran Mulu, Emang cinta bisa dimakan." Jihan menatap aneh sahabat nya, mereka bercerita hingga sampai didepan Ruangan pak abidzar
Rania
"Udah sampai, gue balik duluan ya. Nanti kalau ada apa-apa kabarin gue." Rania menepuk pundak Jihan lalu berlalu begitu saja. Emang benar ya, padahal Jihan belum menyahut, main pergi saja
Setelah kepergian Rania, Jihan jadi deg-degan sendiri. Hatinya bimbang saat ini, gimana dia mau memulainya
Belum juga mendapat balasan dari dalam. Jihan menghidup nafas panjang, takut jika tiba-tiba pria itu bersuara
Jihan
"Gimana ini ya, Kan nggak mungkin kalau gue belum dapat izin, main masuk-masuk aja. Yang ada nanti gue dimarahin."
Jihan
Jihan ingin mengetuk lagi, namun tertahan karena mendengar suara dibelakangnya.
Dosen Galak
"Akhirnya kamu datang juga Sayang, aku udah nungguin Loh, Daritadi." Abidzar tersenyum lebar lalu dengan beraninya mengakui Jihan sebagai calon istrinya.
Jihan
Jihan terdiam saja, sembari mengamati ekspresi pak abidzar yang mengembangkan senyumnya
Jihan
"Ni orang kenapa, kesambet kah?" Jihan menatap abidzar dengan aneh
Dosen Galak
"Kenalin Ra, ini Jihan calon istri aku. Yang akan aku kenalin sama orangtuaku."!!
Dosen Galak
"Berpura-puralah Dulu, aku ingin kamu membantu saya dari perempuan ini." Abidzar berbisik didekat telinga jihan
Jihan
Jihan mengangguk kaku Begitu mendapat pelototan dari dosen Galaknya
Jihan
"Iya Mbak, Kenalin saya Jihan. Calon istrinya pak abidzar."
Ciara
"Mana mungkin, saya nggak percaya! Mana buktinya kalau kamu itu calon istri dari abidzar." Ciara menantang Jihan
Jihan
Jihan menatap abidzar dengan bingung
Dosen Galak
"Ohhh itu, Jihan ini kan terjaga. Jadi tidak bisa terlalu dekat jika belum halal."
Ntah darimana abidzar mendapatkan ide itu
Ciara
"Iyakah, tapi aku nggak akan menyerah mas Abi. Namanya cinta kan harus diperjuangkan." Ciara tersenyum manis
Abidzar dan Jihan hanya saling pandang
Ciara
"Yaudah deh, kalau begitu. Saya pulang duluan ya mas Abi."
Ciara menatap Jihan dengan remeh
Ciara
"Dan kamu, Jangan berbangga dulu ya. Karena bagaimanapun abidzar itu akan tetap menjadi suami saya."
Jihan
"Ohya, percaya diri sekali anda Nona."
Ciara
"Iya dong, harus percaya diri. calon istrinya mas abidzar kan harus tampil cantik dan elegan."
Setelahnya Ciara berjalan meninggalkan keduanya dengan Langkah angkuh
Jihan
Jihan melongo melihatnya
Jihan
"Calon istri bapak?"
Abidzar menatap Jihan dengan kesal
Dosen Galak
"Masuk, hukuman kamu belum selesaikan."
Dosen Galak
Abidzar memasuki ruangan Nya diikuti oleh Jihan
Dosen Galak
"Ohya yang masalah yang tadi, terimakasih banyak ya, sudah mau berpura-pura jadi calon istri Saya." Abidzar menatap Jihan begitu dia duduk dikursi kerjanya
Jihan
"Hemm iya pak, sama-sama." Jihan menatap dosennya dengan senyum paksa
Setelahnya abidzar memberikan tugas pada Jihan seperti yang semalam juga
"Kebakaran... kebakaran, cepat lari, Cepat..," Suara kegaduhan dari luar ruangan membuat abidzar dan Jihan saling pandang
Jihan
"Bapak dengarkan, ada yang bilang kebakaran?" Jihan bertanya dengan panik
Dosen Galak
abidzar menggangguk berusaha untuk tetap tenang
Dosen Galak
"Kamu Tunggu sebentar disini ya, saya ingin memastikan terlebih dahulu." Abidzar berkata dengan lembut hingga Jihan menggangguk pasti
Begitu melihat abidzar keluar, Jihan jadi takut sendiri karena berada didalam ruangan tertutup sendirian
Dosen Galak
"Astaghfirullah, ternyata benar ada kebakaran pak! Saya pikir bercanda."
Dosen kampus
"Iya pak, saya pikir juga begitu. Baiklah kalau begitu saya Duluan ya pak! Soalnya istri saya masih menunggu didalam."
Dosen Galak
Abidzar menggangguk lalu berjalan cepat menuju ruangan Nya
Dosen Galak
"Jihan ayo keluar dari sini, jangan lupa tas kamu! Sebelum kebakaran menyebar kemana-mana." abidzar berkata sembari memasukkan laptopnya kedalam Tas
Jihan
"Jadi betul kebakaran pak? Astaghfirullah."
Dosen Galak
"Iya Jihan, kita harus pergi cepat dari sini."
Setelah membereskan barang-barangnya, abidzar menatap Jihan dengan saksama
Dosen Galak
Segera abidzar mengambil alih tas ransel Jihan. "Biar saya yang bawa."
Jihan
"Maaf pak, merepotkan anda." Jihan tersenyum kaku
Abidzar memilih diam, segera dia berjalan menuju pintu, Jihan mengikuti dari belakang
Sesampainya diparkiran abidzar menyuruh Jihan untuk masuk kemobil agar dia yang mengantar, Mau tak mau Jihan mengiyakan saja.
Beruntung kebakaran itu cepat ditangani hingga tidak menyebar kemana-mana.
Comments