Her Life Story

Kalau dibilang sebatang kara, sebenarnya tidak juga. Ageeta memiliki seorang tante dari pihak ibunya yang tinggal di Jakarta. Ketika pertama kali datang ke kota ini, dia sempat singgah di rumah tantenya selama tiga minggu sebelum memutuskan untuk mengontrak rumah sendiri dengan uang tabungan yang dia bawa dari kampung.

Bukannya sombong dan mau sok bisa berdiri di atas kakinya sendiri, tetapi ada peristiwa tidak mengenakkan selama ia tinggal di rumah tantenya yang akhirnya membuat keputusannya untuk tinggal sendiri semakin bulat.

Semenjak keluar dari rumah tantenya, Ageeta tinggal di sebuah rumah kontrakan satu lantai yang dia sewa tahunan. Tentu, ini sudah masuk tahun ke-delapan dan dia belum kepikiran untuk pindah. Tidak banyak barang yang ada di dalam rumah sederhana bercat putih tulang itu, tetapi Ageeta tetap saja malas kalau harus mengepak baju dan membongkarnya lagi di tempat tinggal yang baru. Meskipun itu artinya, dia harus rela menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke tempat kerjanya yang sekarang. Hampir 2 jam naik kendaraan umum, itu pun kalau tidak macet. Tapi tak apa, Ageeta masih enjoy menjalaninya.

Pukul tujuh lewat tiga belas, Ageeta baru sampai di halte bus terdekat dari rumah kontrakannya. Hujan turun cukup deras dan Ageeta tidak membawa payung di dalam ransel besar yang dia peluk erat-erat itu. Maklum, sudah bukan musim penghujan, ramalan cuaca juga mengatakan hari akan cerah sampai malam, jadi mana Ageeta tahu kalau langit tiba-tiba galau dan menangis sederas ini sekarang?

Jarak antara halte busway ke rumahnya tidak terlalu jauh, hanya lima menit jalan kaki. Tetapi, karena seragam pink fanta yang melekat di tubuhnya saat ini masih harus dia kenakan lagi esok hari, maka Ageeta memutuskan untuk menunggu hujan sedikit mereda. Bersama beberapa orang yang bernasib sama, ia duduk di kursi besi, memeluk tasnya kian erat sambil memperhatikan tetes-tetes air yang jatuh.

“Mbak kerja di LT. Corp, ya?” Seseorang di sebelahnya, bertanya tiba-tiba.

Ageeta menoleh dan menemukan seorang gadis belia menatap ke arahnya dengan garis senyum yang kentara. “Iya,” jawabnya.

“Enak nggak Mbak kerja di sana?”

Pertanyaan itu membuat Ageeta mengulum senyum. Sosok gadis belia berkuncir kuda itu mengingatkannya pada sosok Ageeta remaja yang masih polos dan memiliki banyak sekali pertanyaan di kepala.

Persis delapan tahun lalu, dia juga pernah menanyakan hal serupa pada seorang karyawan yang dia temui di warung makan milik tantenya. Kala itu matahari baru saja tenggelam dan seorang karyawan perempuan datang ke warung makan untuk minta dibuatkan es teh manis dan disediakan sepiring nasi dengan telur dadar dan dua macam sayur. Walau kelihatan lelah, perempuan itu masih kelihatan menarik di mata Ageeta karena tampilannya yang rapi dan aroma tubuhnya yang masih semerbak wangi. Ageeta, dengan polosnya, bertanya di mana perempuan itu bekerja dan apakah pekerjaannya menyenangkan.

Lalu, “Semua pekerjaan akan jadi menyenangkan tergantung bagaimana perasaan kita sewaktu mengerjakannya. Kalau kita kerjakan sambil mengeluh, rasanya pasti berat dan melelahkan. Pun sebaliknya, kalau kita kerjaan dengan perasaan senang dan penuh rasa syukur, pasti pekerjaannya juga akan jadi menyenangkan.” Ageeta menjawab persis seperti apa yang perempuan itu katakan delapan tahun silam. Perkataan itu juga yang dia bawa ke mana-mana dan menjadi motivasi ketika sedang merasa lelah dengan rutinitas kerja yang begitu-begitu saja. Serupa mantra yang membantu Ageeta bertahan sampai sejauh ini.

“Gitu ya, Mbak…” Gadis remaja itu tampak menerawang. “Soalnya mas aku juga kerja di sana, tapi setiap pulang selalu marah-marah. Katanya pusing lah, capek lah, sampai kadang-kadang suka bentak-bentak aku kalau mood dia terlalu jelek.” Dalam sekejap, raut wajahnya menjadi murung.

Ageeta tidak tahu harus menghibur dengan kalimat seperti apa, jadi dia hanya bisa merogoh kantong bagian samping tas besarnya, mengambil beberapa bungkus permen kopi lalu menyodorkannya kepada sang gadis. “Sikap mas kamu yang nggak baik jangan dimasukin ke dalam hati, ya. Mungkin, beban pekerjaannya memang berat dan dia betulan capek, tapi dia nggak bisa berhenti karena harus cari uang untuk menghidupi dirinya sendiri.”

“Menghidupi kami sekeluarga,” ralat si gadis seraya menerima permen pemberian Ageeta. Untuk beberapa lama, permen-permen di tangkupan tangannya itu hanya ditatap dengan nanar. Meski samar, Ageeta bisa melihat kabut-kabut bening mulai menyelimuti netra cantik sang gadis.

“Nanti pas sampai rumah, kasih beberapa permennya buat mas kamu, ya. Bilang aja dari teman,” ucap Ageeta, berhasil membuat gadis remaja di sampingnya itu kembali mendongak. Seraya tersenyum lembut, mencoba menyentuh sisi rapuh dari sorot mata sang gadis, Ageeta melanjutkan, “Mas kamu hebat karena udah bertahan sampai sekarang. Nggak mudah loh, berjuang menafkahi diri sendiri dan orang lain. Jadi, tolong kasih apresiasi ke dia, ya. Dan untuk kamu, tolong belajar yang bener supaya nggak bikin mas kamu kecewa.”

Sang gadis tidak menyahut. Logo sekolah SMA ternama mengintip dari balik jaket hitam yang gadis itu kenakan. Ageeta menduga, ia baru pulang dari les dan tengah gundah menerka-nerka seperti apa mood abangnya hari ini ketika ia sampai di rumah nanti.

“Sikap mas kamu mungkin menyebalkan, tapi kalau kamu udah sampai di fase yang sama, mungkin kamu bakal sedikit bisa memahami.” Tandas Ageeta. Ia tidak ingin terlalu banyak memberikan nasihat yang dirinya sendiri tidak bisa lakukan. Jadi, setelah memeriksa seberapa banyak hujan telah berhenti, Ageeta berdiri. Hanya seulas senyum dia lemparkan kepada sang gadis remaja, kemudian ia mengangkat tas punggungnya ke atas kepala, lantas berlari menerobos sisa-sisa gerimis yang tidak akan sampai membuatnya basah kuyup ketika sampai di rumah nanti.

Pertemuannya dengan gadis remaja yang bahkan tidak sempat dia tanyakan siapa namanya itu akan dia rekam selamanya di dalam kepala. Dia masukkan ke dalam satu folder khusus, sama seperti kejadian-kejadian lain yang dia alami selama mengarungi hidup seorang diri di kota besar ini.

...****************...

Kepulangan Ageeta selalu disambut oleh seekor makhluk berbulu yang senantiasa menunggu di depan pintu rumah kontrakan, tak peduli seperti apa cuaca pada hari itu. Cerah ataupun hujan, angin ataupun tenang, buntelan bulu berwarna cokelat oranye itu akan tetap berada di posisinya di jam-jam Ageeta pulang kerja.

“Halo, sweetie!” sapanya riang. Seolah menyahut, buntelan bulu itu menggunakan empat kaki dengan paw warna pink itu untuk berlari mendekat. Mengeong manja, menggesek-gesekkan tubuhnya di kaki Ageeta sebagai pengganti pelukan yang tidak bisa dia berikan secara langsung.

“Badanmu basah, kamu pasti lari-larian ya buat sampai ke sini?” Ageeta membawa Rooney, kucing berbulu cokelat-oranye itu ke dalam gendongannya, mengusap-usap bulunya yang panjang dan halus.

Rooney mengeong, mengiakan. Ageeta tertawa renyah, membawa Rooney masuk ke dalam rumah untuk disiapkan makanan dan tempat tidur yang hangat. Sekadar informasi, Ageeta tidak secara resmi memelihara Rooney. Bocah bulu itu pertama kali datang ke rumah kontrakannya delapan bulan lalu, mengeong ribut seperti bocah kesurupan. Beruntung Ageeta memang suka melakukan street feeding di area dekat rumahnya, jadi ia punya stok makanan untuk diberikan kepada kucing kecil yag terus mereog tidak terkendali itu.

Sejak hari itu, Rooney selalu datang, untuk minta makan dan numpang tidur. Kalau siang, dia akan bermain sesuka hati, seakan tahu bahwa Ageeta pun akan super duper sibuk ketika matahari masih tinggi.

“Kamu bau matahari,” komentar Ageeta setelah mencium puncak kepala Rooney yang basah. Kemudian, bocah bulu itu dia turunkan setelah bowl makanan miliknya diisi penuh. Rooney kegirangan, mukbang seperti anak terlantar yang tidak pernah diberi makan selama berbulan-bulan.

Ageeta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Rooney si clingy dan tukang drama itu. Lalu, ia pergi meninggalkan Rooney sendiri, masuk ke kamar untuk mengurus diri sendiri.

Rumah kontrakan yang Ageeta huni memiliki hanya satu kamar, tetapi luasnya lumayan sehingga ia bisa meletakkan banyak perabotan. Sejauh ini, ada kasur yang muat dua orang, lemari pakaian berbahan kayu jati hasil thrift di salah satu platform jual-beli online, serta meja belajar tempatnya menaruh laptop dan rak buku mini berisi beberapa buku dengan genre berbeda. Belum ada pikiran untuk meletakkan perabotan lain, tetapi kalau ada budget nanti, Ageeta mungkin akan menambahkan satu meja untuk tempat aquarium.

Meletakkan tas gendongnya di kursi meja belajar, Ageeta lantas bergerak menuju kasurnya yang dibalut seprai warna ungu tua. Duduk bersila, ia mulai menekuri ponselnya. Menyelam di salah satu laman sosial media miliknya, mencari asupan berita terbaru dari selebriti pria kecintaannya. Kalau sudah begitu, Ageeta suka lupa waktu. Tadinya hanya berniat menonton empat atau lima video berdurasi kurang dari lima menit, lama-lama terhanyut dan tenggelam dalam berbagai macam klip pendek.

“Wah, keciduk dating juga?” komentarnya, merujuk pada sebuah klip video berisi berita terbaru dari salah seorang aktor Thailand ternama yang baru saja ketahuan berkencan dengan sesama selebriti.

Beberapa lama, Ageeta menghabiskan waktu menyelam di kolom komentar. Untuk menemukan bahwa respons para fans tergolong cukup positif. Tidak ada yang menghujat baik sang aktor maupun kekasihnya. Malahan, Ageeta menemukan beberapa komentar yang mendukung keduanya untuk melanjutkan ke dalam hubungan yang lebih serius, mendoakan banyak kebaikan.

“Well, kok responsnya beda banget sama yang sebelah.” Ageeta tertawa pelan. Masih segar dalam ingatannya, bagaimana aktor lain ketahuan dating beberapa bulan sebelumnya. Alih-alih mendapatkan dukungan, ia malah dihujani hujatan dan menerima banyak sekali ujaran kebencian. Orang-orang yang tadinya menamakan diri mereka sebagai fans pun, tiba-tiba berbondong-bondong menyerang, membuat klip-klip video pendek berisi ejekan dan kata-kata tidak menyenangkan. Standar ganda.

Dalam beberapa kesempatan, Ageeta menemukan dunia memang berjalan demikian. Untuk suatu peristiwa yang sama persis, orang-orang belum tentu memberikan respons serupa hanya karena pelakunya berbeda. Meski pada awalnya ia cukup terkejut dan merasa tidak terima, dewasa ini ia mulai berusaha memahami bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan prinsipnya. Maka, sekarang, alih-alih merasa kesal, ia lebih senang menertawakan hal-hal seperti itu sebagai sebuah penghiburan.

Setelah beberapa lama berkutat di media sosial, Ageeta meletakkan ponselnya asal di atas kasur dan beralih menggeledah bagian bawah kasurnya. Untuk menemukan satu buku harian usang dengan cover tebal berwarna cokelat tua. Isi di dalam buku harian itu sudah habis Ageeta baca, terkadang ia juga membaca ulang kalau sedang memiliki waktu senggang.

Namun, bukan itu yang membuatnya mengambil buku itu dari bawah kasurnya. Ia tidak sedang ingin membaca ulang, sedang tidak mood. Ia mengambil buku itu untuk menemukan sesuatu yang lain di dalamnya; selembar foto.

Hanya sebuah foto biasa, jika dilihat sekilas saja. Namun, bagi Ageeta, foto itu adalah satu-satunya petunjuk yang mungkin ia miliki untuk mencari tahu siapa dirinya sebenarnya.

Oh, tidak, tidak. Namanya Ageeta Mehrani, tertera jelas di akta kelahiran dan kartu keluarga yang selama ini digunakan untuk mengurus segala administrasi. Hanya saja, dia tidak pernah menemukan nama ayahnya di dokumen mana pun. Selalu hanya nama sang ibu. Seorang perempuan yang bahkan belum sempat dia temui secara langsung ketika ia lahir ke dunia.

Ageeta mengambil napas, menatap lekat-lekat sosok ibunya yang bersanding dengan seorang laki-laki yang usianya mungkin hanya dua atau tiga tahun lebih tua. Hamparan bangunan candi tampak di latar belakang, berpadu dengan gumpalan awan-awan putih bertaburan di langit yang berwarna biru cerah. Surakarta, 1996. Hanya informasi itu yang Ageeta dapatkan di bagian belakang foto tersebut. Hanya sebatas itu. Ageeta bahkan tidak tahu apakah laki-laki yang ada di dalam foto itu adalah ayah kandungnya atau bukan. Tetapi karena hanya lelaki itu satu-satunya yang terlihat pernah bersama dengan ibunya, Ageeta berpikir tidak ada salahnya untuk menduga.

Dulu, ketika usianya menginjak remaja, Ageeta sudah bertanya tentang siapa sosok ayah yang kata Uti dan Kakung telah meninggal dunia. Namun, tidak ada di antara mereka yang mau menjawab. Keduanya kompak bungkam, seperti tidak pernah rela jika Ageeta tahu dari mana asal-usul dirinya yang sebenarnya.

Sampai kemudian, ia secara tidak sengaja menemukan buku harian milik ibunya dan memulai pencarian diam-diam. Tidak punya keberanian untuk bertanya lagi pada Uti ataupun Kakung, takut buku harian yang dia temukan malah disita dan dimusnahkan, lalu dia tidak akan memiliki kesempatan untuk menemukan di mana keberadaan ayah kandungnya.

Walaupun sampai sekarang, ia masih belum mendapatkan jawaban apa pun. Mencari seseorang hanya bermodal foto yang diambil 28 tahun silam bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Kalaupun lelaki itu masih hidup, wajahnya pasti sudah menua dan akan sulit untuk dikenali, bukan?

“Memangnya kalau kamu tahu siapa ayahmu, apa yang bakal berubah? Fakta bahwa dia nggak ada di sisi kamu, nggak menafkahi kamu, nggak mengakui kamu sebagai anak, apa enggak cukup untuk bikin kamu menyerah dan diam? Kamu itu anak yang nggak diharapkan, Git, sadar diri saja, itu yang terbaik.”

Suatu hari, tantenya pernah berkata begitu pada Ageeta ketika ia merengek untuk diberi informasi. Kalau Uti dan Eyang cukup keras kepala untuk tutup mulut, Ageeta kira tantenya akan mau berbaik hati sedikit saja. Ternyata tantenya malah lebih parah.

“Kalau aku tahu siapa bapak kandungku, paling nggak aku bisa mati dengan tenang. Emangnya Tante Nur mau aku gentayangin pas aku mati nanti, gara-gara Tante nggak mau bantuin aku nyari tahu siapa bapakku?”

Lagi-lagi, Ageeta hanya bisa bermonolog. Sebab berbicara langsung dengan tantenya yang galak dan keras kepala butuh keberanian super banyak dan kesabaran ekstra besar. Dia tidak sanggup. Baru mau membuka mulut saja, tangannya pasti sudah gemetar dan matanya mulai berembun.

Menghela napas rendah, Ageeta mengembalikan foto itu ke dalam buku harian, membawanya ke dalam dekapan. Detik kemudian, tubuhnya terhempas ke belakang, membentur kasur yang empuk dengan kedua kaki menggelantung menyentuh lantai.

Dalam hening, ditatapnya langit-langit kamarnya yang berwarna putih pucat. Lampu bohlam 15 watt yang tertempel di sana dia tatap lekat-lekat, membuat matanya mulai berkunang dan pandangannya mulai menggelap. Kelopak matanya terbuka dan tertutup dalam irama yang konstan. Napasnya yang semula gaduh, perlahan-lahan mulai teratur. Lalu bersama harap yang masih terus dia bawa ke mana-mana, harapan untuk bisa menemukan di mana keberadaan ayah kandungnya, Ageeta jatuh terlelap.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

F.T Zira

F.T Zira

like sub 🌹 buat ka author..
aku terhibur,,, 🥰 bab awal bikin ketawa

2024-07-22

1

F.T Zira

F.T Zira

aku bantuin buat jelangkung deh entar
.... eehh🤭✌️✌️✌️✌️

2024-07-22

1

F.T Zira

F.T Zira

seperti yg ngomong yaa🤭

2024-07-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!