“Dan ini mami saya.”
Theresa tersenyum ramah pada gadis manis yang Reno bawa. Mencoba membangun atmosfer yang nyaman agar gadis berseragam pink fanta itu berhenti merasa gelisah. Selayaknya tuan rumah yang baik, ia juga kemudian mengulurkan tangan lebih dulu, yang lalu disambut oleh sang tamu.
“O—oh, saya Ageeta, Tante, rekan kerja Pak Reno di kantor.” Sang gadis memperkenalkan dirinya, tampak ragu-ragu memutuskan untuk hanya sekadar menjabat atau harus mencium punggung tangannya. Dan pada akhirnya, gadis itu hanya menjabat tangannya dengan sentakan lemah.
“Halo, Ageeta, santai aja ya di sini. Nggak usah gugup, Mami nggak gigit kok,” godanya. Matanya melirik Reno dan bibirnya tersenyum tipis.
Sampai beberapa waktu lalu, Theresa masih merasa khawatir bahwa Reno mungkin akan benar-benar menghabiskan sisa hidupnya untuk mengurus Scarlett sendirian. Ia khawatir putranya itu tidak akan bisa jatuh cinta lagi, pada siapa pun, setelah kisah cintanya dengan Clarissa kandas di tengah jalan. Jadi, saat Reno bilang akan membawa seorang gadis ke rumah ini, Theresa merasa senang. Ini adalah sebuah kemajuan. Setelah sekian tahun meneruskan hidup dalam kehampaan, ia mungkin akan segera melihat Reno menemukan kembali warna-warni yang pernah hilang.
“I—iya, Tante.”
“Mami.” Theresa mengoreksi, sedikit melebih-lebihkan ekspresi untuk menunjukkan ketidaksukaannya dipanggil Tante.
Ageeta menoleh ke arah Reno, bak seorang bocah yang tengah meminta izin kepada ibunya untuk menerima permen dari orang asing yang baru ditemui pertama kali. Lalu setelah lelaki itu mengangguk, barulah Ageeta menuruti keinginan Theresa untuk memanggilnya Mami.
“Kalau gitu, ayo kita ngobrol di ruang tengah aja,” ajak Theresa. Tidak butuh persetujuan Reno untuk mengambil alih tangan Ageeta dan menuntuk gadis itu untuk menjejak lebih jauh ke dalam rumah mereka.
Sang gadis menurut meski dengan kepala yang berkali-kali menoleh ke belakang. Antara mulai merasa khawatir atau masih merasa canggung. Untuk itu, Theresa mulai mengeluarkan jurus andalannya, berceloteh riang menceritakan banyak hal selagi kaki mereka berjalan menuju ruang tengah.
Sementara itu, Reno sengaja membiarkan dirinya tertinggal jauh di belakang bersama Scarlett di gendongan. Jujur saja, sambutan yang Theresa berikan kepada Ageeta agak membuatnya terheran-heran. Seluruh dunia juga tahu bahwa wanita yang telah melahirkannya itu adalah wanita yang tangguh dan cenderung dingin pada banyak kesempatan, tetapi bersama Ageeta, mengapa sikapnya bisa begitu ramah?
“Papi, Kakak itu pacar Papi, ya?”
Datangnya pertanyaan nyeleneh dari Scarlett itu sontak membuat keheranan Reno buyar. Ia sedikit menunduk, menatap intens netra putrinya yang berwarna terang—mirip ibunya, lalu meraup wajah kecil anak itu lembut. “Bukan,” jawabnya. “Lagian kamu tahu apa soal pacar? Siapa yang ngajarin?”
“Mami,” celetuk Scarlett dengan polosnya. Itu tidak bohong. Ia memang mengenal istilah pacar dari Noa, ibunya, ketika perempuan itu pertama kali mengenalkan William kepadanya melalui FaceTime beberapa bulan lalu.
Bibir Reno setengah terbuka, lalu tidak lanjut ambil pusing karena sudah cukup khatam dengan Noa yang memang agak lain sejak dahulu kala. Kini, mengingat ada darah perempuan itu mengalir di dalam tubuh Scarlett, Reno cuma bisa berharap taraf agak lain yang Noa wariskan tidak terlalu banyak. Supaya dirinya tidak pusing-pusing amat.
“Jangan terlalu dengerin Mami, dia aneh.” Reno mengakhiri. Agar Scarlett tidak mengocehkan omong kosong lagi, segera dibawanya putri kecilnya itu menyusul Theresa dan Ageeta. Agak was-was juga dia meninggalkan gadis itu hanya berdua saja dengan maminya. Lengah sedikit, takut-takut otak Ageeta sudah dicuci.
...****************...
Sudah lama sekali Ageeta tidak merasakan kehangatan dari sebuah keluarga semenjak Uti dan Kakung meninggal dunia. Segala hal mulai dari yang sepele sampai yang berat, dia lalui sendirian tanpa pernah punya tempat untuk mengeluh dan berbagi beban. Badai demi badai telah ia lalui. Meski sambil tertatih-tatih, nyatanya ia tetap bertahan hingga sekarang.
Dulu, pernah di satu waktu, Ageeta bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Kira-kira, apa alasannya bisa bertahan di dunia yang kejam ini seorang diri? Hadiah apa yang sekiranya Tuhan siapkan untuk dirinya, sampai alam bawah sadarnya terus mendorongnya untuk terus melangkah dan menolak berhenti di tengah jalan?
Malam ini, di sebuah rumah yang bukan hanya megah tetapi juga hangat, Ageeta menemukan jawabannya. Mungkin salah satu alasan kenapa dia harus hidup sampai sekarang adalah karena ini. Karena Tuhan ingin membuatnya merasakan lagi betapa hangatnya berada di tengah-tengah sebuah keluarga yang saling menyayangi. Barangkali Tuhan ingin dia merasakan hatinya penuh lagi, setelah sekian lama kosong dan selalu dihinggapi sepi.
Setelah menandaskan makanan di piring masing-masing, Reno dan keluarga kecilnya tidak langsung beranjak dari meja makan. Piring-piring kotor hanya disingkirkan, demi mereka bisa mulai mengobrol dan menikmati quality time setelah terpisah kegiatan masing-masing selama seharian.
Ageeta bolak-balik menolehkan kepalanya, fokus kepada siapa yang sedang berbicara. Kali ini, perhatiannya tercurah penuh pada gadis kecil di seberangnya yang sedang asyik berceloteh tentang kegiatannya selama di sekolah. Katanya, ia baru saja mendapatkan teman baru. Seorang anak laki-laki dengan mata bermanik terang sama seperti miliknya, yang baru pindah dari Bali.
“Namanya siapa?” tanya Reno, dan otomatis kepala Ageeta kembali beralih kepada lelaki itu.
“Justin.” Si gadis kecil menjawab sambil mulutnya sibuk mengunyah dessert berupa puding plain.
“Ganteng, nggak?” godaan ini datangnya dari Theresa.
Ini lucu, tetapi pipi pualam Scarlett langsung kelihatan bersemu setelah Theresa bertanya begitu. Hal tersebut jelas membuat Ageeta merasa gemas sampai-sampai kelepasan tertawa renyah.
“Ganteng,” jawab Scarlett dengan jeda cukup lama. Sudah seperti orang dewasa saja lagaknya ketika mulai menceritakan secara detail ciri fisik Justin si teman baru. Sementara ayah dan neneknya mendengarkan dengan begitu saksama, lagi-lagi membuat Ageeta ikut merasakan kehangatan dari tatapan tulus keduanya.
“Kapan-kapan Scarlett boleh ajak dia main ke sini, ya, Pi?”
“Boleh.” Alih-alih Reno, jawaban itu justru datang dari Theresa. Sedangkan yang ditanya baru hendak membuka mulut untuk mengatakan hal sebaiknya. Reno pernah bilang bahwa apa pun akan dia lakukan demi Scarlett. Anak itu meminta dunia dan seluruh isinya pun akan dituruti, tetapi kalau permintaan itu ada kaitannya dengan laki-laki, Reno tetap akan berpikir seratus juta kali.
Sekali lagi, ini terjadi karena ketakutan berlebih yang ia miliki kalau-kalau Scarlett mungkin akan bertemu dengan dirinya versi muda dulu. Si bocah urakan tak tahu aturan yang hobinya nemplok sana-sini bagai seekor lalat.
“Biasa aja, nggak usah heboh,” celetuknya, kontan menginterupsi perayaan kecil-kecilan yang Scarlett lakukan. Gadis itu merengut, dan demi menghindari baku hantam, Reno lebih memilih untuk bangkit dan mulai mengangkut piring-piring kotor ke wastafel.
“Biar saya yang cuci piring, Pak,” tawar Ageeta. Tangannya tanpa sadar sudah begitu lancang memegang pergelangan tangan Reno. Sementara lelaki itu butuh waktu hampir tiga detik untuk akhirnya berkata tidak.
“Nggak ada sejarahnya tamu boleh cuci piring di rumah ini,” ujarnya. Meski tanpa kata, kalimat itu pun diamini oleh Theresa dan Scarlett dengan anggukan kepala kompak.
Ageeta kebingungan selama beberapa saat, kemudian mencoba lagi penawarannya dengan kalimat, “Tapi ini cuma cuci piring, kerjaan yang biasanya juga saya kerjain di kantor.” Yang tanpa ia tahu, malah membuat Reno memberikan reaksi jauh dari dugaan.
Lelaki itu menjauhkan tangannya beserta piring-piring kotor, berbalik menuju wastafel seraya berucap, “Itu kan di kantor. Ini rumah saya, saya yang punya kuasa, saya yang berhak mengatur apa-apa aja yang boleh dan nggak boleh dilakukan.” Lalu dalam sekejap sudah sibuk menggosokkan spons penuh sabun ke permukaan tiap-tiap piring dan sendok.
Di tempat duduknya, Ageeta termangu sambil memandangi punggung lebar Reno. Perlahan mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tahu-tahu sebuah pertanyaan muncul tanpa permisi: kalau wanita yang ia lihat bersama dengan Reno dan Scarlett di depan restoran barbeque tempo hari adalah Theresa, ibundanya, lantas di mana keberadaan istri lelaki itu? Mengapa Ageeta tidak menemukan keberadaan perempuan itu di rumah ini?
Sementara Ageeta melamun, Theresa menarik kursinya lebih dekat. Dengan lembut disentuhnya punggung tangan sang gadis, lalu menyebut namanya satu kali hingga sang empunya bangun dari lamunan dan menoleh dengan kedua netra penuh kebingungan—yang semakin menjadi-jadi tatkala ia berkata, “Malam ini nginep, ya. Mami rasa kamu dan Reno perlu ngobrol tentang banyak hal.”
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Dewi Payang
Tuh mami kasih lampu hijau🤭🤭
2024-08-10
1
Dewi Payang
Haduh, aku masih speecless, ternyata starlett nama si anak perempuannya Reno
2024-08-10
1
Dewi Payang
Loh, itu Scarlett putrinya, aku fikir orgnya beda?
2024-08-10
1