Cup!
Decapan kuat Leonard menguar nyaring saat mulutnya melepas hisapan pada bagian terluar dada Sheila.
Mata wanita cantik itu mendelik lebar, seluruh tubuhnya menegang akibat ulah dari bibir Leonard yang hangat.
"Astaga! Dadaku memerah karena kau!" pekik Sheila. Ia langsung mendorong Leonard menjauh, hingga tubuh pria yang masih mengusap bibirnya yang basah itu terhuyung mundur.
"Huwaa aaaa!"
"Huaaaa aaa!"
Pekikan Sheila membangunkan dua bayi gembul yang menggeliat bak ulat bulu di atas ranjang.
Sontak Sheila dan Leonard melihat ke arah yang sama.
"Baby twins," panggil keduanya serentak.
Pasangan suami istri itu langsung berlari mendekati si kembar.
"Sayang maafkan Mama," ucap Sheila penuh sesal sembari mengusap punggung Viona dan Viola secara bergantian.
Mama?
Leonard menatap nyalang ke arah Sheila, ada rasa tak suka saat wanita itu menyebutkan kata 'mama'. Namun, dirinya tetap membiarkan Sheila melakukan hal itu demi kedua putri kecilnya.
"Hwa bwawa aa." Viola, bayi berusia satu bulan yang memiliki tahi lalat kecil di keningnya itu mengoceh.
"Hwa aa." Seolah tak mau kalah, Viona juga ikut bersuara.
Tangisan dua bayi gembul berubah menjadi ocehan-ocehan yang membuat hati Sheila tersentuh.
Leonard menatap dua putri kecilnya dengan perasaan campur aduk, antara bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.
"Zora, kedua putri kita sangat pintar dan cantik. Apa dirimu bisa melihat kami dari sana?" ucap Leonard dalam hati. Dirinya begitu merindukan wanita yang masih mengisi penuh hatinya.
"Baby twins lagi protes ya sama Mama? Maaf ya sayang, lain kali volume suara Mama akan dituruni," ujar Sheila dengan suara mengecil seperti anak kecil.
Seolah mengerti apa yang diucapkan oleh Sheila, dua bayi gembul itu menggerak-gerakkan kaki dan tangannya sambil bersuara lucu.
"Bwaa aa hu."
"Huu wa uu."
Sheila memegangi pipinya sendiri dengan dua telapak tangannya, ia menahan geram akan kelucuan dua bayi gembul yang selalu mengoceh setiap kali dirinya bicara.
Ingin tahu bagaimana ekspresi suaminya saat melihat si kembar. Dia pun menoleh ke arah Leonard, sontak Leonard tertangkap basah tengah memperhatikannya yang sedang berbicara dengan si kembar.
"Apa lihat-lihat!" Dengus Leonard sambil menatap Sheila dengan galak.
Bibi Sheila mencebik seraya membuang wajah ke arah lain. Padahal, jelas-jelas pria itu yang menatapnya. Namun, malah dirinya yang dimarahi.
"Siapa juga yang lihatin. Tuh, resleting celananya terbuka! Jangan sampai itu burung terbang ke pohon," ledek Sheila sambil menatap dua bayi gembul yang tengah aktif menendang-nendangkan kaki.
Sontak Leonard menunduk, melihat resleting celananya yang benar terbuka.
Zztt!
Dengan buru-buru ia menarik resleting celananya, lalu berdiri dan melenggang pergi ke luar dari kamar begitu saja.
"Hahahaha lucu banget ya Daddy Singa." Sheila tertawa lepas sampai sudut matanya mengeluarkan air.
Seakan mengerti, dua bayi gembul itu juga ikut tertawa, memperlihatkan gusi yang belum ditumbuhi oleh gigi-gigi.
Seketika ruangan yang dipenuhi akan foto Zora menjadi ramai dengan suara tawa tiga perempuan beda generasi itu.
Penat, letih, dan segala rasa kesal yang berkecamuk di hati Sheila hilang entah ke mana hanya karena keberadaan dua bayi gembul di sisinya.
Wanita yang baru menyandang gelar Nyonya Smith itu menghabiskan waktunya seharian penuh bersama dua bayi gembul yang lucu dan menggemaskan.
Menatap wajah dua malaikat kecil yang terlelap setelah banyak berceloteh.
Sampai tidak terasa hari sudah sore, dan sudah saatnya untuk si kembar mandi.
"Baby twins, Mama ambil kereta dorong di kamar kalian sebentar ya," ucap Sheila sambil membentengi pinggiran ranjang dengan menggunakan bantal.
Dua bayi gembul yang masih terlelap tentu hanya diam saja. Namun, Sheila begitu siaga.
Buru-buru dirinya berlari ke kamar si kembar, mengambil kereta dorong khusus untuk dua bayi.
Dengan napas terengah-engah Sheila membawa kereta dorong itu ke kamarnya.
"Huh!" Sheila meraup udara sebanyak yang ia bisa, mengatur napasnya yang terasa sesak.
Sheila mendekati ranjang, matanya membelalak lebar.
"Astaga! Baby twins kalian sudah bangun!" pekik Sheila sambil menghampiri si kembar yang saling menggerakkan tangan ke satu sama lain.
Terlihat Viola begitu aktif menendang-nendang sambil menggerakkan tangannya, sampai tangan mungil nan gembulnya itu mengenai wajah saudari kembarnya.
Seketika Viona menangis kencang. "Huaaa aaaa."
Sheila menepuk jidatnya, ia dengan segera menggendong Viona sambil bersenandung pelan.
Namun, saat tangisan Viona berhenti. Kini Viola yang menangis. Bayi kecil itu seolah tak mau kalah dengan kembarannya.
Tangisan Viola memecah kesunyian kamar. Sheila berusaha tenang dalam menghadapi situasi ini, ia dengan penuh kehati-hatian meletakkan kembali Viona ke atas ranjang.
"Biar adil, Mama usap-usap secara bersamaan ya," tutur Sheila penuh kelembutan.
Tangan Sheila bergerak lembut di atas lengan si kembar, menghantarkan kasih sayangnya lewat sentuhan lembut yang benar-benar tulus.
Betapa ajaibnya, dalam sekejap si kembar berubah tenang.
Bibir Sheila mengulas senyum lebar. Dia baru pertama kali bertemu dengan si kembar. Namun, seperti ada ikatan batin yang saling menghubungkannya dengan dua bayi gembul itu.
Sheila menggendong si kembar secara bergantian, membawanya ke kereta dorong untuk dibawa ke kamar bayi.
*
*
*
Malam sudah tiba, Sheila masih berada di kamar anak sambungnya. Walaupun, dua bayi gembul itu sudah terlelap sejak tadi.
Dia begitu malas untuk kembali ke kamarnya. Ah! Lebih tepatnya kamar milik mendiang Zora.
"Aku rindu pengepel, sapu, dan lap di toko mainan. Aku juga rindu dengan omelan Bram si casanova jomlo, bagaimana ya kabar burungnya setelah kusumpahi?" Sheila menatap langit-langit kamar yang gelap, hanya ada lampu tidur yang menerangi ruangan itu.
Huh!
Sheila menghela napas kasar.
Entah kenapa, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Ia pun memilih bangkit, dan keluar dengan perlahan.
Samar-samar Sheila mendengar suara pria yang sedang menangis.
Tangisan itu terdengar begitu menyayat hati, seperti seseorang yang tengah kehilangan separuh nyawanya.
Seketika jiwa kepo Sheila mencuat, dengan seksama ia mendengarkan dari mana suara tangisan itu berasal.
Kakinya melangkah mengikuti arah suara tangisan itu.
Sheila menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Kamar Zora?"
Kepala Sheila teleng ke kiri. Ia berpikir sejenak. "Tidak mungkin Singa bermulut pedas bisa menangis seperti itu," celetuk Sheila diiringi kekehan kecil.
Namun, disaat yang bersamaan suara tangis itu semakin terdengar. Sontak Sheila terdiam.
Sheila menjadi semakin penasaran, dengan secepat kilat ia langsung mendorong pintu kamar mendiang Zora yang sedikit terbuka.
Brak!
Leonard menoleh, "Zora!" panggilnya.
Dengan sempoyongan Leonard berdiri dari lantai yang didudukinya, meletakkan bingkai berisikan foto mendiang Zora ke atas ranjang begitu saja.
Pria itu berjalan dengan tidak benar. Bahkan, nyaris tersungkur jika saja Sheila tidak buru-buru menahan tubuh tingginya.
"Zora sayang, kamu di sini ... aa-aku merindukanmu," ucap Leonard seraya menangkup wajah Sheila dengan kedua tangannya.
Sheila mengernyit, ia mengendus aroma alkohol yang menguar dari mulut Leonard.
"Kau mabuk?!" pekik Sheila, dirinya ketar-ketir saat Leonard semakin mendekati wajahnya.
"Aku menginginkanmu, Sayang."
Deg!
Bersambung ....
eh eh🏃🏃🏃🏃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Susi Susiyati
waduh bhya ,,,,,kbur 🏃♀🏃♀🏃♀
2024-07-31
0
Qodri Kiflie Kiflie
wah sambil mendem mau bikin debay parah nih uncel leo
2024-07-20
1
Suryani
GX RELA KUTHOR KALAU SAMPI SILEO JEBOL GAWANGX SHELA
2024-07-20
1