Late Night Chat

Roda-roda mobil berputar menyusuri jalanan yang basah dan licin karena air hujan. Di luar, langit segelap malam meski waktu baru menunjuk pukul 4. Angin berembus kencang, dahsyatnya ia sampai membuat ranting-ranting pohon berjatuhan, terpelanting jauh menimpa atap-atap kendaraan yang melintas di sepanjang ruas jalan.

Di balik kemudinya, Reno tampak gelisah. Wiper yang bekerja keras menyapu air hujan nyatanya tidak membantu cukup banyak. Kaca depan mobilnya tetap berembun dan jangkauan pandangnya menjadi semakin menipis dari detik satu ke detik berikutnya.

Kemudian, setelah melewati satu tikungan berkat lolos dari jebakan lampu merah, Reno membanting setir ke kiri. Menepikan mobilnya di ruas jalan yang sepi, mengistirahatkan diri.

“Kita tunggu hujannya agak reda dulu, ya, Git. Saya takut kenapa-kenapa kalau nekat lanjut.” Pada gadis bersurai kecokelatan yang duduk gelisah di kursi penumpang itu ia berkata.

Sang gadis menganggukkan kepala. Tidak memiliki pilihan selain menurut pada sang empunya kendaraan. Meskipun sejujurnya, terjebak di dalam mobil bersama seseorang yang baru-baru ini membuat detak jantungnya menjadi abnormal, ketika hujan badai sedang menerjang seperti sekarang, bukanlah sesuatu yang bagus untuk dilakukan.

Beberapa kali, kilat masih terlihat menyambar-nyambar dari kejauhan, disusul gelegar petir memekakkan telinga yang membuat Ageeta meremas celana panjangnya kuat-kuat dalam upaya menenangkan ketidaknyamanan yang mulai menggerogoti dirinya semakin banyak.

Ageeta tidak suka hujan. Dia tidak suka mendengar gelegar petir apalagi jika dipadukan dengan kencangnya embusan angin ribut. Dia tidak suka gelap, tidak suka hawa dingin yang ditimbulkan oleh badai menyergapnya, membawa serta kesepian yang dia dekap erat-erat selama bertahun-tahun setelah Uti dan Kakung pergi ke surga.

“Kira-kira, kapan badainya bakal berhenti?” tanyanya. Suaranya bergetar, entah karena tubuhnya mulai menggigil kedinginan atau justru karena hawa tidak nyaman yang mulai menyerangnya diam-diam.

Reno menarik ponselnya dari atas dashboard, memeriksa prakiraan cuaca. “Akan lama.” Kemudian jawaban itu dia berikan dengan berat hati. Bulan-bulan ini masih belum masuk musim penghujan, tetapi bumi yang sudah tua seakan tidak lagi memerlukan izin siapa pun jika ingin menurunkan badai. Efek pemanasan global, katanya. Juga bentuk teguran atas kelakukan manusia yang suka semena-mena terhadap alam.

Ageeta mendesah pelan, mulai frustrasi. Apa yang harus dia lakukan jika badai betulan tidak kunjung berhenti dan dia harus terjebak di sini bersama Reno untuk kurun waktu yang tidak pasti? Belum lagi jantungnya yang mulai lagi, berdebar-debar seperti genderang yang ditabuh berkali-kali.

Dalam kegelisahannya itu, Ageeta melarikan pandangannya ke luar jendela, seraya meremas kedua tangannya dan berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Namun, segala upaya untuk menenangkan diri itu buyar seketika saat tangan Reno yang dingin tiba-tiba saja menyentuh miliknya.

Ageeta tersentak, refleks menoleh dan menarik kedua tangannya menjauh. Untuk kemudian menemukan lelaki di sampingnya itu juga terlihat sama terkejutnya.

“Maaf, Pak, saya cuma kaget. Tangan Bapak dingin,” cicitnya. Tidak tahu apakah suaranya berhasil lolos karena Ageeta merasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

Reno tidak menjawab. Malah tahu-tahu saja, entah bagaimana, Ageeta sudah menemukan wajah lelaki itu berada dalam jarak dekat. Cukup dekat untuk membuatnya bisa merasakan embusan napasnya yang hangat.

“Pak...”

“Can I?” lidah Ageeta seketika kelu tatkala ibu jari Reno yang dingin tahu-tahu menyapu belahan bibir bawahnya yang sedikit terbuka. Sorot mata penuh damba yang lelaki itu suguhkan juga semakin memperkeruh suasana. Membuat jantung Ageeta terasa hampir meledak, dan dia semakin tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam keadaan begitu, satu-satunya hal yang terpikirkan oleh Ageeta adalah memejamkan mata. Kedua tangannya saling meremas lebih kuat, seiring deru napas Reno yang terasa semakin dekat dan hangat.

Lalu, saat Ageeta merasakan sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, ia refleks membuka mata. Hanya untuk dibuat memekik heboh saat menemukan wajah penuh bulu milik Rooney tersuguh di depan wajahnya. Hidung merah mudanya bergerak-gerak, khas seperti ketika ia sedang mengendus makan malam.

“Rooney!” pekiknya, refleks bangun dari posisi rebahnya dengan gerakan heboh sehingga membuat tubuh gembul Rooney terpelanting ke lantai.

“Jorok!!!” seru Ageeta lagi, sambil mengusap-usap bibirnya yang dia rasa sudah dijilati oleh Rooney selama dia terlelap.

Sementara Rooney, dengan dua mata biru miliknya, hanya terdiam menatap Ageeta yang bereaksi begitu heboh. Padahal biasanya gadis itu tidak masalah untuk dijilati begitu. Well, Rooney sering melakukannya ketika Ageeta tertidur. Tentu saja tanpa gadis itu ketahui.

Untuk beberapa lama, Ageeta masih terus mengoceh. Menunjuk-nunjuk wajah Rooney di mana bocah bulu itu masih setia menatapnya. Sampai kemudian, potongan ingatan tentang mimpi tidak etis yang dia alami beberapa saat lalu itu muncul dan seketika membuat Ageeta terdiam.

Kaki-kaki Ageeta tiba-tiba berubah menjadi jelly, membuatnya terduduk lemas di atas lantai kamar dengan pikiran yang mengawang.

“Git, nyebut, Git. Apa-apaan bisa mimpiin sesuatu yang jorok kayak gitu?” monolognya. Siapa pun yang melihat keadaannya secara langsung pasti akan tahu bahwa saat ini, nyawa Ageeta hanya tinggal separuh. Sementara separuhnya lagi melayang pergi, menolak untuk masuk kembali ke dalam tubuh karena terlalu malu.

Ini gara-gara kamu nonton drama Korea romantis sebelum tidur, makanya kebawa mimpi! Udah, nggak apa-apa, asal jangan lanjut part dua. Kalau bisa diterjemahkan, mungkin begitu kira-kira kalimat yang Rooney coba sampaikan ketika bocah bulu itu menggunakan satu kaki depannya untuk menepuk-nepuk paha Ageeta.

Tetapi, kabar buruknya tidak hanya sampai di situ. Ketika Ageeta selesai mengusap-usap wajahnya kasar sampai kusut tak berbentuk, ia malah menemukan ponselnya yang tercampak di kolong kasur menyala terang, memunculkan notifikasi dari seseorang yang sudah secara tidak etis dia mimpikan.

Masih menahan malu dan merutuk, Ageeta meraih ponselnya. Indikator waktu di sebelah kiri atas menunjuk pukul 11 lewat 6, sudah larut malam, sehingga kemudian Ageeta menjadi penasaran. Pesan seperti apa yang kiranya Reno kirimkan, sedangkan lelaki itu sama sekali tidak pernah menghubunginya kecuali di jam kerja

Sambil merapal doa, Ageeta mengeklik notifikasi di layar ponselnya, sehingga terlihat olehnya pesan yang Reno kirimkan secara utuh.

Git, sorry for disturbing you, tapi bisa nggak kamu shareloc alamat rumah kamu ke saya sekarang?

“What the—“ Ageeta membungkam mulutnya sebelum kelepasan mengumpat. Ponsel di tangan terlempar lagi ke lantai, tercampak seperti seonggok besi tua tak berguna.

“Kenapa... Harus gimana....” pertanyaan yang entah ditujukan kepada siapa, karena saat ini, Rooney pun sudah melenggang pergi. Tak lagi peduli pada drama kehidupan yang menimpa babu kesayangannya kali ini.

“TUHAN, INI ADA APA?! KENAPA PAK RENO TIBA-TIBA MINTA ALAMAT RUMAH SAYA?!”

...****************...

Ting!

Satu notifikasi itu berhasil membuat Reno urung menenggak lagi air minumnya. Gelas tinggi setengah penuh di tangan kanannya dia letakkan lagi di atas counter, lalu perhatiannya langsung tercurah pada ponsel di tangan kirinya yang menyala.

Balasan dari pesan yang dia kirimkan kepada Ageeta sejak satu jam lalu baru mendapatkan balasan, dan Reno agak dibuat heran ketika gadis itu dengan mudahnya mengirimkan alamat tempat tinggalnya tanpa bertanya terlebih dahulu mengapa ia memintanya.

“Dasar bocah sembrono.” Sembari mengomel, Reno membalas ok, lantas menemukan pesannya hanya berakhir centang satu.

“Lah, cepet amat dia off,” komentarnya, namun tidak mau terlalu ambil pusing. Toh, dia sudah mendapatkan apa yang diinginkan dan sekarang bisa pergi tidur.

Sebelum naik ke kamar, Reno menenggak air di dalam gelas sampai tandas, meninggalkan gelas kosongnya di counter meskipun sudah tahu Scarlett akan mengoceh besok pagi ketika menemukan gelas itu tidak diletakkan pada tempatnya.

Tidak apa, Reno memang sengaja melakukannya. Sebab Omelan Scarlett adalah hiburan tersendiri untuknya.

Sambil mesem-mesem membayangkan raut wajah kesal Scarlett ketika mengomel, Reno meninggalkan dapur. Berjalan pelan-pelan di tengah pencahayaan yang remang karena terlalu malas menyalakan lampu utama.

Lepas melewati belokan, Reno berhenti melangkah. Ia mendongakkan kepala ke arah tangga menuju lantai dua, di mana seorang wanita dengan piama hitam berdiri menunggunya.

“Udah?” tanya wanita itu.

“Udah.” Reno berucap sembari mengayunkan kaki, menaiki satu persatu anak tangga dengan langkah yang terasa lebih ringan.

Bersambung...

Yahhh, Git... Pak Reno udah punya pawang, Git. Mundur, Git, cari yang lain aja...

Terpopuler

Comments

Zenun

Zenun

Scarllet pawang nya Reno?

2024-07-08

1

Zenun

Zenun

Mau ada urusan, positif thinking aja git😁

2024-07-08

1

Zenun

Zenun

laaaah ngimpi

2024-07-08

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!