Dengan semua bantuan dan pengetahuan yang diberikan Guardian of Between Realm, manusia berhasil beradaptasi dengan keadaan dunia yang telah berubah.
Manusia menjadi semakin kuat ketika lingkungan menjadi semakin sulit, hingga keberadaan monster dari Dungeon secara perlahan menjadi hal normal bagi mereka yang berhasil bertahan.
Hingga akhir tiga tahun pun berlalu dengan cepat.
***
Ningrum berlari tergesa-gesa menuju sekolah Bakti Luhur. Ia hampir terlambat di hari pertamanya sebagai murid baru karena masalah yang terjadi di stasiun. Ningrum melihat jam di ponselnya yang hampir menunjukkan pukul tujuh, waktu dimana gerbang sekolah biasanya ditutup.
Ningrum menghela nafas lega dan mulai menurunkan kecepatan kakinya begitu melihat gerbang sekolah yang masih terbuka lebar. Akan tetapi matanya seketika terbelalak begitu melihat satpam sekolah mulai menutup gerbang.
“Hei, tunggu jangan tutup gerbangnya! Aku mau masuk!.” terusk Ningrum sekuat tenaga. Tetapi satpam itu seakan tidak menghiraukannya
Satpam itu tersenyum ketika berhasil menutup gerbang sekolah. Meskipun seharusnya masih ada waktu lima menit sebelum gerbang ditutup, tetapi dengan alasan tertentu satpam itu menutupnya lebih awal.
‘Ini merupakan sebuah pelajaran untuk para murid baru agar tidak datang ke sekolah di menit-menit terakhir.’ batin satpam bernama Pramono tersebut.
Terdengar bijaksana, meskipun pada kenyataannya ada dua alasan kenapa Pramono menutup gerbang sekolah lebih awal. Alasan pertama karena dua tidak ingin ketinggalan sinetron favoritnya, dan yang kedua Pramono seringkali memeras para murid yang terlambat.
Pramono berpikir akan mendapatkan semua uang saku siswi yang terlambat kali ini, karena dari pengalamannya para murid baru pasti akan mudah diperas. Tetapi ketika dia melihat keluar gerbang, dia tidak melihat siapapun.
“Kemana dia pergi?.” Pramono terus melihat keluar gerbang, tanpa dia sadari di belakangnya seorang gadis berjalan memasuki sekolah.
“Syukurlah aku tidak terlambat.” setelah berhasil melewati gerbang Ningrum segera menuju kelasnya.
Begitu memasuki lobby, Ningrum segera dibuat terkesan saat melihat banyaknya murid yang dia temui. Dia bahkan mengalami sedikit kesulitan saat berjalan di lorong menuju kelasnya. Di dalam kelas sebagai bangku telah ditempati sehingga Ningrum tidak memiliki banyak pilihan.
“Aku pikir ini tidak terlalu buruk.” Ningrum menempati bangku yang masih kosong, letaknya tepat ditengah ruang kelas.
Ningrum berharap bisa beristirahat sejenak karena merasa lelah setelah apa yang dia lalui sepanjang jalan menuju sekolah. Tapi bahkan sebelum Ningrum menduduki kursinya, pengumuman terdengar dari pengeras suara yang memberitahu jika upacara dimulainya tahun ajaran baru akan segera dimulai.
Segera setelah pengumuman berakhir semua murid meninggalkan kelas untuk berkumpul di lapangan sekolah.
Ribuan murid memadati lapangan, menyanyikan lagu kebangsaan saat bendera merah putih dinaikkan secara perlahan menuju puncak. Setelah itu kepala sekolah memberikan pidato untuk menyambut murid baru.
Pidato panjang yang sama sekali tidak dianggap penting hingga membuat banyak murid mengalami kebosanan. Setelah kepala sekolah mengakhiri pidatonya, semua murid pun membubarkan diri.
“Beneran deh, aku hampir jatuh karena terlalu mengantuk ketika mendengarkan pidato kepala sekolah.”
“Ahaha sama, aku juga sepanjang upacara tidur sambil berdiri.”
Setelah kembali ke kelasnya, Ningrum memperhatikan beberapa teman kelasnya yang mengobrol dengan murid lain dengan akrab. Dia sangat kagum pada mereka yang sangat mudah bergaul meskipun ini adalah hari pertama mereka saling bertemu.
Sementara itu Ningrum sendiri merasa sangat canggung, dia bahkan sangat kesulitan hanya untuk menyapa murid di sampingnya. Karena tidak memiliki keberanian melakukan inisiasi mengobrol, pada akhirnya Ningrum menyibukkan diri membaca buku, hingga guru akhirnya datang.
"Tidak apa, aku pasti bisa bertahan." Ningrum berbicara pada buku yang dengan dua baca.
Seperti murid biasa, Ningrum memperhatikan dengan seksama pelajaran yang gurunya ajarkan, meskipun dia sudah mengetahui semua pengetahuan yang diketahui gurunya.
Gadis itu sebenarnya tidak membutuhkan pergi bersekolah karena pengetahuan yang dia miliki melebihi apa yang bisa diajarkan oleh sekolah manapun di dunia.
Tetapi karena keegoisannya sendiri, Ningrum mengabaikan semua pekerjaannya dan memutuskan pergi ke sekolah yang merupakan keinginannya sejak masih menjadi seorang budak.
“Apa aku juga akan mengalami banyak peristiwa seperti yang terjadi pada karakter utama dalam cerita?.”
“Semoga saja tidak, karena aku ingin bersekolah dengan ketenangan...”
Ningrum mengikuti pelajaran dengan sangat baik. Ketika jam pelajaran dia meyakinkan dirinya untuk menyapa teman kelas disampingnya, dia berhasil melakukannya tapi hanya itu, keadaan menjadi kembali canggung setelah keduanya saling berkenalan.
‘Aku bisa dengan mudah mengalahkan seekor naga, tapi kenapa mendapatkan satu teman saja sangat sulit?.’ batin Ningrum yang mulai meratapi kemampuan bersosialisasi nya yang sangat buruk.
Tetapi Ningrum tidak menyerah, dia menyakinkan dirinya akan terus belajar bersosialisasi dan berjanji pada buku miliknya untuk mendapatkan sepuluh teman di bulan pertamanya bersekolah.
‘Ini sangat menantang, seperti saat aku bertarung dengan dewa tingkat rendah’. Ningrum sangat termotivasi untuk mendapatkan teman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments