“Ayo masuk nak Pariji, tapi ya rumah bapak cuma seperti ini nak”
Aku nggak jawab ajakan pak Wito, aku hanya memandang keadaan dalam rumah yang gelap tanpa cahaya.
Pak Wito sudah ada di dalam rumahnya, sementara aku masih berdiri di depan pintu rumah. Aku merasa ada yang aneh di rumah ini, tapi nggak tau apa yang aneh.
Ruangan dalam rumah ini gelap, sangat gelap, tidak ada cahaya sama sekali, dan baunya itu lho bau pengab dan apa ya, eh kayak bau pandan gitu.
“Oh gelap ya nak, sebentar bapak nyalakan lampu ubliknya dulu hehehe”
“I..iya pak”
Siyal, pak Wito kok bisa tau kalau aku nggak mau masuk karena gelap. Nggateli chok, suara cekikikan pak Wito kok aneh, suara terkekehnya itu aneh.
Benar, dalam hitungan detik ada cahaya lampu dari dalam rumah, cahaya temaram dari lampu ublik mengakibatkan aku bisa melihat bagaimana keadaan dalam rumah pak Wito.
Cuma hitungan detik lho, kok secepat itu, dia nyalakan lampu minyaknya, apa disini lampu minyak atau ublik itu ada saklarnya.
Tapi aku tetap di depan pintu, aku nggak ada keberanian untuk masuk ke dalam rumah, meskipun sekarang keadaan di dalam rumah sudah lumayan terang.
Dari depan pintu sini, aku nggak lihat tidak ada perabot rumah didalam sana, cuma ada selembar tikar anyaman aja, dan lantai rumah pun dari tanah liat.
“Jangan berdiri di depan pintu nak, ayo masuk, keadaan di luar rumah nggak seperti yang nak Pariji kira”
“Di luar berbahaya dan dingin, ayo masuklah ke rumah dulu nak”
Pak Wito berkata dengan nada yang agak membentak dan sedikit ancaman. Agaknya aku dipaksa untuk masuk ke dalam rumahnya karena sebab yang mungkin berbahaya untukku.
Akhirnya aku melangkahkan kaki masuk kerumah pak Wito.
Tapi ada yang aneh ketika kakiku menginjak lantai tanah rumah pak Wito.
Perasaanku jadi aneh, entah gimana aku merasakan kehangatan, dan rasanya aku tidak asing dengan rumah ini.
Ada rasa gembira, tidak ada rasa ketakutan, hanya rasa gembira, senang, dan rasa kangen yang menyelimuti perasaan ku
“Pak….”
“Kenapa nak Pariji, kamu udah tenang, sudah merasa nyaman kan nak”
“Ayo sini duduk di sebelah om”
Tuwaeeek chok!, ndadak kok dia sebut dirinya dengan om, waduh ada yang nggak beres iki, tapi anehnya aku seperti dituntun untuk masuk ke rumahnya.
Di tengah rumah, ada tikar yang memanjang. Pak Wito duduk bersila di atas tikar menghadap ke pintu. Dia tersenyum sambil menepuk nepuk telapak tangannya ke permukaan tikar, seolah mengajakku duduk di atas tikarnya.
Nggak tau, aku merasa sangat bahagia ketika pak Wito menepukkan telapak tangannya ke tikar, aku merasa sangat senang.
Kulangkahkan kakiku mendekati tikar.
Aku gembira, senang, dan sekarang ada rasa kangen yang luar biasa ketika melihat pak Wito yang ada di tengah tikar.
Pak Wito tersenyum, dan senyuman itu membuat jantungku semakin berdetak keras, nafasku pun semakin memburu.
“Ayo duduk di sebelah om sini”
Suara pak Wito kenapa rasanya semakin berwibawa, berat, penuh percaya diri, dan tenang seperti air yang dalam dan itu semua membuat aku semakin merasa tenang dan terayomi.
Dia memang tua, yeleck, tapi aku merasa semakin ayem ketika makin dekat dengan dirinya.
Otakku nggak kuasa untuk menolak ajakan untuk duduk di sebelah om Wito, eh jhanchok, kok aku sekarang nyebutnya kok jadi om sih.dan anehnya perasaanku menggebu gebu, seperti pak Wito ini orang yang sudah lama nggak aku temui.
Bukan cuma orang yang sudah lama nggak aku temui, aku merasa bahkan pak Wito ini orang yang sangat ingin aku temui secepatnya!
Kulangkahkan kakiku semakin mendekat ke arah tikar dimana pak Wito sedang duduk bersila.
“Jangan cuma berdiri disana dong, ayo sini duduk di sebelah om, nanti om akan ceritakan cerita nabi nabi”
“Eh nggak mau pak eh om, nggak mau”
“Nanti kita ke toko buku, setelah dari toko buku nanti kita cari makan hehehehe”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
αʝιѕнαкα²¹ᴸ
cerita nabi2 jare, tuuwwaeeekkk coook!!! 😂
2025-01-23
2
nath_e
🤔apa iya miara musang bulan
2025-01-23
1
nath_e
curiga ni si om keknya rada Laen😅masa iya cerita nabi2 keknya nganu deeh😂🙈
2025-01-23
1