Hutan Gnalih, sebuah kawasan hutan mistik yang ditumbuhi pepohonan dengan ukuran raksasa. Seringkali hutan ini disebut sebagai hutan kematian dikarenakan banyak sekali Dungeon yang tidak terurus membuat seisi hutan menjadi sarang Monster yang keluar dari Dungeon.
Kepadatan energi sihir yang sangat tinggi di hutan Gnalih membuat ekosistem di dalamnya mengalami mutasi. Hewan buas dengan ukuran ekstra, tumbuhan pemakan daging dan monster yang bersembunyi dibalik bayangan siap memberikan kematian pada para pengunjung.
Meskipun hutan Gnalih merupakan tempat yang sangat berbahaya tetapi banyak orang yang memasukinya dengan berbagai alasan. Sebagian besar pengunjung adalah para Hunter yang bekerja melakukan pemburuan monster untuk mendapatkan berbagai material terutama inti monster.
Langit di atas hutan Gnalih selalu mendung sepanjang tahun, tidak peduli musim kemarau panjang sekalipun, langit itu tetap menghitam seakan tidak membiarkan hutan Gnalih merasakan cahaya matahari.
Tetapi meskipun demikian pepohonan di hutan sangat subur, bahkan tumbuh lebih baik karena menyerap energi sihir. Berbagai tanaman ajaib yang sangat langka tumbuh di hutan Gnalih, begitu pula dengan monster unik yang tidak terhitung jumlahnya menjadikan hutan sebagai sarang.
Semua itu menarik para Hunter untuk bertaruh nyawa demi mendapatkan kekayaan dan ketenaran.
***
Asosiasi Hunter terbesar di kota terletak di pinggir hutan Gnalih, tempat itu selalu ramai oleh para Hunter yang ingin mendapatkan misi ataupun yang hendak menjual material yang didapat dari hutan.
Lobi yang dipenuhi oleh para Hunter terlihat seperti sebuah bar, aroma minuman keras tercium menyengat dan suara tawa terdengar begitu riang. Namun semua tawa itu segera berakhir begitu seorang gadis berseragam sekolah masuk.
“Oi oi, ini seriusan?.”
“Murid dari akademi Bakti Luhur yang menjadi pertama memasuki Asosiasi tahun ini! Dunia sebentar lagi akan hancur.”
“Sialan aku kalah taruhan!.”
“Cih, apa yang dilakukan murid sekolah terburuk di sini, apa dia tersesat?.”
Beberapa Hunter menatap Ningrum yang baru datang dengan tatapan tidak senang. Tanpa memperdulikan semua tatapan itu Ningrum pergi ke konter dimana seorang wanita yang merupakan resepsionis juga menatapnya dengan cara yang sama.
Tujuan Ningrum mendatangi asosiasi Hunter adalah untuk mendapatkan izin memasuki hutan Gnalih, karena ada peraturan dari pemerintah yang melarang orang bisa memasuki tempat berbahaya itu tanpa ada izin dari pihak asosiasi Hunter.
“Aku datang kemari untuk meminta izin...”
“Mohon hentikan!.”
“Hah?.”
Resepsionis itu tiba-tiba langsung menyalak, memotong perkataan Ningrum seakan tahu tujuannya datang ke Asosiasi Hunter. Reaksi dari resepsionis membuat beberapa Hunter tertawa karena tahu ini akan terjadi.
“Sebaiknya kamu berhenti bermimpi menjadi seorang Hunter, pekerjaan ini tidak sebaik yang terlihat di televisi. Lebih baik kau terus belajar di sekolah agar menjadi seseorang yang lebih berguna.”
Resepsionis bernama Sera itu menasehati Ningrum, tanpa membiarkan lawan bicaranya mengatakan apapun.
Sera mengatakan semua itu bukan tanpa alasan. Sudah seringkali Sera bertemu dengan anak tanpa bakat seperti Ningrum yang datang ke Asosiasi Hunter untuk mendaftarkan diri hanya karena terinspirasi dari apa yang mereka lihat di televisi.
Akibatnya setiap tahu akan ada ribuan kasus kematian Hunter yang sebagian besarnya adalah para pemula. Para pemula itu tidak memiliki bakat, kesadaran menilai diri sangat rendah sehingga mereka tidak memahami batas yang tidak bisa dilampaui oleh manusia tanpa bakat.
Sesaat setelah Ningrum mendapatkan penolakan, beberapa anak dengan seragam sekolah lain memasuki lobi asosiasi. Sikap yang ditunjukkan semua orang sangat berbeda dengan yang Ningrum dapatkan.
Mereka terlihat kagum dan lebih bersahabat, seakan mereka sudah menunggu kedatangan anak-anak itu.
“Melati datang membawa para murid baru.”
“Mereka terlihat sangat menjanjikan.”
“Akademi Garuda selalu dipenuhi oleh para anak berbakat.”
“Aku berharap bisa membawa salah satu dari mereka masuk kedalam guild.”
Meskipun usia anak-anak itu sama seperti Ningrum, tetapi perlakuan yang didapatkan sangat berbeda hanya karena seragam yang mereka kenakan.
Para murid dari akademi Garuda menikmati sambutan ramah dari para Hunter, tapi beberapa diantaranya berubah tidak senang ketika melihat Ningrum yang masih berada di depan resepsionis.
“Kenapa ada kotoran di sini?.” gumam salah satu anak dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh orang di dekatnya.
“Sialan, akademi terburuk itu mengambil posisi pertama. Ini adalah sebuah penghinaan.” anak lain berkata dengan cara yang sama.
Melihat wajah ketidaksukaan murid baru akademi Garuda, membuat Sera panik. Dia segera meminta Ningrum untuk segera menyingkir agar anak-anak di belakangnya bisa melakukan pendaftaran menjadi Hunter.
Akan tetapi Ningrum menolak karena dia datang lebih dahulu sehingga berhak mendapatkan pelayanan pertama.
“Apa lagi! Aku sudah mengatakan jika kau telah ditolak, kau tidak akan diterima sebagai Hunter!.” ucap Sera tegas, dia hanya ingin menyingkirkan Ningrum secepatnya agar bisa melayani mereka yang memiliki potensi.
“Bagaimana kau bisa yakin? Kau bahkan belum melakukan pengujian padaku.” tapi sikap Ningrum yang tidak menyerah membuat Sera geram.
Salah satu anak dari akademi Garuda mendatangi Ningrum. “Bisakah kau segera menyingkir, kami ingin melakukan pendaftaran...” suara yang begitu lembut dari seorang gadis berparas cantik.
Melati putri, murid tahun kedua akademi Garuda yang saat ini menjabat sebagai ketua OSIS. Dia sedang bertugas mengantar para murid baru mendaftar menjadi Hunter.
Ningrum berbalik ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara padanya. Tatapannya terlihat kosong saat melihat anak-anak dari akademi Garuda dengan senyuman merendahkan di belakang melati yang tersenyum lembut padanya.
Semua orang berpikir Ningrum akan segera menyingkir setelah melihat murid akademi Garuda. Tapi dugaan mereka keliru.
“Sis, apa kau matamu bermasalah atau apa?.” pertanyaan dari Ningrum yang seakan baru saja menjatuhkan ledakan besar. Semua orang sangat terkejut dengan tanggapan gadis berkacamata itu.
“Ma... maaf, apa maksudmu?.” bahkan gadis yang terlihat cerdas dan jenius seperti Melati mengalami kesulitan memahami perkataan Ningrum.
Ningrum menutupi wajahnya seakan tidak percaya dengan tanggapan dari Melati. “Apa kau begitu bodoh hingga aku perlu menjelaskan?.” ucapnya dengan emosional. Sementara itu semua orang yang mendengarnya seketika membatu dengan mulut terbuka lebar.
“Apa kau lihat ada tujuh loket di lobi ini,”
“Iya?”
“Lalu kenapa kau justru memintaku untuk masih berurusan dengan resepsionis ini untuk pergi. Apa kau berniat merundungku?.”
Perkataan tegas Ningrum membuat Melati sulit bereaksi. Tidak pernah dalam hidup gadis itu mendapatkan reaksi demikian dari orang lain, seakan selama ini dia hidup dalam zona mudah yang semuanya bisa dia tebal dan kendalikan.
Karena tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan saat ini, Melati pada akhirnya meminta maaf dan memilih untuk mendatangi loker yang lainnya. Keadaan itu tentu melihat para anggota OSIS lainnya merasa heran, tetapi tidak ada satupun perkataan yang bisa mereka ucapkan saat melihat tatapan tajam ketua OSIS itu.
“Dan kau,” Ningrum menunjuk Sera di depannya, “Lebih baik hentikan omong kosong mu dan cepat bekerja.” dia berperilaku seperti seorang atasan yang melihat karyawan bermalas-malasan saat jam kerja.
Karena keadaan yang tampak begitu aneh, pada akhirnya Ningrum mendapati kartu identitasnya sebagai Hunter.
Ketika dia meninggalkan Asosiasi Hunter, semua orang terus membicarakan tentangnya, keadaan itu membuat anak-anak baru dari akademi Garuda tidak senang karena semua atensi yang seharusnya menjadi milik mereka malah direbut oleh Ningrum.
Diantara mereka tentu ada si penenang dari perlombaan yang baru diadakan. Alex, tidak mengira akan bertemu kembali dengan Ningrum yang sebelumnya telah menolongnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments