You, It'S You
01
Wanita itu telah berkali-kali berteriak dari lantai bawah, berharap sang anak akan terbangun oleh panggilannya, namun usahanya sia-sia sejak 30 menit yang lalu.
Gadis dengan rambut dikuncir kuda itu berdecak sebal lantas bangkit dari kursi tempatnya duduk dan pergi menuju tangga.
Intan Permata Mutiara
Kebo! Tidur aja kerjanya. Kapan kaya kalau gini terus?
[Berkacak pinggang, cemberut.]
Argantara Dewangga
Udah kaya, jangan nambah pusing, Lo.
[Menenteng handuk di pundak, turun dari tangga dan melewati sang adik.]
Argantara Dewangga
Morning, Ma.
Tania Mahadewi
Kamu ini, udah mau jam tujuh masih aja mikir buat tidur. Sana mandi!
Wanita itu terlalu sibuk dengan bekal putranya hingga tak memperhatikan raut datar sang anak.
Pemuda bernama Arga itu melengos pergi ke kamar mandi. Tak lama setelahnya pergi, seorang pria dengan setelan rapi duduk di meja makan.
Tania Mahadewi
Ini punya Papa, ini punya Arga. Lalu ini punya Intan. Awas, jangan sampe ketuker.
Sontak ketiganya menoleh pada arah pintu depan. Ada yang membunyikan bel rumah.
Argantara Dewangga
Suruh mereka nunggu, Dek!
[Menyahut dari kamar mandi.]
Intan Permata Mutiara
Ish, dasar beban. Pasti Lo yang terakhir! Gue taruhan 50 ribu!
[Bangkit lagi dari kursi dan melengos pergi.]
Argantara Dewangga
100 ribu kalau gue kalah!
[Sahur dari kamar mandi.]
Intan Permata Mutiara
Kets, dong! Lo udah janji!
[Sahut dari depan, lalu membuka pintu.]
Argantara Dewangga
Curang!
Tania dan Raga bersitatap satu sama lain, lantas tersenyum tipis seraya geleng-geleng kepala.
Di depan, Intan menyambut beberapa pemuda yang datang dan melengos masuk begitu saja sebelum ia izinkan.
Intan Permata Mutiara
Sama aja.
[Roll eyes, lalu kembali ke belakang.]
Setibanya di meja makan, Intan mendapati kursinya telah diduduki oleh seseorang yang dengan tidak tahu malu juga ikut sarapan bersama Mama dan Papanya.
Intan Permata Mutiara
Fahmi! Kursi gue!
[Menggoyangkan kursi diduduki Fahmi.]
Fahmi Kurniawan
AaaAaAA~ Ham!
[Berusaha makan ayam dalam keadaan berguncang.]
Intan Permata Mutiara
Ayam gue!!
Tania Mahadewi
Gimana, Fahmi?
Fahmi Kurniawan
As usual, Tan. Enak pake banget.
Fahmi Kurniawan
[Menoleh ke Raga dan tersenyum.]
Cobain juga, Om.
Raga Pranaja
[Membalas dengan senyuman.]
Intan Permata Mutiara
Asem! Lo bukan bagian keluarga gue!
[Menarik Fahmi agar turun dari kursi.]
Fahmi Kurniawan
Bentar lagi juga bakal gue lamar Lo. Tenang aja.
Intan Permata Mutiara
Ergh..
[Tiba-tiba berhenti bergerak, melepaskan Fahmi.]
Tak ingin memperpanjang masalah, Intan memilih duduk di sisi bangku yang lain. Meski ia harus berhadapan dengan Fahmi sekarang.
Gadis itu berusaha sekuat mungkin menahan senyumnya, meski begitu ia sadar tak akan begitu berpengaruh. Pipinya memerah, Intan dapat merasakan panas di pipi dan telinganya dan itu pasti memerah!
Fahmi tak melepas pandangannya dari Intan. Intan mengelak.
Argantara Dewangga
Masih pagi, Wan.
[Menggantung handuk di leher.]
Arga melihat sekitarnya. Menatap satu-persatu dari temannya yang datang.
Argantara Dewangga
Alby mana?
Andhika Diaksara
Udah duluan.
Argantara Dewangga
Katanya mau barengan.
Andhika Diaksara
Ngga tau tuh. Kepepet pulang kampung. Katanya ketemuan disana aja nanti.
Argantara Dewangga
Lo tau jalannya?
Andhika Diaksara
[Geleng kepala.]
Argantara Dewangga
[Tepuk jidat.]
Fahmi Kurniawan
Kan di share lock sama si Alby. Easy itu, selama kita ngga buta map.
Andhika Diaksara
Daerah pedesaan pake google map? Nyasar ke hutan iya kali.
Fahmi Kurniawan
Eits, tenang aja. Google gue udah up to date alias update. Sans.
Argantara Dewangga
Fauza, Cantika gimana?
Andhika Diaksara
Jemput katanya.
Fahmi Kurniawan
Tasya ngga Lo tanyain?
Intan Permata Mutiara
Heh! Ngga usah sebut nama babi jelek itu lagi! Jijik gue liat dia godain Arga mulu!
Fahmi Kurniawan
Iyain. Arga Lo ganteng, gue mah apaan? Hidup aja udah bersyukur.
[Memegang dada dramatis.]
Intan Permata Mutiara
Apaan sih.
[Melirik sinis Fahmi.]
02
Mobil jep yang mereka gunakan tak begitu membantu selama perjalanan yang panjang ini.
Minggu pagi yang kacau, ban bocor dan sama sekali tak ada ban cadangan. Tak ada bengkel bahkan sekecil peralatan juga tak ada satupun.
Arga tak berhenti mengumpat pada Fahmi yang begitu ceroboh dengan tingkah lakunya. Tanpa peralatan, tanpa ban cadangan.
Entah apa yang akan mereka lakukan di antah-berantah seperti ini.
Hanya ada jalan beraspal yang lurus, dan hutan di sisi kanan-kiri mereka.
Tanasya Anggraini
Caaannn~
[Kembali meraih lengan Cantika.]
Cantika Jelita
Gue risih, Syaaa!
[Menarik lengannya kembali.]
Tanasya Anggraini
Gue takut..!
Cantika Jelita
Ya makanya jangan ikut, apa juga gue bilang, hm? Ngeyel sih!
Tanasya Anggraini
Tapi gue mau deket terus sama Argaa, tapi Arga malah jauhin gue terus..!
Cantika Jelita
Ya sadar diri, keles. Arga ngga suka sama Lo. Jangan goblok jadi cewek!
Tanasya Anggraini
Caann! Lo tegaaa!
[Bersungut.]
Cantika Jelita
Damn sissy girl!
[Roll eyes.]
Fauza Sandria
Holy shit! Ngga ada internet, coy!
[Menaikkan hp, berputar ke segelas tempat.]
Cantika Jelita
Hp Lo gimana, Wan?
Fahmi Kurniawan
Lowbat.. Hehe..
[Menyengir canggung.]
Arga frustasi, tak satupun teman-temannya yang bisa diandalkan! Agra nyaris berteriak jika saja tidak melihat mobil pick up yang lewat.
Arga dan Dhika kompak melambaikan tangan ke arah mobil, dan mobil itu berhenti.
Kaca jendela turun, tampak supir yang menatap mereka dengan aneh lalu bertanya;
Supir : Kenapa? Kok diem bae dimari?
Andhika Diaksara
Mobil kita ban-nya bocor, Pak. Bisa kasih kita tumpangan ke Desa Tamansari, Pak?
Andhika Diaksara
[Menganggukkan kepala.]
Supir : Oh kebetulan saya juga mau pulang kesono. Hayuk naik aja, tapi dibelakang, yaa.
Arga dan teman-temannya hendak bernafas lega. Namun sissy girl paling beban disini malah menambah masalah.
Tanasya Anggraini
Ihh, kok pick up, sih? Eww.. Mana bau sapi lagi.. Ngga bisa, ya, kita pesen taksi aja gitu?
Supir itu menautkan keningnya, merasa sedikit tersinggung.
Mobilnya hendak melaju namun kompak Arga dan Cantika nekat berdiri di tengah jalan guna menghalangi.
Cantika Jelita
Dia bukan bagian dari kami, Pak. Bawa kami aja, dia kita tinggal.
Tanasya Anggraini
Cantikaa! Kok gitu ngomongnya sihhh??
Fauza Sandria
Argh, gue capek sama si manja ini. Tinggal ajalah.
[Menaruh bag didalam bak mobil lalu naik.]
Tanasya Anggraini
Ihh iya iya, Tasya ikut! Tapi gimana cara naiknya..?
Fahmi Kurniawan
Ya dipanjat, anjing.
[Naik ke bak mobil.]
Tanasya Anggraini
Tapi mobilnya ngga bakalan dicuri kalau ditinggal disini?? Kalau diderek sama orang gimana? Dijual?
Argantara Dewangga
Bacot Lo. Naik aja, bangke!
[Naik ke bak mobil.]
Tasya terpaksa ikut meski merasa jijik dan mau muntah setelah mencium aroma sapi. Ada juga kotorannya disana.
Tasya berpegangan pada batang besi, menghadap keluar dan bersiap-siap jikalau dia muntah.
Fahmi Kurniawan
Turun, njir! Terbang isi perut Lo nanti kena kita!
Mobil itu melaju dengan sangat cepat, tak menutup kemungkinan ucapan Fahmi menjadi kenyataan.
Tanasya Anggraini
Lemes..
[Duduk merosot, bersandar pada Arga.]
Argantara Dewangga
Apaan nih ganjen, tangkep!
[Mendorong Tasya ke Dhika.]
Andhika Diaksara
“...”
[Menangkap Tasya.]
Tanasya Anggraini
Kayaknya gue hamil deh. Hamil anaknya Arga..
[Mengusap perutnya, lalu bersandar di sebelah Cantika.]
Argantara Dewangga
Ngaco! Gue masih suci, begoo!
Tak ada yang peduli dengan kondisi Dhika, hanya Fauza yang memperhatikan namun juga canggung.
Fauza menatapnya. Dhika juga menatap Fauza.
Fauza Sandria
Mau gue elapin..?
[Tersenyum canggung.]
Andhika Diaksara
Ng-ngga.. Biarin aja..
“Aset gue disini..”
Fahmi Kurniawan
Elapin, Ja. Gosok juga ngga papa sampe bersih.
[Menyahut dari belakang.]
Andhika Diaksara
Ngga waras, Lo!
Fahmi tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Dhika. Juga melihat wajah Fauza yang memerah.
03
Desa Tamansari. Disana mereka turun dari mobil pick up yang mereka tumpangi setelah perjalanan selama 30 menit lebih lamanya.
Beberapa ada yang meregangkan badan mereka karena pegal, ada juga yang sibuk mencari internet sejak tadi, ada juga yang masih manja ada juga yang risih karena si manja.
Seseorang yang terlihat tidak asing berjalan mendekati mereka bersama seorang gadis dengan dress putih bercorak dedaunan hijau kecil. Lengan baju yang panjangnya se sikut dengan rambutnya kemerahan yang dikepang dan ditaruh di sebelah kanan depan.
Dia tersenyum dengan hangat kepada pendatang baru di desa.
Di belakangnya juga ada bapak-bapak dengan pakaian coklat khas bergaris, juga mengenakan blangkon bewarna senada dengan bajunya. Dia juga tersenyum pada mereka.
Pak Kades [Djoko]
Selamat datang, Saya sudah dengar dari Alby bahwa kalian akan KKN disini.
Pak Kades [Djoko]
Selamat datang di Desa Tamansari, Saya Djoko selaku Kepala Desa ingin secara langsung menyambut kedatangan kalian.
Mereka semua memberi salam dengan hormat. Setelahnya ketujuh remaja itu ditambah dengan Alby dan seorang gadis di sebelahnya mengikut langkah Pak Kades menuju balai desa.
Sepanjang perjalanan mereka disuguhkan dengan banyaknya pematang sawah hingga jauh ke ujung sana. Diujungnya terdapat sebuah perbukitan yang terlihat bewarna biru karena kontras.
Di sisi lain mereka juga melihat padang rerumputan yang luas, beberapa ekor sapi dan kambing mencari makan disana.
Ada juga Ayam yang menjaga keluarganya, berjalan terkadang juga berlari menghindari kejaran dari kucing dan anjing yang iseng dan penasaran pada sekelompok bulu berjalan itu.
Jam 9 tepat mereka tiba disana, namun udara masih terasa sangat segar dan sejuk.
Albyan Saputra
Hm?
[Menoleh.]
Fahmi Kurniawan
Cewek di sebelah Lo, kenalin ke gue dong.
Albyan Saputra
Big No. Dia udah ada yang punya, Lo ngga bakalan ada kesempatan.
Fahmi Kurniawan
Beuh, mentang si anak kades. Songong lu yew.
Beberapa saat berjalan mereka tiba di balai desa. Sebuah bangunan yang terlihat sederhana namun berkesan terletak disana.
Mereka dibawa masuk oleh Djoko, namun gadis yang mengiringi mereka berjalan bersama Alby tiba-tiba bersuara.
Larasati Fauziah
Laras mau balik dulu, Pak. Laras udah ada janji sama Ibu bantuin manen jagung di kebun, Pak.
Pak Kades [Djoko]
Nggih, ngga papa. Kamu lanjut aja.
Larasati Fauziah
Permisi, semua.
[Permisi dengan sopan lalu melenggang pergi.]
Fahmi Kurniawan
Namanya Laras.
[Bisik ke Arga.]
Argantara Dewangga
Gue juga tau.
[Memandangi punggung Laras yang mulai menjauh.]
Atensi mereka fokus pada gadis yang mulai menghilang itu. Aroma segar yang keluar dari tubuhnya benar-benar menenangkan.
Seperti aroma bunga yang jarang ditemui di kota-kota besar tempat mereka berada karena banyak yang kurang menyukainya.
Cantika Jelita
Gue jarang ketemu anak di kota pake parfum aroma itu. Ngga nyangka ternyata wangi juga.
Fauza Sandria
Kita coba beli di olshop? Minta anter kesini. Pasti ngga jauh beda.
Albyan Saputra
Beda, lah. Beda banget.
Albyan Saputra
Laras tuh bisa racik parfum sendiri, ngga ada yang jual.
Albyan Saputra
Lo bisa minta aja ke dia langsung, rumahnya ngga jauh dari sini.
Fauza Sandria
Tapi katanya mau ke kebun jagung, ya?
Albyan Saputra
Nanti kita kesana buat bantuin, sekalian ngenalin program kita. Banyak yang kerja di kebunnya.
Cantika Jelita
Dia yang punya?
Albyan Saputra
Almarhum bapaknya yang punya. Yaa, bisa dibilang punya dia sih sekarang.
Fahmi Kurniawan
Wah, kaya dong.
Pak Kades [Djoko]
Udah, ayo masuk. Kita bicara sebentar baru nanti kalian bisa susul Laras ke kebun.
Pak Kades [Djoko]
Bapak mau menyampaikan beberapa aturan desa pada kalian supaya masyarakat bisa menerima kalian disini.
Albyan Saputra
Desa gue warganya terlalu parnoan, maklum aja, yaa.
[Bisik pelan, masuk kedalam.]
Sisanya mengikuti Alby dari belakang memikirkan bangunan itu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!