Vina sedang bersiap hendak ke kampus. Ia berdandan dengan sangat cantik nya. Setelah selesai merias diri ia pun tersenyum ke arah cermin merasa puas akan riasan di wajah nya. Senyum nya yang manis melengkapi indah nya pagi itu.
Ia pun kelur dari kamar nya dn menuruni anak tangga. Ia langsung bergabung dengan orang tua nya yang sudah menunggu nya di meja makan untuk sarapan bersama..
"Pagi Ma, Pa.." Sapa Vina sambil menciumi pipi kedua orang tua nya dengan senyuman yang sumringah di wajah nya.
"Pagi sayang.." Jawab Papa dan Mama kemudian keduanya pun saling menatap dan tersenyum sambil menaikkan kedua alis mereka. Karena merasa Vina terlihat ceria sekali. Mereka pun kemudian menatap Vina sambil menggeleng geleng kan kepala nya. Vina yang sudah duduk di kursinya dan mulai mengambil sebuah roti pun terlihat malu dengan tatapan kedua orang tuanya yang terlihat menyelidik itu.
"Kenapa sih.. Ada yang aneh ya dengan muka aku.." Vina mengusap usap kedua pipinya seakan merasa bedak yang di pakai masih belum menempel rata.Mama semakin tertawa saat melihat tingkah putrinya itu.
"Aaahh Mama jangan ketawa dong. Kasih tahu ada apa dengan wajah Vina.." Rengek Vina hingga membuat Pak Tono ikut tertawa. Vina melihat orang tua nya malah semakin tertawa merasa kalau memang ada yang aneh dengan dirinya Ia pun memonyongkan bibir nya sambil cemberut. Melihat expresi anak nya yang sudah berubah pun membuat kedua orang tuanya menghentikkan tawa mereka dan langsung menatap Vina.
"Kok cemberut.." Mama menatap Vina sambil menahan tawa agar anak nya tidak cemberut lagi..
"Habis nya Mama sama Papa asyik ketawa. Emang nya Ada yang aneh dengan wajah Vina." Ucap Vina sedikit kesal.
"Iya.. Maafin mama ya. Mama cuma seneng aja lihat kebahagiaan yang terpancar di wajah kamu sayang " Mama mulai mengoles selai di roti dan memberikan nya pada Vina. Vina menerima roti nya dengan cemberut.Ia pun mulai memakan rotinya.
"Ada yang membuat kamu bahagia hari ini..? Tanya Pak Tono kemudian.
"Emm Hehehehehe.." Vina hanya cengengesan hingga membuat Mama tertawa kembali.
"Kenapa sih Ma. Tertawa terus.." Ucap Vina semakin kesal.
"Kamu mau ketemu Indra ya.." Tebak Mama sambil menatap nya penuh selidik.
"Kata siapa, gak. Aku gak mau ketemu dia." Vina teihat gugup sehingga kedua orang tua nya tersenyum geli.
"Ya. Kalau ketemu karena kita satu kampus. Jadi pasti ketemu." Terang Vina seakan tak mau mengakui kalau emang dia ingin menemui Indra.
"Ya. Asal kamu gak malu aja ketemu dia dengan rambut yang masih berantakan seperti itu." Ucap Pak Tono tak bisa menahan tawanya.
Vina menatap ke arah Mama dan Papa nya dengan tatapan kesal. Ia pun meraba raba rambut nya. Dan ia mendapatkan roll an nya masih terpampang di tengah rambut nya. Ahh.. Akhirnya Vina tersadar kalau ia belum menyisir rambutnya. Dengan cepat ia pun berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar nya. Mama dan Papa hanya tertawa melihat anaknya sambil menggeleng geleng kan kepalanya.
Di dalam kamar. Vina langsung mengambir sisir dan merapihkan rambutnya ia mendengus kesal sambil menggerutu. " Bukan nya bilangin ke gue kalau rambut gue masih belum rapih.." Malah ngetawain anak nya. Orang tua macam apa itu yang tertawa disaat anak nya kesusahan seperti ini."
Selesai merapikan rambutnya ia pun bercermin kembali kali ini ia memutar tubuh dan kepalanya agar tak ada celah lagi untuk orang lain menertawakan nya bahkan orang tuanya yang suka menggoda nya.
Vina pun turun kembali menuruni anak tangga dengan lari lari kecil. Kemudian ia mengambil taa yang ada di kursi nya tadi.
"Eeh mau kemana.??" Tanya Pak Tono saat melihat Vina mengambil tas nya.
"Ke kampus." Jawab Vina singkat.
"Sarapan nya belum di habisin.." Pak Tono menatap Vina dengan serius.
"Udah telat Pa. Nanti aja Vina lanjutin du kampus ya..Bye." Vina langsung pergi tanpa menunggu perkataan dari Papa nya lagi. Pak Tono hendak berteriak namun di hentikkan oleh Mam anggi.
"Sudahlah Pa. Biarin aja. Kaya gak pernah merasakan muda aja" Ucap Mama sambil tersenyum malu.
"He.. Ya sudahlah." Ucap Pak Tono sambil menarik nafas panjang.
Vina pun pergi ke kampus di antarkan oleh supir pribadi Papa nya. Nampak terlihat kebahagiaan smdi wajah nya. Ingin sekali ia berjumpa dengan Kekasih yang sudah ia acuhkan beberapa hari ini dan memeluk nya. Ia pun terus menatap jam di tangan nya sambil terlihat gusar dan meliht lihat jalanan yang terlihat macet. Ia pun mendengus kesal karena kemacetan yang menghambat waktunya untuk segera bertemu dengan Indra.
Setelah lama menunggu akhirnya mobil nya pun bergerak maju walaupun bisa bergerak namun jalan nya tidak terlalu cepat akibat masih terlihat maacet walaupun tidak semacet tadi.
Setiba nya di kampus senyum Vina tak lepas dari bibir nya. Ia pun segera mencari keberdaan Indra.nNamun ia masih belum menemukan Indra di mana mana. Akhirnya ia bertemu dengan Dimas. Ia pun langsung menghampiri Dimas dengan setengah berlari.
"Dimm." Teriak Vina sehingga menghentikkan langkah Dimas dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Vina.. Ada apa?"
"Lo liat Dimas gak..?"
"Lah ini gua.." Ucap Dimas sambil menunjukan wajah yang aneh.
"Eh,, sorry sorry.Maksud gue Indra." Ucap Vina masih dengan nafas yang terengah engah..
"Ohh. Si Indraaaa" Ucap Dimas sambil mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Dimana dia.."
"Tadi sih lagi di taman.Dia lagi....
"Makasih ya.." Ucap Vina sambil berlari ke arah taman tanpa menunggu perkataan dari Dimas.
"Yah..udah kabur aja. Padahal kan gua mau bilang kalau si Indra di taman lagi.. Aduuh sialan bisa kacau nih.." Ucap Dimas saat tersadar apa yang akan terjadi. Ia pun menepuk nepuk kepala nya dan langsung berlari mengejar Vina.
Vina terus berlari ke arah taman. Senyum terus mengembang di bibir nya. Ia ingin segera melepas kerinduan dan mengatakan kalau ia sudah tidak membenci Indra lagi. Ingin segera cepat di taman sehingga Vina tak menyadari ada pundukan tanah di dekat taman sehingga ia terjatuh dan membuat lutut nya berdarah.
"Aawww." Teriak Vina kesakitan sambil memegangi lutut nya yang berdarah. Namun ia langsung berdiri kembali dan ingin segera menemui Indra.
DEGGG
Tiba tiba jantung Vina serasa berhenti berdetak saat ia melihat sosok yang ingin ia temui sedang berpelukan dengan wanita lain. Dan wanita itu adalah Dewi. Vina diam tak bergerak seolah waktu juga ikut berhenti. Perasaan nya sangat kacau ia merasa kecewa dengan apa yang ia lihat. Dimas pun sampai di belakang Vina. Raut wajah kekesalan teihat jelas di wajah nya. Ia melihat Vina dengan raut wajah yang sulit di artikan. Sementara Vina selangkah demi selangkah memundurkan langkah nya. Kemudian ia berlari menjauh dari keberadaan Indra dan Dewi. Hati nya seakan hancur rs sakit di dengkulnya seolah tak terasa lagi. Ia lebih merasakan sakit di hati nya. Ia tak memperdulikan tatapan orang orang yang melihat nya menangis. Yang ingin ia lakukan saat itu adalah cepat cepat pulang ke rumah,, dan menjauh dari Indra
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
ARSY ALFAZZA
🌿🌿
2020-11-03
1
🌙Huma✨️
like 💚💚💚
2020-10-18
1
Erlina Khopiani
semangat kak mega
2020-10-11
1