Bermandikan keringat, Ageeta berlarian menaiki satu persatu anak tangga dengan kantong berisi lunch box pesanan Reno. Tadi, sewaktu ia sedang berada di warteg langganan untuk mengambil beberapa pesanan milik karyawan, Reno tiba-tiba meneleponnya, minta diambilkan lunch box hasil delivery yang didrop di lobi.
Sialnya, sewaktu hendak naik lift, boks besi itu selalu penuh sehingga mau tidak mau Ageeta harus menaiki tangga. Padahal, cuaca sedang panas-panasnya dan rasa-rasanya tubuh Ageeta hampir meleleh dibuatnya.
Napas Ageeta masih pendek-pendek ketika tiba di lantai 6. Kakinya terasa lemas, hampir sudah tidak bisa dipakai melangkah.
"Banjir amat, Git, dari mana sih?" celetuk Laras yang kebetulan baru keluar dari pantri.
Karena masih sibuk mengatur napas dan sedang mencoba mengumpulkan energi, Ageeta hanya mengangkat kantong di tangannya.
Sekali melihat logo di kantong tersebut, Laras sudah langsung mengerti. Tidak pernah ada yang serajin itu memesan layanan delivery dari restoran yang jauhnya hampir 15 kilometer, selain Reno. Hanya karena itu adalah restoran favoritnya, lelaki itu rela menunggu lebih lama plus membayar ongkos kirim yang nominalnya hampir sama dengan harga makanannya.
"Nasi yang dari warteg dibawa sama Mega, Mbak. Nanti dia anter ke sini." Tutur Ageeta setelah napasnya lumayan stabil. Untung saja tadi ada Mega (sesama office girl) yang kebetulan juga hendak membeli makan untuk dirinya sendiri, jadi Ageeta bisa sekalian nitip.
Laras hanya mengangguk, membantu membukakan pintu pantri, lalu melenggak pergi. Perutnya yang lapar jauh lebih penting untuk diurus sekarang, walaupun sebenarnya dia juga tidak ingin melewatkan momen kebersamaan Reno dan Ageeta.
Sementara Ageeta, gadis itu langsung saja meletakkan pesanan Reno di atas meja. Secepat kilat putar balik tanpa menunggu ucapan terima kasih karena ia harus buru-buru mengurus tenggorokannya yang kering sebelum ia mati.
Menggunakan gelas yang diambil asal dari laci, Ageeta menuangkan air dan langsung menenggaknya sampai habis. Bunyi ahhh panjang menggema ke segala penjuru. Bentuk nyata bahwa dahaganya sudah berhasil diatasi.
Ketika Ageeta hendak pergi meninggalkan pantri, Reno melambaikan tangan dari meja yang tidak lelaki itu tinggalkan sejak pagi.
Meskipun sebenarnya sudah lelah dan lapar, Ageeta tetap mendekat. Sambil berdoa semoga saja Reno tidak memberinya tugas yang aneh-aneh.
"Sini, temenin saya makan," ucap lelaki itu. Laptop dan berkas-berkas penting sudah diungsikan ke kolong meja. Kini meja bundar itu bersih dan bisa dipakai meletakkan dua lunch box yang Ageeta perjuangkan dengan segenap jiwa raga.
"Yah ... saya pengin makan di kantin kantor," keluh Ageeta. Ia dengar dari Mas Yono (satpam kantor) hari ini ada menu kesukaan Ageeta di kantin kantor. Sudah lama menu itu tidak dimasak, jadi Ageeta sangat ingin menyantapnya sekarang.
"Saya udah beli makanan buat kamu, emang mau kamu biarin mubazir?"
Ageeta melenguh kecewa. Hanya bisa membayangkan lezatnya cumi cabai hijau yang dihidangkan di kantin kantor sambil berjalan mendekat dengan malas. Nafsu makannya yang semula di level 100, mendadak turun drastis ke angka -10 sekarang.
Tapi mau bagaimana lagi? Ageeta tidak punya pilihan. Jadi, dia tetap menarik kursi, membuka lunch box pemberian Reno dan memakannya sambil tetap mencoba bersyukur.
Di tengah kegiatan makan, Ageeta menemukan Reno masih sempat sibuk dengan tab pink kesayangannya. Bukannya bermaksud lancang, tetapi Ageeta bisa melihat lelaki itu masih saja mengurusi soal pekerjaan.
"Kerjaan Bapak banyak banget?" tanyanya.
Reno hanya mengangguk, sebab mulutnya penuh dengan makanan. Setelahnya, tidak ada lagi percakapan. Ageeta mengunyah makanannya sambil terus mengamati Reno. Lalu, dia sadar bahwa Reno terlihat beribu-ribu kali lebih menawan kalau sedang dalam mode serius seperti sekarang.
Ish, sih eling, Ageeta. Ini lagi kerja, harus profesional! Cetusnya di dalam hati. Menggeleng ribut demi mengumpulkan kesadarannya kembali.
Tidak boleh begini. Dia harus bisa menjaga profesionalisme. Ageeta Mehrani si office girl panutan tidak boleh goyah akan apa pun!
...****************...
Entah sudah berapa kali Ageeta kena prank prakiraan cuaca. Dibilang cerah seharian, ternyata hujan badai sampai malam. Giliran dibilang mendung dan berhujan, cuaca malah terik bahkan sampai membuat badan mandi keringat. Memang paling benar percaya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa!
"Kamu nggak bawa payung?"
Ageeta menoleh cepat, meninggalkan kegiatannya memandangi derai hujan hanya untuk menemukan Reno sudah berdiri tegap di sampingnya.
"Yoi, ketipu lagi sama ramalan cuaca."
Reno berdecak, lantas mengulurkan payung yang dibawanya.
Alih-alih menerima, Ageeta malah menggeleng ribut. "Nggak usah, Pak. Saya tunggu reda aja," tolaknya.
"Siapa yang bilang payungnya buat kamu?" cetus Reno.
Jleb!
Dada Ageeta rasanya seperti habis kena tinju. Nyerinya sampai membuat perutnya mual.
Ageeta bersungut-sungut, kesal. "Terus kenapa disodorin ke saya?"
"Payungin saya ke mobil. Saya ribet bawa-bawa tas sama berkas-berkas begini._
Ageeta melirik pada barang bawaan yang Reno sebutkan. Memang terlihat rempong, sih. Jadi, meskipun bibirnya menyon-menyon seperti tokoh antagonis dalam sinetron yang suka teman-temannya tonton, Ageeta tetap mengambil payung milik Reno dan melaksanakan perintah yang lelaki itu berikan.
Postur tubuh Reno yang jauh lebih tinggi membuat Ageeta harus mengangkat kedua tangannya lebih tinggi juga. Agar kepala Reno tidak tersangkut di besi kerangka payung dan lelaki itu berakhir ngomel-ngomel lagi padanya.
Usai mengantar Reno sampai ke mobil dan memastikan lelaki itu duduk di belakang kemudi tanpa kebasahan sedikit pun, Ageeta menjauhkan diri.
"Safe drive, Pak!" ucapnya berbasa-basi.
Namun, ia malah dibuat terkejut ketika Reno menyuruhnya ikut masuk ke mobil alih-alih membiarkannya pergi.
"Ng--"
"Sekali lagi ngomong nggak usah, saya potong lidah kamu, Git. Hari ini kamu udah banyak banget nolak saya," potong Reno.
Nolak saya, nolak saya, ambigu banget bahasanya! Ageeta merutuk di dalam hati.
Kendati demikian, ia tetap menurut dengan memasukkan tubuhnya ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang meski agak kerepotan melipat payung yang segede gaban berlogo salah satu bank swasta tersebut.
Baru saja selesai meletakkan payung di jok belakang dan memastikan pintu di sisi kirinya tertutup rapat, Ageeta kembali dibuat terkena serangan jantung saat tahu-tahu saja Reno sudah berada di atas dirinya. Wajah lelaki itu begitu dekat, membuat Ageeta refleks menahan napas seiring dengan tubuhnya yang membatu bagai habis terkena sihir Medusa.
Lalu, dalam waktu super singkat, potongan ingatan dari mimpi tidak sopan yang dia miliki beberapa waktu lalu kembali berseliweran. Memperparah keadaan. Tubuh Ageeta panas dingin. Darahnya tidak dapat mengalir dengan baik ke otak sehingga sel-sel di kepalanya turut menjadi lemot dan tidak bisa diajak bekerja sama.
Lagi-lagi, refleksnya adalah memejamkan mata. Meremas kedua tangannya kuat-kuat dan dengan sisa tenaga yang ada bergumam lirih, "Pak..." yang entah bisa didengar oleh siapa.
Kemudian...
Bersambung...
Kemudian apa hayo!!! Jangan mikir macam-macam!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Dewi Payang
Lah....
2024-07-17
0
Dewi Payang
Apapun itu, fix si Reno manja
2024-07-17
0
Dewi Payang
Sadar Ageeta, sadar......😁😁
2024-07-17
0