Chit Chat

"Safety belt."

Ageeta baru bisa menghela napas lega setelah Reno menjauh usai memasangkan safety belt untuk dirinya.

Ageeta menyentuh dadanya diam-diam. Mengusapnya perlahan demi menenangkan gejolak tak biasa di sana. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah Reno untuk memastikan lelaki itu tidak sedang memperhatikan gerak-geriknya.

Ini gila! Ageeta yakin dirinya bukan manusia berotak kotor yang bisa membayangkan banyak hal-hal dewasa yang tidak semestinya, terlebih bersama atasan yang dari segi mana pun terasa jauh sekali untuk bisa dia gapai. Selama ini pun, entah sebanyak apa dia berinteraksi dengan atasan-atasan lain di kantor, Ageeta tidak pernah sampai bermimpi atau terbayang hal-hal semacam itu.

Aneh ketika kini bayang-bayang Reno terus menghantui kepalanya. Meneror seperti rentenir yang ingin uangnya segera dikembalikan dengan bunga yang tidak manusiawi.

Bermenit-menit bergelut dengan keresahannya sendiri, juga upaya untuk menenangkan diri agar gerak-geriknya tidak semakin absurd, Ageeta mencoba memikirkan sebuah topik untuk dibawa ke permukaan. Agar perjalanan mereka menerobos hujan dan kemacetan tidak semakin terasa lama dan menegangkan.

Dan, dari banyaknya topik yang bisa dibawa, terbersit sebuah pertanyaan yang rasanya cukup penting untuk dituntut jawabannya.

Maka lagi-lagi, dengan tidak lupa berdoa di dalam hati, Ageeta mulai membuka suara. Bertanya, "Tapi omong-omong, memangnya rumah kita searah, ya, Pak?" Bukan apa-apa, tetapi daerah tempat Ageeta tinggal bukanlah kawasan perumahan elit yang mungkin ditinggali oleh orang-orang berposisi dan bergaji bagus seperti Reno. Sekalipun ada kompleks perumahan atau apartemen, itu adalah kompleks subsidi yang harganya masih bisa terjangkau oleh Ageeta sekalipun. Jadi, rasanya memang agak mengganjal di hati.

"Enggak, rumah saya ke arah utara."

Kan!

Tahu bahwa kecurigaannya benar, Ageeta secara alami mengeluarkan reaksi yang heboh. "Kalau gitu turunin saya di halte terdekat aja, Pak. Tapi saya pinjam payungnya, janji besok saya balikin!" serunya.

Sedangkan Reno, menanggapi kehebohan itu, hanya bisa berdecak kesal. "Udah deh nggak usah heboh. Diem aja di tempat kamu, duduk yang anteng."

"Tapi, Pak--"

"Diem, Ageeta "

Ageeta mengatupkan bibir, sedikit cemberut. Lagi-lagi percuma mendebat Reno yang keras kepala, jadi Ageeta menyerah. Memiringkan tubuhnya ke kiri, melemparkan pandangan ke arah jalanan yang basah.

Hening kemudian tercipta tanpa bisa dicegah. Tetapi, itu tidak berlangsung lama karena pada dasarnya Ageeta adalah manusia cerewet yang energinya tidak akan pernah habis. Maka, setelah membetulkan lagi posisi duduknya, ia menyeletuk. "Kalau gitu, saya aja yang nyetir, Pak." Yang praktis membuat Reno menolehkan kepala.

"Kamu bisa?" selidik Reno, menaruh curiga.

"Bisa." Ageeta menjawab yakin.

Karena Reno masih terlihat ragu, Ageeta buru-buru merogoh tas di pangkuannya, menarik dompet, lalu mengeluarkan SIM A dan SIM C yang dia miliki.

"Ini SIM bukan hasil nembak, beneran tes berkali-kali sampai berhasil!" cerocosnya.

Kendati sudah menjelaskan dengan gaya yang meyakinkan, Ageeta masih menemukan Reno terlihat ragu. Lelaki itu terus-menerus memandang ke arahnya dan kedua SIM yang dia pegang secara bergantian. Sorot matanya seakan menyuarakan seberapa besar keraguan yang dia miliki atas pernyataan yang Ageeta buat.

"Serius, saya nggak bohong!" Ageeta sampai mengangkat dua jari, bersumpah atas nama dirinya sendiri.

Reno yang tadinya membisu, menghela napas kemudian. "Iya, iya, saya percaya. Sekarang diem, saya harus fokus nyetir."

Meskipun kecewa atas respons yang Reno berikan, Ageeta tetap menurut. Tanpa melayangkan protes lebih lanjut, SIM dikembalikan ke dalam dompet dan dia kembali duduk anteng memeluk tas ranselnya yang segede bagong.

Beberapa menit kemudian, ketika Ageeta sudah benar-benar menghayati perannya sebagai seseorang yang penurut dan pendiam, Reno tiba-tiba menyeletuk, "Ngomong gih, Git. Kamu aneh kalau diem aja kayak gitu."

Praktis, Ageeta balik bertanya, "Ngomongin apa?"

"Apa aja. Cerita soal cowok yang lagi kamu suka, mungkin?"

Wah, yang bener aja, orangnya lagi ada persis di samping saya loh ini! Jerit Ageeta, lagi-lagi hanya bisa di dalam hati. Dan sebagai gantinya, dia cuma bisa menjawab, "Nggak ada. Saya mana punya waktu buat mikir cinta-cintaan." Sambil kembali melemparkan pandangannya jauh ke arah jalanan.

Di bawah guyuran hujan yang deras begitu, masih ada saja segelintir orang yang tetap nekat berkeliaran di jalan demi mendapatkan uang. Contohnya adalah pedagang asongan yang hanya membalut tubuhnya dengan jas hujan plastik harga lima ribuan itu. Bergerak susah payah menghampiri mobil-mobil yang berhenti di lampu merah, menawarkan air dalam kemasan dan tisu (juga beberapa dagangan lain).

Sesaat, Ageeta terlalu fokus pada pemandangan menyayat hati di luar sana, sampai kemudian tanggapan Reno atas jawaban yang dia berikan, mengudara bersama berisiknya suara air hujan yang menimpa atap mobil.

Kata lelaki itu, "Bagus. Lebih baik kamu fokus sama diri kamu sendiri. Kejar mimpi-mimpi yang belum kamu capai, bangun karir kamu sampai ke level tertinggi versi kamu sendiri, lakuin apa yang kamu mau tanpa sibuk mikirin pendapat orang lain as long as itu enggak merugikan siapa pun. Cinta dan jodoh or whatever you named it, akan mengikuti."

Ageeta terdiam sebentar, mencerna apa yang Reno ucapkan. Lalu, ia kembali dengan sebuah pertanyaan yang sering hilir-mudik di kepalanya saking seringnya ia mendengar hal tersebut diperdebatkan.

"Tapi, Pak, saya sering dengar orang-orang bilang kalau perempuan yang terlalu mandiri dan punya value lebih akan susah dapat jodoh. Katanya, di zaman ini, akan susah menemukan laki-laki yang mau menerima perempuan dengan alpha energy. Kalau kayak gitu, gimana?"

Bibir Reno menipis mendengar pertanyaan itu. Memelankan laju mobilnya, ia menjawab dengan tenang, "Betul. Tapi, kamu perlu ingat bahwa cuma laki-laki yang insecure dan nggak punya value apa pun yang akan ngomong begitu. Cuma mereka yang selalu merasa kecil yang nggak akan berani deketin seseorang yang mereka anggap lebih tinggi."

Karena sepertinya Reno masih belum selesai dengan untaian kalimatnya, Ageeta memilih untuk diam sejenak dan lanjut mendengarkan.

"Karena itu, Git, kamu harus berusaha menaikkan value kamu supaya yang datang ke kamu bukanlah cowok-cowok mokondo tukang insecure yang kerjaannya cuma bisa ngeluh, tapi ingin seluruh dunia bergerak sesuai kemauan dia. Kamu harus jadi perempuan yang tinggi, yang punya prinsip kamu sendiri supaya enggak mudah dimanipulasi dan digaslighting sama cowok-cowok dramatic kayak gitu."

Sejauh perkenalanannya dengan Reno, ini mungkin adalah salah satu pembicaraan paling berbobot yang pernah mereka miliki. Biasanya, mereka hanya terlibat percekcokan untuk hal-hal remeh-temeh cenderung tidak penting. Jadi, berhubung ada kesempatan untuk memiliki obrolan yang berkualitas, Ageeta memutuskan untuk menyelam lebih dalam.

"Menarik," sahut Ageeta. "Tapi, saya beberapa kali ketemu sama cewek yang high value, tapi end up sama cowok berengsek dan mokondo. Kalau kayak gitu, gimana?"

Samar-samar, Ageeta temukan sudut-sudut bibir Reno terangkat. Yang untuk beberapa waktu kemudian, membuat Ageeta kembali tersihir. Ia mungkin belum pernah mengatakannya kepada siapa pun, tapi demi Tuhan, sisi tampak samping seorang Reno Irvansyah adalah pahatan sempurna yang pernah ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Ujung hidung lelaki itu yang tinggi dan presisi tidak pernah membuat Ageeta gagal terpesona. Kalau zaman sekarang, mungkin harus mengeluarkan ratusan juta untuk memiliki hidung sempurna seperti itu.

"Ada banyak case seperti itu, tapi kamu bisa membuat diri kamu nggak masuk ke dalam salah satu di antara para perempuan itu." Di lampu merah, mobil berhenti melaju. Angka yang tertera di sana dimulai dari 1, diikuti 2 angka lainnya. Pertanda bahwa mobil mereka akan terjebak cukup lama sampai lampu lalu lintas berubah hijau kembali. Pada momen itu, Reno melepaskan genggamannya pada setir, beralih menatap Ageeta yang kedapatan menatap begitu intens ke arahnya. Seakan-akan ada banyak sekali pertanyaan yang ingin gadis itu semburkan, dan hanya butuh waktu sampai ia merealisasikannya.

"Kamu tetap bisa jadi high value woman yang nggak jatuh ke pelukan cowok-cowok berengsek kayak gitu, Git." Reno menyambung setelah dua detik penuh hanya membiarkan tatapan mereka saling bertembung.

"Caranya?" tanya Ageeta. Cukup antusias untuk mendengarkan kiat-kiat dalam memilih calon partner hidup dari seseorang yang beberapa tahun lebih dulu menjalani kehidupan di dunia.

Namun, alih-alih menjawab pertanyaannya, Ageeta malah menyaksikan Reno mendorong kursinya sedikit ke belakang, melipat kedua tangan di depan dada, mulai memejamkan mata.

"Tolong bangunin saya kalau lampunya udah hijau, saya mau istirahatin mata saya sebentar." Lelaki itu berpesan santai, tanpa beban.

Sedangkan Ageeta, hanya bisa mengembuskan napas rendah tanpa mampu mengucapkan sepatah kata protes apa pun. Sebab lebih daripada keinginannya untuk tahu jawaban atas pertanyaannya, kini ia lebih tertarik untuk mencuri pandang ke arah Reno yang terpejam tenang di balik kemudinya.

Jadi, kira-kira begini ya pemandangan yang akan ditemui oleh partner hidup Reno setiap hari? Raut innocent yang sama sekali tidak akan terlihat ketika lelaki itu sedang terjaga. Raut innocent yang bisa membuat seketika lupa pada bibir cerewetnya yang pintar sekali mencela segala sesuatu yang tak sesuai dengan kemauannya. Raut innocent yang sepertinya... Akan mulai menjadi hal favorit untuk Ageeta ingin lihat lebih sering ke depannya.

Bersambung.

Terpopuler

Comments

Dewi Payang

Dewi Payang

Yg ada malah tat-tit-tat-tit klo lampunya ijo😁

2024-07-19

1

Dewi Payang

Dewi Payang

Setuju sama Reno

2024-07-19

1

Dewi Payang

Dewi Payang

Ayo, cerita tentang Reno aja

2024-07-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!