“Tok, tolong belikan aku makan siang, dari pagi aku belum makan”
Setelah aku bisa berdiri, aku putuskan untuk mandi karena bau badanku bau sampah, ketika aku mandi si Antok nunggu di dalam kamar kosanku.
Memang aku suruh dia untuk nunggu di dalam kamar, karena kau takut terjadi sesuatu lagi ketika aku lagi mandi.
Hehehe tapi waktu mandi rasane kok bangga ya punya kuntila sebesar terong ungu, tak elos elos kayak ngelos koceng, rasanya bangga gitu hehehe. Meskipun aku nggak tau apa yang sudah terjadi sama diriku.
“Eh Ji, itu celana panjangmu apa sengaja nggak kamu kancingkan ta?”
“Ngawur, iki lho nggak muat Tok, liaten ta, aku nggak tau kenapa kok kuntilaku jadi sebesar ini”
“Lha biasane gimana lho Ji…. apa biasane nggak sebesar itu ta?
“Wis gak usah banyak bacot Tok, tolong belikan aku makan, awaku masih lemes rasane”
“Beli dua bungkus ya Ji, aku juga belum makan”
Aku tau Antok bukan dari keluarga yang berada, dia sering ke kosanku untuk sekedar minta di jajankan makanan.
Antok sangat ngirit makanan, karena kiriman uang dari orangtuanya kadang pas pasan, kosan dia nggak jauh dari kosanku, tapi dia sering ada di tempatku.
Antok akhirnya pergi keluar untuk belikan aku makan siang, dia memang baik, dia sahabatku mulai ketika kami awal kuliah.
Antok bukan orang yang suka bergaul, dia itu penyendiri, dan tidak banyak anak kampus yang mau bergaul dengan Antok.
Tadi dia sempat tanya kenapa kok celana jinsku nggak aku kancingkan, iya karena sekarang celanaku nggak ada yang muat, kuntilaku membesar berkali kali lipat daripada biasanya.
Apalagi sebagian besar celanaku model ngapret, aku nggak suka celana panjang yang agak sedikit baggy.
Kenapa ya bagian belakang saket sekali sampai saat ini, dan hingga sekarang aku nggak bisa buang aer besar sama sekali.
Siang ini keadaan kosan mulai rame, karena beberapa teman kos ada yang datang dan mereka bawa temannya kesini.
Biasanya mereka nunggu jadwal kuliah sore hari, jadi daripada pulang, mending mereka nunggu di kosan saja.
Siang sampai sore ini nggak ada kejadian apa-apa pada diriku, hingga sore hari si Antok aku suruh pulang, dari pada disini ngabisin jatah duwekku.
“Kenapa ya aku ini”
Aku berpikir keras dan berusaha untuk mengingat apa yang terjadi ketika aku pingsan atau sedang tidur, tapi tetap aku nggak bisa dapat alasan sama sekali.
Apa ada yang bius aku, terus ada yang ngoperasi kuntikaku sampai sebesar ini?
Tapi tadi pagi waktu aku akan mandi kan kuntilaku nggak ada, dan sekarang ada dengan kondisi jumbo, koyok es teh jumbo harga 3000 aja.
Mbuhlah, udah malam juga, aku harus keluar untuk cari makan malam. Terpaksa aku harus pakai sarung, karena celana pendek dan celana panjangku nggak ada yang cukup sekarang.
“Cak Jo, nasi goreng satu kayak biasane ya”
“Ok Ji, antri yo, iki sik akeh garapan”
Cak Jono nasi goreng jawa andalanku kalau malam hari, dia dan rombongnya mangkal di pinggir jalan dari sore hingga tengah malam.
“Ji, dengaren kamu pakek sarung, sudah tobat, mau ke masjid ta Ji?”
“Jam piro iki cak Jo, mosok jam segini ke masjed”
“Lha dengaren kamu pakek sarung hehehehe”
“Nggak papa cak Jo, lagi kepengen pakek sarung aja kok “
“Pakek sarung ya sekalian songkok dan baju koko Ji, songkoknya buat nutupi butakmu”
“Lheh nggateli sampeyan iki cak Jo, wis ndang buatkan sego gorenge cak”
“Hemboook Ji, kamu lagi nyimpen opo itu dibalek sarungmu, kok koyoke ada yang nggantung JI”
Aku nggak pedulikan yang diomongkan Cak Jo, karena perhatianku pada sosok yang sedang ada seberang jalan.
Aku koyoke tau siapa orang yang sedang akan menyeberang itu, tapi sampai detik ini aku nggak bisa menemukan pikiran siapa yang ada di seberang jalan itu.
Cuma rasane pernah kenal dan pernah tau saja.
“Lapo Ji, kamu lagi liat siapa?”
“Iku lho cak Jo, yang diseberang itu siapa?”
“Lakik opo perempuan Ji, kalok lakik aku emoh liat Ji hahahahah” Jawab cak Jo tanpa perhatikan siapa yang sedang aku lihat
“Yancok cak, iku lho cak, ojok ndelok wajan tok ae cak”
Aku menunjuk ke sosok yang sedang berdiri di seberang jalan, orang itu sedang berdiri di dekat bak sampah kampus.
Kayaknya sih mau menyeberang.
Sosok itu nggak seperti kebanyakan orang yang ada disini, karena sosok itu menggunakan pakaian lusuh.
Tapi yang bikin aku tertarik melihatnya karena dia membawa cangkul dan yang aneh lagi di tangan kirinya ada sebuah obor yang apinya menyala.
“Gak ada siapa siapa disana Ji hahaha, tambah butak, otakmu tambah gendeng Ji”
“Ndasmu cak, iku lho cak, onok wong aneh, mosok bawa cangkul dan bawa obor”
“Oh butak goblik, gak onok uwong nang kono tak butak, koen iku gendeng mangan semer tak butak!”
Aku nggak paham yang diomongkan cak Jo, tapi bener, orang aneh itu masih berdiri disana, dan yancok, sekarang orang itu melihat ke arahku!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
αʝιѕнαкα²¹ᴸ
apakah dia tokoh 'aku pacul kepalamu?'
2025-01-25
2
Yuli a
jangan lama-lama dikamar mandi lagi ji.... apalagi berfantasi di kamar mandi... nanti kamu disesatkan lagi Lo...
2025-02-02
1
Al Fatih
Apa pariji d rudapaksa sama setan yaa.....
2025-01-25
2