13. Gulai

Asap mengepul keluar dari mulut goa, aroma daging terbakar dan desis minyak yang mendidih membuat rasa lapar semakin tidak tertahankan. Air liur mengalir deras seperti air terjun, Ningrum tidak sabar menikmati daging panggang yang sangat dia idamkan.

“Uenaaak!.” Ningrum tidak dapat menahan tangisannya begitu merasakan daging yang telah matang.

Tidak cukup dengan daging panggang, Ningrum segera mengambil beberapa peralatan masak dan rempah-rempah. Setelah beberapa saat aroma lezat gulai tercium dari kuali.

Serena sang naga danau awalnya berpikir apa yang Ningrum lakukan terlalu merepotkan. Selama menjadi Naga, Serena selalu memakan langsung mangsanya hidup-hidup. Dia tidak peduli dengan rasa dari makanannya, selama bisa memenuhi rasa laparnya maka Serena akan memakannya.

Setelah mengkonsumsi kristal magis Serena merasa perutnya sangat kenyang, dia mungkin bisa bertahan tanpa merasakan lapar selama satu bulan. Tetapi begitu mencium aroma dari kuali, Serena merasa ingin makan lebih banyak.

“Ini enak sekali, hampir mirip seperti buatan ibuku.” Ningrum mencicipi masakannya. Ketika menyadari Serena sedari tadi menatapnya, dia tersenyum dan memintanya untuk bersabar menunggu hingga masakan matang.

Setelah gulai matang, keduanya makan bersama, Ningrum merasa bangga dengan kemampuannya memasak, sedangkan Serena yang masih belum terbiasa dengan tubuhnya yang telah menjadi manusia setengah naga, merasa kesulitan menggunakan tangannya.

Hingga pada akhirnya Ningrum membantu dengan menyuapi Serena. “Enak.” ucap Serena dengan wajah yang memerah.

Setelah sarapan pagi Ningrum berencana mencari informasi tentang dunia ini. Tapi dia tidak bisa meninggalkan Serena yang karena ulahnya seenaknya memberikan nama, kini menjadi manusia setengah naga. Karena itu dia berencana melatih Serena, sedangkan pencarian informasi diserahkan pada Comel.

***

Denting besi terdengar, suara teriakan berkumandang. Pelatihan yang awalnya hanya sekedar berjalan kaki dan berbagai hal dasar, tiba-tiba berubah menjadi pertempuran pedagang dan sihir.

“Uwooh! Aku sudah lama ingin mencoba melakukan sparing dengan orang lain selain Golem.” dengan penuh semangat Ningrum mengayunkan pedangnya.

Setiap serangan Ningrum sangat sulit di tahan membuat Serena terdorong mundur. Gadis Naga itu masih belum sepenuhnya terbiasa dengan tubuhnya sehingga gerakannya masih terasa kaku.

“Tusukan taring rajam!” Ningrum menghijaukan pedangnya. Insting naga Serena bereaksi, dia tahu jika tidak mungkin bisa menahan serangan Ningrum tanpa terluka, karena itu dia memilih untuk menghindarinya.

Serena menggunakan sihir yang dapat menciptakan kabut dengan harapan menggangu penglihatan Ningrum. Tetapi strategi Serena jelas tidak akan berhasil karena Ningrum dapat menggunakan sihir deteksi. Pedang Serena datang dari belakang, akan tetapi Ningrum dapat menangkisnya.

Benturan antara dua pedang berenergi sihir membuat ledakan besar, seketika seluruh kabut yang Serena buat lenyap. Ningrum mengambil kesempatan untuk melakukan serangkaian serangan, Serena yang tidak bisa menyamai kecepatan serangan Ningrum akhirnya terpaksa mengakui kekalahannya setelah pedangnya terlempar.

Serena tidak bisa bergerak saat tatapan tajam Ningrum menatapnya seakan ingin membunuhnya. “Ki... kita masih melakukan latihan bukan?.” tanya Serena saat ujung pedang Ningrum tepat berada di depan wajahnya.

“Latihan?” Ningrum tampak kebingungan, tatapan matanya kembali seperti semula. “Oh, iya. Kita sedang latihan... ahaha.” gadis itu tertawa dengan canggung sambil menggaruk kepalanya. Seketika wajah Serena menjadi pucat begitu mengetahui jika baru saja Ningrum menganggap serius pertarungan yang mereka lakukan.

Tanpa sadar waktu telah berlalu, langit telah dipenuhi warna oranye dan mata hari telah bersiap untuk menghilang. Ningrum mengajak Serena mandi bersama lalu makan malam sesudahnya.

“Kenapa harus mandi di dalam kolam air? bukankah menggunakan sihir saja sudah cukup?.” Serena tidak mau membuang waktu terlalu lama karena dia ingin segera menikah gulai buatan Ningrum.

“Karena ini adalah sauna.” ungkapan Ningrum.

“Sauna?.”

Tanpa mengatakan apapun, Ningrum membuat ruangan lain di dalam goa yang difungsikan sebagai tempat pemandian. Uap air memenuhi ruangan yang disebabkan oleh kolam air yang mendidih. Ningrum menikmati hawa panas di dalam sauna membuat perasaan lelahnya sirna.

Sementara Serena, “Aku tidak mengerti.” dia sama sekali tidak memahami bagaimana hawa panas bisa membuat dirinya merasa nyaman.

Tidak lama kemudian malam pun poek.

“Gulai, gulai, gulai!.” di depan meja makan Serena terus meminta makanan seperti anak kecil yang kelaparan. Ningrum dengan sabar memasak gulai yang seperti telah menjadi favorit naga danau tersebut.

Bertepatan dengan matangnya masakan, Comel akhirnya kembali, dia telah mendapatkan banyak informasi tentang dunia ini. Tetapi sebelum Comel menunjukkan apa yang dia ketahui, Ningrum meminta buku terbang itu untuk berhenti karena ini sudah waktunya untuk makan malam.

Malam ini ketiganya makan malam dengan penuh kedamaian. Ningrum yang rindu dengan Faelan dan yang lainnya, ingin menyajikan makanannya pada mereka, karena itu dia berencana pulang kembali ke pulau. Dan tentu saja Serena akan ikut bersamanya.

Terpopuler

Comments

rachmat hidayat

rachmat hidayat

/Drool/ siiiip ceritanya asyik. seru.

2024-09-28

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!