Hanny berdecak kesal, “Ck, kau membuat cucu-cucuku menangis!” Dengan kasar ia menyenggol bahu Sheila sampai tubuh wanita berumur 22 tahun itu terdorong.
Sheila hanya bisa menahan kekesalannya dengan diam. ia membiarkan mertuanya itu mendekati si kembar tanpa mau membalas perbuatan kasar yang baru saja diterimanya.
“Cup cup, cucu grandma jangan menangis,” ucap Hanny sembari menyentuh kedua pipi gembul si kembar.
Namun, bukannya tenang. Dua bayi itu semakin menangis kencang.
Bibir si kembar bergetar seiring dengan suara nyaring yang meraung. Seluruh wajah bayi-bayi gembul itu memerah, air mata pun turut membasahi wajah lucu keduanya.
Wajah Hanny berubah pucat. Kenapa cucu kembarnya malah semakin menangis? Pikirnya.
Sheila tidak tahan lagi, lantas ia segera menggeser Leonard dan Hanny yang tidak dapat menenangkan si kembar.
“Sayang, Mama di sini.” Sheila mengelus puncak kepala kedua putri sambungnya dengan penuh cinta.
Melihat itu Hanny mendengus kasar seraya membuang wajah ke arah lain.
Leonard menolehkan kepala. Dilihatnya wajah Sheila dengan tatapan tidak terbaca. Mulutnya seakan ingin bertanya tentang suatu hal. Namun, ia menahannya dan memilih untuk bersikap seolah-olah tidak tahu.
Pria itu pun menegakkan tubuhnya, ia mendekati Hanny yang tengah menatap ke arah lain. “Mom, aku harus berangkat ke hotel lebih awal. Ada sedikit masalah dengan Diamond Hotel,” ucapnya.
Kerutan-kerutan di kening Hanny tampak semakin jelas, wanita berumur 63 tahun itu terlihat sangat kesal.
“Mommy ikut turun ke bawah. Kepala Mommy sering pusing semenjak ada dia,” sindir Hanny sambil melirik Sheila yang juga melihat ke arahnya.
Leonard diam saja, ia tidak menanggapi ucapan sang ibu.
Pria dalam balutan kemeja putih serta jas hitam tersebut membawa Hanny keluar dari kamar si kembar. Dirinya tidak ingin kedua putri kecilnya kembali menangis kencang.
Sheila menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan perlahan .
“Sayang, kalau kalian sudah besar jangan benci Mama ya,” ucap Sheila pada dua bayi gembul yang menatapnya dengan tatapan polos.
“Bwa haaa.”
“Ennng.”
Kedua bayi gembul itu berbicara yang entah apa artinya. Namun, Sheila mengartikan celotehan dua putri sambungnya sebagai jawaban setuju.
Melihat perlakuan suami dan ibu mertuanya, membuat Sheila takut jika suatu saat si kembar membencinya.
Jika suatu saat hal itu terjadi, apa dirinya masih sanggup untuk tetap tinggal di rumah ini?
Sheila menggelengkan kepala kuat, ia berusaha meyakinkan diri bahwa si kembar tidak akan melakukan hal itu di masa depan.
Tiba-tiba dua bayi gembul tertawa, mereka mengira Sheila sedang mengajak bermain.
Sontak Sheila menghentikan gerakan kepalanya.
“Ya ampun baby twins. Mama lagi pusing kalian malah ngetawain.” Sheila memanyunkan bibir layaknya seekor bebek.
Dirinya cukup heran, ia ingat betul apa yang dikatakan oleh Shopia tentang perkembangan bayi.
“Harusnya sih di umur 1 bulan belum bisa tertawa dan berceloteh.” Sheila menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mata Sheila berubah cerah. “Baby twins yang jenius!” celetuk Sheila, wajahnya terlihat sumringah.
Sheila memperhatikan si kembar dengan mata berbinar-binar. Tiba-tiba, ia teringat akan ponselnya yang belum dirinya aktifkan hingga kini.
“Apa aku nyalakan saja sekarang? Eh! Tapi kalau nanti si Bram nanya yang macem-macem gimana?” Keringat mulai menetes di ujung pelipisnya.
“Lain kali saja deh, aku belum siap,” desah Sheila, diurungkannya niat itu karena rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Wanita bertubuh ramping itu memilih duduk di kursi menyusui. Dia memperhatikan dua putri sambungnya sambil melamun.
Menit demi menit berlalu, waktu terus berputar. Keseharian Sheila hanya seputar mengurus bayi. Namun, tidak ada rasa bosan dalam merawat dua bayi gembul itu.
Sheila melirik jam dinding yang hampir memasuki jam makan malam. Ia mengusap perutnya yang terasa keroncongan, sebab sedari siang ia belum memakan apa pun selain buah anggur.
Cklek!
“Mereka sudah datang, cepat bawa baby twins turun ke lantai dasar!”
Sheila menoleh, dilihatnya kedatangan Leonard yang tiba-tiba. Pria itu tampak rapi dengan pakaian casual serba hitam.
“Mungkin acara makan malam informal,” batin Sheila.
“Jangan diam saja!” sergah Leonard tampak tak sabaran.
Tubuh Sheila tersentak kaget, suara kasar tertahan pria itu membuat jantungnya berpacu kencang.
Leonard masuk lebih dalam, ia melirik baby box putri kembarnya. Terlihat dua bayi gembul itu terlelap dengan damai. Lantas dirinya mendekati Sheila yang membeku di tempat.
“Kau harus ingat di mana posisimu! Ingat, hanya pengasuh!” Suara Leonard penuh penekanan.
Lagi-lagi suaminya itu memperingatkannya. Padahal, tanpa diingatkan pun ia sudah mengerti.
Sheila berdiri, ia menatap wajah Leonard dengan tatapan jengah, “Aku belum pikun!” balas Sheila tegas.
Aura permusuhan membara di antara keduanya. Tatapan mereka saling beradu, menunjukkan kebencian satu sama lain.
Namun, Leonard lebih dulu memutuskan kontak mata di antaranya dengan Sheila.
“Aku yang akan menggendong Viola, dan kau Viona. Kereta dorong baby twins sudah ada di bawah!” kata Leonard seraya membawa baby Viola yang masih memejamkan mata ke dalam gendongannya.
Pada akhirnya Sheila menyusul Leonard dengan membawa baby Viona. Mereka berjalan beriringan menuruni tangga.
Disaat yang sama, seluruh mata tertuju pada pasangan suami istri itu.
Empat rekan bisnis yang merupakan sahabat dari Leonard menatap kedatangan wanita asing yang berpenampilan seperti Zora dengan penuh tanda tanya.
“Siapa wanita itu, Leo? tanya Ariana dengan nada tak bersahabat.
Leonard yang baru saja tiba di lantai dasar sontak melirik Sheila yang berada di sampingnya.
“Pengasuh! Dia pengasuh putri kembarku,” jawab Leonard tegas.
Seketika wajah wanita yang bernama Ariana itu berubah tenang.
“Ooo pengasuh. Aku pikir siapa, karena penampilannya sangat mirip emm … dengan Zora sahabatku,” ucap Ariana seraya bersedekap dada hingga dadanya semakin mencuat ke depan.
Perkataan Ariana membuat yang lainnya menatap ke arah Leonard dengan curiga.
“Ayo kita ke meja makan, jangan bahas dia! Sangat tidak penting!” Leonard melenggang pergi begitu saja.
Ariana yang tampak begitu dekat dengan Leonard langsung mengikuti dari belakang, diikuti dengan dua pria lainnya. Tersisa satu orang yang tetap berdiri di hadapan Sheila. Yaitu, sosok pria tampan pemilik usaha yang bergerak di bidang F&B.
Sheila merasakan perih di hatinya, Leonard adalah satu-satunya pria bermulut pedas yang pernah ia kenal. Dirinya begitu kesal dengan Leonard, sampai-sampai tidak menyadari ada seorang pria tampan yang tengah berdiri di hadapannya.
“Hei, kau menangis ya?” tanya pria tampan itu dengan lembut.
Sontak Sheila mendengakkan kepala. “E-eh tidak, ini hanya kelilipan.”
Pria berwajah tampan itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Dari sudut ruangan, seorang pria tengah menatap interaksi Sheila bersama pria lain dengan kilatan mata marah.
“Dasar wanita penggoda!” Tangannya terkepal kuat, dengan rahang tegas yang ikut mengetat.
Bersambung ….
Kira-kira siapakah sosok yang sedang menahan amarah itu?🤔
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments
Elang Samudra
Pepet Shela bikin si Leon makin marah
2024-11-29
0
Siti Amyati
awas saja sampai jatuh cinta
2024-09-27
0
merry jen
ngmgg nyktinn bgt pengasuh juga itu bini muu ,tunggu ajj klo Shela pergii dr hdpmuu trs kmuu kelbknn dechh carii. istrii org lain mn percyy istri sndrr dcap pengasuh ankmuu,,
2024-07-22
1