Semenjak hari itu, Naomi memilih untuk tidak menganggap Gilang ada di dekatnya. Dia juga enggan melihat wajah Gilang meski setiap pagi mereka selalu bertemu di depan rumah atau di jalan menuju tempat bekerja.
Naomi juga akhir-akhir ini terlihat semakin dekat dengan Raka karena setiap pulang bekerja dia terpaksa pulang diantarkan Raka karena cuaca di desa yang sering hujan dan tidak memungkinkannya pulang berjalan kaki.
Kedekatan Naomi dan Raka membuat Sindy semakin panas saja melihatnya. Karena tak dapat menahan rasa kesalnya sendiri, Sindy memberanikan diri menghampiri Naomi ke kontrakannya sore itu setelah tak lama Raka pergi meninggalkan rumah Naomi.
“Mbak Sindy. Ada apa datang kemari?” Tanya Naomi ramah.
Sindy sama sekali tak menunjukkan keramahan pada Naomi. Aura wajahnya nampak gelap dan menunjukkan kalau suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.
“Aku minta sama kamu supaya jangan dekat dengan Mas Raka lagi. Karena Mas Raka itu sudah dijodohkan sama aku dan dalam waktu dekat ini kami akan menikah!” Seru Sindy.
Naomi terkesiap. Kaget mendengar perkataan Sindy. “Benarkah begitu?” Tanyanya memastikan. Pasalnya, Raka selalu mengatakan padanya jika dirinya masih single.
Sindy mengangguk cepat. “Sebagai pendatang di desa ini, kamu gak usah kecentilan deh. Apa lagi berusaha menarik semua perhatian lelaki di desa ini pada kamu. Sadar diri kalau kamu cuma pendatang. Bersikaplah layaknya pendatang yang baik di sini!” Tegas Sindy.
Naomi sedang tidak ingin berdebat. Dia mengangguk saja mengiyakan perkataan Sindy. Cukup Naomi ambil kesimpulan untuk selanjutnya dia jangan lagi menerima tawaran dari Raka untuk pulang bersamanya.
Di sebelah rumah kontrakan Naomi, Gilang yang sudah berada di rumah mendengar percakapan Naomi dan Sindy. “Ternyata mereka bukan pasangan kekasih.” Gumam Gilang mengambil kesimpulan dari perkataan Sindy pada Naomi barusan.
Setelah kepergian Sindy, Naomi masuk ke dalam rumah dan mengatur napasnya yang terasa sesak. “Kenapa aku merasa makin tak nyaman saja tinggal di sini. Aku rasanya mau pulang saja.” Keluh Naomi. Padahal dia merasa sudah menjadi pendatang yang sangat baik di sana. Tidak pernah membuat masalah dan bersikap sewajarnya. Tapi masih banyak saja warga yang tidak menyukai kehadirannya. Terutama kaum wanita muda seperti Sindy yang merasa tersaingi oleh dirinya.
“Mama, ayo jemput Naomi. Naomi udah gak betah di sini.”
**
Beberapa hari setelah memberikan peringatan pada Naomi, Sindy terus memperhatikan gerak-gerik Naomi. Meski Naomi menuruti perintahnya gar tak lagi pulang bersama Raka. Namun, Naomi masih terlihat dekat dengan Raka saat sedang berada di puskesmas.
“Dia memang tidak bisa dikasih tahu dengan bahasa manusia!” Gerutu Sindy. Kini, Sindy jadi berpikir keras bagaimana caranya agar Naomi segera pergi dari desa secepatnya sebelum masa pengabdiannya selesai.
Malam itu, hujan terdengar turun sangat deras. Naomi yang sedang berada di dalam kamar meringkuk ketakutan sambil memanggil-manggil nama mamanya. Hal seperti inilah yang sangat ditakuti oleh Naomi. Tinggal sendirian tanpa ada orang yang bisa menenangkan dirinya ketika ketakutan seperti saat ini.
Di tengah ketakutan yang melanda, Naomi turun dari atas ranjang menuju dapur hendak membuat makanan untuk mengisi perutnya yang terasa lapar dan sudah meronta-ronta sejak tadi meminta diisi. Meski takut, ternyata efek dari kelaparan membuat Naomi melupakan rasa ketakutannya.
Saat kakinya baru saja masuk ke area dapur, Naomi berteriak keras melihat sebuah tikus besar yang terlihat sedang berlari di atas meja kompir.
“Tikus!!” Teriakan Naomi yang terdengar cukup keras terdengar oleh Gilang yang juga sedang berada di dapur kontrakannya.
“Kenapa dia ribut sekali!” Gumam Gilang. Awalnya Gilang tidak memperdulikan teriakan Naomi. Namun, saat teriakan tersebut terdengar makin keras karena efek hujan yang sudah mulai reda. Membuat Gilang kesal dan akhirnya memutuskan keluar dari dalam rumah kontrakannya menuju kontrakan Naomi.
Di saat bersamaan, Sindy yang sedang melintas di depan kontrakan Naomi menggunakan motor dibuat heran melihat Gilang yang sedang berdiri di depan pintu kontrakan Naomi.
“Ngapain Mas Gilang berada di sana. Apa jangan-jangan dia mau berbuat mesum dengan Naomi?” Dari pada memastikannya langsung pada Gilang, Sindy memilih untuk terus melajukan motor miliknya menuju rumah.
“Aku harus sampaikan hal ini pada pemuda desa supaya menggrebek mereka!” Senyuman licik seketika terbit di wajah Sindy setelah memikirkan ide untuk membuat Naomi pergi dari desanya.
Sementara itu, Gilang masih berada di depan rumah kontrakan Naomi sambil mengetuk pintu. Karena suara teriakan Naomi terdengar masih keras dan membuat dirinya penasaran apa yang terjadi pada wanita itu, membuat Gilang tanpa pikir panjang membuka handle pintu. Tak disangka pintu langsung terbuka begitu saja. Sepertinya tadi Naomi lupa mengunci pintu rumahnya.
“Hei, ada apa denganmu?” Tanya Gilang setelah berada di dekat Naomi yang sedang berusaha memukul tikus dengan sapu.
Naomi terkesiap melihat Gilang yang kini berada di dalam rumahnya dan berada dengan jarak yang sangat dekat dengannya. “Kamu! Ngapain kamu masuk ke kontrakan aku?!” Seru Naomi. Ketakutannya pada tikus seketika sirna begitu saja karena melihat keberadaan Gilang di rumahnya. Apa lagi saat ini kondisinya sedang tidak menggunakan hijab. Membuat Gilang bisa melihat auratnya.
“Seharusnya aku yang bertanya, ngapain kamu ribut-ribut dari tadi. Buat telinga orang sakit aja mendengarnya tahu gak!” Seru Gilang balik.
Naomi menatap sebal wajah Gilang. Kenapa justru pria itu yang marah pada dirinya. Padahal dirinya yang harusnya marah karena Gilang masuk ke dalam rumahnya tanpa permisi.
“Aaa!” Belum sempat Naomi mengeluarkan suara memarahi Gilang balik, dia sudah berteriak saat merasa tikus yang sejak tadi berusaha ia musnahkan lewat di kakinya. Spontan saja Naomi langsung mendekat ke arah Gilang dan melompat kepelukan Gilang.
“Hei, apa yang kamu lamukan!” Gilang tersentak kaget karena Naomi tiba-tiba saja naik melompat dan memeluk tubuhnya.
“A-aku takut. Tolong jangan lepaskan aku!” Balas Naomi. Efek rasa takut yang menghantui, membuat Naomi tidak bisa menggunakan akal sehatnya agar tidak bersentuhan dengan Gilang.
“Sialan. Sungguh merepotkan sekali dia!” Gerutu Gilang dalam hati. Meski kesal, tapi Gilang membiarkan Naomi tetap memeluk tubuhnya dengan posisi tangannya menahan tubuh Naomi agar tidak turun.
Brak!!
Gilang dan Naomi yang masih berada dalam posisi yang cukup intim tersentak kaget mendengar pintu rumah yang tiba-tiba didobrak dari luar dan memperlihatkan banyak warga di sana.
“Apa yang sedang kalian lakukan?!” Seru salah satu warga yang kaget melihat kondisi Gilang dan Naomi saat ini. Raka yang tadi ikut memastikan perkataan Sindy kalau Gilang masuk ke dalam kontrakan Naomi ikut dibuat kaget melihat wanita yang disukainya kini berada di dalam pelukan seorang pria.
Brugh
Gilang seketika melepaskan pegangan tangannya di tubuh Naomi hingga membuat tubuh Naomi terjatuh di atas lantai.
“Sungguh memalukan. Kalian membuat mesum di desa kami!” Seru Sindy yang kini semakin menggebu mengompori warga agar tersulut emosi melihat perbuatan Naomi dan Gilang.
***
Hari ini update 2 bab. Semoga semakin banyak dukungannya. Shy makin banyak lagi uplod babnya🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Nurma septina🤍💙
Apes kmu Naomi,gara gara kmu takut tikus terus kmu jdi teriak" karna takut,jadilah Gilang denger teriakan kmu terus dia langsung nyelonong aja masuk kontrakan kmu tanpa ketuk pintu.
Eh c tikus nya mlh nyamperin kaki kmu,jdi deh kmu kaget dan langsung meluk Gilang karna takut.
Eh warga dateng ngeliat semuanya,karna dikomporin.C Sindy
2025-03-11
2
Nurma septina🤍💙
Disini biang keroknya c Sindy nih,,ngapain cba dia pke ngajakin warga utk menggerebek kontrakan nya Naomi.
emang dasarnya dia benci banget sama Naomi,mkanya begitu ada celah utk menyingkirkan Naomi dia langsung beraksi.
2025-03-11
2
Mak Lyly
padahal kalo di kampung aku kalo sama dokter tu ya orang2 teh pada segen gk ada yg ngelunjak sebab dokter pendatang biasa nya ramah2
2025-03-11
2