Membawa serta tab pink imut di tangan, Reno kembali ke ruang kerjanya, menemui seonggok manusia menyebalkan yang sudah menyambutnya dengan senyum mencurigakan bahkan sejak dia baru mencapai ambang pintu. Dengan sorot matanya yang berbinar seperti penuh bintang-bintang, manusia itu terus mengamati pergerakannya sampai ia duduk di kursi kebanggaan.
“Lo nggak marahin pink fanta kesayangan gue, kan?” todong manusia itu, sembari berjalan ke arahnya, membawa gendongan berisi bayi perempuan yang asyik mengenyot empeng.
“Gue marahin lah, orang dia salah.” Reno mengulurkan tangan, meminta bayi perempuan beramata bulat itu untuk diserahkan kepada dirinya. Sang ayah tanpa ragu mengiakan, melonggarkan gendongan sehingga putri kecilnya bisa berpindah tangan.
Manusia menyebalkan itu, Baskara, kemudian berdiri di depan meja kerja Reno seraya menumpukan satu tangan di atas meja, satu tangan lain bersemayam di pinggang dan kakinya menyilang. “Tapi marahinnya biasa aja, kan?” tanyanya lagi.
“Emang ada marahin yang nggak biasa?” Reno bertanya balik. Di atas pangkuannya, Sky masih anteng mengenyot empeng selagi matanya terus menatap ke arah ayahnya.
“Ada, lah!” seru Baskara.
“Contohnya?”
“Kalau lo marah-marahnya sambil bentak-bentak, apalagi sampai main fisik.” Baskara menjelaskan seraya tangannya heboh mempraktekkan gestur memarahi seseorang. Menunjuk-nunjuk udara seperti orang gila.
Reno melarikan kedua bola matanya ke sudut atas, berpikir sejenak. Kemudian, ia kembali menatap Baskara dan dengan santai berkata, “Tadi gue sentil jidatnya, sih.” Lantas mulai sibuk bermain-main dengan jemari kecil Sky. Menciumi pipi gembilnya yang kenyal, lembut dan bau minyak telon.
“Itu mah udah masuk kekerasan fisik! Gimana kalau pink fanta nggak terima dan laporin lo ke polisi?!” seru Baskara. Biasa, tidak ada reaksi yang tidak lelaki itu lebih-lebihkan. Sejak menjadi bapak-bapak anak satu, mantan pentolan geng paling keren sekampus itu memang gemar memberikan reaksi yang heboh.
“Nggak akan Ageeta kepikiran ke sana, lagian gue nyentilnya cuma pelan, nggak sampai bikin jidat dia bolong.” Reno menanggapi dengan santai.
“Tetap aja nggak boleh gitu! Jangan suka main tangan ke anak orang, nanti kebiasaan!”
Malas menanggapi, Reno berpura-pura tuli. Beralih mengajak ngobrol Sky dengan bahasa bayi. Menunjukkan berbagai macam benda di atas meja kerjanya untuk membuat bayi berambut tebal itu semakin betah bersama dengannya. Meskipun sebetulnya, apa yang Baskara katakan ada benarnya dan diam-diam dia putar berkali-kali nasihat itu di kepala.
Tetapi masalahnya, ia sendiri tidak bisa mengontrol gerakan tangannya ketika menanggapi tingkah Ageeta yang kadang agak di luar nalar manusia. Entah kenapa, berhadapan dengan Ageeta terasa seperti berhadapan dengan seorang anak kecil yang polos dan perlu sedikit hadiah untuk membuatnya mengerti mana yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan.
“Omong-omong,” Baskara melirik ke arah Reno, memastikan lelaki itu masih menaruh fokus padanya meski sedang sibuk bermain dengan Sky sebelum melanjutkan, “Biru lagi butuh orang buat bantuin dia di butik. Coba kasih tahu pink fanta, siapa tahu dia berminat.”
“Nggak perlu,” sahut Reno. Lelaki itu bahkan menjawab tanpa memerlukan waktu untuk berpikir, membuat Baskara berdecak sebal.
“Tanya aja dulu, siapa tahu anaknya minat!” sewotnya.
“Nggak perlu, Bas.” Reno mengulangi. Ditinggalkannya sejenak keasyikan bermain dengan Sky, hanya untuk menatap Baskara serius agar lelaki itu tahu bahwa ia bersungguh-sungguh. “Gue nggak mau Ageeta kerja di tempat lo.”
“Kenapa?”
“Nanti yang ada lo malah godain dia terus, bahaya.”
“Mana ada!” sergah Baskara, tidak terima. Seruannya yang cukup keras membuat Sky terhenyak. Bayi itu melepaskan empeng dari mulutnya, menatap ayahnya penuh rasa penasaran. Baskara yang menyadari itu langsung balik menatap putrinya, memasang wajah ramah bintang lima seraya berkata, “Oh, I’m sorry, Baby. Papi nggak bermaksud bikin kamu kaget.”
Kemudian, setelah menemukan Sky kembali tenang, ia kembali menatap Reno. Kali ini dengan sorot yang lebih tajam. “Di sana ada Biru, ya kali gue berani godain cewek lain. Belum juga sampai genit, yang ada leher gue udah digorok duluan sama dia.”
Reno menganggukkan kepala, setuju. Namun, dia tetap kekeuh pada pendirian awalnya. Ia menghargai niat Baskara untuk membantu, tetapi memberikan lowongan pekerjaan kepada Ageeta secara cuma-cuma juga akan terkesan seperti meremehkan. Kalau begitu, apa bedanya dia dengan para cecunguk yang asyik membicarakan gadis itu di belakang hanya karena posisinya sebagai office girl di kantor? Reno tidak ingin membuat Ageeta merasa kecil, sebab dia tahu betapa bangganya gadis itu jika bisa mendapatkan sesuatu atas hasil usahanya sendiri.
Samar-samar, terdengar Baskara mengembuskan napas panjang, namun lelaki itu tidak mendebat lebih jauh. Reno hanya melirik sekilas dan pura-pura kembali sibuk bersama Sky. Membiarkan hening menyelimuti keberadaan mereka selagi kepalanya sibuk memikirkan hal lain.
Kemudian, saat Baskara bertanya, “Omong-omong, Scarlett apa kabar? Udah lama gue nggak ketemu sama dia.” Reno berhasil dibuat berhenti dari segala aktivitasnya. Ia kembali menatap Baskara, tersenyum simpul.
“She’s good. Kapan-kapan gue ajak dia ketemu sama lo dan Biru.”
...****************...
Reno punya kebiasaan untuk tinggal di kantor lebih lama ketika besok adalah weekend. Tujuannya untuk membereskan beberapa pekerjaan, agar hari liburnya tenang dan dia tidak perlu memikirkan urusan kantor apa pun. Seperti hari ini, ketika waktu menunjuk pukul tujuh dan kantor sudah dalam keadaan sepi, dia baru bergerak membereskan meja kerjanya, bersiap untuk pulang. Ketika tangannya baru saja hendak menyambar jaket dari gantungan, ponsel di saku celananya bergetar.
Santai, Reno merogoh celananya, membawa benda pipih itu ke depan wajah dan otomatis tersenyum tatkala nama Scarlett terpampang di layar. Tanpa membuang-buang waktu, ia menggeser log hijau dan menempelkan ponsel ke telinga, menyambut suara lembut Scarlett dengan hati yang menghangat dan terasa penuh.
“Halo, Sayang.”
Scarlett di seberang sana asyik berceloteh, dan Reno mendengarkan dengan senang hati. Menanggapi setiap ucapan Scarlett dengan suara lembut dan penuh kesabaran, sambil terus melanjutkan aktivitasnya berberes sampai selesai untuk kemudian berjalan meninggalkan ruang kerja.
“Iya, ini baru on the way dari kantor, tunggu ya.” Seraya berdiri di depan lift, menunggu pintu besi itu terbuka. Sudut-sudut bibirnya berkali-kali tertarik ke atas, tawanya mengudara bebas seperti tidak ada beban apa pun yang menumpuk di dada ketika suara Scarlett terus memanjakan telinganya.
“Cheseecake? Boleh, dong. Mau apa lagi?” sewaktu lift terbuka, Reno melangkah masuk tanpa ragu. Keadaannya yang kosong membuatnya semakin merasa leluasa untuk berbicara banyak hal dengan Scarlett tanpa takut ada yang mencuri dengar tanpa kehendaknya.
Reno kembali tertawa tatkala di seberang sana, Scarlett bercerita soal bucket bunga yang Reno kirimkan ke rumah dan berakhir menjadi sasaran empuk Lexus (seekor Alaskan Mallamute berusia 9 bulan), berakhir tercerai-berai dan urung dipajang di ruang keluarga seperti planning mereka di awal.
“Ya udah, nanti kita beli lagi.” Pintu lift terbuka, Reno bergegas keluar dengan masih terus menanggapi ocehan Scarlett yang seperti tidak ada ujungnya
Sementara di sudut yang lain, tanpa tahu apa yang sedang Reno lakukan selama perjalanan pulang, Ageeta sedang sibuk menenangkan detak jantungnya yang tidak kunjung kembali normal sejak insiden dimarahi di pantri pagi tadi. Ia sendiri tidak mengerti, apakah ini adalah efek dari mendapatkan omelan yang cukup serius dari Reno untuk pertama kali, atau justru karena dia mulai menyadari bahwa... Reno memang menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai atasan, melainkan laki-laki dewasa dengan seribu satu pesonanya.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Selviana
🌹🌹 untuk author nya 🥰🥰
2024-07-29
0
Selviana
emang kenapa kalau ada yang mendengarkan
2024-07-29
0
Selviana
Aduh sayang nggak tuh
2024-07-29
0