Sekolah telah berakhir, semua murid bergegas meninggalkan kelas. Ningrum melihat beberapa murid yang pergi berkelompok, dan juga ada yang masih sendirian sama sepertinya.
Setelah memasukkan buku catatannya kedalam tas, Ningrum meninggalkan kelas tetapi dia masih ingin berada di sekolah untuk melakukan eksplorasi.
Ningrum melihat-lihat fasilitas sekolah mulai dari kantin, taman, lapangan olahraga, bengkel hingga laboratorium. Selama masa orientasi semua murid baru diperbolehkan memasuki semua fasilitas yang ada di sekolah.
Beberapa senior yang 'menguasai' fasilitas tertentu menawarkan Ningrum masuk kedalam club. Itu merupakan sebuah kesempatan untuk mencari teman.
Tapi Ningrum harus memikirkan banyak hal karena masuk kedalam sebuah organisasi berarti dirinya harus ikut berkontribusi. Ningrum merasa perlu berhati-hati agar dirinya tidak dimanfaatkan oleh orang lain.
Fasilitas terakhir yang Ningrum kunjungi adalah laboratorium. Tetapi dia dibuat kecewa ketika melihat pengumuman yang tertempel pada pintu laboratorium yang memberitahukan jika Club yang menguasai laboratorium saat ini tidak menerima anggota baru.
“Sayang sekali, padahal aku agak tertarik pada club kimia.”
Melihat jika Club saat ini tidak menerima anggota baru, Ningrum hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi dia kembali berbalik saat mencium sesuatu dari dalam laboratorium.
“Aroma ini, Moon Orchid?.”
Sejauh yang Ningrum ketahui bunga anggrek bulan adalah tanaman herbal yang terlarang. Dia cukup penasaran dengan apa yang dilakukan para murid pada bunga itu di dalam laboratorium.
Akan tetapi karena tidak ingin mendapatkan masalah di hari pertama sekolahnya, Ningrum memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Benar saja, baru beberapa langkah meninggalkan area laboratorium, Ningrum sudah merasakan sedang diawasi.
Ningrum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri penjelajahannya di sekolah.
***
Ponsel Ningrum berdering begitu dia meninggal sekolah. Ketika dia mengangkat panggilan itu seketika suara menggelegar dari seorang wanita yang terus menanyakan tentang hari pertamanya di sekolah.
“Tidak ada yang istimewa,” Ningrum menjawab singkat.
Dia terus mengobrol dengan wanita itu sambil berjalan menuju stasiun. Beberapa orang baik yang dia temui memberikan peringatan jika tidak baik berjalan sambil bermain ponsel. Tetapi Ningrum tidak bisa menutup telponnya begitu saja atau itu akan menjadi masalah untuknya.
Ketika berada di dalam kereta, Ningrum masih mendengarkan suara di ponselnya, tetapi perhatiannya telah beralih para televisi yang menyiarkan pertandingan turnamen antar sekolah.
Pertandingan pembukaan tiga akademi sudah menjadi acara tahunan yang digemari berbagai kalangan. Setiap akademi berkompetisi menunjukkan murid baru dengan mengadakan turnamen battle royal.
Ningrum tidak bisa berkata-kata saat melihat pertarungan para murid yang tidak ada bedanya seperti sabung ayam.
{...Jadi apa aku boleh tinggal di rumahmu?}
“Tidak.” Ningrum yang sejak tadi memperhatikan televisi segera menjawab dengan tegas.
{Kenapa?}
Suara di ujung telepon terdengar sedikit pilu.
“Aku akan marah jika kau terus bersikap seperti ini.” Ningrum menunjukkan sedikit emosinya.
Di saat bersamaan semua orang di dalam gerbong merasakan kecemasan tanpa tahu penyebabnya.
{Ma...maaf}
Ningrum menarik nafas mencoba menenangkan diri, seketika kecemasan yang dirasakan semua orang menghilang seakan telah lepas dari kemarahan seseorang.
“Jadilah anak baik, setelah liburanku berakhir aku berjanji akan menemanimu sebanyak apapun yang kau inginkan.” Ningrum berusaha menghibur.
{Ba..baik bu}
Setelahnya panggilan pun berakhir. Bersamaan dengan itu pertandingan antar akademi berakhir, membuat keadaan menjadi begitu riuh. Bukan hanya di dalam stadion yang menjadi lokasi turnamen, tetapi juga di dalam gerbong kereta.
Merasa penasaran Ningrum menatap layar televisi dan melihat seseorang yang tidak asing.
{Sungguh luar biasa! Dari puluhan murid baru yang mencoba menumbangkannya, satupun bahkan tidak ada yang bisa menghancurkan seragamnya}
Di tengah lapangan seorang pemuda berdiri diantara anak-anak yang sekarat. Nafasnya memburu karena pertempuran yang melelahkan, dia seakan tidak percaya telah berhasil memenangkan pertandingan.
Ketika pemuda itu mengangkat tangannya sorakan penonton membuat stadion bergetar hebat.
{Pemirsa sekalian sambut Roky baru yang sangat menjanjikan, Alex Wirawan}
Ningrum tidak mengira pemuda yang tadi pagi berkelahi bersamanya ternyata cukup kuat untuk menjadi pemenang pada turnamen murid baru tahun ini.
“Apa para murid baru selemah itu?.” ucapnya.
Tanpa Ningrum sadari, kemenangan Alex didapat karena seragam yang dia perbaiki.
Kereta telah sampai di stasiun, begitu keluar Ningrum telah berada di perbatasan kota, area paling berbahaya di mana monster masih sangat mudah dijumpai.
“Sudah saatnya berburu.” dengan masih menggunakan seragam sekolahnya, Ningrum masuk kedalam hutan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments