Bab 5

Setelah Naina hamil, Xero mulai tidur di kamar terpisah. Hal ini membuat spekulasi tersendiri bahwa semua orang mulai berpikir bahwa hubungan pasangan itu memburuk. Kabar burung ini segera menyebar seperti aroma busuk bangkai yang terus mengudara.

Semakin hari, depresi yang dialami Naina sangat parah. Tidak hanya terus muntah pada pagi, malam, dan larut malam, ia hanya bisa menahan air di perutnya. Karena itu, para pembantunya harus bergiliran berada di sisinya. Sungguh perjuangan hamil yang melelahkan bagi badan kurus Naina.

Semua orang tetap memikirkan Naina karena telah mengandung calon pewaris Kerajaan tersebut.

Jika sesuatu terjadi pada bayi yang telah lama ditunggu-tunggu, mereka seharusnya tidak berharap untuk tetap hidup. Mengetahui hal itu, semua orang menjaga Naina seolah hidup mereka bergantung padanya. Dan memang benar adanya demikian. Raja Moft juga sudah mengeluarkan titahnya dan itu artinya, semua orang harus bekerja keras agar bayi tersebut lahir dengan selamat.

***

Sejak dia mulai tidur di kamar terpisah, mereka jarang bertemu sama sekali. Paling-paling, mereka berpapasan di lorong beberapa kali. Meski begitu, Xero akan terus berjalan, melirik Nai asambil memberinya anggukan kecil sebagai tanda sana.

Melihat hal ini, para pembantu dengan senang hati akan terus bergosip membicarakan hal ini dari hari ke hari. Seolah telah mendapatkan bahan yang bisa diolah dengan sangat menarik.

Sikap dingin Xero terhadap istrinya yang baru saja mengandung anak pertama membuat Naina tersiksa. Batinnya rasanya sangat sakit. Yang lebih menyakitinya adalah suasana simpatik dan canggung dari orang-orang di sekitarnya. Setiap kali dia harus memaksakan senyum dan berpura-pura seolah semuanya baik-baik saja, dia merasakan sakit di dadanya. Terus-menerus menahannya dan mencoba bertahan tanpa ada orang satu pun di sisiNya. Kadang jika seperti ini, Naina akan merindukan keluarganya. Terutama Sangat Ibu yang amat penyayang dan berhati lembut.

Setelah itu, hari-hari berlalu tanpa ada dukungan atau simpati dari Xero. Seperti yang sudah dipredijsu Naina tentunya.

Dia memang datang untuk memeriksa Naina sekali. Hal ini mengejutkan Naina dan para pembantunya, serta membuatnya bahagia. Seperti gurunya yang tersiram hujan, bukan lagi sekedar fatamorgana. Nyata. Meski Mereka tidak bertukar percakapan apa pun, dan setelah meliriknya, dia segera pergi. Naina tetap saja merasa senang. Dia mengusap perutnya sudah sedikit membuncit itu dengan lembut. Dan dengan suara pelan dia membisikkan buah hatinya sesuatu. "Hari ini Ayahmu datang menjenguk mulai Nak." Mata Naina berkaca kaca karena merasa amat bahagia.

Belakangan, dia menerima pesan dari raja yang datang untuk memeriksa Naina.

'Sepertinya kalian berdua rukun.'

Dia sadar bahwa Xero datang hanya untuk memeriksanya untuk menyembunyikan perasaannya terhadap Calista dari saudaranya. Kenyataan pahit itu Naina pendam lagi. Karena tak mungkin baginya untuk membicarakan hal tersebut kepada raja yang sudah banyak pikiran memikirkan beban negara. Tak mungkin juga bagi Naina untuk membuat kehidupan rumah tangga nya menjadi beban Moft juga.

Naina mulai berangan angan dan mempertanyakan esensi hidupnya. Kalau di pikir pikir

Kenapa juga aku menikah dengannya?

Aku tidak menikah dengannya karena aku mencintainya.

Pertama, menikah karena cinta merupakan konsep asing dalam pernikahan bangsawan, khususnya keluarga kerajaan.

Jadi Naina yang polos tentu dana mulai berpikir bahwa jika kami mewujudkan pernikahan kami, perasaan sekecil apa pun akan berkembang…

Lalu spekulasi lain mulai muncul juga, mungkin jika kami berdua punya anak, kami mungkin bisa lebih dekat satu sama lain. Seperti itu yang Naina lihat di kehidupan rumah tangga pedesaan.

Tapi itu tidak terjadi. Barulah Naina sadar setelah mengalaminya sendiri.

Sambil mendengarkan celoteh Moft tentang anaknya yang akan lahir di musim semi mendatang, akhirnya Naina menemukan jawaban.

Semua ini hanyalah tugas dan tanggung jawab untuk menjaga garis keturunan bangsawan…

'Ya, hanya tanggungjawab.' Adalah yang lebih menyedihkan dari hidupnya, mungkin itu hidup calon anaknya yang bahkan belum lahir kedunia.

Moft pun pamit sambil memberikan aneka hadiah untuk Naina.

Tentu saja Naina mengucapkan rasa terimakasih nya, dia masih tersenyum meski sudah mengetahui kepahitan hidup ini.

***

Suatu hari, setelah tidak bertemu Xero lagi beberapa hari, Naina pergi ke taman untuk mengubah suasana, sebagian karena rasa mualnya sudah mereda. Belum lama ini, dia bahkan tidak tahan dengan aroma bunga yang tertiup angin, tapi sekarang dia bisa menghirupnya sepenuhnya. Makanya dengan perasaan sedikit gembira itu, dia ingin merayakan ya dengan berjalan jalan di taman. Udara segar juga bagus untuk ibu hamil.

Selagi dia melakukan itu, dia bisa melupakan kesepian karena membesarkan anaknya yang belum lahir sendirian. Oleh karena itu, Naina setiap hari pergi ke taman bersama pembantunya, berjalan-jalan ke berbagai tempat dan menikmati wangi bunga berwarna-warni. Kadang kadang dia mengamati burung yang bersarang di pohon, sepertinya tukang kebun membiarkannya karena rasa simpatik. Induk burung dengan sabar menyuapi anak anak burung kecil itu dengan telaten. Sungguh pemandangan yang mengharukan bagi Naina. Dulu dia sering melihatnya di desa, tapi pemandangan seperti itu sangat jarang dia temui setelah dia menikah dan pindah ke istana.

Sampai tiba saatnya ketika ruang kecil dan damai itu hancur dalam sekejap.

Naina keluar ke tamannya ditemani pembantunya seperti biasa. Tujuannya adalah koridor putih ke arah selatan , yang merupakan salah satu tempat favoritnya. Disana sangat rindang dan ada kolam ikan.

Dia menikmati jalan-jalan santainya sembari mengamati bunga apa yang sedang mekar hari ini, menikmati cahaya terang yang disaring oleh pepohonan. Setelahnya, ia duduk di kursi di teras rest area, mengobrol dengan pembantunya sambil menikmati pemandangan.

Namun kemudian, pemandangan tertentu menyambutnya saat dia menuju teras.

Ia melihat seorang pria dan seorang wanita sedang mengobrol riang di tempat Naina biasa duduk.

Naina dan pembantunya mengenali siapa itu

Xero dan Calista.

“Hehehe… Apa benar seperti itu? .”

“Tidak, itu benar, kalau begitu—… ”

Suara lembut. Senyum riang. Tatapan hangat di tatapannya saat dia mendengarkan ceritanya.

Lalu ada lagi tawa yang renyah, obrolan yang mengalir begitu saja. Keduanya tampak menikmati momen tersebut. Hal yang tak pernah Naina alami. Tentu saja itu membuatnya iri, tapi dia bisa apa?

Di sana, di depan pandangannya, ada seorang pria yang sedang jatuh cinta kepada seorang perempuan yang sudah punya suami. Tapi cintanya seperti tidak pernah pudar, hanya terhalang status bahwa keduanya sudah sama sama menikah.

Telinga Naina seperti berdengung, dia ingin sekali merasa tuli tidak ingin mendengar pembicaraan keduanya yang tengah tertawa karena lelucon yang dilemparkan oleh suaminya.

Mengapa?

Hanya itu saja yang ingin dia tanyakan.

Mengapa kepadanya dia bisa seperti itu? dan kepadaku tidak bisa?

Sudut matanya berair, tapi masih saja ditahannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!