"Astaga!" pekik Sheila, wajahnya mendadak panik.
Buru-buru Sheila memperbaiki kutangnya yang berubah posisi, membuat bukit kecil miliknya menjadi terlihat miring sebelah.
"Ukuran benda ini terlalu besar," ucap Sheila lebih mirip cicitan.
Leonard tampak tidak perduli, ia dengan santai membalik badan dan melenggang pergi begitu saja.
Sheila menghela napas panjang, buru-buru dirinya mengikuti langkah kaki pria bermulut pedas itu.
Langkah Sheila terhenti saat Leonard berhenti di kamar yang di dalamnya terdapat dua baby box.
Pandangan mata Sheila berubah sendu, dilihatnya seisi kamar yang didominasi dengan warna merah jambu. Karakter kuda poni menghiasi dinding di kamar itu, beberapa boneka tersusun rapi di atas sebuah lemari berwarna putih.
"Kamar ini didesain oleh Zora. Katanya dia ingin menemani putri kembar kami di tempat yang hangat ini. Tapi ... semua harapan itu hancur karena kau!" sergah Leonard tanpa mau menatap ke arah Sheila.
Sheila menelan salivanya dengan susah payah, Leonard kerap kali memojokkannya.
"Aku tau kehilangan itu memang sakit, tapi apa adil bagiku diperlakukan seperti ini? Kau terus menyalahkanku. Bahkan, merubahku menjadi orang lain. Padahal aku tidak sepenuhnya bersalah di sini," balas Sheila, dadanya naik turun. Emosi berkecamuk di dalam hati.
Leonard membalik badan, ditatapnya Sheila dengan sangat tajam.
"Ingat, aku sudah memasang tanda lantai basah saat itu!" ucap Sheila, suaranya terdengar bergetar.
"Istriku tidak akan terpeleset jika lantai itu dibersihkan dengan benar! Kau telah lalai dalam bekerja!" serang Leonard balik.
Sheila menarik napas dalam-dalam. Tidak ada gunanya berdebat dengan Leonard yang dipenuhi dengan amarah. Akhirnya ia lebih memilih untuk mengalah.
"Baiklah, di sini aku yang sepenuhnya salah, kalau begitu cepat katakan apa yang harus kulakukan sekarang?" tanya Sheila dengan wajah terlihat lelah.
Leonard mengepal kuat kedua tangannya, tindakan Sheila yang memutuskan perdebatan di antara mereka malah membuatnya merasa geram. Ia merasa wanita itu mengejeknya dengan cara halus.
"Sebentar lagi pembimbing kursus merawat bayi akan datang ke kamar ini," jawab Leonard ketus.
Kepala Sheila mengangguk.
Tanpa banyak bicara lagi, Leonard pergi meninggalkan Sheila seorang diri di dalam kamar bayi kembarnya.
Sheila tidak perduli dengan kepergian Leonard. Baginya keberadaan Leonard hanya akan memperburuk suasana hati.
"Huh, Ya Tuhan ... aku tidak tau bagaimana hidupku ke depannya. Aku tidak begitu menyukai anak-anak. Namun, aku berjanji akan merawat si kembar dengan baik," ucap Sheila penuh tekad.
Sheila menatap ke sekelilingnya, ia berjalan mendekati lemari baju bayi yang di atasnya terdapat foto Zora bersama Leonard.
Di foto itu Zora terlihat sangat bahagia. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Sheila meraih bingkai foto itu. Ia mengusap wajah Zora dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan merawat si kembar dengan cinta yang aku punya, kamu bisa pegang janjiku ini," ucap Sheila dengan air mata menitih.
"Tapi, kalau daddy-nya si kembar tentu aku tidak akan merawatnya. Suami kamu begitu pemarah dan mengesalkan," gerutu Sheila, ia berbicara seolah-olah Zora ada di hadapannya.
"Permisi."
Sheila tersentak, suara seorang wanita membuatnya buru-buru meletakkan foto keluarga bahagia itu kembali ke tempatnya. Tak lupa ia menyeka air matanya sebelum membalik badan.
"Pembimbing kursus merawat bayi?" tanya Sheila.
Wanita dengan rambut disanggul rapi itu mengangguk mantap. "Iya, saya Sophia, selama sebulan ke depan akan membimbing Anda," jawabnya.
Sheila tersenyum kecil sebagai bentuk kesopanan. Ia mempersilahkan Sophia masuk, dan saat wanita itu masuk, ada kesan aura hangat yang mengikutinya.
Kursus merawat bayi pun dimulai dengan suasana yang tenang. Sheila menyimak setiap kata yang diucapkan Sophia. Ia tidak menyangka bahwa merawat bayi ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan, apalagi merawat dua bayi sekaligus.
"Sekian untuk hari ini, kita akan membahas topik berikutnya besok hari," ucap Sophia, mengakhiri sesi belajar merawat bayi.
Sheila menghela napas panjang, ia berdiri dari duduknya dan mengantarkan Sophia turun ke lantai dasar.
"Terima kasih untuk hari ini, aku jadi banyak mengerti tentang merawat bayi karenamu," kata Sheila terdengar tulus.
Sophia tersenyum ke arah Sheila, ia tidak terpengaruh dengan berita miring mengenai wanita di sampingnya.
"Sudah tugas saya," balas Sophia.
Saat Sheila dan Shopia sudah berada di pintu keluar, tiba-tiba Hanny datang dengan wajah terlihat tidak bersahabat. Tentu wajah tidak bersahabat itu diarahkan untuk Sheila.
"Bagaimana? Apa dia bisa belajar dengan baik?" tanya Hanny pada Shopia, aura kesombongan jelas terlihat dari wajah wanita yang sedang berjalan sambil bersedekap dada itu.
Shopia menoleh, ia menunduk penuh hormat. "Nona Sheila belajar dengan baik, Nyonya. Bahkan, terbilang cepat mengerti," jawab Sophia jujur.
Hanny memutar bola mata malas, ia melirik Sheila dengan mata tajam.
"Tidak perlu memanggilnya nona, dia hanya pengasuh di sini!" tegas Hanny.
Kedua tangan Sheila mengepal, tidak menyangka wanita penuh wibawa seperti Hanny bisa berkata seperti itu.
"Ah i-iya, Nyonya. Maaf, saya harus kembali lebih awal, permisi," pamit Sophia.
Sheila menatap kepergian Sophia, ia berpura-pura tidak melihat Hanny yang berada di samping nya.
"Baju mahal jadi terlihat murahan di badanmu," cibir Hanny.
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba ibu Leonard mengomentari penampilannya. Sontak ia menoleh dengan raut wajah bingung.
"Nyonya bicara sama aku?" tanya Sheila berpura-pura tidak tau, ia mengarahkan jari telunjuk ke tengah dadanya.
Mendapat respon seperti itu tentu membuat Hanny menjadi geram, dirinya merasa diolok-olok.
"Tentu saja! Kau pikir ada orang lain di sini," jawab Hanny penuh emosi.
Kedua bibir Sheila terangkat tinggi. "Ya ampun, maaf nyonya, aku tidak merasa jika yang nyonya maksud itu aku," katanya dengan wajah yang teramat polos.
"Emmm, aku jadi bingung. Kenapa kata-kata murahan keluar dari mulut orang kaya seperti nyonya?" Sheila memegangi dagunya, dengan ekspresi wajah bingung.
Mata Hanny mendelik lebar, jantungnya berdegup kencang. Amarahnya tersulut begitu cepat hanya karena perkataan ringan Sheila.
"Dasar mulut lancang!" teriak Hanny, tangannya terangkat tinggi, siap untuk menghantam pipi Sheila dengan segenap amarah yang membara.
Namun, saat tangan Hanny hampir mendarat, Sheila bergerak cepat, menahan lengan Hanny dengan cengkraman yang kuat. "Cukup! Nyonya tidak berhak menyakitiku," ucap Sheila pelan namun penuh penekanan.
Hanny tertegun, jantungnya berdetak kencang. Sebuah perasaan campur aduk muncul, antara marah dan terkejut.
"Aku berada di sini untuk menebus kesalahanku pada si kembar. Bukan untuk disiksa!" desis Sheila sengit.
Dalam sekejab, suasana berubah menjadi mencekam.
Mata mereka saling beradu dalam kilatan emosi.
Tidak sedikit pun Sheila merasa gentar, matanya semakin menatap Hanny dengan berani.
Di tengah ketegangan yang tengah terjadi di antara mereka, tiba-tiba Leonard datang dari arah ruang keluarga.
Melihat lengan ibunya dalam cengkraman Sheila, amarah Leonard membara seperti api yang siap menyala. "Lepaskan lengan mommy-ku!" perintahnya penuh ketegasan, suaranya menggema ke seluruh ruangan.
Sheila terkejut, dengan refleks ia melepaskan tangan Hanny. Ia menoleh ke arah Leonard, matanya langsung melebar ketika melihat wajah Leonard yang tampak memerah.
Hanny dengan wajah kesal mengambil kesempatan itu. "Lihatlah wanita ini benar-benar kurang ajar sama Mommy," keluhnya sambil mengusap-usap lengan yang masih terasa hangat.
Leonard berdiri di depan Sheila dengan wajah terlihat marah. "Berani-beraninya kau!" geramnya.
Sheila yang merasa terintimidasi langsung mengeluarkan jurus andalannya.
"Kaburrr, ada hantu!" teriak Sheila seraya berlari kencang menuju tangga.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Elang Samudra
suka gaya kamu Shella jngn smpe kalah melawan 2 penjilat trus thor senangat
2024-11-29
0
Siti Amyati
harus di lawan jangan mau di rendahi terus ,lanjut kak
2024-09-26
0
Dewi Anggya
baguuus Sheila lawan aja.... aku mendukungmuuu.... kabuuuuur ada hantuuu🤣🤣🤣🤣🤣👻👻👻👻
2024-07-19
0